4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komang

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
February 3, 2019
in Cerpen
Komang

Lukisan Komang Astiari (potongan)

Di hadapanku berdiri bangunan megah. Demikian indah. Penuh cahaya. Perasaanku sungguh damai. Awan berarak putih seputih kapas.

Wajah orang-orang yang kutemui cerah dan bercahaya. Tumbuhan dan bunga-bunga berseri. Aku terus berjalan menembus kabut putih. Sampailah aku di suatu tempat yang remang-remang. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak kulihat siapa pun. Sunyi. Entah mengapa badanku merinding. Aku dikejutkan oleh seseorang berjubah hitam. Wajahnya amat menakutkan.

Ia membawa dhadhung berukuran besar. Tubuhnya besar. Bulu kudukku merinding. Saking takutnya, aku tak bergeming sedikitpun. Kulitnya biru dan menggunakan kendaraan kerbau hitam raksasa. Ia juga membawa Danda. Aku menghela nafas pelan-pelan. Namun  sesaat kemudian aku melihatnya sebagai pria tampan berkulit biru. Bercahaya. Ya, benar. Ia memiliki dua rupa. Satu sisi rupanya menakutkan. Di sisi lain, ia menyerupai Dewa Surya. Konon ia adalah putra Surya.

Aku merasa pernah bertemu dengannya. Ah, aku lupa. Mungkin di kehdupan yang dulu. Namun hatiku mengatakan bahwa aku harus menemuinya untuk memohon belas kasihnya. Saat ini, aku sangat mengharapkan pertolongannya, kebijaksanaannya dalam mengubah nasibku. Maka ku beranikan diri berbicara. Sebelum aku mengajukan pertanyaan, ia bertanya lebih dulu.

 ” Untuk apa kau ke sini?” 

Mulutku terkunci.

” Aku belum menjemputmu. Kau boleh ke sini kalau aku menjemputmu,” katanya lembut menyerupai bisikan dedaunan yang tertiup angin.

Aku memberanikan diri bertanya,”Bolehkah aku memohon padamu?”

“Aku sudah tahu keinginanmu. Saat ini kau sedang berada di Bardho pertama yaitu rahim ibu. Ini memang harus kau lalui.”

“Tapi, …..”

“Tapi apa? Sebenarnya belum saatnya bagimu menghadapi pengadilan. Kau harus mengalami bardho yang lain.”

“Kumohon. Dengarkan aku, Dewa. Aku melihat danau dan angsa yang demikian indah, maka aku memasukinya. Tapi mereka menolakku. Bolehkah aku kembali?”

Dewa Yamadipati diam sejenak. “Hmm… baiklah.  kau kuijinkan kembali. Tapi kali ini saja. Tidak ada kesempatan kedua. Jika kau melihat lorong gelap atau bangunan megah, kau tak boleh memohon lagi. Kebaikan atau dosamu yang akan memilih.” jawab Dewa Yamadipati.

Mendengar jawaban itu, aku tak tahu mesti bahagia atau sedih.

“Namun ada satu syarat. Setiap bulan mati, kau harus mengunjungi ibumu dalam rupa topeng untuk menghiburnya,” katanya. Lalu, Dewa Yamadipati menghilang.

Aku terbangun dari tidurku. Perasaanku campur aduk. Sedih, gembira terus silih berganti. Tiba-tiba senjata Danda dan Dhadhung itu menjemputku. Keasingan mendesing gigih berbalut lega yang sangat. Kubisikkan sesuatu di telinga ibu sebelum pergi.

Namaku Komang. Paling tidak demikianlah ibu selalu memanggilku . Setiap hari aku disuguhkan cerita segar yang membuatku tersenyum. Pekerjaan apa pun yang sedang dikerjakan ibu tak membuatnya melupakanku. Aku sungguh bahagia. Seperti saat ini. Ibu sedang menyetrika baju dua orang kakakku yang sudah bersekolah di kelas 4 dan kelas 2 SD. Sambil menyeterika, Ibu bersenandung riang untukku. Aku ikut bernyanyi. Aku tertawa dan menari.

Twinkle twinkle little stars. How I wonder what you are.

Up above the world so high. Like a diamond in the sky……..

Lagu itu menggema di sekujur tubuhku. My star, you are my litlle star. Demikian ibu selalu menyapaku. O ya selain menyanyi atau bercerita, ibu juga sering memutarkanku lagu, musik atau cerita tentang Lion King. Aku paling suka cerita Lion King. Aku sering mengkhayal menjadi Simba, seorang pemimpin yang bijaksana. Ia disenangi rakyatnya dan seorang pemberani. Dan aku membenci Paman Scar yang begitu licik.

Lagi asyiknya aku mendengarkan cerita Lion King, tiba-tiba aku mendengar suara ribut-ribut di luar. Ternyata kedua kakakku, Putu dan Made sedang bertengkar memperebutkan mainan. Dengan tergopoh-gopoh ibu keluar mendamaikan mereka. Nafas ibu terdengar ngos-ngosan. Made melempar mainan ke tembok. Keduanya berteriak histeris dan menangis. Selang beberapa saat, ibu berhasil mendamaikan mereka. Begitulah yang sering terjadi.

