12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komang

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
February 3, 2019
in Cerpen
Komang

Lukisan Komang Astiari (potongan)

Di hadapanku berdiri bangunan megah. Demikian indah. Penuh cahaya. Perasaanku sungguh damai. Awan berarak putih seputih kapas.

Wajah orang-orang yang kutemui cerah dan bercahaya. Tumbuhan dan bunga-bunga berseri. Aku terus berjalan menembus kabut putih. Sampailah aku di suatu tempat yang remang-remang. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak kulihat siapa pun. Sunyi. Entah mengapa badanku merinding. Aku dikejutkan oleh seseorang berjubah hitam. Wajahnya amat menakutkan.

Ia membawa dhadhung berukuran besar. Tubuhnya besar. Bulu kudukku merinding. Saking takutnya, aku tak bergeming sedikitpun. Kulitnya biru dan menggunakan kendaraan kerbau hitam raksasa. Ia juga membawa Danda. Aku menghela nafas pelan-pelan. Namun  sesaat kemudian aku melihatnya sebagai pria tampan berkulit biru. Bercahaya. Ya, benar. Ia memiliki dua rupa. Satu sisi rupanya menakutkan. Di sisi lain, ia menyerupai Dewa Surya. Konon ia adalah putra Surya.

Aku merasa pernah bertemu dengannya. Ah, aku lupa. Mungkin di kehdupan yang dulu. Namun hatiku mengatakan bahwa aku harus menemuinya untuk memohon belas kasihnya. Saat ini, aku sangat mengharapkan pertolongannya, kebijaksanaannya dalam mengubah nasibku. Maka ku beranikan diri berbicara. Sebelum aku mengajukan pertanyaan, ia bertanya lebih dulu.

 ” Untuk apa kau ke sini?” 

Mulutku terkunci.

” Aku belum menjemputmu. Kau boleh ke sini kalau aku menjemputmu,” katanya lembut menyerupai bisikan dedaunan yang tertiup angin.

Aku memberanikan diri bertanya,”Bolehkah aku memohon padamu?”

“Aku sudah tahu keinginanmu. Saat ini kau sedang berada di Bardho pertama yaitu rahim ibu. Ini memang harus kau lalui.”

“Tapi, …..”

“Tapi apa? Sebenarnya belum saatnya bagimu menghadapi pengadilan. Kau harus mengalami bardho yang lain.”

“Kumohon. Dengarkan aku, Dewa. Aku melihat danau dan angsa yang demikian indah, maka aku memasukinya. Tapi mereka menolakku. Bolehkah aku kembali?”

Dewa Yamadipati diam sejenak. “Hmm… baiklah.  kau kuijinkan kembali. Tapi kali ini saja. Tidak ada kesempatan kedua. Jika kau melihat lorong gelap atau bangunan megah, kau tak boleh memohon lagi. Kebaikan atau dosamu yang akan memilih.” jawab Dewa Yamadipati.

Mendengar jawaban itu, aku tak tahu mesti bahagia atau sedih.

“Namun ada satu syarat. Setiap bulan mati, kau harus mengunjungi ibumu dalam rupa topeng untuk menghiburnya,” katanya. Lalu, Dewa Yamadipati menghilang.

Aku terbangun dari tidurku. Perasaanku campur aduk. Sedih, gembira terus silih berganti. Tiba-tiba senjata Danda dan Dhadhung itu menjemputku. Keasingan mendesing gigih berbalut lega yang sangat. Kubisikkan sesuatu di telinga ibu sebelum pergi.

Namaku Komang. Paling tidak demikianlah ibu selalu memanggilku . Setiap hari aku disuguhkan cerita segar yang membuatku tersenyum. Pekerjaan apa pun yang sedang dikerjakan ibu tak membuatnya melupakanku. Aku sungguh bahagia. Seperti saat ini. Ibu sedang menyetrika baju dua orang kakakku yang sudah bersekolah di kelas 4 dan kelas 2 SD. Sambil menyeterika, Ibu bersenandung riang untukku. Aku ikut bernyanyi. Aku tertawa dan menari.

Twinkle twinkle little stars. How I wonder what you are.

Up above the world so high. Like a diamond in the sky……..

Lagu itu menggema di sekujur tubuhku. My star, you are my litlle star. Demikian ibu selalu menyapaku. O ya selain menyanyi atau bercerita, ibu juga sering memutarkanku lagu, musik atau cerita tentang Lion King. Aku paling suka cerita Lion King. Aku sering mengkhayal menjadi Simba, seorang pemimpin yang bijaksana. Ia disenangi rakyatnya dan seorang pemberani. Dan aku membenci Paman Scar yang begitu licik.

Lagi asyiknya aku mendengarkan cerita Lion King, tiba-tiba aku mendengar suara ribut-ribut di luar. Ternyata kedua kakakku, Putu dan Made sedang bertengkar memperebutkan mainan. Dengan tergopoh-gopoh ibu keluar mendamaikan mereka. Nafas ibu terdengar ngos-ngosan. Made melempar mainan ke tembok. Keduanya berteriak histeris dan menangis. Selang beberapa saat, ibu berhasil mendamaikan mereka. Begitulah yang sering terjadi.

