21 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peri Kecilmu Pergi, Ibu

Ni Putu Purnamiati by Ni Putu Purnamiati
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

 

Cerpen: Ni Putu Purnamiati

“Ibu, pernah sesekali aku membuat bulir-bulir air matamu jatuh karena aku tak bisa membungkam mulutku yang penuh bisa ini. Itu hanya salah satu kejahatan dari ribuan kejahatan yang pernah aku lakukan terhadapmu. Meski begitu, kau masih tetap diam membisu dan lebih memilih mengabaikan kejahatanku. Kau menganggap seolah-olah  putrimu ini adalah malaikat kecil yang akan membebaskanmu dari panasnya api neraka suatu hari nanti. Tapi apa kenyataannya. Aku pernah melakukan kesalahan yang begitu besar, dan aku menyesali itu. Aku menyesal mengetahui kenyataan hidupku yang sebenarnya.”

HAI, namaku Cahaya, lengkapnya Ida Ayu Cahaya Darma Dewi. Kata Aji dan Biang, aku lahir ketika Sang Surya terbangun dari tempat peristirahatannya dan aku lahir tepat  pada  hari  raya besar umat Hindu, tepatnya rahina suci Galungan. Katanya dengan memberikanku nama itu, saat menginjak dewasa nanti aku senantiasa menjadi cahaya dalam kegelapan, dan cahaya itu bisa menuntun orang-orang yang ada di sekitarku agar selalu berada pada jalan yang benar dan terbebas dari kesengsaraan.

Aku tinggal di sebuah perumahan elit di Denpasar bersama ayah dan ibuku. Aji dan  Biang,  itulah  sapaanku  kala memanggil  ayah dan ibuku. Dalam tradisi Bali, tentu saja aku berasal dari kasta paling tinggi atau bisa dikatakan dari keluarga yang terhormat. Namun aku tidak begitu mempedulikan kedudukanku itu, aku layaknya orang biasa dari kaum sudra. Aku tidak terlalu mengindahkan adat-istiadat yang masih dijunjung tinggi oleh keluargaku. Aku rasa tak penting semua itu, aku hidup di zaman yang sudah modern dan aku menikmati itu.

Sepertinya aku tergerus di lingkungan perkotaan karena memang aku tidak tinggal di griya bersama keluarga lainnya. Aku hanya tinggal bersama Aji dan Biang. Ya,  Aji adalah seorang pebisnis dan Biang hanya ibu rumah tangga yang senantiasa mengurusku, mengurus Aji, dan pekerjaan rumah lainnya ,bahkan membantu bisnis properti yang sedang ditekuni oleh Aji.

Aku hanya anak semata wayang, jadi aku selalu merasa kesepian setiap malam menjelang. Namun begitu, aku memang tidak ingin memiliki adik atau kakak. Betapa egoisnya aku yang tidak rela jika kasih sayang dari Aji dan Biang terbagi. Sejak kecil aku memang selalu dimanja oleh kedua orangtuaku.

Ketika aku berada pada masa di mana dengan bangganya aku  memakai seragam kebanggaanku yaitu seragam putih abu-abu, aku begitu bangga hampir setiap hari meloncati pagar sekolah bersama teman-temanku, lalu aku pergi untuk bersenang-senang bersama mereka. Benar-benar jenuh rasanya jika setiap hari aku harus berjumpa dengan pelajaran matematika, fisika, kimia yang membuat otaku berpikir begitu keras.

Sesulit itukah pelajarannya? Bahkan tugas-tugasku selalu Biang yang membantu mengerjakannya. Harus aku akui memang Biang itu wanita yang sangat cerdas. Bahkan ia berusaha untuk membimbingku dalam belajar, tetap saja pelajaran itu mental dari otaku. Sudah berapa kali Biang bolak-balik sekolah karena panggilan dari guru BK di sekolahku. Mungkin sudah tidak bisa dihitung lagi jumlahnya bahkan aku pernah diaancam akan dikeluarkan dari sekolah. Bisa dibayangkan begitu nakalnya aku.

