2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Poster “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Jaswanto by Jaswanto
February 13, 2018
in Opini
Poster  “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Ilustrasi Juli Sastrawan

RABU, 7 Februari 2018, okezone.com, menerbitkan sebuah berita yang mengejutkan saya. Berita yang berjudul, Pasang Poster “Kampus Rasa Pabrik”, Dua Mahasiswa Unhas Kena Skorsing Setahun, itu cepat menuai pro dan kontra—khususnya dikalangan netijen media sosial. Biasa, lambe-lambe turah.

Rizki Amelia dan Mohammad Nur Fiqri harus menelan pil pahit. Mereka berdua harus diskorsing selama dua semester karena menempelkan poster kritikan bertajuk “Kampus Rasa Pabrik” di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Ini lain kasus dengan Zaadit Taqwa, BEM UI yang memberikan kartu kuning kepada Presiden Indonesia, Jokowi.

Melia (panggilan akrab Rizki Amelia) menceritakan, kejadian tersebut bermula saat dirinya dan beberapa mahasiswa lainnya melakukan kegiatan diskusi panjang yang mereka sebut dengan Posfordis atau Ekonomi Pasca Industri—yang kalau boleh saya tebak kemungkinan mereka membahas seputar masyarakat pasca industri—ramalan-ramalan sosial dan konsep masyarakat post-industri yang lebih gampang dipahami lewat analisa lima dimensi atau komponen.

Dimensi pertama menyangkut sektor ekonomi, dimana penghasilan barang beralih menjadi masyarakat penghasil jasa. Dimensi kedua terjadi di lapangan pekerjaan. Di sini terdapat perubahan dalam jenis kerja: keunggulan kelas profesional dan teknis. Dimensi ketiga ialah pemusatan pengetahuan teoritis sebagai inovasi dan pembentukan kebijaksanaan bagi masyarakat. Dimensi keempat, orientasi masa depan, yang mengandalkan teknologi dan penafsiran teknologis.

Dengan kata lain, masyarakat post-industri bisa berencana bahkan mengendalikan atau mengontrol pertumbuhan teknolohi daripada hanya membiarkannya. Dimensi kelima, mencakup pengambilan keputusan dan penciptaan “teknologi intelektual” baru. Dimensi ini berkaitan dengan metode atau cara memperoleh pengetahuan.

Begitulah kira-kira. Padahal, pada intinya, pembahasan Ekonomi Pasca Industri itu, membahas tentang, tergantikannya tenaga kerja manusia oleh mesin-mesin, dan mencetak manusia seperti mesin-mesin tadi—artinya, pendidikan/kampus dipandang hanya mencetak kelompok tertentu dan hanya sebagai industri belaka. Makanya, Melia dan Nur Fiqri berpikiran untuk membuat poster yang bertajuk “Kampus Rasa Pabrik”.

Perihal pembuatan poster itu, mereka menganggapnya sebagai bentuk protes terhadap kampus sekarang ini, dimana kampus sekarang ini hadis sebagai produk kapitalisme yang hanya mencetak kelompok tertentu dan hanya sebagai industri belaka. Dan, kemudian mereka menempelkan poster itu di sejumlah titik kampus tersebut.

Saat menempelkan poster di salah satu titik, mereka berdua langsung diciduk oleh satpam setempat dan langsung diamankan ke ruangan Wakil Rektor III, tanpa basa-basi, mereka langsung mendapat skorsing dua semester dari pihak kampus, karena dianggap melakukan kegiatan vandalisme.

Saya tidak akan membahas mengenai salah atau benar, tindakan kedua mahasiswa itu maupun keputusan pihak birokrasi kampus. Saya yakin, kedua mahasiswa dan pihak birokrasi kampus memiliki pemahaman masing-masing. Kedua belah pihak, pasti memiliki pandangan kebenaran masing-masing. Dan netijen media sosial, lebih beragam berpendapat sak penak udel e dewe. Saya tidak mau ikut-ikutan. Saya takut malah memperkeruh keadaan.

Berkaca pada kasus ini, saya teringat beberapa nama yang kemudian harus berakhir tragis. Nama-nama yang sebenarnya tidak sembarangan. Dalam ilmu astronomi, Heliosentris adalah teori yang berpendapat bahwa matahari merupakan pusat dan planet-planet lain termasuk bumi mengelilinginya. Teori itu bertentangan dengan teori Geosentrisme, yang menempatkan bumi sebagai pusat alam semesta. Teori Geosentrisme ini diakui oleh Gereja Katolik pada jaman dahulu, sehingga setiap orang yang melawan teori ini, dianggap melawan gereja dan menyebarkan aliran sesat, profokatif.

