3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Pilpres: Solipsisme, Cebong dan Kampret Tak Akan Tertukar

Sabda Ali by Sabda Ali
March 14, 2019
in Esai
Membaca Pilpres: Solipsisme, Cebong dan Kampret Tak Akan Tertukar

Ilustrasi foto diolah dari sumber google

Solipsisme, satu problem (paham) yang menjangkit massa dalam pusaran pilpres semenjak 2014 hingga 2019. Bahwa sayalah (keAKUan) satu-satunya ide dan pemikiran benar itu, yang ada di luar aku ditiadakan!

Solipsisme adalah satu paham yang diungkap oleh Descartes karena sifat ke-AKU-an yang timbul pada diri seseorang. Bahwa “Aku” sebagai satu-satunya (entitas) yang berpikir, dan dengan sengaja menolak realitas dari entitas lain yang lebih banyak.

Pada pemahaman epistemologis, solipsisme menyatakan (bahwa) kesadaran manusia tidak dapat menjangkau (mengetahui) selain dirinya sendiri. Egosentris menjadi pokok persoalan pada hal ini, karena sifat egonya yang mendominasi sehingga tidak cukup mampu menjangkau sesuatu di luar dirinya.

Solipsisme yang terjadi dalam pusaran Pemilu ini, benar-benar menjelaskan keakuan masing-masing kubu bahwa “pikiran saya (internal kelompok) sebagai satu-satunya kesadaran yang berarti (benar)”. Sama artinya bahwa pihak di luar diri atau di luar persekutuan kelompoknya ditiadakan dalam realitas alam pikirnya.

Ini terus diulang-ulang dalam kesempatan pidato Capres 02, “Saya akan mengejar dan bertindak tegas pada pihak-pihak yang merugikan negara-bangsa ini (korupsi)”.

Dalam artian, manifestasi atas sifat meniadakan lawannya dengan mengancam, namun yang lebih menonjol dari solipsisnya adalah peryataan bahwa tidak ada orang lain selain dirinya yang dapat menghantar rakyat pada taraf kesejahteraan (sejati).

Pun demikian pada pihak petahanan (pasangan 01), sama stereotipnya, kaku menilai kompetitor, meski tidak begitu menonjolkan keakuannya sebagai juru selamat akan kesejahteaan rakyat. Pihak-pihak ini juga sedang mengalami paranoid. Ketakutan berlebih bila pihak lain mengambil kendali politik, jika bukan mereka maka “gawat”.

Barangkali tepat, dengan memproduksi ketakutan akan adanya ancaman dari kelompok-kelompok intoleransi, maka kedudukan mereka dalam satu barisan nampak (fatamorgana) seperti sedang mempertahankan NKRI.

Kita bisa hipotesakan seperti ini, dalam analogi, ada dua medan magnet yang bertolakkan pada pemilu semenjak 2014 silam.

Lucunya, yang jelas bertolakan ini dipaksa diadu untuk saling berbenturan satu sama lain. Betapapun ini telah dicoba sedemikian rupa kedua medan magnet yang bertolakan menurut hukum (alam) itu tetap tidak berbenturan (selayaknya domba), karena gaya tolak masing-masing kutub bekerja otomatis. Sampai pada level (massa) pendukung yang terkategori simpatisan dan partisan pemilu pada bilik suara nanti juga turut mengamini.

Menarik sekali mencerna pepatah ini, “resan air ke air, resan minyak ke minyak” yang bisa kita temukan rasionalitasnya dalam MADILOG, Tan Malaka.

Pendekatannya pada Pilpres, antara pasangan calon 01 dan pasangan calon 02 menggambarkan kisah air dan minyak. Tapi kita tidak terlalu tertarik membaca persaingan kedua paslon (sebagai aktor laga), karena bisa saja terjadi pada setiap persaingan politik (praktis). Yang menarik dibaca adalah pada masyarakat sebagai penonton drama laga ini, yang secara suka rela masuk dan menjadi pembela serta pebenar solipsis masing-masing kubu.

Masyarakat sebagai simpatisan pun, mengiyakan dirinya menjadi air atau minyak. Dengan demikian meski air dan minyak disatukan dalam satu wadah, keduanya tidak menyatu, yang terlihat air akan menyatu dengan sekawanan airnya dan minyak akan menyatu dengan sekumpulan minyaknya. Bahasa lucunya, cebong dan kampret beda habitatnya, sulit bagi cebong mengakui kampret sebagai sekawanannya, juga sebaliknya berlaku pada kapret-kampret itu.

Dan telah nyata dan jelas siapa-siapa yang akan menjadi pendukung 01 dan siapa pendukung 02 tidak pernah akan tertukar. Jika berbicara basis massa Islam yang mayoritas, mudah sekali memahaminya, umat Islam berpaham apa sebagai pendukung 01 dan umat Isman berjenis apa yang mendukung 02, semua terlihat terang bukan?

Ada satu realitas yang harus segera kita sadari. Seperti yang di jelaskan oleh Gus Mus, terciptanya hanya dua pasangan calon di pilpres ini telah melahirkan konsekuensi yang buruk sekali. Saya setuju pendapat itu, betapa tidak semenjak pemilu 2014 silam, kubu-kubu ini terpelihara dengan baik hingga puncak ketegangannya ditunpahkan semua pada Pemilu kali ini, tanpa bisa memilih alternatif ketiga, karena pilihan menjadi golput pun bukan jalan keluarnya dari konflik horizontal ini.

Masyarakatpun telah mendikotomi kehidupan, memilih dan memilah siapa sekawanan atau sekumpulannya. Telah menggarisi batas-batas hidup berbangsa dan bernegara di luar kewajaran.

Apa gerangan yang terjadi pada bangsa ini selama kurun waktu lima tahun ke belakang, kedua kubu kembali memaksakan diri untuk bertarung. Dengan sengaja pula untuk saling memanas-manasi satu sama lain, meminjam pertanyaan Sindhunata (dalam buku saku filsafat Haidar Bagir:2005), “Mengapa Kita Menjadi Kekanak-kanakan?” Pihak mana yang sejatinya ‘benar’? akan kembali pada persoalan solipsisme? [T]

Tags: JokowiPilpresPolitikPrabowo
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Father

Next Post

Memahami Golput dan Sikapnya

Sabda Ali

Sabda Ali

Tinggal di Singaraja. Pekerjaan: lumayan sibuk

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Memahami Golput dan Sikapnya

Memahami Golput dan Sikapnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co