“Gek, kamu ini seorang perempuan. Kamu tidak boleh terus-terusan seperti ini. Apa jadinya masa depanmu jika kau sia-siakan seperti ini. Biang tidak selamanya bisa berada disisimu untuk membantu jikalau kau menemui suatu masalah. Jadi tolong berpikirlah dengan bijak dan dewasa, pikirkan masa depanmu. Biang dan Aji sangat mengharapkan kelak kau menjadi orang sukses dan membahagiakan dirimu dan orang yang kau sayangi. Biang dan Aji tidak minta apapun selain kesuksesanmu kelak. Wanita yang cerdas, baik, bijak,santun adalah idaman para lelaki baik kelak. Kamu juga jangan terus keluyuran, lebih baik kamu belajar mejejaitan dan membuat banten dengan Biang atau Ninik.  Bisakah kau berjanji kepada ibumu ini?”

Ahhhh, Biang menitikan air matanya karena selalu memikirkan akan menjadi apa aku jika terus-terusan seperti ini.

“Biang, Gek masih muda. Biarkan Gek menikmati hidup dan melakukan sesuatu yang Gek mau. Layaknya burung-burung terbang bebas menari-nari di angkasa, sayangnya Gek tidak punya sayap untuk bisa terbang. Cukup Biang dan Aji memenuhi setiap keinginanku itu sudah cukup. O ya satu lagi, Gek tidak bisa membuat canang, atau jejaitan seperti Ninik. Jangan paksa Gek untuk belajar dengan Ninik, karena Ninik begitu galak dan cerewet. Gek tidak suka!”

Kata-kata itu dengan mudahnya keluar dari mulutku.

Biang selalu sabar menghadapi sikapku itu, senakal atau sejahat-jahatnya aku, Biang tidak pernah membentak atau memarahiku ketika aku berpakaian kurang sopan saat hendak bepergian bersama teman-temanku ke bioskop.

“Berpakaianlah yang sopan, jangan mengundang aura negatif. Kamu sudah besar harusnya mengetahui itu agar tidak terjadi hal-hal yang negatif ke depannya. Jika Aji tahu mungkin kau tidak akan diampuni!”  kata Biang.

Namun begitu, aku malah begitu kesal dan marah pada Biang karena telah memarahiku.

Berhari- hari aku lewati aktivitasku seperti biasa. Tidak ada yang berubah meskipun aku telah menjadi seorang mahasiswa di salah satu universitas terkenal di Denpasar. Wajah Biang pagi ini nampak begitu pucat. Tapi masih terlihat begitu cantik dan memesona terlihat dari mekarnya senyuman dari bibir keringnya itu kepadaku. Aji sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnisnya. Dan hari ini aku berencana menemani teman lamaku untuk berbelanja sekaligus menenanagkan otaku di tengah hiruk pikuk dunia perkuliahan yang bahkan lebih parah dari masa-masa SMA dulu.

Aku sempat berjanji kepada Biang untuk berubah dan bersungguh-sungguh menempuh pendidikanku kali ini. Walaupun terasa sulit untuku tapi perlahan akan aku jalani dengan sepenuh hati karena dari lubuk hatiku yang paling dalam aku sudah lelah melihat Biang menangis dan bersedih karena ulahku. Ah sekali lagi aku melanggar, aku kesal dengan Biang, ketika aku meminta uang saat akan pergi bersama temanku, Biang malah tidak memberikan uang  sepeser pun. Alasannya karena tanggal tua dan Aji belum mengirimkan uang.

“Hei, Biang itu wanita yang paling pelit yang pernah aku temui. Aku hanya meminta uang sedikit saja agar saat keluar nanti setidaknya ada beberapa lembar uang di dompetku. Agar aku tidak malu nanti!” Itulah kata-kata yang keluar dari mulutku pagi itu.

