14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialektika Nakal

Ahmad Anif Alhaki by Ahmad Anif Alhaki
February 2, 2018
in Cerpen

Lukisan: Komang Astiari

Cerpen: Ahmad Anif Alhaki

 

“Selamat pagi anak-anak!” Ibu Tejo memasuki kelas, dan mengagetkan para siswa yang tengah asyik bermain handphone.

Para siswa menjawab dengan gaya yang berbeda. Ada yang menjawab sambil senyum ambilhati, sampai lupa suaranya alay-lebay tujuh turunan. Ada yang menjawab tak peduli, dan melanjutkan keasyikannya bermain handphone. Entah itu sedang bermain games atau sedang membalas chat [4ku 146i 831474r ch4y4n6, k4mu 146i 4p4?] suka-suka dia. Ada yang menjawab jengkel dan menghembus nafas tanda ketidakrelaannya untuk mengalihkan konsep waktu. Ada pula yang tidak peduli dan hanya diam saja. Tetapi, di luar itu ada satu siswa dan dua siswi di antara tigapuluh siswa-siswi yang menyambut gembira.

“Indonesia dijajah selama tiga setengah abad!” Ibu Tejo mulai menerangkan dengan buku panduan di tangannya.

Siswa dan siswi yang apatis pun mulai memperhatikan. Hampir seluruhnya menganggukkan kepala, mengiyakan keterangan Ibu Tejo.

“Belanda kuasai Indonesia pada tahun 1602, dan juga berdirinya Vereenigde Ootindische Compagnie (VOC). Rakyat Indonesia diperbudak oleh kekuasaan koloni Belanda. Penderitaan rakyat tak terbendungkan. Penyiksaan, kelaparan, pemerkosaan, dan kematian menjadi suatu tragedi nan pilu. Tetapi, perjuangan para pahlawan Indonesia patut kita hormati. Berkat perjuangan merekalah rakyat sampai pada kemerdekaan,” sambung Bu Tejo

Aku yang tengah menyimak pelajaran itu mencoba fokus. Pada selang waktu pembicaraan Ibu Tejo, ada citra akustik tengah membayang dalam kepala, ialah suatu rumus sumbangan para kritikus sejarah yang tak bisa kusebut namanya. Rumus itu: 1602 + 350 = 1952. Kemarin, pelajaran sejarah di kelasku menyebut kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Ada apa ini?

Semangat Ibu Tejo semakin jadi, ia berdiri dari kursi, dan melangkah lebih dekat ke hadapan muridnya. Ibu Tejo mene.ruskan:

“Tapi, di lain pendapat mengatakan bahwa Belanda kuasai Indonesia pada tahun 1595. Pada saat itu, mulailah mereka angkat dada untuk jadi golongan penguasa”

Aku mengangguk-angguk. Kerutan pada kening pun berlipat jadi. Dalam pikirku tersusun wacana singkat: Jika kami sedang dalam pelayaran jauh untuk berdagang atau penelaahan, kami perlu sebentar singgah dalam perjalanan. Apakah singgah kami itu adalah awal dari penjajahan kami? Sedangkan jumlah kami hanya sedikit dan tak punya daya kuat di atas bumi yang mana kerajaan bertumpu di sana. Kami juga butuh waktu yang lama untuk bisa bertegak dada. Masalah keiblisan kami jangan ditanya lagi. Itu memang benar. Tapi, soal mula kami bertegak dada, tolong pikir timbang kembali!

“Ada yang tau Cultuurstelsel?” Ibu Tejo bertanya kepada murid-muridnya.

“Tidak, Bu Guruu..” siswa menjawab serentak.

“Cultuurstelsel merupakan aturan yang dipelopori oleh Jenderal Johannes Van Den Bosch, pada tahun 1830, dan….”

“Yang dikenal dengan istilah tanam paksa itu yaa, Bu?” sela seorang siswi.

“Iya, benar!” Ibu Tejo pun meneruskan, “Sejarah itu menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat atas kekuasaan asing. Duapuluh persen tanah dari setiap desa harus disumbangkan. Rakyat melarat dipekerjakan, ada pula kematian yang menyedihkan. Penderitaan sedikit reda setelah para kritikus liberal melontar kritik. Hal itulah yang menjadi sebab keluarnya Undang-Undang Agreria pada tahun 1870.”