Ayahku seorang pengusaha kayu yang sukses.Setiap hari berangkat pagi dan pulang malam. Praktis ibu yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Dari membuat sarapan, mempersiapkan kedua kakakku sampai mengantar mereka ke sekolah. Untungnya, jarak sekolah dengan rumahku cukup dekat. Ibu tak perlu mengendarai sepeda motor mengantar mereka.

Biasanya ibu berjalan kaki mengantar kedua kakakku. Sekembali dari sekolah, ibu membersihkan rumah, menyetrika, mencuci dan menyiapkan masakan untuk makan malam kami. Setelah itu ibu menjemput kedua kakakku ke sekolah. Begitu setiap hari. Bapak tidak mau memakai jasa asisten rumah tangga. Kata bapak nanti kalau ibu sudah lahiran baru memakai jasa asisten rumah tangga.

Meskipun ibu sibuk, ia selalu mendoakanku, mendekapku, bersenandung membacakan buku cerita dan mendongeng. Semuanya ia lakukan untukku. Komang, Her litle star.

Pagi ini, rupanya kesehatan ibu sedang terganggu. Aku mendengarnya batuk-batuk dan bersin-bersin. Ayah menaruh tangannya di kening ibu. Hangat.

“Bu, kamu istirahat dulu. Biar aku yang mengantar Ayu dan Putri ke sekolah. Ingat minum obat ya,” pesan ayah.

Ibu mengangguk lesu. Bibirnya melengkung membentuk senyuman meski pusing menyerang kepalanya. Ibu segera ke dapur, membuat teh jahe hangat. Diteguknya perlahan sampai tandas. Kini ibu berbaring sambil membacakanku dongeng tentang I Siap Selem.

Ibu tertidur pulas….. kunyanyikan ia lagu twinkle twinkle litle star. Senyuman manis bertahta di bibirnya. Wajah ibu terlihat damai. Biarlah ibu tidur agar ia lekas sembuh dan ceria kembali. Namun Ini tak berlangsung lama.

Suara gaduh membangunkan ibu. Rupanya kakakku Tu Ayu dan Dek Putri sudah pulang sekolah. Mereka dijemput oleh salah seorang karyawan ayah. Ibu segera beranjak menyambut kedatangan mereka. Ibu segera menyiapkan makan siang untuk kedua kakakku yang cantik itu,

 Mereka secantik ibu. Rambut hitam lebat dan panjang. Setiap pagi ibu mengepang rambut mereka. Memasangkan pita warna warni yang indah. Bulu mata mereka lentik, hidung bangir dan kulit putih. Tangan mereka ditumbuhi rambut-rambut yang agak lebat seperti ibu. Alis mereka pun tebal. Ibu biasanya merapikan rambut mereka kalau sudah panjang. Ibu memotong poni mereka. Gaya rambut mereka sama sehingga sering dikira anak kembar. Ibu rajin merawat rambut kedua kakakku.

Di waktu libur sekolah, ibu mengusap minyak kelapa atau membuatkan ramuan dari daun mangkokan untuk keramas. Kata ibu, daun mangkokan bagus untuk memperlebat dan menghitamkan rambut. Begitulah keseharian ibu.

Ketika ayah datang, ibu sudah menyiapkan air hangat, minuman hangat sampai menemani ayah makan malam. Biasanya kami sudah tidur saat ayah pulang. Ibu sering membacakan dongeng penghantar tidur buatku dan kedua kakakku. Mereka tersenyum dan tertidur pulas. Kelelahan dan keceriaan masa kecil tergambar jelas di wajah mereka.

Hari ini ayah mengajak ibu ke dokter. Karena sudah tiga hari flu yang ibu derita tak kunjung sembuh. Aku mendengar ibu berbincang dengan dokter dan ayah. Wajah ayah kelihatan kaget dan kecewa. Setelah pembicaraan itu, ayah lebih banyak diam. Ibu juga diam.  Entah apa yang mereka bicarakan. Aku tak terlalu mendengarkannya. Aku terlelap sebentar kemudian terbangun akibat sebuah guncangan.

Ibu menangis sesenggukan setelah pertemuan dengan dokter. Sejak hari itu, ibu sering menangis. Aku jadi bingung. Kadang-kadang ibu lupa menyapaku, membacakanku dongeng, menyanyi dan tertawa ceria. Aku penasaran dan berusaha mencari tahu apa penyebabnya.

Di pagi hari yang indah. Sinar mentari mengintip malu-malu melalui celah dedaunan. Aku membangunkan ibu melalui tendangan-tendangan kecilku. Ibu menggeliat terus mengusap-usap perutnya. Aku merindukan celoteh ibu. Merindukan nyanyian dan ceritanya. Sekarang ibu lebih banyak melamun dan menangis. Ibu dan bapak lebih sering terlibat pertengkaran.

