2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konsep

Muhamad Kusuma Gotansyah by Muhamad Kusuma Gotansyah
February 2, 2018
in Cerpen

Karya Rupa: Nyoman Erawan (2015)

 

Cerpen: Muhamad Kusuma Gotansyah

CERITA ini berlangsung lambat, seperti lift berisi delapan orang yang menjadi latar tempat cerita ini. Lift itu sudah tua, tak sama seperti para figuran di dalamnya. Aku katakan figuran karena di dalam cerita ini sang protagonis adalah diriku, tetapi aku muncul belakangan, itu yang direncanakan sang penulis. Untuk yang berperan sebagai tokoh antagonis, aku kurang mengerti siapa, sang penulis tidak memberi penjelasan yang dapat kupahami tentangnya, mungkin seiring cerita berkembang, aku akan tahu siapa antagonis cerita ini.

Pada suatu pagi hari Senin, di dalam sebuah lift tua yang bergerak dari lantai teratas ke bawah di dalam sebuah apartemen elit di tengah kota.

Nah, ternyata sang penulis baru saja memutuskan untuk memulai cerita dengan ‘Pada suata pagi hari Senin, di dalam sebuah lift tua yang bergerak dari lantai teratas ke bawah di dalam sebuah apartemen elit di tengah kota.’ Kemungkinan besar kelanjutan cerita ini akan menuju kepada eksposisi keadaan lift itu, atau kedatangan para figuran satu per satu ke dalam lift tersebut. Atau mungkin langsung tancap gas ke konflik cerita, seperti lift rusak atau apartemen dibom atau ada mayat di dalam lift tersebut.

Lalu aku melihat cerita ini berkembang ke arah kemungkinan yang kedua, yakni kedatangan para figuran satu per satu ke dalam lift tersebut. Beberapa saat setelah prolog ditulis, (tepatnya di lantai ketiga puluh delapan; apartemen itu terdiri dari empat puluh dua lantai, termasuk lobi dan basement) seorang lelaki muda berpenampilan kekinian memasuki lift. Kekinian: mengenakan celana pendek di atas lutut, kaus putih polos, berjanggut tipis dan rapi, tangan dan kakinya berbulu namun tak lebat, terdapat man bun di rambutnya, bertubuh tinggi dan tegap dan kurus berotot, dan memakai sepasang sepatu kasual bermerk Gucci. Ia lalu mengeluarkan iPhonenya dari saku kanan celananya, memilih aplikasi Whatsapp, lalu mengetik sebuah pesan kepada seseorang.

Tak sampai satu menit, aku menyaksikan seorang lagi figuran masuk ke dalam lift satu lantai kemudian. Ia adalah seorang wanita muda. Berkerudung, berpakaian seragam suster, make-upnya tidak terlalu tebal; hanya polesan tipis mascara di bawah mata dan bedak di pipi serta lipstik tipis di bibir, menenteng tas tangan wanita berwarna hitam bermerk Louis Vuitton, dan bersepatu wanita dengan merk yang tidak diketahui. Sejenak ia melirik pada lelaki muda yang saat itu berdiri di pojok kanan depan lift (berdasarkan sudut pandang suster muda). Dalam sekelibat pandang ini, si lelaki tersenyum, kemudian suster muda membalas dengan senyum kecil yang diikuti dengan tundukan kepalanya. Selanjutnya, tak banyak interaksi yang dituliskan sang penulis.

Kedua figuran ini hanya berdiam-diam saja hingga lantai ketiga puluh empat, saat seorang lagi yang memiliki peran yang sama dalam cerita ini muncul. Yang ketiga ini adalah seorang lelaki turis dari Malaysia, bercelana panjang khaki, mengenakan kemeja flanell, menyandang tas sandang besar bermerk The North Face, berwajah agak klimis, bertubuh pendek kurus. Dituliskan bahwa ia menginap di unit apartemen salah satu temannya disini, agar cukup uang buat pulang kembali ke Malaysia. Lelaki turis itu tidak bertatapan dengan kedua tokoh lainnya, sibuk dengan beban di bahunya dan di pikirannya.