Aku lihat bibir Baing tetap tersenyum, tapi aku yakin secara tidak sengaja hatinya pasti terluka. Betapa bodohnya aku, aku tidak bisa mengendalikan mulutku yang berbisa ini. Padahal baru dua hari yang lalu aku meminta uang kepada Biang, sudah habis saja.

Ternyata aku tambah boros ketika menjadi mahasiswa sampai-sampai Aji tidak mengijinkan Biang untuk selalu memberikanku uang. Aji tidak mengirimiku uang bahkan Biang, padahal kami sangat berkecukupan. Hal itu dikarenakan aku tidak bisa mengendalikan nafsuku membeli sesuatu ketika aku memegang uang.

Jujur, aku sering pergi ke klub malam, dugem bersama teman-teman lelaki maupun teman-teman perempuanku tanpa sepengetahuan Aji dan Biang. Aku sering beralasan membuat tugas di kos temanku agar mereka tidak tahu. Aku bersekongkol dengan teman-temanku untuk membohongi orangtuaku, karena aku perlu hiburan malam dan aku ketagihan.

Sky Garden adalah tempat yang wajib aku kunjungi ketika aku mulai jenuh karena tugas-tugas mulai menyerangku. Dua bulan lamanya aku sudah sering mengunjungi tempat itu, awalnya aku begitu takut dan tidak mau pergi ke sana, tapi berkat rayuan temanku, akupun akhirnya terbujuk. Hingga aku bisa menghabiskan begitu banyak uang. Argh.. ternyata aku belum berubah bahkan lebih liar dari sebelumnya.

Setelah aku bersiap-siap, aku pergi tanpa berpamitan dengan Biang. Biang seperti biasa mengantarku hingga ke depan gerbang rumah. Seperti biasa sebelum bepergian ia memberikanku ceramah kecil seperti jangan kebut-kebutan di jalan, ingat makan tepat waktu, dan selalu ingat Hyang Widhi Wasa.

Tetapi aku tak menggubrisnya. Kupakai helmku, kuhidupkan motor vespa clasicku yang berwarna pink lalu aku berlalu begitu saja meninggalkan Biang yang melambaikan tangannya sambil memberikan senyum manis lewat bibir keringnya yang mungil itu. Aku masih kesal dengan Biang karena tidak memberi uang. Aku menjemput teman lamaku, Merry, lalu kami pergi ke Mall Bali Galeria.

“Hei, mungkin aku hanya menemanimu saja kali ini, aku meninggalkan dompetku di rumah, betapa bodohnya aku sampai-sampai dompetku tertinggal,” ucapku sedikit membohongi temanku karena malu rasanya jika aku bilang aku tak memiliki uang.

“Kamu tetap saja pikun seperti dulu Dayu, ya ampun. Tapi jika kamu ingin berbelanja, bisa meminjam uangku dulu ya, jangan sungkan,” tawar temanku itu.

Ah betapa beruntungnya aku, berada dengan orang-orang yang baik. Tapi aku rasa, aku tak menyadari itu. Sesekali aku dan temanku bercengkrama ria di bangunan yang super megah ini. Kali ini kami menuju ke pusat pakaian.

“Kau ingin membeli baju?”  tanyaku pada temanku itu.

“Tidak, sebenarnya aku ingin membelikan mamaku hadiah, sebenarnya aku bingung ingin membelikan mamaku baju atau sepatu ya, untuk itu aku mengajakmu untuk membantuku memilihkan hadiah untuk mamaku,” sahut temanku.

“Wah, mamamu ulang tahun ya,” tanyaku lagi

“Tidak, hari ini kan Hari Ibu. Aku ingin membelikan mamaku sesuatu. Sudah beberapa bulan ini aku menyisihkan uang jajanku untuk ini. Mamaku sangat memanjakanku, sangat baik terhadap anaknya. Jadi aku berinisiatif mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih terhadap mamaku. Hehehe, kamu pastinya sudah mengucapkan dan menyiapkan hadiah untuk mamamu kan?”