Adalah Giordano Bruno (1548-1600), salah satu pendukung model matematis Heliosentris Nicolaus Copernicus yang dijabarkan dan diperluas oleh Johannes Kepler itu, mungkin salah seorang yang paling tragis hidupnya. Dia dibakar hidup-hidup pada tahun 1600.

Bruno dianggap mengajar aliran sesat karena mengatakan bumi mengelilingi matahari dan juga masih banyak matahari lain dan planet lain dengan jumlah tidak terbatas di alam semesta, matahari hanyalah salah satu bintang tersebut. Tidak hanya Bruno, begitupun Galileo Galilei (1564-1642), juga bernasib sama. Mereka menjadi korban kepentingan politik, sebab tidak sejalan dan dikira berbahaya terhadap sebuah aturan yang sudah ada sebelumnya.

Imam Ahmad bin Hanbal, disiksa dan dipenjara demi kebenaran yang diyakininya. Pada tahun 198 H, seorang Khalifah, Al-Ma’mun bin Harun ar-Rasyid, yang telah terpengaruh oleh orang-orang Mu’tazilah yang berpendapat bahwa, Al-Qur’an adalah mahluk ciptaan Allah. Padahal, sebenarnya Al-Qur’an itu firman Allah, bukan mahluk. Dan, ajaran Mu’tazilah itu diakui oleh pemerintah sebagai kebenaran.

Siapa pun yang tidak meyakini dan mengikuti ajaran itu, maka konsekuensinya adalah hukuman yang berlaku kala itu, penjara dan siksaan. Hukuman yang disebut Minha. Tak sedikit ulama dan masyarakat terpaksa menerima pemahaman itu. Kecuali Imam Ahmad, beliau menolak dengan tegas ajaran yang beliau anggap sesat itu dan berusaha meluruskannya. Akibatnya, Imam Ahmad dipenjara dan siksa.

Memang tidak ada hubungan antara kasus kedua mahasiswa yang menempel poster dan kedua kisah yang telah saya tuliskan di atas. Memang tidak ada. Akan tetapi, konteksnya sekilas sama. Dimana, seseorang akan mendapatkan ganjaran ketika seseorang itu dipandang telah menentang kebijakan yang telah disepakati sebelumnya. Walaupun, belum tentu kebijakan itu benar atau salah.

Perihal kebenaran, Thomas Kuhn dalam bukunya, The Structure of Scientific Revolution, mengatakan bahwa, semua manusia hanya sanggup menciptakan ‘paradigma’ kebenaran, bukan Wajah Kebenaran itu sendiri; hanya bisa meraih fakta, bukan Realitas. Kebenaran objektif tidak pernah ada, yang ada adalah paradigma (konsep, atau wacana) tentangnya. Sebuah wacana tak lebih dari sebuah kesepakatan paham dalam sebuah komunitas masyarakat.

Saya tidak membela kedua mahasiswa tersebut atau menyalahkan keputusan pihak pimpinan universitas yang bersangkutan—sebab saya memang tidak tahu perihal peraturan atau tata tertib universitas tersebut— saya hanya mencoba melihat dari banyak sudut pandang yang berbeda saja. Dan saya curiga, bahwa memang benar, birokrasi kampus saat ini, di mana pun itu, seperti ada ketakutan-ketakutan yang berlebihan terhadap tingkah laku mahasiswanya.

Semoga kecurigaan saya itu salah. Curiga itu kan boleh, yang tidak boleh itu menuduh. Jadi, kalau saya salah, mohon jangan dibully. Sebab, saya tidak setangguh Dilan yang mampu menahan rindu, atau tidak seberani Zaadit Taqwa yang mengkartu kuning Pak Presiden. Tabik. (T)

Tags: kampusmahasiswaPendidikan
Share40TweetSendShareSend
Previous Post

Baper

Next Post

Tergoda Ajip Rosidi “Yang Datang Telanjang”…

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Tergoda Ajip Rosidi “Yang Datang Telanjang”…

Tergoda Ajip Rosidi “Yang Datang Telanjang”...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co