21 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru itu Bernama Pengalaman – Catatan Seorang Guru Swasta

Surya Pratama by Surya Pratama
February 2, 2018
in Opini

Foto ilustrasi: FB/Disdikpora Buleleng

 

PROSES belajar tidak hanya dapat berlangsung di sekolah. Ia bisa dilakukan di luar kelas, di luar sekolah. Banyak yang berpikir, belajar itu proses pemahaman teori-teori ilmu pengetahuan di sekolah. Bahkan banyak anggapan beredat, semakin paham seseorang akan teori-teori, semakin pintar ia dinilai oleh orang lain.

Untuk itulah orang tua berbondong-bondong menyekolahkan anaknya, bermaksud agar anaknya mendapat ilmu dari guru di sekolah. Sepulang sekolah, anak itu langsung diantar ke tempat les, yang lucunya, guru les itu adalah guru yang sama dengan guru yang mengajar di sekolah. Malamnya anak itu menghabiskan waktunya untuk membuat PR. Kegiatan ini berulang terus menerus.

Pertanyaannya, apakah ada yang dapat menjamin bahwa anak itu tidak merasa jenuh dengan pelajaran-pelajaran di sekolah? Apakah sudah pasti teori-teori yang ia dapat di sekolah dapat terimplementasi dengan baik di kehidupan nyata? Apakah cukup hanya dengan pemahaman teori, seseorang dapat menjadi orang yang berhasil atau sukses di suatu bidang?

Jawaban dari semua pertanyaan tersebut adalah tidak.

Namun, bukan berarti bahwa teori-teori yang seseorang dapatkan di sekolah atau perguruan tinggi tidak berguna bagi kehidupan orang itu, atau bahkan sekolah tidak lagi penting untuk dijadikan tempat belajar.

Nah, menurut pandangan seorang guru yang mengajar di salah satu sekolah swasta, pemahaman teori bukan menjadi pelajaran terbaik, melainkan pengalamanlah yang jadi pengalaman terbaik.

Pengalaman dari Kuliah PPL

Teman saya itu adalah seorang guru yang sebelumnya merasa bahwa ilmu yang ia dapat dari perguruan tinggi memiliki pengaruh besar dalam keberhasilannya mengajar sebagai seorang guru yang baik. Namun nyatanya, ia merasa hanya 30% suksesnya dipengaruhi teori-teori mengajar yang diperoleh di kampus.  Dan sebanyak 70%  dipengaruhi oleh pengalaman.

“Guru yang baik” dalam hal ini bukan berarti baik hati, tapi baik dalam arti mampu mentransfer informasi kepada siswa, mentaati aturan di sekolah, mampu bersosialisasi dengan siswa, guru, dan pegawai sekolah, dan mampu mengembangkan potensi siswa didikan.

Sebagai contoh pengalamannya, sewaktu ia masih belajar di perguruan tinggi, ia adalah mahasiswa yang tergolong pintar di kelas, bahkan ia lulus dengan predikat cumlaude (berprestasi). Namun, ia sempat dibuat kewalahan dengan salah satu mata kuliah, yaitu Program Pengalaman Lapangan yang lebih dikenal dengan sebutan PPL. Kuliah PPL ini sederhanya adalah praktek mengajar di sekolah.

Awalnya, saat praktek mengajar, ia hanya berpatokan pada teori-teori mengajar yang diperolehnya di bangku kuliah. Namun ia tidak mampu mengimbangi kondisi siswa, termasuk gagap dalam urusan administrasi, pengelolaan kelas, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, ia mengambil pelajaran dari pengalaman mengajarnya itu.  Ia kemudian menyempatkan waktu luangnya untuk mengajar di beberapa bimbingan belajar. Ia ingin mendapatkan pengalaman menjagar sebanyak-banyaknya, bahkan lebih banyak dari teori mengajar yang diperolehnya di kelas. Dari pengalaman-pengalaman mengajar itulah ia mendapatkan banyak pelajaran bagaimana menghadapi siswa di kelas, atau menghadapi siswa yang memiliki persoalan di luar kelas.

Setelah lulus dari perguruan tinggi ia sudah membawa pengalaman mengajar yang ia dapat dari PPL dan bimbingan belajar tersebut dan ia terapkan di sekolah dimana ia mengajar saat ini.

Pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman mengjar itu antara lain: siswa yang lebih sering mendapat pengalaman di lapangan (luar kelas) cenderung lebih bisa dalam menjelaskan sebuah masalah dan memberi solusi pada situasi yang dijelaskan oleh guru, karena ia setidaknya pernah melihat atau mengalami kejadian-kejadian tertentu di lapangan. Dengan kata lain, pengalaman mengajarkan kemampuan problem-solving (mengatasi masalah) dengan baik.

Meskipun demikian, tidak berarti semua pengalaman yang seseorang dapatkan di lapangan mengajarkan hal yang baik saja. Masalahnya, seseorang dapat dengan mudah terjerumus ke hal-hal yang tidak baik yang ada di lapangan. Contohnya, beberapa siswa SMP banyak terlibat kasus perkelahian dan pengeroyokan, seperti yang terjadi pada salah satu satu siswa kelas 3 SMP tempat guru itu mengajar.

Dari keterangan siswa yang mengaku dikroyok tersebut, ia memiliki masalah dengan teman kelas, sehingga teman kelas tersebut mengadu kepada teman-teman geng-nya. Sejumlah orang yang diperkirakan berada di bangku SMA, dan ada yang sudah putus sekolah itu mengroyok siswa tersebut lantaran tidak suka teman geng-nya diejek.

Dari kejadian tersebut, dapat dipahami bahwa siswa yang mengadu tersebut telah mendapat pengalaman yang buruk di lapangan, yaitu berteman dengan orang-orang yang memiliki kepribadian tidak baik, dimana ia telah diajarkan pelajaran yang tidak baik juga seperti berkelahi, merokok, minum minuman keras, dan lain-lain.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pengalaman di lapangan tanpa pantauan dari guru atau orang tua/wali tidak akan sepenuhnya mengarah ke pelajaran yang baik. Meski siswa tidak dapat diawasi sepanjang hari, setidaknya guru atau orang tua telah mendidik dan mengajarkan mana perilaku yang baik dan buruk kepada siswa tersebut.

Mengarahkan dan mendampingi siswa untuk mencoba pengalaman baru atau membiarkan siswa mencoba pengalaman baru dengan pantauan guru atau orang tua/wali adalah solusi dari masalah tersebut. Dengan demikian, siswa akan terbiasa dengan pengalaman-pengalaman yang mengajarkan untuk bertindak dan berperilaku yang baik.

Nah, coba resapi contoh ini:

Pada suatu sekolah terdapat 3 orang guru, yaitu Pak Budi, Pak Tono, dan Bu Susi. Jika Pak Tono dikatakan sebagai guru terbaik, apakah itu berarti bahwa Pak Budi dan Bu Susi bukan seorang guru? Jawabannya sudah tentu tidak.

Sama halnya dengan pembahasan kali ini. Jika pengalaman dikatakan sebagai pelajaran terbaik, bukan berarti bahwa pemahaman teori di sekolah bukan sebuah pelajaran juga. Namun, akan menjadi sangat baik jika teori dan pengalaman dapat terselaraskan dengan baik.

Kita tidak lagi hidup di jaman di mana orang cerdas dilihat dari nilai pelajaran yang tinggi.  Seseungguhnya, orang cerdas adalah ia yang mampu mengetahui dan mengembangkan potensi dirinya dengan baik, serta mampu mengetahui kekurangan diri dan mengambil pelajaran dari pengalaman. (T)

Tags: gurumahasiswaPendidikan
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

Film Horor: Hantu Perempuan, Hukum, Agama, dan Hal-hal yang Berubah

Next Post

Nonton Joged Porno itu Nganu Banget Pokoknya

Surya Pratama

Surya Pratama

Lahir di Denpasar. Sedang menempuh pendidikan di Undiksha Singaraja, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Bergabung dengan Komunitas Mahima sembari belajar teater, musik, dan sastra.

Related Posts

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails
Next Post

Nonton Joged Porno itu Nganu Banget Pokoknya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026
Gaya

‘Dipaning Jayaswara’: Cahaya Baru Jegeg Bagus Tabanan 2026

SEMAKIN malam, semakin meriah juga suasana di Gedung Kesenian I Ketut Marya, pada Jumat, 8 Mei 2016. Tepuk tangan riuh...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”
Panggung

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?
Khas

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital
Esai

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co