Turis itu sedikit berkeringat di dahi, mengusapnya, lalu merogoh dompet, menghitung-hitung (mungkin uang), mengumpat dalam bahasa Melayu, kemudian menatap pada dua figuran lainnya yang ternyata dari tadi memandangnya yang setelah ia tatap langsung membuang pandang mereka.

Lelaki kekinian, figuran pertama, menepuk leher bagian kanannya yang seketika dihinggapi nyamuk dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang teleponnya. Tak banyak adegan lain setelah itu. Semuanya diam-diam saja.

Itu hanya terjadi selama lift turun sebanyak tiga lantai. Di lantai ketiga puluh satu, seorang guru lelaki muda masuk lift. Ia berambut lurus dan rapi, berkacamata, berhidung agak mancung, mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hitam dengan garis-garis biru, memakai celana panjang berwarna biru, menyandang tas sandang hitam, bersepatu pantofel, dan memegang termos dengan tangan kanannya. Ia berjalan ke arah di antara lelaki kekinian dan suster muda, membuat lelaki kekinan agak menyudut, sementara suster muda bergeming. Lalu ia menarik lengan kanan kemejanya ke atas, memperlihatkan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia melihat arloji itu, wajahnya tak menyatakan ekspresi apa-apa, lalu menarik lengan kemejanya itu hingga ujung pergelangan tangan kembali, menutupi arlojinya. Seperti lelaki turis, ia juga tidak berinteraksi dengan figuran lainnya, ia hanya sibuk melihat-lihat arloji hingga lantai dua puluh tujuh.

Di lantai dua puluh tujuh sepasang suami dan istri muda masuk. Mereka bergandengan tangan. Si suami memakai kaus Def Leppard dan celana jeans dan sepatu moccasin. Si istri memakai kaus hitam yang ditutupi dengan cardigan yang tidak dikancingi dan celana panjang hitam dan sepatu berhak pendek bermerk Prada dan menyandang sebuah tas tangan Tote dengan tangan kirirnya sedangkan tangan kanannya bergandengan dengan tangan kiri suaminya. Mereka berdua tersenyum pada semua figuran yang ada di dalam lift itu. Lelaki kekinian membalas senyum mereka dengan senyum maskulin yang singkat, lalu lanjut memerhatikan teleponnya. Guru lelaki membalas dengan senyum kecil. Suster muda membalas dengan ramah lalu lanjut menunduk. Lelaki turis tidak membalas dan langsung membuang pandangannya. Kemudian mereka mengambil tempat berdiri di sisi kiri lift, menempatkan si suami di samping lelaki kekinian dan si istri di samping tombol-tombol lift.

Tunggu dulu, besar juga liftnya ya?

Bagaimanapun, kita lanjutkan dulu cerita ini.

Tak banyak yang terjadi di dalam lift itu hingga lift itu sampai di lantai dua puluh. Ketika pintu terbuka, tampak seorang remaja tujuh belas tahun bertubuh kurus tinggi dengan seragam sekolah menengah atas yang tidak dimasukkan ujungnya. Tasnya ia sandang dengan satu bahu, kedua tangannya sibuk merapikan dasi yang belum terpasang di lehernya, rambutnya sedikit acak-acakan, tali sepatunya tidak terikat dengan baik, dan mulutnya sedang mengunyah setangkup roti. Ia tak memerhatikan sekeliling lift itu, namun setelah matanya berpapasan dengan mata guru lelaki, ia langsung gegabah dan buru-buru merapikan segala bencana di atas tubuhnya. Kemudian ia menyalami guru itu seraya tersenyum dan berkata, “Pak…”

Guru lelaki hanya mengangguk sambil tersenyum ketika disalami oleh remaja pelajar itu. Remaja pelajar mulai canggung, lalu mencari-cari tempat berdiri yang sesuai buatnya. Di kala itu, lelaki turis bergerak ke pinggir mendekati suster muda untuk memberinya tempat berdiri, kemudian suster muda agak menyudut. Remaja pelajar pergi ke tempat yang disediakan oleh lelaki turis sambil masih merapikan pakaiannya, sambil masih mengunyah setangkup roti, sambil masih melirik-lirik sesekali kepada guru lelaki.

