23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Poster “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Jaswanto by Jaswanto
February 13, 2018
in Opini
Poster  “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Ilustrasi Juli Sastrawan

RABU, 7 Februari 2018, okezone.com, menerbitkan sebuah berita yang mengejutkan saya. Berita yang berjudul, Pasang Poster “Kampus Rasa Pabrik”, Dua Mahasiswa Unhas Kena Skorsing Setahun, itu cepat menuai pro dan kontra—khususnya dikalangan netijen media sosial. Biasa, lambe-lambe turah.

Rizki Amelia dan Mohammad Nur Fiqri harus menelan pil pahit. Mereka berdua harus diskorsing selama dua semester karena menempelkan poster kritikan bertajuk “Kampus Rasa Pabrik” di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Ini lain kasus dengan Zaadit Taqwa, BEM UI yang memberikan kartu kuning kepada Presiden Indonesia, Jokowi.

Melia (panggilan akrab Rizki Amelia) menceritakan, kejadian tersebut bermula saat dirinya dan beberapa mahasiswa lainnya melakukan kegiatan diskusi panjang yang mereka sebut dengan Posfordis atau Ekonomi Pasca Industri—yang kalau boleh saya tebak kemungkinan mereka membahas seputar masyarakat pasca industri—ramalan-ramalan sosial dan konsep masyarakat post-industri yang lebih gampang dipahami lewat analisa lima dimensi atau komponen.

Dimensi pertama menyangkut sektor ekonomi, dimana penghasilan barang beralih menjadi masyarakat penghasil jasa. Dimensi kedua terjadi di lapangan pekerjaan. Di sini terdapat perubahan dalam jenis kerja: keunggulan kelas profesional dan teknis. Dimensi ketiga ialah pemusatan pengetahuan teoritis sebagai inovasi dan pembentukan kebijaksanaan bagi masyarakat. Dimensi keempat, orientasi masa depan, yang mengandalkan teknologi dan penafsiran teknologis.

Dengan kata lain, masyarakat post-industri bisa berencana bahkan mengendalikan atau mengontrol pertumbuhan teknolohi daripada hanya membiarkannya. Dimensi kelima, mencakup pengambilan keputusan dan penciptaan “teknologi intelektual” baru. Dimensi ini berkaitan dengan metode atau cara memperoleh pengetahuan.

Begitulah kira-kira. Padahal, pada intinya, pembahasan Ekonomi Pasca Industri itu, membahas tentang, tergantikannya tenaga kerja manusia oleh mesin-mesin, dan mencetak manusia seperti mesin-mesin tadi—artinya, pendidikan/kampus dipandang hanya mencetak kelompok tertentu dan hanya sebagai industri belaka. Makanya, Melia dan Nur Fiqri berpikiran untuk membuat poster yang bertajuk “Kampus Rasa Pabrik”.

Perihal pembuatan poster itu, mereka menganggapnya sebagai bentuk protes terhadap kampus sekarang ini, dimana kampus sekarang ini hadis sebagai produk kapitalisme yang hanya mencetak kelompok tertentu dan hanya sebagai industri belaka. Dan, kemudian mereka menempelkan poster itu di sejumlah titik kampus tersebut.

Saat menempelkan poster di salah satu titik, mereka berdua langsung diciduk oleh satpam setempat dan langsung diamankan ke ruangan Wakil Rektor III, tanpa basa-basi, mereka langsung mendapat skorsing dua semester dari pihak kampus, karena dianggap melakukan kegiatan vandalisme.

Saya tidak akan membahas mengenai salah atau benar, tindakan kedua mahasiswa itu maupun keputusan pihak birokrasi kampus. Saya yakin, kedua mahasiswa dan pihak birokrasi kampus memiliki pemahaman masing-masing. Kedua belah pihak, pasti memiliki pandangan kebenaran masing-masing. Dan netijen media sosial, lebih beragam berpendapat sak penak udel e dewe. Saya tidak mau ikut-ikutan. Saya takut malah memperkeruh keadaan.

Berkaca pada kasus ini, saya teringat beberapa nama yang kemudian harus berakhir tragis. Nama-nama yang sebenarnya tidak sembarangan. Dalam ilmu astronomi, Heliosentris adalah teori yang berpendapat bahwa matahari merupakan pusat dan planet-planet lain termasuk bumi mengelilinginya. Teori itu bertentangan dengan teori Geosentrisme, yang menempatkan bumi sebagai pusat alam semesta. Teori Geosentrisme ini diakui oleh Gereja Katolik pada jaman dahulu, sehingga setiap orang yang melawan teori ini, dianggap melawan gereja dan menyebarkan aliran sesat, profokatif.

