24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialektika Nakal

Ahmad Anif Alhaki by Ahmad Anif Alhaki
February 2, 2018
in Cerpen

Lukisan: Komang Astiari

Cerpen: Ahmad Anif Alhaki

 

“Selamat pagi anak-anak!” Ibu Tejo memasuki kelas, dan mengagetkan para siswa yang tengah asyik bermain handphone.

Para siswa menjawab dengan gaya yang berbeda. Ada yang menjawab sambil senyum ambilhati, sampai lupa suaranya alay-lebay tujuh turunan. Ada yang menjawab tak peduli, dan melanjutkan keasyikannya bermain handphone. Entah itu sedang bermain games atau sedang membalas chat [4ku 146i 831474r ch4y4n6, k4mu 146i 4p4?] suka-suka dia. Ada yang menjawab jengkel dan menghembus nafas tanda ketidakrelaannya untuk mengalihkan konsep waktu. Ada pula yang tidak peduli dan hanya diam saja. Tetapi, di luar itu ada satu siswa dan dua siswi di antara tigapuluh siswa-siswi yang menyambut gembira.

“Indonesia dijajah selama tiga setengah abad!” Ibu Tejo mulai menerangkan dengan buku panduan di tangannya.

Siswa dan siswi yang apatis pun mulai memperhatikan. Hampir seluruhnya menganggukkan kepala, mengiyakan keterangan Ibu Tejo.

“Belanda kuasai Indonesia pada tahun 1602, dan juga berdirinya Vereenigde Ootindische Compagnie (VOC). Rakyat Indonesia diperbudak oleh kekuasaan koloni Belanda. Penderitaan rakyat tak terbendungkan. Penyiksaan, kelaparan, pemerkosaan, dan kematian menjadi suatu tragedi nan pilu. Tetapi, perjuangan para pahlawan Indonesia patut kita hormati. Berkat perjuangan merekalah rakyat sampai pada kemerdekaan,” sambung Bu Tejo

Aku yang tengah menyimak pelajaran itu mencoba fokus. Pada selang waktu pembicaraan Ibu Tejo, ada citra akustik tengah membayang dalam kepala, ialah suatu rumus sumbangan para kritikus sejarah yang tak bisa kusebut namanya. Rumus itu: 1602 + 350 = 1952. Kemarin, pelajaran sejarah di kelasku menyebut kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Ada apa ini?

Semangat Ibu Tejo semakin jadi, ia berdiri dari kursi, dan melangkah lebih dekat ke hadapan muridnya. Ibu Tejo mene.ruskan:

“Tapi, di lain pendapat mengatakan bahwa Belanda kuasai Indonesia pada tahun 1595. Pada saat itu, mulailah mereka angkat dada untuk jadi golongan penguasa”

Aku mengangguk-angguk. Kerutan pada kening pun berlipat jadi. Dalam pikirku tersusun wacana singkat: Jika kami sedang dalam pelayaran jauh untuk berdagang atau penelaahan, kami perlu sebentar singgah dalam perjalanan. Apakah singgah kami itu adalah awal dari penjajahan kami? Sedangkan jumlah kami hanya sedikit dan tak punya daya kuat di atas bumi yang mana kerajaan bertumpu di sana. Kami juga butuh waktu yang lama untuk bisa bertegak dada. Masalah keiblisan kami jangan ditanya lagi. Itu memang benar. Tapi, soal mula kami bertegak dada, tolong pikir timbang kembali!

“Ada yang tau Cultuurstelsel?” Ibu Tejo bertanya kepada murid-muridnya.

“Tidak, Bu Guruu..” siswa menjawab serentak.

“Cultuurstelsel merupakan aturan yang dipelopori oleh Jenderal Johannes Van Den Bosch, pada tahun 1830, dan….”

“Yang dikenal dengan istilah tanam paksa itu yaa, Bu?” sela seorang siswi.

“Iya, benar!” Ibu Tejo pun meneruskan, “Sejarah itu menggambarkan bagaimana penderitaan rakyat atas kekuasaan asing. Duapuluh persen tanah dari setiap desa harus disumbangkan. Rakyat melarat dipekerjakan, ada pula kematian yang menyedihkan. Penderitaan sedikit reda setelah para kritikus liberal melontar kritik. Hal itulah yang menjadi sebab keluarnya Undang-Undang Agreria pada tahun 1870.”

