2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Monolog BOR: Luka Sejarah Diingat Kembali, Yang Mati Abadi

Hidayat by Hidayat
February 2, 2018
in Opini

 

NASKAH BOR mengingatkan pada sejarah bangsa. Ketakutan, suara tembakan, mencekam, bingung, dan semerawut. Kekuatan naskah ada pada narasi. Naskah yang ditulis dengan ugal-ugalan, meledak-ledak dan absurd. Tak mudah dimengerti. Pesan yang ingin disampaikan begitu banyak. Yang pasti naskah BOR mengingatkan apa yang harus diingat. Sejarah.

Dalam dapur penciptaan karya sastra apapun (entah puisi, cerpen, naskah drama/monolog) selalu ada yang menarik. Ada dialektika di dalamnya. Katakanlah ketika melihat sebuah kejadian, imajinasi kita bekerja. Pertanyaan-pertanyaan selalu muncul tentang apa dan bagaimana latar belakang.

Lalu mendekonstruksi dengan bahasa yang halus dan lebih manusiawi. Mencipta dan menyimpan ingatan yang pada akhirnya akan mati, kemudian menulis, adalah cara menyimpannya dan menghidupkannya kembali. Karya sastra tak jauh dari kenyataan. Sastra berfungsi mengawetkan ingatan-ingatan pada suatu zaman.

Naskah BOR: Luka Diingat Kembali, yang Mati Abadi

Naskah BOR menceritakan tentang seorang perempuan mendengar suara tembakan, lalu melihat seseorang (laki-laki) tertembak/terbunuh di pinggir jalan. Sampai akhirnya ia mencoba mendekati tubuh yang terbaring. Orang-orang yang lewat tak peduli. Tak ada yang peduli.

Mungkin hal diatas mengisyaratkan bahwa pada suatu zaman, orang-orang sudah terlalu sering melihat mayat tergeletak sehingga tak peduli lagi. Dalam bahkan dalam naskah, si perempuan mengatakan “Orang-orang lewat melangkahinya begitu saja, mereka menyangka ini hanya kelambu bekas. Bahkan sebuah mobil menyerempetnya dengan berani”. Seolah-olah, yang mati adalah orang yang meresahkan, pantas untuk mati dan memang diingin mati.

Peristiwa tersebut adalah ingatan yang hidup dalam kesadarannya. Si tokoh perempuan bercerita dan memvisualisasikan dalam gerak. Ia menjadi petugas keamanan. Ia menjadi hakim. Ia melihat mayat yang memang ditampilkan dalam pementasan.

Si perempuan akhirnya mengadu ke pos keamanan, melaporkan peristiwa yang telah dilihatnya dengan panik. Tapi petugas tak percaya. Petugas meminta KTP, Surat jalan, Pengaduan, dan mempersilahkan si perempuan mengisi formulir. Dalam naskah, petugas berkata, “ini bukan zaman Petrus lagi, jangan coba-coba bikin kacau….”.

Sebuah situasi yang diselimuti ketidakpercayaan pada warga sipil, penuh kecurigaan, dan watak yang otoriter. Mengingatkan pada zaman orde baru. Petugas keamanan tak mau mendengar pengaduannya. Tak mau menyelesaikannya. Petugas menganggap itu hanya masalah sepele dan enteng. Bisa diselesaikan oleh seseorang saja.

Zaman Suharto membentuk sebuah paradigma, bahwa ketakutan yang luar biasa efektif untuk membunuh dan menciptakan efek atas pembunuhan. ‘Petrus’, misalnya : mayat dibuang di trotoar, tempat umum, gang-gang rumah sebagai efek kejut ketakutan dan dalih keamanan.

Selanjutnya, Kata-kata, “Lalu buka mata, melihat yang kasat mata saja seperti para arsitek dan pedagang”. Pembangunan dan Penanaman modal Asing. Arsitek dan pedagang barangkali adalah simbol dari Suharto yang dikenal sebagai bapak pembangunan dan terbuka luas penanaman modal asing di Indonesia. Negara lebih mementingkan pembangunan daripada harga diri manusia.

Sosok Fasisme

Dalam petunjuk naskah, ada wajah-wajah pemimpin fasis yang ditampilkan. Hitler, Stalin, Mussolini, dan sebagainya? Sebagainya? Apakah boleh memasukkan Suharto? Banyak pemimpin Negara yang dianggap fasis. Mengapa menampilkan sosok fasis? Fasisme, penguasaan atas Negara dengan cara-cara kekerasan dan penindasan untuk suatu tujuan

Naskah BOR, melalui simbol-simbol, sepertinya menunjukkan suatu zaman yang dipimpin oleh pemimpin fasis di suatu Negara. Dalam naskah terdapat semacam renungan yang membuat kita menjadi lemas seketika.

Miasalnya dalam kutipan naskah berikut “……Ini bukan rampok yang mati karena kepeleset di batu marmer di rumahnya sendiri. Ini bukan raksasa yang konyol karena terlalu banyak mereguk kebahagiaan orang lain. Ini bukan konglomerat gurita itu… Berjuta-juta warga yang lapar dan rindu memiliki hak-haknya sendiri yang belepotan di tangan kamu. Itu mayat-mayat yang hidup menjadi hantu, maling, bandit, pemalas, kerbau, dan binatang-binatang buas, mahasiswa bebal, pemadat narkotika, ulama-ulama bejat yang memberontak dengan segala cacat dan kelemahannya di dalam karena putus asa dan bingung……..”.

