24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialektika Nakal

Ahmad Anif Alhaki by Ahmad Anif Alhaki
February 2, 2018
in Cerpen

Lukisan: Komang Astiari

Cerpen: Ahmad Anif Alhaki

 

“Selamat pagi anak-anak!” Ibu Tejo memasuki kelas, dan mengagetkan para siswa yang tengah asyik bermain handphone.

Para siswa menjawab dengan gaya yang berbeda. Ada yang menjawab sambil senyum ambilhati, sampai lupa suaranya alay-lebay tujuh turunan. Ada yang menjawab tak peduli, dan melanjutkan keasyikannya bermain handphone. Entah itu sedang bermain games atau sedang membalas chat [4ku 146i 831474r ch4y4n6, k4mu 146i 4p4?] suka-suka dia. Ada yang menjawab jengkel dan menghembus nafas tanda ketidakrelaannya untuk mengalihkan konsep waktu. Ada pula yang tidak peduli dan hanya diam saja. Tetapi, di luar itu ada satu siswa dan dua siswi di antara tigapuluh siswa-siswi yang menyambut gembira.

“Indonesia dijajah selama tiga setengah abad!” Ibu Tejo mulai menerangkan dengan buku panduan di tangannya.

Siswa dan siswi yang apatis pun mulai memperhatikan. Hampir seluruhnya menganggukkan kepala, mengiyakan keterangan Ibu Tejo.

“Belanda kuasai Indonesia pada tahun 1602, dan juga berdirinya Vereenigde Ootindische Compagnie (VOC). Rakyat Indonesia diperbudak oleh kekuasaan koloni Belanda. Penderitaan rakyat tak terbendungkan. Penyiksaan, kelaparan, pemerkosaan, dan kematian menjadi suatu tragedi nan pilu. Tetapi, perjuangan para pahlawan Indonesia patut kita hormati. Berkat perjuangan merekalah rakyat sampai pada kemerdekaan,” sambung Bu Tejo

Aku yang tengah menyimak pelajaran itu mencoba fokus. Pada selang waktu pembicaraan Ibu Tejo, ada citra akustik tengah membayang dalam kepala, ialah suatu rumus sumbangan para kritikus sejarah yang tak bisa kusebut namanya. Rumus itu: 1602 + 350 = 1952. Kemarin, pelajaran sejarah di kelasku menyebut kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Ada apa ini?

Semangat Ibu Tejo semakin jadi, ia berdiri dari kursi, dan melangkah lebih dekat ke hadapan muridnya. Ibu Tejo mene.ruskan:

“Tapi, di lain pendapat mengatakan bahwa Belanda kuasai Indonesia pada tahun 1595. Pada saat itu, mulailah mereka angkat dada untuk jadi golongan penguasa”

Aku mengangguk-angguk. Kerutan pada kening pun berlipat jadi. Dalam pikirku tersusun wacana singkat: Jika kami sedang dalam pelayaran jauh untuk berdagang atau penelaahan, kami perlu sebentar singgah dalam perjalanan. Apakah singgah kami itu adalah awal dari penjajahan kami? Sedangkan jumlah kami hanya sedikit dan tak punya daya kuat di atas bumi yang mana kerajaan bertumpu di sana. Kami juga butuh waktu yang lama untuk bisa bertegak dada. Masalah keiblisan kami jangan ditanya lagi. Itu memang benar. Tapi, soal mula kami bertegak dada, tolong pikir timbang kembali!

“Ada yang tau Cultuurstelsel?” Ibu Tejo bertanya kepada murid-muridnya.

“Tidak, Bu Guruu..” siswa menjawab serentak.

“Cultuurstelsel merupakan aturan yang dipelopori oleh Jenderal Johannes Van Den Bosch, pada tahun 1830, dan….”

“Yang dikenal dengan istilah tanam paksa itu yaa, Bu?” sela seorang siswi.

“Iya, benar!” Ibu Tejo pun meneruskan, “Sejarah itu menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat atas kekuasaan asing. Duapuluh persen tanah dari setiap desa harus disumbangkan. Rakyat melarat dipekerjakan, ada pula kematian yang menyedihkan. Penderitaan sedikit reda setelah para kritikus liberal melontar kritik. Hal itulah yang menjadi sebab keluarnya Undang-Undang Agreria pada tahun 1870.”