Pikiran ini ternyata belum juga teraduk-kusut. Masih saja ingin kelana entah ke mana. Pernyataan siswi itu, membuat aku ingat sedikit keterangan dalam buku yang pernah kubaca. Sebatas yang teringat, bahwa yang mengeluarkan Undang-Undang Agreria adalah menteri jajahan kala waktu membumingnya kritikan dari para liberalis. Tetapi, adakah benar alasan dasarnya hanya untuk menghapuskan kesewenangan pemerintah? Sedangkan ia sendiri berkuasa pula pada perusahaan besar di Bondowoso kala itu. Pemikiran liar semakin berkecamuk di otakku. Ah, sungguh kehidupan yang penuh teka-teki.

“Bu, bagaimana dengan tragedi tahun 1965 yang menewaskan banyak orang itu?” Seorang siswa yang lain bertanya, entah apa sebab. Mungkin dia tidak tertarik tentang pembahasan tanam paksa, sehingga mengalihkan pembicaraan. Aku pun tidak tahu apa yang melatarbelakanginya.

“Ibu tidak terlalu paham dan takut sok paham tentang sejarah itu. Jika ibu membaca buku ini ada saja yang salah, jika ibu membaca buku itu pernyataannya tak sama dengan buku yang pertama, dan jika ibu membaca pengalaman, otak ini pun sudah penuh dengan macam dogma dan pengartian. Sebagai guru yang mengajarkan sejarah, ibu merasakan kegamangansebagai perwakilan dalam sejarah. Apalagi jika ada sejarah yang dipolitikkan!”

Ibu Tejo menghembuskan nafas pelan, lalu ia kembali duduk pada kursinya. Setelah beberapa waktu terdiam, Ibu Tejo pun meneruskan:

“Sebatas bicara yang ibu bisa, itu adalah suatu perlawanan terhadap perlawanan dan akhirnya pecah di puncak sengketa. Laksana kelak, kalian sudah punya pasangan. Pasti kalian berhadap pada paham yang tak selalu sama dengan paham pasangan kalian. Nah, jika sudah seperti itu kalian tidak boleh egois, merasa lebih, merasa paling bisa, merasa paling pintar, dan merasa segalanya. Pasangan kalian juga punya otak, Nak! Tidak semua kebenaran berpihak pada kalian, dan pasangan kalian selalu salah, tidak!. Rundingkan secara baik-baik, dan bermufakat untuk mencari solusi. Jika kalian tetap merasa kalianlah yang benar, maka jangan pakai pemaksaan untuk kebenaran kalian itu. Bicarakan dan rangkul pasangan kalian dengan baik. Apabila pasangan kalian sudah punya harapan dan rasa percaya, maka pakailah paham kalian itu. Apapun paham yang baik itu, kalau bersama, yaa, harus bekerja bersama-sama. Tapi, ingat, jangan khianati harapan dan rasa percaya itu. Ingat tanggung jawab dan kewajiban. Sebatas itu saja yang bisa ibu metaforakan sebagai cerminannya untuk kalian!”

“Ibu..” sapa siswa itu kembali.

“Iya, Nak?” respon Ibu Tejo

“Saya pernah membaca artikel yang mengatakan, Soeharto adalah pahlawan yang mebebaskan kita dari aksi PKI yang kejam. Berkat caranya, semua kejahatan itu terhapuskan. Tetapi, ada pula artikel lain yang mengatakan bahwa, Soeharto adalah biang keladinya. Ia hanya mendramatisasi strategi. Pada……”

“Oooppsss…! Jangan kamu bicara lagi!” Ibu Tejo menghentikan siswa itu berbicara

“Memangnya kenapa, Bu?” tanya siswa dengan heran

“Nanti masuk penjara!”

Semakin terbanglah nalarku dibuatnya. Kerutan di kening semakin menjadi-jadi. Alis kedua mata hampir bertemu.Otak tergoncang kuat. Sudah seperti itu, masih saja pikiran terbang kelana liar.

Sejenak aku lepasi belenggu simak. Teringat pada apa yang pernah kubaca dalam roman Tetralogi Buru, Pramoedya Ananta Toer, pada bagian kedua; Khouw Ah Soe, aktivis Tionghoa itu membicarakan kepada Minke, bawa perang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Spanyol hanyalah sandiwara saja. Itu hanya cara bagaimana Spanyol menjual bangsa Filipina kepada Amerika Serikat tanpa harus kehilangan muka di dunia internasional. Ingatan pun membuat aku memutar otak kembali. Setelah Soekarno lengser, akhirnya Soeharto-lah yang naik, memimpin Negara. Tetapi, bukan itu yang menghempas jalar pikirku, melainkan Freeport.

