23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Baper

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 16, 2018
in Esai
Baper

KOPLAK  mengusap peluh di dahinya. Melirik jam tangan di tangan kirinya. Berkali-kali dia melirik jam tangan itu sambil berpikir dan merengut. Ekspresinya terlihat seperti mengandung beban berat.

***

“Bape,karena Bape sudah menjadi ayah terbaik di seluruh dunia, Tiang, ingin sekali memberi hadiah istimewa untuk Bape? Bape boleh pilih. Bape mau hadiah apa?” Koplak terbelalak. Hadiah? Hadiah untuk apa? Dalam rangka apa? Untuk peristiwa apa? Baginya selama tahun 2017 sampai bulan Pebruari 2018 , Koplak merasa belum memiliki prestasi yang patut dibanggakan. Juga tidak ada hal-hal atau pun keputusanya yang cergas, lagas, dan bernas. Lalu, untuk apa anak perempuan semata wayangnya, Ni Luh Putu Kemitir ingin memberikan hadiah.

“Maksudmu, apa?” Koplak menatap Kemitir serius, sambil mengangumi kecantikannya, dan berharap jika waktunya telah tiba, Kemitir akan menemukan seorang lelaki yang diharapkan bisa menjaga Kemitir penuh cinta. Sama seperti cinta Koplak untuk Kemitir. Tulus, lurus.

“Kamu merasa tulus memberi cinta untuk anak perempuanmu?” tanya Pan Balung suatu senja.

“Cintaku pada anak perempuanku tidak tergantikan.”

“Tetapi kamu pamrih. Persis seperti orang-orang politik itu, kerjanya menebar janji. Mereka juga selalu membawa ketulusan, kedamaikan, cinta—kasih yang mereka tebarkan bak seorang dewa yang benar-benar sempurna. Turun ke pasar becek. Makan di warung kaki lima yang biasanya diperuntukkan untuk rakyat. Pulang dari warung dan makan di kaki lima yang hiruk-pikuk di pasar dijamin mereka pasti minum obat mencret.” Pan Balung terbahak-bahak.

“Jangan menghina seperti itu. Kemarin aku ikut rapat di kantor kecamatan. Kata Pak Camat, sebagai aparat pemerintah mulai saat ini entah sampai kapan, kami para Kades disuruh hati-hati berbicara. Hati-hati menyebar info di media sosial. Karena akan ada penerapan pidana terhadap pelaku penghinaan penyelenggara negara?”

“Hah?! Serius?”

“Serius. Pak Camat hanya memberi pengarahan seperti itu. Aturannya belum jelas.Tetapi aparat desa diminta hati-hati.”

“Waduh! Ini berarti kemunduran, Koplak?”

“Kemunduran?”

“Ya.“ Pan Balung berkata serius sambil menatap mata Koplak serius. Pan Balung terlihat sangat serius, Koplak terdiam. Matanya memandang Pan Balung penuh tanda tanya. Dahi Pan Balung berkerut keras. Sampai terlihat dengan jelas potret usia Pan Balung. Tidak biasanya Pan Balung berkerut seperti itu. Biasanya hal-hal remeh selalu jadi bahan tertawaannya. Kali ini Pan Balung serius. Koplak merasa ini pertanda ada sesuatu yang tidak beres merembes sangat dalam ke palung jiwa dan pikirannya.

“Maksudmu, apa? Tidak biasanya kau serius seperti ini. Sepertinya negara dalam kondisi bencana berat saja. Kau jangan menambah ketakutan dan teror.” Koplak berkata datar sambil menenangkan pikiran dan hatinya sendiri.

Pan Balung bagi Koplak adalah penunjuk arah selama dia ikut berpolitik. Walau pun cuma sebagai Kades di desa terpencil yang tidak pernah terjamah koran lokal, apalagi koran nasional. Kalau istilah orang politik tingkat tinggi Pan Balung ibarat penasehat yang mengingatkan Koplak pada Presiden Joko Widodo  yang sejak jadi presiden secara resmi didampingi sembilan orang Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Nah, Pan Balung ini namanya Wantimdes spesial, karena Koplak hanya memiliki satu Wantimdes. Kalau Watimpres dibayar, Watimdes “ngayah” dan Pan Balung juga tidak pernah protes tentang jabatan tidak resmi yang disandangnya. Pan Balung juga tidak menuntut eksis atau dilantik dan masuk TV atau koran lokal. Pan Balung melalukannya dengan tulus, ikhlas dan riang. Demi persaabatan demi kemajuan desa Sawut, desa tempat lahir dan kelak kematian Pan Balung.