Pikiran ini ternyata belum juga teraduk-kusut. Masih saja ingin kelana entah ke mana. Pernyataan siswi itu, membuat aku ingat sedikit keterangan dalam buku yang pernah kubaca. Sebatas yang teringat, bahwa yang mengeluarkan Undang-Undang Agreria adalah menteri jajahan kala waktu membumingnya kritikan dari para liberalis. Tetapi, adakah benar alasan dasarnya hanya untuk menghapuskan kesewenangan pemerintah? Sedangkan ia sendiri berkuasa pula pada perusahaan besar di Bondowoso kala itu. Pemikiran liar semakin berkecamuk di otakku. Ah, sungguh kehidupan yang penuh teka-teki.

“Bu, bagaimana dengan tragedi tahun 1965 yang menewaskan banyak orang itu?” Seorang siswa yang lain bertanya, entah apa sebab. Mungkin dia tidak tertarik tentang pembahasan tanam paksa, sehingga mengalihkan pembicaraan. Aku pun tidak tahu apa yang melatarbelakanginya.

“Ibu tidak terlalu paham dan takut sok paham tentang sejarah itu. Jika ibu membaca buku ini ada saja yang salah, jika ibu membaca buku itu pernyataannya tak sama dengan buku yang pertama, dan jika ibu membaca pengalaman, otak ini pun sudah penuh dengan macam dogma dan pengartian. Sebagai guru yang mengajarkan sejarah, ibu merasakan kegamangansebagai perwakilan dalam sejarah. Apalagi jika ada sejarah yang dipolitikkan!”

Ibu Tejo menghembuskan nafas pelan, lalu ia kembali duduk pada kursinya. Setelah beberapa waktu terdiam, Ibu Tejo pun meneruskan:

“Sebatas bicara yang ibu bisa, itu adalah suatu perlawanan terhadap perlawanan dan akhirnya pecah di puncak sengketa. Laksana kelak, kalian sudah punya pasangan. Pasti kalian berhadap pada paham yang tak selalu sama dengan paham pasangan kalian. Nah, jika sudah seperti itu kalian tidak boleh egois, merasa lebih, merasa paling bisa, merasa paling pintar, dan merasa segalanya. Pasangan kalian juga punya otak, Nak! Tidak semua kebenaran berpihak pada kalian, dan pasangan kalian selalu salah, tidak!. Rundingkan secara baik-baik, dan bermufakat untuk mencari solusi. Jika kalian tetap merasa kalianlah yang benar, maka jangan pakai pemaksaan untuk kebenaran kalian itu. Bicarakan dan rangkul pasangan kalian dengan baik. Apabila pasangan kalian sudah punya harapan dan rasa percaya, maka pakailah paham kalian itu. Apapun paham yang baik itu, kalau bersama, yaa, harus bekerja bersama-sama. Tapi, ingat, jangan khianati harapan dan rasa percaya itu. Ingat tanggung jawab dan kewajiban. Sebatas itu saja yang bisa ibu metaforakan sebagai cerminannya untuk kalian!”

“Ibu..” sapa siswa itu kembali.

“Iya, Nak?” respon Ibu Tejo

“Saya pernah membaca artikel yang mengatakan, Soeharto adalah pahlawan yang mebebaskan kita dari aksi PKI yang kejam. Berkat caranya, semua kejahatan itu terhapuskan. Tetapi, ada pula artikel lain yang mengatakan bahwa, Soeharto adalah biang keladinya. Ia hanya mendramatisasi strategi. Pada……”

“Oooppsss…! Jangan kamu bicara lagi!” Ibu Tejo menghentikan siswa itu berbicara

“Memangnya kenapa, Bu?” tanya siswa dengan heran

“Nanti masuk penjara!”

Semakin terbanglah nalarku dibuatnya. Kerutan di kening semakin menjadi-jadi. Alis kedua mata hampir bertemu.Otak tergoncang kuat. Sudah seperti itu, masih saja pikiran terbang kelana liar.

Sejenak aku lepasi belenggu simak. Teringat pada apa yang pernah kubaca dalam roman Tetralogi Buru, Pramoedya Ananta Toer, pada bagian kedua; Khouw Ah Soe, aktivis Tionghoa itu membicarakan kepada Minke, bawa perang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Spanyol hanyalah sandiwara saja. Itu hanya cara bagaimana Spanyol menjual bangsa Filipina kepada Amerika Serikat tanpa harus kehilangan muka di dunia internasional. Ingatan pun membuat aku memutar otak kembali. Setelah Soekarno lengser, akhirnya Soeharto-lah yang naik, memimpin Negara. Tetapi, bukan itu yang menghempas jalar pikirku, melainkan Freeport.