Ayahku seorang pengusaha kayu yang sukses.Setiap hari berangkat pagi dan pulang malam. Praktis ibu yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dari membuat sarapan, mempersiapkan kedua kakakku sampai mengantar mereka ke sekolah. Untungnya, jarak sekolah dengan rumahku cukup dekat. Ibu tak perlu mengendarai sepeda motor mengantar mereka.

Biasanya ibu berjalan kaki mengantar kedua kakakku. Sekembali dari sekolah, ibu membersihkan rumah, menyetrika, mencuci dan menyiapkan masakan untuk makan malam kami. Setelah itu ibu menjemput kedua kakakku ke sekolah. Begitu setiap hari. Bapak tidak mau memakai jasa asisten rumah tangga. Kata bapak nanti kalau ibu sudah lahiran baru memakai jasa asisten rumah tangga.

Meskipun ibu sibuk, ia selalu mendoakanku, mendekapku, bersenandung membacakan buku cerita dan mendongeng. Semuanya ia lakukan untukku. Komang, Her litle star.

Pagi ini, rupanya kesehatan ibu sedang terganggu. Aku mendengarnya batuk-batuk dan bersin-bersin. Ayah menaruh tangannya di kening ibu. Hangat.

“Bu, kamu istirahat dulu. Biar aku yang mengantar Ayu dan Putri ke sekolah. Ingat minum obat ya,” pesan ayah.

Ibu mengangguk lesu. Bibirnya melengkung membentuk senyuman meski pusing menyerang kepalanya. Ibu segera ke dapur, membuat teh jahe hangat. Diteguknya perlahan sampai tandas. Kini ibu berbaring sambil membacakanku dongeng tentang I Siap Selem.

Ibu tertidur pulas….. kunyanyikan ia lagu twinkle twinkle litle star. Senyuman manis bertahta di bibirnya. Wajah ibu terlihat damai. Biarlah ibu tidur agar ia lekas sembuh dan ceria kembali. Namun Ini tak berlangsung lama.

Suara gaduh membangunkan ibu. Rupanya kakakku Tu Ayu dan Dek Putri sudah pulang sekolah. Mereka dijemput oleh salah seorang karyawan ayah. Ibu segera beranjak menyambut kedatangan mereka. Ibu segera menyiapkan makan siang untuk kedua kakakku yang cantik itu,

 Mereka secantik ibu. Rambut hitam lebat dan panjang. Setiap pagi ibu mengepang rambut mereka. Memasangkan pita warna warni yang indah. Bulu mata mereka lentik, hidung bangir dan kulit putih. Tangan mereka ditumbuhi rambut-rambut yang agak lebat seperti ibu. Alis mereka pun tebal. Ibu biasanya merapikan rambut mereka kalau sudah panjang. Ibu memotong poni mereka. Gaya rambut mereka sama sehingga sering dikira anak kembar. Ibu rajin merawat rambut kedua kakakku.

Di waktu libur sekolah, ibu mengusap minyak kelapa atau membuatkan ramuan dari daun mangkokan untuk keramas. Kata ibu, daun mangkokan bagus untuk memperlebat dan menghitamkan rambut. Begitulah keseharian ibu.

Ketika ayah datang, ibu sudah menyiapkan air hangat, minuman hangat sampai menemani ayah makan malam. Biasanya kami sudah tidur saat ayah pulang. Ibu sering membacakan dongeng penghantar tidur buatku dan kedua kakakku. Mereka tersenyum dan tertidur pulas. Kelelahan dan keceriaan masa kecil tergambar jelas di wajah mereka.

Hari ini ayah mengajak ibu ke dokter. Karena sudah tiga hari flu yang ibu derita tak kunjung sembuh. Aku mendengar ibu berbincang dengan dokter dan ayah. Wajah ayah kelihatan kaget dan kecewa. Setelah pembicaraan itu, ayah lebih banyak diam. Ibu juga diam.  Entah apa yang mereka bicarakan. Aku tak terlalu mendengarkannya. Aku terlelap sebentar kemudian terbangun akibat sebuah guncangan.

Ibu menangis sesenggukan setelah pertemuan dengan dokter. Sejak hari itu, ibu sering menangis. Aku jadi bingung. Kadang-kadang ibu lupa menyapaku, membacakanku dongeng, menyanyi dan tertawa ceria. Aku penasaran dan berusaha mencari tahu apa penyebabnya.

Di pagi hari yang indah. Sinar mentari mengintip malu-malu melalui celah dedaunan. Aku membangunkan ibu melalui tendangan-tendangan kecilku. Ibu menggeliat terus mengusap-usap perutnya. Aku merindukan celoteh ibu. Merindukan nyanyian dan ceritanya. Sekarang ibu lebih banyak melamun dan menangis. Ibu dan bapak lebih sering terlibat pertengkaran.