Kenapa dengan Freeport?. Oealawalaah, rasanya ada asumsi asing yang memenggal beberapa kalimat di kedalaman kepalaku: Tambang emas di Papua mulai dikuasai Amerika setelah lengsernya Soekarno. Amerika Serikat membom kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 sewaktu pasukan Jepang melemah.Soekarno lengser sesudah peristiwa tigapuluh September 1965. Ada apa dengan perputaran rumus dari asumsi ini? Kepalaku pun terasa sedikit pening.

Tidak ada suara yang terdengar.Ibu Tejo pun sedang ikut terdiam. Aku perhatikan para siswa di kelas. Tiga orang siswa yang menyambut senang kedatangan Ibu Tejo itu sedang menunduk. Jelas termaknai, mereka sedang memikirkan suatu hal yang berbobot. Aku perhatikan siswa yang lain, mereka tengah tak acuh kembali. Asyik sendiri-sendiri. Ada yang mencoret kertas dengan gambar yang tak karuan, ada yang mencoret meja, ada beberapa siswi yang sedang asik berkaca, dan ada pula yang kembali mengasyikkan diri dengan handphone.

Melihat hal itu, seakan ada rumus baru lagi yang kuperoleh, yaitu: 30 – 3 = 27, jika 30 = 100% maka 3 = 10% dan 27 = 90%. Itulah adanya. Dengan keadaan tersebut, kelak menuntut ini, menuntut itu! .Tidak tahu kenapa, perasaan sedih datang kepadaku. Jika seperti itu saja adanya, tidaklah salah jika kita itu tetap jadi wayang abadi, dan yang pintar mendalangi.

Keadaan semakin membuat aku resah. Ingatan lekang pandang dari apa yang terlihat. Otak melayang terbang. Dari dua versi tentang awal mula penjajahan yang tadi kusimak. Ada simpulan yang kudapat; jika awal penjajahan itu pada 1602, maka aku rumuskan 1602 + ….. = 2017, dan jika bermula pada tahun 1565, maka rumusnya 1565 + ….. = 2017. Bilangan yang cocok diisi pada bagian titik-titik adalah jumlah maksimalnya, sebab, hasil pun harus dikurangi waktu sebelum bertegak dada.

“Akan kucari hasilnya nanti!” ucapku pelan

“Astagaa! Aku sudah melamun,” ucapku setelah beberapa menit terpaku

“Ah, aku rasa benar pula kiranya hari ini kita masih terjajah. Mungkin dengan cara yang berbeda. Bukannya siswa apatis dan siswa handphone itu adalah suatu bukti?” sejenak aku berdiskusi dengan diriku sendiri.

Ibu Tejo melirik pada arloji tangannya. Lalu kembali menatapi siswanya. Sehabis menebar senyum, ia pun berkata:

“Waktu kita masih ada 15 menit lagi. Apa ada yang mau bertanya?”

“Tidaak, Buu…” paduan suara siswa

“Jika tidak ada, kita akhiri dulu pelajaran sampai di sini.”

“Horeee!!!!” paduan suara

“Beginilah generasiku!” ujarku pelan

Hari ini, dengan diam-diam aku sudah bolos. Tidak masuk dalam mata pelajaran agama di kelasku, kelas C. Hal ini kusengaja, tidak mengikuti pelajaran. Sebab, saban pertemuan materinya hanya persoalan ‘Siapakah Tuhan?’. Jawabannya pun selalu dituntut dalam renungan. Biasanya, aku selalu tertidur karena terlalu asyik merenung. Hari ini aku sudah tidak tertidur.

“Bolos yang kusuka!” aku berseru sedikit keras

“Hei, lagi ngapain di sana?” tegur Bu Tejo padaku

“Eeh,, maaf, Bu”

“Tadi kamu bilang bolos?”

“Iya, Bu”

“Kenapa kamu bolos?”

“Di kelasku banyak orang tidur, Bu!”

Ibu Tejo mengalihkan perhatian kembali kepada seluruh siswanya. Semua siswa sudah bersiap-siap. Ibu Tejo memberi perintah untuk berdoa sebelum pulang. Pelajaran sejarah di kelas A pun berlalu. Aku sudah menyimak pelajaran itu dari jendela. (T)

Tags: ceritaCerpen
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Sekar Sumawur: Dialog Kosong Tentang Rawa-Rawa Magha Masa

Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara# Irama Tubuh, Perempuan dalam Puisi

Ahmad Anif Alhaki

Ahmad Anif Alhaki

Biasa dipanggil Anif. Lahir di Sumatera Barat. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa di jurusan Penidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, Bali. Tak tahu hobinya apa, tapi merasa senang menulis.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post

Puisi-puisi Wayan Esa Bhaskara# Irama Tubuh, Perempuan dalam Puisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co