Krisis moneter. Begitu banyak yang menjadi korban. Fakta sejarah mencatat, selama orde baru berkuasa, banyak dosa-dosa yang dilakukan mulai dari Pulau Buru terkait kader PKI, penembakan misterius (Petrus) yang terkait kriminalitas, daerah operasi militer di Aceh dan Papua, peristiwa Talangsari, sampai penculikan dan kerusuhan Mei 1998.

Dalam naskah ada petunjuk demikian “Suara hentakan sepatu berbaris. Sidang pengadilan”. Suatu simbolis yang satir. Pengadilan ala militer barangkali cocok untuk mendefinisikan tafsir simbolik atas petunjuk dalam naskah. Fasisme selalu identik dengan militerisme. Jerman dengan tentara NAZI, Stalin di Uni Soviet, Mussolini di Italy, Jepang dengan Tenno-Heika. Tak terkecuali Indonesia dengan dwi fungsi ABRI. Militer, dengan segala cara dirasa mampu menegakkan hukum dan ketertiban. Moncong-moncong senjata yang siap memberedel siapa saja.

Selain itu, pada zaman fasis Orba, hegemoni pengetahuan/pendidikan juga terjadi. Misalnya pada kata-kata berikut “Kelas tiba-tiba selesai dan kita tak memperlajari apa-apa. Kesempatan kita ditutup dan kita baru berniat”.

Di sini kita melihat bagaimana sebuah Negara mengambil peran dalam proses pendidikan. Pendidikan seolah-olah berjalan begitu saja, selalu sama, tak ada kebebasan, tak jelas apa yang dipelajari. Kesempatan untuk mempelajari hal-hal yang lain dilarang.

Proses Kreatif: Imajinasi-mu Abadi

Dalam penggarapan konsep, sutradara tak menghiraukan perintah-perintah yang telah ada dalam naskah. Terlalu rapi. Perintah-perintah justru membuat tidak bebas untuk mengasah kreatifitas. Dan dirasa terlalu boros biaya. Maka, kami mencoba untuk menolak perintah-perintah yang ada dalam naskah monolog BOR. Mencoba mengkonsepkan dengan sesederhana namun tetap wah untuk disaksikan. Kami tidak menghilangkan/memotong sebagian naskah oleh sebab aktris mampu menghafal dengan cepat. Juga, seluruh isi naskah dirasa berkesinambungan. Kata-kata yang liar dan tak semerawut menarik untuk tetap didiengar.

Latihan demi latihan dijalani setiap malam. Konsep dari teman-teman ditampung oleh sutradara. Sutradara tidak begitu banyak mengarahkan aktris, Gamma yang merupakan mahasiswa Basindo untuk koreksi ketepatan tanda baca dan intonasi, serta tempo bicara. Sebab, aktris sudah memiliki keterampilan dalam hal tersebut. Hanya saja, gestur kurang diperhatikan.

Sebenarnya, naskah ini dimainkan oleh dua orang, satu orang melakukan, yang lain mengucapkannarasi. Boleh dimainkan oleh laki-laki maupun perempuan. Namun setelah dicoba, ternyata hasilnya tak seperti apa yang diharapkan. Akhirnya, monolog ini dimainkan oleh satu orang saja. Kami juga menghilangkan alias tidak memakai projector, yang sebagai perangkat pendukung pementasan sebagaimana telah dijelaskan dalam petunjuk naskah. Sebagai gantinya, apa-apa yang ditampilkan dalam projector, kami tetap tampilkan dalam panggung pementasan.

Konsep Panggung kami rancang sederhana. Terbuka. Seperti jalan raya. Kami siapkan plaster hitam sebagai pembatas pangung. Juga plaster putih sebagai garis putus-putus di tengah jalan aspal. Penonton berada pada sisi kanan dan kiri jalan/panggung. Ada lampu dari atas seperti jalan raya pada umumnya. Kami juga menghadirkan semacam papan iklan yang diisi sebagai entah apa (penasaran ya? Nonton aja) pengganti projector.

Dengan konsep panggung demikian, kami mencoba mengajak penonton membangun imajinasinya sendiri.di mana rumah, di mana pos keamanan, di mana pengadilan, dan tempat-tempat lain yang dihadirkan dalam narasi cerita yang kuat. Dan mengimajinasikan peristiwa-peristiwa melalui narasi cerita.

Monolog BOR digarap oleh Komunitas Puntung Rokok. Masih dalam serangkaian “Parade Monolog Teater Muda” dan Serangakaian “Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya”. Dapat disaksikan di depan wantilan Fakultas Bahasa dan Seni. Minggu 24 Desember 2017. Pukul 20.00 WITA. Sesuai yang telah dijadwalkan, akan ada 4 pementas termasuk Komunitas Puntung Rokok, bersama 2 komunitas teater, yaitu : Komunitas Senja 2 naskah, Komunitas Mahima 1 naskah.

Salam Budaya. (T)

Tags: Festival Monolog Bali 100 Putu WijayaMonologOrde BarusejarahTeater
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Menikah Tak Disetujui Ortu, Tirulah Sinetron, Biar Lucu…

Next Post

Nanoq da Kansas# Puisi Libur, Tanpa Kopi Hidupmu Getas

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Nanoq da Kansas# Puisi Libur, Tanpa Kopi Hidupmu Getas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co