Seketika aku tersentak. Teringat perbuatanku tadi pagi terhadap Biang. Boro-boro memberikan hadiah, mengucapkan Hari Ibu saja aku tidak ingat. Bahkan aku telah mencacinya meskipun ia diam saja dan memendam  lukanya dan hatinya yang pasti hancur berkeping-keping.

Kepalaku rasanya sangat sakit seperti terhantam batu besar, mataku mulai berkunang-kunang dan kakiku rasanya lemas tak kuat berpijak hingga akhirnya aku tak sadarkan diri. Aku mendapati diriku dikerumuni orang-orang dengan wajah cemas. Lagi-lagi aku merasakan mual yang begitu hebat hingga aku berlari ke kamar mandi berlalu meninggalkan orang-orang yang ramai mengerumuniku. Temanku Merry mengejarku dan akhirya ia mengajaku ke rumah sakit karena takut terjadi sesuatu hal denganku.

Sudah jatuh tertimpa tangga, betapa kagetnya aku mengetahui bahwa diriku ternyata hamil. Ahhh, dokter salah! Sialan tidak mungkin! Aku bahkan mencaci dokter yang mengatakan bahwa diriku hamil. Temanku Merry hanya menunggu di luar karena memang tak akubiarkan ikut denganku ketika cek kesehatan.

Aku masih tidak percaya dengan semua ini, bahkan katanya, sudah ada kehidupan di rahimku selama 2 minggu. Ingin rasanya aku bangun dari mimpi buruk ini. Teringat kembali satu bulan yang lalu ketika aku bersama teman lelakiku pergi ke klub malam di Sky Garden. Saat itu aku benar-benar frustrasi dengan tugas penelitianku. Sehingga temanku seperti biasa mengajakku pergi menghibur diri. Akupun terbuai menikmati sebotol bir bersama teman-temanku dan mendengar musik yang membuat kami tergerak untuk menari-nari hingga melupakan segalanya.

Tak cukup sampai di situ, hingga berkelanjutan pada nafsu berahiku terhadap teman lelakiku itu yang sebetulnya sejak lama aku pendam. Malam itu, usai minum dan menari, aku pergi bersama teman lelakiku ke sebuah hotel. Aku sudah tak ingat dunia lagi, kami bercinta begitu nikmatnya.

Ingatan itu sekarang begitu jelas, sungguh tak terbayang pada akhirnya seperti ini. Sekarang aku bahkan mengancam dokter agar tidak mengatakan hal ini kepada siapapun. Entah dokter itu akan mengatakannya atau tidak. Aku menemui teman yang sudah mengantar dan menungguku di rumah sakit, kuberikan senyum padanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa padaku meskipun terlihat wajahku begitu pucat.

Tak banyak bicara akupun pulang. Lagi-lagi kenyataan pahit aku terima ketika aku sampai di rumah. Tak sengaja aku lewat di depan kamar Biang dan sepertinya memang Biang tidak menyadari keberadaanku, aku lihat Biang menangis sambil memegang bingkai fotoku dan berkata :

“Peri kecilku, Cahayaku. Andai kamu tahu bahwa Biang dan Aji ini bukan orang tua kandungmu. Kami menemukanmu di dekat sebuah Pura. Akhirnya kami mengadopsimu secara legal, kami percaya bahwa kau akan memberikan kami kebahagiaan yang begitu besar karena Tuhan belum mempercayaiku untuk memberi kehidupan di rahimku. Beberapa saat sebelum itu, kami telah berdoa kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar segera diberikan keturunan dan akhirnya doa kami terjawab. Aku bingung sekarang harus mengatakannya atau selamanya merasa bersalah karena telah mengarang cerita kebohongan tentang dirimu.”

Aku dengar ibuku terisak sambil sesekali mencium fotoku.

Lagi-lagi hatiku hancur, jiwaku seakan melayang entah ke mana. Perlahan aku pergi ke kamarku, kukunci pintu dan aku terisak. Sepertinya Biang belum mengetahui jika aku sudah pulang. Bahkan tangisanku yang keras tak terdengar hingga ke luar karena kamarku memang kedap suara.