Pikiran ini ternyata belum juga teraduk-kusut. Masih saja ingin kelana entah ke mana. Pernyataan siswi itu, membuat aku ingat sedikit keterangan dalam buku yang pernah kubaca. Sebatas yang teringat, bahwa yang mengeluarkan Undang-Undang Agreria adalah menteri jajahan kala waktu membumingnya kritikan dari para liberalis. Tetapi, adakah benar alasan dasarnya hanya untuk menghapuskan kesewenangan pemerintah? Sedangkan ia sendiri berkuasa pula pada perusahaan besar di Bondowoso kala itu. Pemikiran liar semakin berkecamuk di otakku. Ah, sungguh kehidupan yang penuh teka-teki.

“Bu, bagaimana dengan tragedi tahun 1965 yang menewaskan banyak orang itu?” Seorang siswa yang lain bertanya, entah apa sebab. Mungkin dia tidak tertarik tentang pembahasan tanam paksa, sehingga mengalihkan pembicaraan. Aku pun tidak tahu apa yang melatarbelakanginya.

“Ibu tidak terlalu paham dan takut sok paham tentang sejarah itu. Jika ibu membaca buku ini ada saja yang salah, jika ibu membaca buku itu pernyataannya tak sama dengan buku yang pertama, dan jika ibu membaca pengalaman, otak ini pun sudah penuh dengan macam dogma dan pengartian. Sebagai guru yang mengajarkan sejarah, ibu merasakan kegamangansebagai perwakilan dalam sejarah. Apalagi jika ada sejarah yang dipolitikkan!”

Ibu Tejo menghembuskan nafas pelan, lalu ia kembali duduk pada kursinya. Setelah beberapa waktu terdiam, Ibu Tejo pun meneruskan:

“Sebatas bicara yang ibu bisa, itu adalah suatu perlawanan terhadap perlawanan dan akhirnya pecah di puncak sengketa. Laksana kelak, kalian sudah punya pasangan. Pasti kalian berhadap pada paham yang tak selalu sama dengan paham pasangan kalian. Nah, jika sudah seperti itu kalian tidak boleh egois, merasa lebih, merasa paling bisa, merasa paling pintar, dan merasa segalanya. Pasangan kalian juga punya otak, Nak! Tidak semua kebenaran berpihak pada kalian, dan pasangan kalian selalu salah, tidak!. Rundingkan secara baik-baik, dan bermufakat untuk mencari solusi. Jika kalian tetap merasa kalianlah yang benar, maka jangan pakai pemaksaan untuk kebenaran kalian itu. Bicarakan dan rangkul pasangan kalian dengan baik. Apabila pasangan kalian sudah punya harapan dan rasa percaya, maka pakailah paham kalian itu. Apapun paham yang baik itu, kalau bersama, yaa, harus bekerja bersama-sama. Tapi, ingat, jangan khianati harapan dan rasa percaya itu. Ingat tanggung jawab dan kewajiban. Sebatas itu saja yang bisa ibu metaforakan sebagai cerminannya untuk kalian!”

“Ibu..” sapa siswa itu kembali.

“Iya, Nak?” respon Ibu Tejo

“Saya pernah membaca artikel yang mengatakan, Soeharto adalah pahlawan yang mebebaskan kita dari aksi PKI yang kejam. Berkat caranya, semua kejahatan itu terhapuskan. Tetapi, ada pula artikel lain yang mengatakan bahwa, Soeharto adalah biang keladinya. Ia hanya mendramatisasi strategi. Pada……”

“Oooppsss…! Jangan kamu bicara lagi!” Ibu Tejo menghentikan siswa itu berbicara

“Memangnya kenapa, Bu?” tanya siswa dengan heran

“Nanti masuk penjara!”

Semakin terbanglah nalarku dibuatnya. Kerutan di kening semakin menjadi-jadi. Alis kedua mata hampir bertemu.Otak tergoncang kuat. Sudah seperti itu, masih saja pikiran terbang kelana liar.

Sejenak aku lepasi belenggu simak. Teringat pada apa yang pernah kubaca dalam roman Tetralogi Buru, Pramoedya Ananta Toer, pada bagian kedua; Khouw Ah Soe, aktivis Tionghoa itu membicarakan kepada Minke, bawa perang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Spanyol hanyalah sandiwara saja. Itu hanya cara bagaimana Spanyol menjual bangsa Filipina kepada Amerika Serikat tanpa harus kehilangan muka di dunia internasional. Ingatan pun membuat aku memutar otak kembali. Setelah Soekarno lengser, akhirnya Soeharto-lah yang naik, memimpin Negara. Tetapi, bukan itu yang menghempas jalar pikirku, melainkan Freeport.