Kenapa dengan Freeport?. Oealawalaah, rasanya ada asumsi asing yang memenggal beberapa kalimat di kedalaman kepalaku: Tambang emas di Papua mulai dikuasai Amerika setelah lengsernya Soekarno. Amerika Serikat membom kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 sewaktu pasukan Jepang melemah.Soekarno lengser sesudah peristiwa tigapuluh September 1965. Ada apa dengan perputaran rumus dari asumsi ini? Kepalaku pun terasa sedikit pening.

Tidak ada suara yang terdengar.Ibu Tejo pun sedang ikut terdiam. Aku perhatikan para siswa di kelas. Tiga orang siswa yang menyambut senang kedatangan Ibu Tejo itu sedang menunduk. Jelas termaknai, mereka sedang memikirkan suatu hal yang berbobot. Aku perhatikan siswa yang lain, mereka tengah tak acuh kembali. Asyik sendiri-sendiri. Ada yang mencoret kertas dengan gambar yang tak karuan, ada yang mencoret meja, ada beberapa siswi yang sedang asik berkaca, dan ada pula yang kembali mengasyikkan diri dengan handphone.

Melihat hal itu, seakan ada rumus baru lagi yang kuperoleh, yaitu: 30 – 3 = 27, jika 30 = 100% maka 3 = 10% dan 27 = 90%. Itulah adanya. Dengan keadaan tersebut, kelak menuntut ini, menuntut itu! .Tidak tahu kenapa, perasaan sedih datang kepadaku. Jika seperti itu saja adanya, tidaklah salah jika kita itu tetap jadi wayang abadi, dan yang pintar mendalangi.

Keadaan semakin membuat aku resah. Ingatan lekang pandang dari apa yang terlihat. Otak melayang terbang. Dari dua versi tentang awal mula penjajahan yang tadi kusimak. Ada simpulan yang kudapat; jika awal penjajahan itu pada 1602, maka aku rumuskan 1602 + ….. = 2017, dan jika bermula pada tahun 1565, maka rumusnya 1565 + ….. = 2017. Bilangan yang cocok diisi pada bagian titik-titik adalah jumlah maksimalnya, sebab, hasil pun harus dikurangi waktu sebelum bertegak dada.

“Akan kucari hasilnya nanti!” ucapku pelan

“Astagaa! Aku sudah melamun,” ucapku setelah beberapa menit terpaku

“Ah, aku rasa benar pula kiranya hari ini kita masih terjajah. Mungkin dengan cara yang berbeda. Bukannya siswa apatis dan siswa handphone itu adalah suatu bukti?” sejenak aku berdiskusi dengan diriku sendiri.

Ibu Tejo melirik pada arloji tangannya. Lalu kembali menatapi siswanya. Sehabis menebar senyum, ia pun berkata:

“Waktu kita masih ada 15 menit lagi. Apa ada yang mau bertanya?”

“Tidaak, Buu…” paduan suara siswa

“Jika tidak ada, kita akhiri dulu pelajaran sampai di sini.”

“Horeee!!!!” paduan suara

“Beginilah generasiku!” ujarku pelan

Hari ini, dengan diam-diam aku sudah bolos. Tidak masuk dalam mata pelajaran agama di kelasku, kelas C. Hal ini kusengaja, tidak mengikuti pelajaran. Sebab, saban pertemuan materinya hanya persoalan ‘Siapakah Tuhan?’. Jawabannya pun selalu dituntut dalam renungan. Biasanya, aku selalu tertidur karena terlalu asyik merenung. Hari ini aku sudah tidak tertidur.

“Bolos yang kusuka!” aku berseru sedikit keras

“Hei, lagi ngapain di sana?” tegur Bu Tejo padaku

“Eeh,, maaf, Bu”

“Tadi kamu bilang bolos?”

“Iya, Bu”

“Kenapa kamu bolos?”

“Di kelasku banyak orang tidur, Bu!”

Ibu Tejo mengalihkan perhatian kembali kepada seluruh siswanya. Semua siswa sudah bersiap-siap. Ibu Tejo memberi perintah untuk berdoa sebelum pulang. Pelajaran sejarah di kelas A pun berlalu. Aku sudah menyimak pelajaran itu dari jendela. (T)

Tags: ceritaCerpen
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong Tentang Rawa-Rawa Magha Masa

Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara# Irama Tubuh, Perempuan dalam Puisi

Ahmad Anif Alhaki

Ahmad Anif Alhaki

Biasa dipanggil Anif. Lahir di Sumatera Barat. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa di jurusan Penidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Tak tahu hobinya apa, tapi merasa senang menulis.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara# Irama Tubuh, Perempuan dalam Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co