Remaja pelajar melihat ke sekelilingnya, dimana ia melihat sepasang suami dan istri muda, seorang lelaki berpenampilan kekinian, gurunya di sekolah, seorang suster muda, dan seorang lelaki turis yang menyandang tas sandang besar. Suami dan istri di depannya tersenyum kepadanya, kemudian ia membalasnya dengan senyum singkat, lalu lanjut merapikan pakaiannya setelah 373 karakter (tanpa spasi) yang lalu telah tertulis frasa ‘merapikan pakaiannya’.

Suasana di dalam lift tua itu sangat kikuk. Pasangan suami dan istri saling berpandangan sambil senyam-senyum. Lelaki kekinian sibuk dengan teleponnya dan sesekali melirik-lirik pada figuran lainnya (terutama suster muda), guru lelaki masih sibuk dengan arlojinya, suster muda masih lanjut menunduk, lelaki turis semakin berkeringat, remaja pelajar tak kunjung selesai merapikan dirinya sambil sesekali masih melirik-lirik pada guru lelaki (kini ia sedang mengikat tali sepatunya).

Ketika lift sampai di lantai ke dua belas, seorang lagi figuran datang ke dalam lift. Seorang lelaki muda, kira-kira berumur dua puluh satu tahun, masuk sambil menulis sesuatu di atas buku catatan bersampul hitam yang ia genggam dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya sedang menulis. Ia tampil sederhana; kaus hitam kotak-kotak, celana jeans, dan sandal jepit. Ia tak melihat figuran lainnya dan langsung mencari tempat di tengah untuk berdiri dan lanjut menulis di atas buku catatannya.

Cerita ini berlangsung lambat, seperti lift berisi delapan orang yang menjadi latar tempat cerita ini. Satu lantai menuju lobi, akhirnya sang penulis memutuskan untuk memasukkan konflik ke dalam lift itu. Seketika lift itu berhenti di lantai satu sebelum mencapai lobi, terdengar bunyi mesin rusak yang memberi tanda tak baik. Lampu juga hidup-mati, lift itu bergoyang-goyang seperti akan jatuh.

Istri mulai berlindung pada suaminya, menyembunyikan kepalanya kepada dada suaminya. Lelaki kekinian terkejut namun berusaha menjaga sikapnya agar terlihat jantan. Guru lelaki agak kaget, namun terdiam saja. Suster muda teriak seketika. Lelaki turis semakin berkeringat. Remaja pelajar tersedak dengan rotinya dan hampir terpeleset tali sepatunya. Lelaki muda bergeming sambil terus menulis tanpa memedulikan konflik yang ditumpahkan sang penulis ke dalam cerita.

Lalu aku berjalan dari koridor lantai satu menuju pintu lift yang tertutup. Ketika aku buka pintunya, aku melihat delapan orang di dalamnya. Ada sepasang suami dan istri muda, seorang lelaki berpenampilan kekinian, seorang guru lelaki, seorang suster muda, seorang lelaki turis yang menyandang tas sandang besar, seorang remaja pelajar berpakaian seragam sekolah menengah atas, dan seorang lelaki muda yang sedang menulis di atas sebuah buku catatan bersampul hitam. Ketujuh orang itu melihatku, dan aku memandangi mereka bergantian, satu persatu.

“Siapa dia?” ucap lelaki kekinian.

“Apa dia?” ujar remaja pelajar.

“Bentuknya aneh,” kata suami.

“Dia bukan manusia ya?” cetus istrinya.

“Kamu sakit?” tanya suster muda.

“Sakit?” timpal guru lelaki.

“Heh?” gumam lelaki turis.

Sebenarnya aku pun kurang memahami bentukku. Aku adalah segumpal protagonis karbitan yang dicipta sang penulis buru-buru. Secara fisik, aku belum lengkap sebagai seorang/sebuah tokoh. Belum ada nama, karakter, atau tujuan. Dengan kata lain, aku hanyalah konsep yang dicipta oleh sang penulis, namun belum sampai ke tahap sempurna sebagai seorang/sebuah tokoh.

Lalu salah satu di antara mereka—sepertinya lelaki turis—berkata bahwa aku melayang melainkan berdiri. Itu adalah pernyataan yang sedikit sulit dipahami orang-orang lain di dalam lift, karena aku adalah sebuah konsep, sebuah gagasan abstrak yang belum berbentuk, sehingga untuk memastikan bahwa aku berdiri atau melayang pun sulit.

