2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Baper

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 16, 2018
in Esai
Baper

KOPLAK  mengusap peluh di dahinya. Melirik jam tangan di tangan kirinya. Berkali-kali dia melirik jam tangan itu sambil berpikir dan merengut. Ekspresinya terlihat seperti mengandung beban berat.

***

“Bape,karena Bape sudah menjadi ayah terbaik di seluruh dunia, Tiang, ingin sekali memberi hadiah istimewa untuk Bape? Bape boleh pilih. Bape mau hadiah apa?” Koplak terbelalak. Hadiah? Hadiah untuk apa? Dalam rangka apa? Untuk peristiwa apa? Baginya selama tahun 2017 sampai bulan Pebruari 2018 , Koplak merasa belum memiliki prestasi yang patut dibanggakan. Juga tidak ada hal-hal atau pun keputusanya yang cergas, lagas, dan bernas. Lalu, untuk apa anak perempuan semata wayangnya, Ni Luh Putu Kemitir ingin memberikan hadiah.

“Maksudmu, apa?” Koplak menatap Kemitir serius, sambil mengangumi kecantikannya, dan berharap jika waktunya telah tiba, Kemitir akan menemukan seorang lelaki yang diharapkan bisa menjaga Kemitir penuh cinta. Sama seperti cinta Koplak untuk Kemitir. Tulus, lurus.

“Kamu merasa tulus memberi cinta untuk anak perempuanmu?” tanya Pan Balung suatu senja.

“Cintaku pada anak perempuanku tidak tergantikan.”

“Tetapi kamu pamrih. Persis seperti orang-orang politik itu, kerjanya menebar janji. Mereka juga selalu membawa ketulusan, kedamaikan, cinta—kasih yang mereka tebarkan bak seorang dewa yang benar-benar sempurna. Turun ke pasar becek. Makan di warung kaki lima yang biasanya diperuntukkan untuk rakyat. Pulang dari warung dan makan di kaki lima yang hiruk-pikuk di pasar dijamin mereka pasti minum obat mencret.” Pan Balung terbahak-bahak.

“Jangan menghina seperti itu. Kemarin aku ikut rapat di kantor kecamatan. Kata Pak Camat, sebagai aparat pemerintah mulai saat ini entah sampai kapan, kami para Kades disuruh hati-hati berbicara. Hati-hati menyebar info di media sosial. Karena akan ada penerapan pidana terhadap pelaku penghinaan penyelenggara negara?”

“Hah?! Serius?”

“Serius. Pak Camat hanya memberi pengarahan seperti itu. Aturannya belum jelas.Tetapi aparat desa diminta hati-hati.”

“Waduh! Ini berarti kemunduran, Koplak?”

“Kemunduran?”

“Ya.“ Pan Balung berkata serius sambil menatap mata Koplak serius. Pan Balung terlihat sangat serius, Koplak terdiam. Matanya memandang Pan Balung penuh tanda tanya. Dahi Pan Balung berkerut keras. Sampai terlihat dengan jelas potret usia Pan Balung. Tidak biasanya Pan Balung berkerut seperti itu. Biasanya hal-hal remeh selalu jadi bahan tertawaannya. Kali ini Pan Balung serius. Koplak merasa ini pertanda ada sesuatu yang tidak beres merembes sangat dalam ke palung jiwa dan pikirannya.

“Maksudmu, apa? Tidak biasanya kau serius seperti ini. Sepertinya negara dalam kondisi bencana berat saja. Kau jangan menambah ketakutan dan teror.” Koplak berkata datar sambil menenangkan pikiran dan hatinya sendiri.

Pan Balung bagi Koplak adalah penunjuk arah selama dia ikut berpolitik. Walau pun cuma sebagai Kades di desa terpencil yang tidak pernah terjamah koran lokal, apalagi koran nasional. Kalau istilah orang politik tingkat tinggi Pan Balung ibarat penasehat yang mengingatkan Koplak pada Presiden Joko Widodo  yang sejak jadi presiden secara resmi didampingi sembilan orang Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Nah, Pan Balung ini namanya Wantimdes spesial, karena Koplak hanya memiliki satu Wantimdes. Kalau Watimpres dibayar, Watimdes “ngayah” dan Pan Balung juga tidak pernah protes tentang jabatan tidak resmi yang disandangnya. Pan Balung juga tidak menuntut eksis atau dilantik dan masuk TV atau koran lokal. Pan Balung melalukannya dengan tulus, ikhlas dan riang. Demi persaabatan demi kemajuan desa Sawut, desa tempat lahir dan kelak kematian Pan Balung.

