14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Pilpres: Solipsisme, Cebong dan Kampret Tak Akan Tertukar

Sabda Ali by Sabda Ali
March 14, 2019
in Esai
Membaca Pilpres: Solipsisme, Cebong dan Kampret Tak Akan Tertukar

Ilustrasi foto diolah dari sumber google

Solipsisme, satu problem (paham) yang menjangkit massa dalam pusaran pilpres semenjak 2014 hingga 2019. Bahwa sayalah (keAKUan) satu-satunya ide dan pemikiran benar itu, yang ada di luar aku ditiadakan!

Solipsisme adalah satu paham yang diungkap oleh Descartes karena sifat ke-AKU-an yang timbul pada diri seseorang. Bahwa “Aku” sebagai satu-satunya (entitas) yang berpikir, dan dengan sengaja menolak realitas dari entitas lain yang lebih banyak.

Pada pemahaman epistemologis, solipsisme menyatakan (bahwa) kesadaran manusia tidak dapat menjangkau (mengetahui) selain dirinya sendiri. Egosentris menjadi pokok persoalan pada hal ini, karena sifat egonya yang mendominasi sehingga tidak cukup mampu menjangkau sesuatu di luar dirinya.

Solipsisme yang terjadi dalam pusaran Pemilu ini, benar-benar menjelaskan keakuan masing-masing kubu bahwa “pikiran saya (internal kelompok) sebagai satu-satunya kesadaran yang berarti (benar)”. Sama artinya bahwa pihak di luar diri atau di luar persekutuan kelompoknya ditiadakan dalam realitas alam pikirnya.

Ini terus diulang-ulang dalam kesempatan pidato Capres 02, “Saya akan mengejar dan bertindak tegas pada pihak-pihak yang merugikan negara-bangsa ini (korupsi)”.

Dalam artian, manifestasi atas sifat meniadakan lawannya dengan mengancam, namun yang lebih menonjol dari solipsisnya adalah peryataan bahwa tidak ada orang lain selain dirinya yang dapat menghantar rakyat pada taraf kesejahteraan (sejati).

Pun demikian pada pihak petahanan (pasangan 01), sama stereotipnya, kaku menilai kompetitor, meski tidak begitu menonjolkan keakuannya sebagai juru selamat akan kesejahteaan rakyat. Pihak-pihak ini juga sedang mengalami paranoid. Ketakutan berlebih bila pihak lain mengambil kendali politik, jika bukan mereka maka “gawat”.

Barangkali tepat, dengan memproduksi ketakutan akan adanya ancaman dari kelompok-kelompok intoleransi, maka kedudukan mereka dalam satu barisan nampak (fatamorgana) seperti sedang mempertahankan NKRI.

Kita bisa hipotesakan seperti ini, dalam analogi, ada dua medan magnet yang bertolakkan pada pemilu semenjak 2014 silam.

Lucunya, yang jelas bertolakan ini dipaksa diadu untuk saling berbenturan satu sama lain. Betapapun ini telah dicoba sedemikian rupa kedua medan magnet yang bertolakan menurut hukum (alam) itu tetap tidak berbenturan (selayaknya domba), karena gaya tolak masing-masing kutub bekerja otomatis. Sampai pada level (massa) pendukung yang terkategori simpatisan dan partisan pemilu pada bilik suara nanti juga turut mengamini.

Menarik sekali mencerna pepatah ini, “resan air ke air, resan minyak ke minyak” yang bisa kita temukan rasionalitasnya dalam MADILOG, Tan Malaka.

Pendekatannya pada Pilpres, antara pasangan calon 01 dan pasangan calon 02 menggambarkan kisah air dan minyak. Tapi kita tidak terlalu tertarik membaca persaingan kedua paslon (sebagai aktor laga), karena bisa saja terjadi pada setiap persaingan politik (praktis). Yang menarik dibaca adalah pada masyarakat sebagai penonton drama laga ini, yang secara suka rela masuk dan menjadi pembela serta pebenar solipsis masing-masing kubu.

Masyarakat sebagai simpatisan pun, mengiyakan dirinya menjadi air atau minyak. Dengan demikian meski air dan minyak disatukan dalam satu wadah, keduanya tidak menyatu, yang terlihat air akan menyatu dengan sekawanan airnya dan minyak akan menyatu dengan sekumpulan minyaknya. Bahasa lucunya, cebong dan kampret beda habitatnya, sulit bagi cebong mengakui kampret sebagai sekawanannya, juga sebaliknya berlaku pada kapret-kampret itu.

Dan telah nyata dan jelas siapa-siapa yang akan menjadi pendukung 01 dan siapa pendukung 02 tidak pernah akan tertukar. Jika berbicara basis massa Islam yang mayoritas, mudah sekali memahaminya, umat Islam berpaham apa sebagai pendukung 01 dan umat Isman berjenis apa yang mendukung 02, semua terlihat terang bukan?

Ada satu realitas yang harus segera kita sadari. Seperti yang di jelaskan oleh Gus Mus, terciptanya hanya dua pasangan calon di pilpres ini telah melahirkan konsekuensi yang buruk sekali. Saya setuju pendapat itu, betapa tidak semenjak pemilu 2014 silam, kubu-kubu ini terpelihara dengan baik hingga puncak ketegangannya ditunpahkan semua pada Pemilu kali ini, tanpa bisa memilih alternatif ketiga, karena pilihan menjadi golput pun bukan jalan keluarnya dari konflik horizontal ini.

Masyarakatpun telah mendikotomi kehidupan, memilih dan memilah siapa sekawanan atau sekumpulannya. Telah menggarisi batas-batas hidup berbangsa dan bernegara di luar kewajaran.

Apa gerangan yang terjadi pada bangsa ini selama kurun waktu lima tahun ke belakang, kedua kubu kembali memaksakan diri untuk bertarung. Dengan sengaja pula untuk saling memanas-manasi satu sama lain, meminjam pertanyaan Sindhunata (dalam buku saku filsafat Haidar Bagir:2005), “Mengapa Kita Menjadi Kekanak-kanakan?” Pihak mana yang sejatinya ‘benar’? akan kembali pada persoalan solipsisme? [T]

Tags: JokowiPilpresPolitikPrabowo
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Father

Next Post

Memahami Golput dan Sikapnya

Sabda Ali

Sabda Ali

Tinggal di Singaraja. Pekerjaan: lumayan sibuk

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Memahami Golput dan Sikapnya

Memahami Golput dan Sikapnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co