2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemilih Pemula, Mencoblos di Tengah Antipati dan Buta Politik – Catatan Jelang Pilgub

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
February 2, 2018
in Opini

 

ADALAH mereka yang sudah berusia 17 tahun, maksimal tanggal 27 Juni 2018 nanti, bisa memilih calon gubernur dan wakil gubernurnya. Rata-rata dari mereka saat ini masih ada di bangku SMA. Selain itu, kakak-kakak mereka yang sedikit lebih tua, juga telah punya hak yang sama. Mereka saat ini ada di bangku kuliah.

Kedua golongan ini –siswa dan mahasiswa– sedang sibuk bergelut dengan tugas sekolah dan kuliah. Di bangku kuliah, tugas dosen bahkan datang bertubi tanpa permisi, tiada henti. Pun juga (mungkin) ada yang sekaligus sedang memperjuangkan nasib jodohnya, mengamankannya dari para penikung ulung.

Di balik perjuangan tentang jodoh tadi, kedua kelompok usia itu punya dua peran penting, atau mungkin tepatnya dua posisi penting di Pilgub Bali 2018. Sayangnya, kedua posisi itu tidak berdampingan, melainkan berhadapan, bahkan bertolak belakang.

Posisi pertama ada di zona putih, posisi yang dapat menjadikan mereka pemilih cerdas dan kritis. Kendati, ini mungkin menjadi pengalaman pertama mereka menentukan pilihan politiknya.

Sebaliknya, posisi kedua ada di zona hitam. Posisi yang dapat membentuk mereka menjadi pemilih antipati, kurang kritis, dan mengikuti arus mainstream. Celakanya, jika arus mainstream yang mereka ikuti adalah arus politik transaksional, yang mayoritas saat ini terjadi. Ya, kendati sekuat tenaga diupayakan untuk ditutupi.

Kedua posisi itu punya peluang yang sama untuk dimiliki, 50:50. Mengapa? Karena mereka pemilih pemula. Apa yang pertama kali mereka dapat, dengar, dan baca, kemungkinan akan menjadi dasar pikiran mereka selanjutnya. Akan menjadi putih ketika mendapat putih, pun akan menjadi hitam ketika menerima hitam.

Sayangnya, aroma bahwa mereka akan mengarah ke zona hitam lebih pekat terhirup. Ini bukan serta merta terjadi. Setidaknya ada satu alasan yang menyertai anggapan awal ini. Adalah bekal pandangan politik yang (mayoritas dari) mereka miliki bisa dibilang sedikit. Bahkan, mungkin kosong sama sekali.

Kenapa bisa begitu? Jawabannya hanya satu. Politik masih berbau busuk di hidung, masih terdegar bising di telinga, dan masih terasa pahit di lidah (sebagian) masyarakat. Ketiga indera itu mengirim sinyal ke otak, sehingga mereka secara simultan memunculkan persepsi bahwa politik itu buruk. Jangankan disukai, dikenalpun mungkin tidak mau. Titik.

Kalau mau ditelusuri, persepsi itu muncul karena ada stimulus. Saat ini, di era digital, stimulus yang paling keras adalah media. Hampir setiap hari media memuat berita politik. Sayangnya, mayoritas berita yang ditayangkan, diperdengarkan, dan digambarkan cenderung ke arah negatif.

Contoh, ketua umum partai politik terlibat kasus korupsi, perdebatan tentang politik identitas, hingga pertengkaran elit politik yang mempertahankan kebenaran versinya. Parahnya, kebenaran versi elit itu dipertahankan bukan atas dasar fakta kebenaran, melainkan opini pembenaran.

Wajar saja mereka antipati. Di saat seharian mereka belajar demi masa depan dan sesekali ingin mendapatkan hiburan di TV, misalnya, yang dilihat hanya perdebatan itu. Mayoritas elit politik mempertontonkan perdebatan bahkan pertengkaran yang, jujur saja, kadang memalukan. Suka tidak suka, ini fakta.

Stimulus itu justru diperkuat karena di tempat mereka, para pemilih pemula, berada saat ini juga antipati terhadap politik. Sekolah dan kampus (non FISIPOL) mungkin masih mengaharamkan politik masuk ke tempat mereka. Kalau partai politik yang diharamkan, masih bisa diterima. Karena lembaga pendidikan memang harus netral. Sayangnya, banyak dari mereka yang sampai mengaharamkan pendidikan politik masuk ke sana.