“Balung, apa yang kau tangkap dari rapat dengan Pak Camat?” Koplak ikut mengeryitkan dahinya.

“Ini berarti negara kita makin mundur Koplak. Jika penerapan pidana itu berlaku. Demokrasi yang telah kita perjuangkan sejak 1998, tidak berarti. omong kosong, mimpi siang bolong. Kebebasan menyampikan aspirasi itu jalan hidup bagi kemajuan sebuah negara, jalan hidup berdemokrasi seharusnya dijamin negara. Harusnya di depan hukum setiap orang memiliki hak sama, baik warga biasa, presiden maupun anggota DPR. Jika pasal penghinaan terhadap penyelenggara negara diterapkan, hal itu bisa mengancam demokrasi karena hal yang harus diingat adalah pada hakikatnya setiap orang di depan hukum sama,”

Koplak terdiam.

Pan Balung sarjana hukum di sebuah universitas ternama di negera ini berkata pelan dan hati-hati. Berharap Koplak paham. Pan Balung berusaha menata diksi bahasa Indonesia sesederhana mungkin, semudah mungkin biar bisa diserap Koplak, “Demokrasi yang sehat itu membutuhkan kritik dan aspirasi masyarakat untuk mengontrol kekuasaan. Kalau penyelenggara negara tidak mau dikritik, siapa yang akan mengingatkan mereka? Siapa yang akan mencaci kerja dan kekuasaan mereka? Karena kekuasaan cenderung membuat seseorang berprilaku korup. Kau bisa hitung, berapa ratus penyelenggara negara yang ditangkap KPK. Bayangkan kebayangan OTT, operasi tangkap tangan. Memalukan! Apa jadinya negara ini kalau orang-orang seperti kita tidak boleh bersuara? Sadar nggak sih mereka, sesungguhnya mereka ada karena kita, rakyat! Mereka bisa dapat fasilitas karena uang dari kita, rakyat!” Pan Balung menggelengkan kepalanya.

“Ya, aku paham.” Koplak berkata serius.

“Dari tadi kau melirik jam terus. Apa kau ada acara? Atau menunggu seseorang?” Pan Balung menatap Koplak. Koplak terdiam. Pan Balung tersenyum,“Jam tanganmu bagus, pasti hadiah dari orang spesial, ya? Sejak kematian istrimu, Ni Luh Wayan Langir. Aku tidak pernah mendengar kau dekat dengan perempuan. Baguslah kalau kau mulai mencoba mencari istri lagi. Minimal untuk teman hidupmu jika kau tua.” Pan Balung tersenyum jenaka lalu pamit pulang, sambil terus menggoda Koplak.

Koplak  menarik nafas. Ingat kata-kata Kemitir.

“Bape harus pakai hadiah ini. Ini jam mahal. Bape jangan baper?”

“Baper?”

“Iya bawa perasaan. Itu uang halal, Kemitir tidak korupsi, tidak juga jual diri.”

“Berat sekali jam ini?”

“Jam mahal, Bape. Buatan luar negeri.” Kemitir tersenyum sambil memeluk ayahnya dan membisikkan harga jam tangan itu. Hampir saja jantung Koplak keluar dari rangkanya. Ada rasa tidak enak memakai jam tangan seharga jutaan. Koplak tidak habis pikir bagaimana nurani orang korupsi itu ya? Apakah mereka tidak enak hati ketika mencuri duit rakyat?

Ketika pertanyaan-pertanyaan itu dipulangkan pada Kemitir, bocah perempuan yang sudah menjelma jadi gadis cantik itu berkata lugas.

“Bape terlalu baper. Makanya tidak kaya-kaya.” Kemitir tertawa santai Koplak mendelik sampai melorot kaca mata minusnya. Kemitir pun kembali berteriak, “Selamat hari valentine, Bape tercinta. Selamat merayakan imlek juga ya?” Kemitir pun berlalu. Hari Valentine? Memangnya dirinya abg? Koplak membiarkan Kemitir berlalu sambil melirik jam di tangannya. Baper? Koplak benar-benar merasa baper akut! (T)

Denpasar, 10/2/2018

 

Tags: Anti KorupsiKorupsiPolitik
Share4TweetSendShareSend
Previous Post

First Part of “PlayPlay: Charcoal For Children 2017/2018” was a Success

Next Post

Poster “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Poster  “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Poster “Kampus Rasa Pabrik” dan Ketakutan Birokrasi Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co