Kenapa dengan Freeport?. Oealawalaah, rasanya ada asumsi asing yang memenggal beberapa kalimat di kedalaman kepalaku: Tambang emas di Papua mulai dikuasai Amerika setelah lengsernya Soekarno. Amerika Serikat membom kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 sewaktu pasukan Jepang melemah.Soekarno lengser sesudah peristiwa tigapuluh September 1965. Ada apa dengan perputaran rumus dari asumsi ini? Kepalaku pun terasa sedikit pening.

Tidak ada suara yang terdengar.Ibu Tejo pun sedang ikut terdiam. Aku perhatikan para siswa di kelas. Tiga orang siswa yang menyambut senang kedatangan Ibu Tejo itu sedang menunduk. Jelas termaknai, mereka sedang memikirkan suatu hal yang berbobot. Aku perhatikan siswa yang lain, mereka tengah tak acuh kembali. Asyik sendiri-sendiri. Ada yang mencoret kertas dengan gambar yang tak karuan, ada yang mencoret meja, ada beberapa siswi yang sedang asik berkaca, dan ada pula yang kembali mengasyikkan diri dengan handphone.

Melihat hal itu, seakan ada rumus baru lagi yang kuperoleh, yaitu: 30 – 3 = 27, jika 30 = 100% maka 3 = 10% dan 27 = 90%. Itulah adanya. Dengan keadaan tersebut, kelak menuntut ini, menuntut itu! .Tidak tahu kenapa, perasaan sedih datang kepadaku. Jika seperti itu saja adanya, tidaklah salah jika kita itu tetap jadi wayang abadi, dan yang pintar mendalangi.

Keadaan semakin membuat aku resah. Ingatan lekang pandang dari apa yang terlihat. Otak melayang terbang. Dari dua versi tentang awal mula penjajahan yang tadi kusimak. Ada simpulan yang kudapat; jika awal penjajahan itu pada 1602, maka aku rumuskan 1602 + ….. = 2017, dan jika bermula pada tahun 1565, maka rumusnya 1565 + ….. = 2017. Bilangan yang cocok diisi pada bagian titik-titik adalah jumlah maksimalnya, sebab, hasil pun harus dikurangi waktu sebelum bertegak dada.

“Akan kucari hasilnya nanti!” ucapku pelan

“Astagaa! Aku sudah melamun,” ucapku setelah beberapa menit terpaku

“Ah, aku rasa benar pula kiranya hari ini kita masih terjajah. Mungkin dengan cara yang berbeda. Bukannya siswa apatis dan siswa handphone itu adalah suatu bukti?” sejenak aku berdiskusi dengan diriku sendiri.

Ibu Tejo melirik pada arloji tangannya. Lalu kembali menatapi siswanya. Sehabis menebar senyum, ia pun berkata:

“Waktu kita masih ada 15 menit lagi. Apa ada yang mau bertanya?”

“Tidaak, Buu…” paduan suara siswa

“Jika tidak ada, kita akhiri dulu pelajaran sampai di sini.”

“Horeee!!!!” paduan suara

“Beginilah generasiku!” ujarku pelan

Hari ini, dengan diam-diam aku sudah bolos. Tidak masuk dalam mata pelajaran agama di kelasku, kelas C. Hal ini kusengaja, tidak mengikuti pelajaran. Sebab, saban pertemuan materinya hanya persoalan ‘Siapakah Tuhan?’. Jawabannya pun selalu dituntut dalam renungan. Biasanya, aku selalu tertidur karena terlalu asyik merenung. Hari ini aku sudah tidak tertidur.

“Bolos yang kusuka!” aku berseru sedikit keras

“Hei, lagi ngapain di sana?” tegur Bu Tejo padaku

“Eeh,, maaf, Bu”

“Tadi kamu bilang bolos?”

“Iya, Bu”

“Kenapa kamu bolos?”

“Di kelasku banyak orang tidur, Bu!”

Ibu Tejo mengalihkan perhatian kembali kepada seluruh siswanya. Semua siswa sudah bersiap-siap. Ibu Tejo memberi perintah untuk berdoa sebelum pulang. Pelajaran sejarah di kelas A pun berlalu. Aku sudah menyimak pelajaran itu dari jendela. (T)

Tags: ceritaCerpen
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong Tentang Rawa-Rawa Magha Masa

Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara# Irama Tubuh, Perempuan dalam Puisi

Ahmad Anif Alhaki

Ahmad Anif Alhaki

Biasa dipanggil Anif. Lahir di Sumatera Barat. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa di jurusan Penidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Tak tahu hobinya apa, tapi merasa senang menulis.

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara# Irama Tubuh, Perempuan dalam Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co