“Bapak akan ngupah gender dan wayang kalau anak kita laki-laki, Bu. Bapak akan mengundang Kelihan, Kepala Desa sampai Pak Bupati. Pokoknya pesta besar-besaran,” kata bapak suatu kali.

Sejak hari itu ibu yang biasanya memanggilku Dik Omang, kini memanggilku Gus Omang. Dia percaya, kata-kata adalah doa. Dia tanamkan dalam bawah sadarnya bahwa anak ketiganya laki-laki. Ia terus berdoa agar Hyang Widhi sudi memberinya seorang anak laki-laki sebagaimana harapan suaminya. Sebab kalau anak ketiganya perempuan (lagi) maka bapak tak akan mengurusnya.

Dari hasil pemeriksaan dokter melalui USG, terlihat jelas bahwa jenis kelaminku perempuan. Aku tahu sekarang penyebab ibu sering menangis. Bapak begitu mengharapkan anak laki-laki. Sebagai orang Bali yang memiliki tetegenan gede ia sangat mengharapkan hadirnya anak laki-laki yang nantinya akan tinggal di rumah bersama orang tua.

Anak laki-laki dipandang  berharga karena ia yang akan merawat orang tua di rumah, sebagai penerus keturunan dan ngayah di masyarakat menggantikan orang tua. Sedangkan anak perempuan nantinya akan mengikuti suaminya. Jika tak memiliki anak laki-laki, maka keluarga itu dianggap ceput atau puntung. Meskipun sebenarnya bisa saja untuk menghindari kepuntungan itu dengan sentana rajeg atau anak perempuan berstatus sebagai anak lelaki (purusha).

Aku ikut menangis mendengar ibu menangis. Terlebih hatiku sangat sakit karena merasa bahwa aku adalah anak yang tidak diharapkan. Untuk melupakan kesedihannya, ibu bekerja dan bekerja terus. Ia membuka jasa cuci baju. Dari mulut ke mulut, ia menawarkan diri untuk mencuci baju para tetangga.

Karena sibuk, ibu sering melupakanku. Kadang aku menendang lebih keras agar ibu menyanyi dan bercerita padaku seperti dulu. Biasanya ibu akan menyapaku sebentar kemudian sibuk mencuci dan menyeterika lagi. Bapak, seperti biasa ia pulang malam. Ia tak lagi menanyakan keadaanku. Beberapa hari ini, ibu juga tampak agak malas berpanjang lebar dengan bapak. Ibu takut bertengkar lagi dan tambah sakit hati. Namun, meski sudah berusaha menghindari, pertengkaran itu terjadi lagi.

“Memangnya ini salahku?” tanya ibu ketus.

Bapak menghela nafas panjang.

 “Luh, kalau yang ketiga ini anak kita perempuan lagi. Hanya ada dua pilihan. Satu, Luh harus bersedia hamil lagi untuk mendapatkan anak laki-laki. Yang kedua…” Bapak kembali menghela nafas.

“Yang kedua apa?” Ibu menatap bapak penasaran.

 “Yang kedua, Luh musti bersedia dimadu.”

Wajah ibu langsung pucat. Kendi yang ia pegang langsung jatuh dan pecah berserakan.

“Bagaimana kalau aku hamil lagi dan ternyata anak kita perempuan lagi ?” Nada suara ibu semakin ketus.

 “Apa aku tetap dimadu?”

“Kalau begitu kembalikan aku pada orang tuaku,” teriak ibu lantang. Nafasnya ngos-ngosan.

 “Kita lihat saja nanti. Yang pasti aku menginginkan anak laki-laki,” jawab bapak tak kalah ketus. Bapak bergegas meninggalkan ibu sendirian yang mulai terisak. Perutnya berguncang-guncang.

Aku merasakan kesedihannya. Mendalam. Amat dalam.

Tilem tiba. Aroma dupa mewangi memenuhi seluruh sudut rumahku. Ku lihat ibu menghaturkan sesajen. Wajahnya datar, hatinya masih luka. Tengah malam, di kamar yang harum penuh wangi dupa, ia berbicara dengan topeng bondres, tertawa dan menyanyi. Seluruh keluarga besar mengintipnya dari balik tembok. Mereka sepakat mengajak ibu ke psikiater.

Tetangga-tetangga telah mendengar bahwa ibu sudah gila. Setiap ibu ke pasar, mereka berbisik-bisik. Mereka heran, mengapa kumatnya setiap Rahinan Tilem? Menghadapi omongan tetangga, bapak tak dapat berkata-kata. Ia hanya diam namun niatnya untuk kawin lagi tak pernah goyah.

..

Keterangan :

Bhardo = keadaan (The Tibetan Book of Death)

Dhadhung = sejenis tali tampar, yang dipercaya dibawa oleh Hyang Yamadipati selain Danda.

Tags: Cerpen
Share103TweetSendShareSend
Previous Post

Manusia Adalah Binatang yang Berpolitik

Next Post

Kendali Kuasa (1)

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Merespons Bali yang Berubah

Kendali Kuasa (1)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co