“Balung, apa yang kau tangkap dari rapat dengan Pak Camat?” Koplak ikut mengeryitkan dahinya.

“Ini berarti negara kita makin mundur Koplak. Jika penerapan pidana itu berlaku. Demokrasi yang telah kita perjuangkan sejak 1998, tidak berarti. omong kosong, mimpi siang bolong. Kebebasan menyampikan aspirasi itu jalan hidup bagi kemajuan sebuah negara, jalan hidup berdemokrasi seharusnya dijamin negara. Harusnya di depan hukum setiap orang memiliki hak sama, baik warga biasa, presiden maupun anggota DPR. Jika pasal penghinaan terhadap penyelenggara negara diterapkan, hal itu bisa mengancam demokrasi karena hal yang harus diingat adalah pada hakikatnya setiap orang di depan hukum sama,”

Koplak terdiam.

Pan Balung sarjana hukum di sebuah universitas ternama di negera ini berkata pelan dan hati-hati. Berharap Koplak paham. Pan Balung berusaha menata diksi bahasa Indonesia sesederhana mungkin, semudah mungkin biar bisa diserap Koplak, “Demokrasi yang sehat itu membutuhkan kritik dan aspirasi masyarakat untuk mengontrol kekuasaan. Kalau penyelenggara negara tidak mau dikritik, siapa yang akan mengingatkan mereka? Siapa yang akan mencaci kerja dan kekuasaan mereka? Karena kekuasaan cenderung membuat seseorang berprilaku korup. Kau bisa hitung, berapa ratus penyelenggara negara yang ditangkap KPK. Bayangkan kebayangan OTT, operasi tangkap tangan. Memalukan! Apa jadinya negara ini kalau orang-orang seperti kita tidak boleh bersuara? Sadar nggak sih mereka, sesungguhnya mereka ada karena kita, rakyat! Mereka bisa dapat fasilitas karena uang dari kita, rakyat!” Pan Balung menggelengkan kepalanya.

“Ya, aku paham.” Koplak berkata serius.

“Dari tadi kau melirik jam terus. Apa kau ada acara? Atau menunggu seseorang?” Pan Balung menatap Koplak. Koplak terdiam. Pan Balung tersenyum,“Jam tanganmu bagus, pasti hadiah dari orang spesial, ya? Sejak kematian istrimu, Ni Luh Wayan Langir. Aku tidak pernah mendengar kau dekat dengan perempuan. Baguslah kalau kau mulai mencoba mencari istri lagi. Minimal untuk teman hidupmu jika kau tua.” Pan Balung tersenyum jenaka lalu pamit pulang, sambil terus menggoda Koplak.

Koplak  menarik nafas. Ingat kata-kata Kemitir.

“Bape harus pakai hadiah ini. Ini jam mahal. Bape jangan baper?”

“Baper?”

“Iya bawa perasaan. Itu uang halal, Kemitir tidak korupsi, tidak juga jual diri.”

“Berat sekali jam ini?”

“Jam mahal, Bape. Buatan luar negeri.” Kemitir tersenyum sambil memeluk ayahnya dan membisikkan harga jam tangan itu. Hampir saja jantung Koplak keluar dari rangkanya. Ada rasa tidak enak memakai jam tangan seharga jutaan. Koplak tidak habis pikir bagaimana nurani orang korupsi itu ya? Apakah mereka tidak enak hati ketika mencuri duit rakyat?

Ketika pertanyaan-pertanyaan itu dipulangkan pada Kemitir, bocah perempuan yang sudah menjelma jadi gadis cantik itu berkata lugas.

“Bape terlalu baper. Makanya tidak kaya-kaya.” Kemitir tertawa santai Koplak mendelik sampai melorot kaca mata minusnya. Kemitir pun kembali berteriak, “Selamat hari valentine, Bape tercinta. Selamat merayakan imlek juga ya?” Kemitir pun berlalu. Hari Valentine? Memangnya dirinya abg? Koplak membiarkan Kemitir berlalu sambil melirik jam di tangannya. Baper? Koplak benar-benar merasa baper akut! (T)

Denpasar, 10/2/2018

 

Tags: Anti KorupsiKorupsiPolitik
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

First Part of “PlayPlay: Charcoal For Children 2017/2018” was a Success

Next Post

Poster “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Poster  “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Poster “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co