Kumpulan stimulus dan penguatnya itu bukan tidak mungkin menjadikan antipati terhadap politik sebagai sebuah kebenaran. Akan menjadikan buta politik sebagai sebuah kemelekan yang sesungguhnya. Dan, sikap tidak peduli politik adalah sebuah kebanggaan.

Kalau itu berlanjut, mungkin negara ini akan bubar. Pandangan ini memang ekstrim, tapi ini cukup logis. Karena, semua penyelenggara negara adalah produk politik. Karena, politik itu ilmu hidup. Semua hal sejak bangun tidur hingga beranjak tidur lagi diatur oleh produk politik. Harga beras, biaya serta kurikulum sekolah, ongkos rumah sakit, gaji pegawai dan masih banyak lagi, semua diatur oleh produk politik.

Apabila semua orang antipati dengan semua hal yang disebutkan tadi, akhirnya akan ada satu kata. Bubar.

Tentu, dalam hal ini, bubar bukan pilihan. Masuk begitu saja ke zona hitam bagi mereka para pemilih pemula juga bukan hal yang dianjurkan. Lalu, bagaimana?

Sebagai seorang yang baru akan menentukan pilihan politiknya, setidaknya dalam Pilgub Bali, mereka harus beranjak menuju zona putih. Atau, mungkin dituntun menuju ke zona putih. Oleh siapa? Oleh orang yang lebih tua, lembaga pendidikan, dan diri mereka sendiri.

Orang tua, dalam konteks Pilgub Bali, kendati tidak semua, dapat dikatakan masih terikat dengan politik transaksional. Meski berusaha dikaburkan, samar-samar itu masih terlihat. Banyak dari mereka masih cenderung menentukan pilihan politik atas dasar warna dan apa yang didapat dalam sekejap. Bukan figur, program, dan terobosan untuk perbaikan penyelenggaraan pemerintahan jangka panjang.

Contoh, calon yang apabila menang menawarkan pembangunan bale banjar akan lebih dipilih daripada calon yang menawarkan pemerintahan bebas dari KKN. Wajar, karena bale banjar tampak nyata, sedangkan pemerintahan bebas dari KKN wujudnya abstrak. Padahal, itu perbaikan mendasar.

Anak muda, para pemilih pemula, idealnya ditularkan sudut pandang politik yang berbeda, oleh mereka yang lebih tua. Bahwa pilihan politik bukan sekadar apa yang saya dapat ketika memilih siapa. Namun, dengan sudut pandang untuk menjalankan kewajiban berpartisipasi dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang lebih baik. Untuk perbaikan mendasar yang bermanfaat bagi orang banyak. Untuk perbaikan mental masyarakat menjadi masyarakat dengan mental mandiri, bukan mental peminta-minta.

Selanjutnya, sekolah dan kampus sebagai lembaga pendidikan baiknya mengambil peran untuk memberi perlawanan terhadap berita-berita buruk politik tadi. Kedua lembaga itu alangkah baiknya mendidik para pemilih pemula yang ada di sana untuk tidak sekadar melek huruf, tapi juga melek politik. Sehingga, anak didiknya menjadi paham bahwa politik itu sebenarnya bukan apa yang mereka lihat dan dengar di media mainstream sekarang. Sehingga, anak didiknya paham bahwa politik merupakan seni bernegara untuk mencapai tujuan negara.

Terakhir, diri mereka sendiri, para pemilih pemula. Kemauan untuk melek politik setidaknya ditumbuhkan. Menunjukkan diri bahwa cara memilih pemimpin bagi orang yang terdidik di bangku sekolah dan kampus adalah berbeda. Pemilih pemula, yang ada di sekolah dan kampus, menggunakan nalar kritis dalam menentukan pilihan politik.

Mereka memiliki prinsip bukan tentang “apa yang saya dapat” melainkan tentang “apa yang Bali dapat”. Lalu, membuktikan diri, kendati sebagai pemilih pemula, mereka bukan ada pada posisi kebo mebalih gong. Yang manut, setuju, tanpa pertimbangan nalar politik yang logis. Sehingga, tujuan akhirnya adalah Bali memiliki gubernur dan wakil gubernur yang memang ada untuk semua orang Bali. Yang menuntun Bali menjadi santhi dan jagadhita. (T)

Tags: mahasiswapemilih pemulaPilkadaPilkada Balisiswa
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Sinema Bentara: Cerita Sastra dalam Film Kita

Next Post

Konsep

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Konsep

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co