Karena aku adalah sebuah gagasan, pada dasarnya aku terbentuk dari ribuan—bahkan jutaan—kemungkinan. Manusia atau hewan atau tumbuhan. Lelaki atau wanita. Anak kecil atau remaja atau tua bangka. Orang Indonesia atau orang Rusia atau orang Arab atau orang Belanda atau alien. Lalu kalau hewan juga kucing atau anjing atau singa atau serigala. Dan kalau tumbuhan kaktus atau mawar atau melati atau jati atau padi. Juga hidup atau mati.

Ketidakjelasanku sebagai seorang protagonis mendorong sang penulis untuk memaparkan niatnya.

“Kau adalah protagonis di dalam sebuah eksperimen yang sedang kutulis,” ujar lelaki muda yang dari tadi sibuk menulis, mengaku sebagai sang penulis. Penulis eksperimen.

“Eksperimen ini kumulai dengan ‘Pada suata pagi hari Senin, di dalam sebuah lift tua yang bergerak dari lantai teratas ke bawah di dalam sebuah apartemen elit di tengah kota’kemudian kulanjutkan dengan mendatangkan para figuran satu per satu ke dalam lift yang diikuti dengan pemaparan masing-masing figuran. Aku juga menempatkan diriku sebagai figuran, lalu menciptamu secara instan tanpa kejelasan untuk melihat berkembangnya alur. Tujuan dari eksperimen ini adalah melihat perkembangan sebuah kejadian dengan menempatkan beberapa figuran tanpa mengetahui apa arti keberadaan mereka ke dalam suatu latar yang diberi konflik, lalu menyertakan protagonis yang masih berupa konsep, sehingga perkembangan kejadian akan menjadi lebih spontan dan nyata.”

Jadi pada dasarnya kau mencipta segalanya tanpa persiapan yang memadai, mengharapkan segalanya berkembang sesuai kondisi, begitu bukan?

“Iya, tepat sekali.”

Ia menulis sesuatu.

Ia menghapus sesuatu.

Figuran yang lainnya lenyap seketika, hanya ada dia dan aku.

Apakah eksperimenmu gagal?

“Sepertinya begitu, aku sedikit kecewa. Segalanya berlangsung hambar.”

Cerita ini berlangsung lambat bukan?

“Iya.”

Apakah kau merasa eksperimenmu tak berarti? Kau baru saja menghapus figuran lainnya.

“Iya aku berharap penokohan juga akan berkembang sesuai kondisi, namun mereka semua tak melakukan apa-apa yang dapat menghasilkan klimaks.”

Lalu aku?

“Ah, kalau kau itu sebenarnya aku.”

Aku masih tak paham.

“Kau adalah konsep yang kucipta tiba-tiba yang kuharap akan membentuk dirinya sendiri seriring perkembangan alur. Akhirnya kau menjelma aku.”

Aku berkata kepada cermin lift. Aku melihat pantulan diriku di dalamnya. Pakaianku yang kemarin masih kupakai, yakni kaus hitam kotak-kotak. Aku hanya mengganti celanaku dengan celana jeans dan mengenakan sandal jepit, berpergian dengan buku catatanku dan sebuah pena. Lalu aku mulai menulis eksperimenku di atas buku catatanku. Awalnya seperti ini:

Pada suata pagi hari Senin, di dalam sebuah lift tua yang bergerak dari lantai teratas ke bawah di dalam sebuah apartemen elit di tengah kota. (T)

Kuala Lumpur, Juni 2017

Tags: Cerpen
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Pemilih Pemula, Mencoblos di Tengah Antipati dan Buta Politik – Catatan Jelang Pilgub

Next Post

Kecanggihan Smartphone dan Betapa Irasionalnya Kita

Muhamad Kusuma Gotansyah

Muhamad Kusuma Gotansyah

Lahir di Tangerang, Banten, pada 14 Maret 2002. Menetap dan belajar di Kuala Lumpur. Gemar bermusik, menulis, dan membaca. Beberapa karyanya berupa cerpen dan puisi pernah dimuat di media-media online seperti Flores Sastra dan Nusantaranews.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Kecanggihan Smartphone dan Betapa Irasionalnya Kita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co