Adalah Giordano Bruno (1548-1600), salah satu pendukung model matematis Heliosentris Nicolaus Copernicus yang dijabarkan dan diperluas oleh Johannes Kepler itu, mungkin salah seorang yang paling tragis hidupnya. Dia dibakar hidup-hidup pada tahun 1600.

Bruno dianggap mengajar aliran sesat karena mengatakan bumi mengelilingi matahari dan juga masih banyak matahari lain dan planet lain dengan jumlah tidak terbatas di alam semesta, matahari hanyalah salah satu bintang tersebut. Tidak hanya Bruno, begitupun Galileo Galilei (1564-1642), juga bernasib sama. Mereka menjadi korban kepentingan politik, sebab tidak sejalan dan dikira berbahaya terhadap sebuah aturan yang sudah ada sebelumnya.

Imam Ahmad bin Hanbal, disiksa dan dipenjara demi kebenaran yang diyakininya. Pada tahun 198 H, seorang Khalifah, Al-Ma’mun bin Harun ar-Rasyid, yang telah terpengaruh oleh orang-orang Mu’tazilah yang berpendapat bahwa, Al-Qur’an adalah mahluk ciptaan Allah. Padahal, sebenarnya Al-Qur’an itu firman Allah, bukan mahluk. Dan, ajaran Mu’tazilah itu diakui oleh pemerintah sebagai kebenaran.

Siapa pun yang tidak meyakini dan mengikuti ajaran itu, maka konsekuensinya adalah hukuman yang berlaku kala itu, penjara dan siksaan. Hukuman yang disebut Minha. Tak sedikit ulama dan masyarakat terpaksa menerima pemahaman itu. Kecuali Imam Ahmad, beliau menolak dengan tegas ajaran yang beliau anggap sesat itu dan berusaha meluruskannya. Akibatnya, Imam Ahmad dipenjara dan siksa.

Memang tidak ada hubungan antara kasus kedua mahasiswa yang menempel poster dan kedua kisah yang telah saya tuliskan di atas. Memang tidak ada. Akan tetapi, konteksnya sekilas sama. Dimana, seseorang akan mendapatkan ganjaran ketika seseorang itu dipandang telah menentang kebijakan yang telah disepakati sebelumnya. Walaupun, belum tentu kebijakan itu benar atau salah.

Perihal kebenaran, Thomas Kuhn dalam bukunya, The Structure of Scientific Revolution, mengatakan bahwa, semua manusia hanya sanggup menciptakan ‘paradigma’ kebenaran, bukan Wajah Kebenaran itu sendiri; hanya bisa meraih fakta, bukan Realitas. Kebenaran objektif tidak pernah ada, yang ada adalah paradigma (konsep, atau wacana) tentangnya. Sebuah wacana tak lebih dari sebuah kesepakatan paham dalam sebuah komunitas masyarakat.

Saya tidak membela kedua mahasiswa tersebut atau menyalahkan keputusan pihak pimpinan universitas yang bersangkutan—sebab saya memang tidak tahu perihal peraturan atau tata tertib universitas tersebut— saya hanya mencoba melihat dari banyak sudut pandang yang berbeda saja. Dan saya curiga, bahwa memang benar, birokrasi kampus saat ini, di mana pun itu, seperti ada ketakutan-ketakutan yang berlebihan terhadap tingkah laku mahasiswanya.

Semoga kecurigaan saya itu salah. Curiga itu kan boleh, yang tidak boleh itu menuduh. Jadi, kalau saya salah, mohon jangan dibully. Sebab, saya tidak setangguh Dilan yang mampu menahan rindu, atau tidak seberani Zaadit Taqwa yang mengkartu kuning Pak Presiden. Tabik. (T)

Tags: kampusmahasiswaPendidikan
Share40TweetSendShareSend
Previous Post

Baper

Next Post

Tergoda Ajip Rosidi “Yang Datang Telanjang”…

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Tergoda Ajip Rosidi “Yang Datang Telanjang”…

Tergoda Ajip Rosidi “Yang Datang Telanjang”...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co