“Bapak akan ngupah gender dan wayang kalau anak kita laki-laki, Bu. Bapak akan mengundang Kelihan, Kepala Desa sampai Pak Bupati. Pokoknya pesta besar-besaran,” kata bapak suatu kali.

Sejak hari itu ibu yang biasanya memanggilku Dik Omang, kini memanggilku Gus Omang. Dia percaya, kata-kata adalah doa. Dia tanamkan dalam bawah sadarnya bahwa anak ketiganya laki-laki. Ia terus berdoa agar Hyang Widhi sudi memberinya seorang anak laki-laki sebagaimana harapan suaminya. Sebab kalau anak ketiganya perempuan (lagi) maka bapak tak akan mengurusnya.

Dari hasil pemeriksaan dokter melalui USG, terlihat jelas bahwa jenis kelaminku perempuan. Aku tahu sekarang penyebab ibu sering menangis. Bapak begitu mengharapkan anak laki-laki. Sebagai orang Bali yang memiliki tetegenan gede ia sangat mengharapkan hadirnya anak laki-laki yang nantinya akan tinggal di rumah bersama orang tua.

Anak laki-laki dipandang  berharga karena ia yang akan merawat orang tua di rumah, sebagai penerus keturunan dan ngayah di masyarakat menggantikan orang tua. Sedangkan anak perempuan nantinya akan mengikuti suaminya. Jika tak memiliki anak laki-laki, maka keluarga itu dianggap ceput atau puntung. Meskipun sebenarnya bisa saja untuk menghindari kepuntungan itu dengan sentana rajeg atau anak perempuan berstatus sebagai anak lelaki (purusha).

Aku ikut menangis mendengar ibu menangis. Terlebih hatiku sangat sakit karena merasa bahwa aku adalah anak yang tidak diharapkan. Untuk melupakan kesedihannya, ibu bekerja dan bekerja terus. Ia membuka jasa cuci baju. Dari mulut ke mulut, ia menawarkan diri untuk mencuci baju para tetangga.

Karena sibuk, ibu sering melupakanku. Kadang aku menendang lebih keras agar ibu menyanyi dan bercerita padaku seperti dulu. Biasanya ibu akan menyapaku sebentar kemudian sibuk mencuci dan menyeterika lagi. Bapak, seperti biasa ia pulang malam. Ia tak lagi menanyakan keadaanku. Beberapa hari ini, ibu juga tampak agak malas berpanjang lebar dengan bapak. Ibu takut bertengkar lagi dan tambah sakit hati. Namun, meski sudah berusaha menghindari, pertengkaran itu terjadi lagi.

“Memangnya ini salahku?” tanya ibu ketus.

Bapak menghela nafas panjang.

 “Luh, kalau yang ketiga ini anak kita perempuan lagi. Hanya ada dua pilihan. Satu, Luh harus bersedia hamil lagi untuk mendapatkan anak laki-laki. Yang kedua…” Bapak kembali menghela nafas.

“Yang kedua apa?” Ibu menatap bapak penasaran.

 “Yang kedua, Luh musti bersedia dimadu.”

Wajah ibu langsung pucat. Kendi yang ia pegang langsung jatuh dan pecah berserakan.

“Bagaimana kalau aku hamil lagi dan ternyata anak kita perempuan lagi ?” Nada suara ibu semakin ketus.

 “Apa aku tetap dimadu?”

“Kalau begitu kembalikan aku pada orang tuaku,” teriak ibu lantang. Nafasnya ngos-ngosan.

 “Kita lihat saja nanti. Yang pasti aku menginginkan anak laki-laki,” jawab bapak tak kalah ketus. Bapak bergegas meninggalkan ibu sendirian yang mulai terisak. Perutnya berguncang-guncang.

Aku merasakan kesedihannya. Mendalam. Amat dalam.

Tilem tiba. Aroma dupa mewangi memenuhi seluruh sudut rumahku. Ku lihat ibu menghaturkan sesajen. Wajahnya datar, hatinya masih luka. Tengah malam, di kamar yang harum penuh wangi dupa, ia berbicara dengan topeng bondres, tertawa dan menyanyi. Seluruh keluarga besar mengintipnya dari balik tembok. Mereka sepakat mengajak ibu ke psikiater.

Tetangga-tetangga telah mendengar bahwa ibu sudah gila. Setiap ibu ke pasar, mereka berbisik-bisik. Mereka heran, mengapa kumatnya setiap Rahinan Tilem? Menghadapi omongan tetangga, bapak tak dapat berkata-kata. Ia hanya diam namun niatnya untuk kawin lagi tak pernah goyah.

..

Keterangan :

Bhardo = keadaan (The Tibetan Book of Death)

Dhadhung = sejenis tali tampar, yang dipercaya dibawa oleh Hyang Yamadipati selain Danda.

Tags: Cerpen
Share103TweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Adalah Binatang yang Berpolitik

Next Post

Kendali Kuasa (1)

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Merespons Bali yang Berubah

Kendali Kuasa (1)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co