Sekarang aku sudah tidak bisa membayangkan hidupku lagi. Apa yang harus aku katakan pada Aji dan Biang, aku sudah tak bisa berpikir lagi. Tadi aku berfikir ingin meminta maaf kepada Biang dan aku ingin memeluk serta mencium Biang lalu kuucapkan Selamat Hari Ibu. Namun semua lagi-lagi terhalang karena perasaanku sudah sangat sakit mengetahui diriku bukan anak kandung dari kedua orang tua yang begitu menyayangi dan memanjakanku selama ini.

Kuambil selembar kertas, dan kutulis sepucuk surat untuk Biangku.

“Biang, Selamat Hari Ibu untukmu. Aku sangat mencintaimu. Maafkan kejahatanku pagi ini dan kejahatan-kejahatan yang telah aku perbuat selama ini terhadap Biang. Aku menyesalinya. Peri kecilmu, Cahayamu ini telah redup dan hancur Biang. Begitu malu rasanya aku menampakkan wajahku ke hadapan Aji dan Biang saat ini. Sekarang aku juga sudah tahu bahwa cerita-cerita tentang masa kecil yang Biang ceritakan dulu semua itu ternyata kebohongan semata untuk membuatku senang dan merasa sombong.

Sekali lagi selamat Hari Ibu untukmu, selamat Hari Ibu juga untuk ibu kandungku yang telah mempertemukanku dengan orang tua yang begitu menyayangiku, selamat hari ibu kepada ibu-ibu di dunia ini yang selalu menyayangi anaknya. Di Hari Ibu ini, aku juga akan menjadi ibu, biang. Tapi maaf aku tidak ingin membuat keluarga ini malu. Sebelum aku membuat masalah terhadap keluarga ini lagi, izinkan aku pergi membawa dosa-dosaku ini. Maafkan aku tidak bisa menjadi penuntun jalanmu ke sorga nanti.

Biang, Peri Kecilmu ini sekarang akan pergi membawa kejahatan dan penyesalannya. Peri kecilmu tidak akan mencari tau siapa ibu kandungnya, karena Biang sudah kuanggap adalah ibuku sendiri. Titipkan salam kepada Aji. Mungkin tak ada anak yang lebih kejam dariku di dunia ini, mungkin saat ini para ibu dan anak sedang merayakan hari ibu. Tidak hari ini saja, mungkin setiap hari adalah hari ibu ketika mereka sangat menyayangi ibu mereka. Dan mungkin nanti kita tidak akan bertemu di sana. Salam sayangku untuk Biang.”

Dadaku sesak kala menulis surat itu. Betapa konyolnya hidupku ini, kutangisi semua itu sebelum aku mengambil pisau silet di laci meja. Sembari memegang pisau silet, aku memandang nadi di pergelangan tanganku dengan mata nanar dan kabur oleh air mata. (T)

 

Catatan:

Biang = Ibu

Ajik = Ayah

Ninik = Nenek

Gek = panggilan untuk anak perempuan (biasanya di kalangan kaum brahmana)

Griya = sebutan untuk rumah kaum brahmana

Tags: Cerpen
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Terinspirasi Kreativitas Anak, Seniman dari Tokyo, Yogya, dan Bali, Kembali Pentas di CushCush Gallery

Next Post

Tahun Baru Kids Zaman Old: Bikin Lom Gede, Rambut Merah Disemir Buah Gondola

Ni Putu Purnamiati

Ni Putu Purnamiati

Biasa dipanggil dengan nama Ami. Lahir di Keliki, Gianyar, 12 Februari 1998. Hobinya seperti anak muda lainnya: mendengarkan musik. Kini mencoba masuk dunia teater. Punya motto imut-imut: Jadikan kegagalan sebagai langkah awal untuk maju

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post

Tahun Baru Kids Zaman Old: Bikin Lom Gede, Rambut Merah Disemir Buah Gondola

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co