23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pancasila, Keberagaman dan Toleransi – Catatan Usai Seminar di Undiksha

Indra Andrianto by Indra Andrianto
February 2, 2018
in Opini

Foto: Edo Hary Purnawan/Nirawana TV

 

“Hanya di Bali orang muslim sholat idul Fitri dan Idul Adha yang jaga pecalang dari orang Hindu. Hanya di Bali orang Hindu menyambut Nyepi, yang menggotong ogoh-ogoh sebagian orang Muslim“ – Prof. Dr. Yudana

AKHIR-AKHIR ini negara Indonesia sering mengalami carut marut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terlihat dari kondisi masyarakat Indonesia yang sering mengalami semisal konflik primordial atau konflik horizontal di beberapa daerah. Sehingga bukan tidak mungkin, jika konflik semacam ini tidak menemukan solusi tepat, maka sudah pasti NKRI di ambang perpecahan.

Beberapa konflik agama, golongan, kesukuan bahkan merembet pada bentrok antar generasi penerus bangsa di tingkat pelajar merupakan suatu bukti bahwa bangsa kita sudah lupa akan keberadaan Pancasila yang secara pengertian dasar yakni “Pancasila sebagai Dasar Negara, Pancasila Sebagai Pandangan Hidup, Pancasila sebagai Filsafat bangsa dan Pancasila sebagai Modus (siasat)” Pandangan ini tertulis dalam buku karangan Prof. Dr. Ketut Ridjin, Pendidikan Pancasila.

Saat era Orde Baru tentu Pancasila cukup ditekankan dengan pemahaman P4 bahkan butir-butir dalam Pancasila di tingkat sekolah, pelajar wajib tahu dan memahaminya, tentu tidak hanya sekedar dihafalkan saja tetapi bagaimana kita menghayati dan mengaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi bangsa yang sesuai dengan cita-cita Pancasila yaitu masyarakat yang Pancasilais.

Tentang Pancasila ini sempat terdengar saat saya mengikuti seminar nasional di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, belum lama ini, yang dipanitiai oleh mahasiswa PPKn dengan mengundang pemateri seperti Dr. Aqom (Dekan Filsafat UGM) dan Prof. Dr. Yudana (Rektor Panshopia).

Dalam seminar tersebut sempat terjadi perbincangan hangat dari  narasumber-narasumber itu terkait keberadaan Pancasila dalam menjaga ketahanan nasional.

Dr. Aqom sebagai pemateri dari Yogjakarta menyampaikan bahwa Universitas Gadjah Mada kedatangan 40 mahasiswa dari negara sakura Jepang untuk meneliti Pancasila. Ini membuktikan betapa Pancasila sebagai sebuah ideologi menjadi sorotan di mata Internasional karena ideologi ini mampu menyatukan banyaknya perbedaan dalam NKRI.

Tak heran jika mahasiswa dari Jepang kaguma karena di Jepang sendiri hanya ada 2 suku saja tetapi masih sering ada keributan secara internal problem. Berbeda di Indonesia lebih dari 500 suku, berbeda agama pula, tapu minim sekali terjadi gesekan konflik primordial. Maka ini yang menjadi fokus rule model dalam pencapaian mahasiswa tersebut yang nantinya menjadi bekal untuk masalah-masalah yang di terjadi di negaranya di Jepang.

Dalam benak saya tentu bangga sekali kita punya Pancasila sebagai ideologi dan sebaliknya sangat kecewa jika Pancasila hanya dimaknai dengan menghafal ke-5 dasar silanya apalagi sampai tidak tahu apa itu Pancasila. Yang lebih parah lagi bangsa kita termakan umpan provokasi yang dilabeli suatu agama dengan menaruh kebencian terhadap Pancasila yang dianggap sebuah agama baru yang kufur (kafir), bahkan tak jarang banyak kalangan ekstrimis radikal mengancam ketahanan nasional dengan mengatakan bahwa Pancasila adalah produk kaum liberalisme dan komunis.

Itu murni sebuah propaganda yang sasarannya masyarakat awam. Namun bagi mereka yang mengetahui Pancasila hingga penghayatan dan penerapan yang dianjurkan dalam butir-butir Pancasila, tidak akan mudah terprovokasi karena Pancasila menjawab dengan kompleksitasnya mulai dari tataran sprilitualitas religius sampai sosialnya.

Dan di Islam sendiri ada Hablum Minannas dan Hablum Minallah. Pertanyaannya, dari sudut mana kaum ekstrimis radikal mengatakan Pancasila tidak sesuai dengan ajaran Islam? Ini perlu perhatian khusus bagi pemerintah agar fokus terhadap doktrin radikal yang menjangkit sebagian bangsa Indonesia karena kalau dibiarkan begitu saja maka negari ini diambang perpecahan.

Berbeda lagi dengan penyampaian dari Prof. Dr. Yudana M,Pd., rektor Panshopia yang asli orang Baliage. Ia menuturkan pesan oleh-oleh dari Bali tentang makna keberagaman dalam Pancasila dengan mencontohkan interaksi sosial dalam keberagaman bingkai Pancasila “hanya di Bali orang muslim sholat idul Fitri dan Idul adha yang jaga Pecalang dari orang Hindu, Hanya di Bali Orang Hindu menyambut Nyepi yang menggotong Ogoh-ogoh sebagian Orang Muslim“ katanya.

Tentu hal ini mencerminkan jiwa dan sikap toleransi yang tinggi sebagai suatu ajaran Pancasila dengn Bhiennika Tunggal Ika-nya. Yang membuat haru adalah saat Prof. Dr. Yudana M,Pd juga menyampaikan dengan penuturan gambaran toleransi di Bali dengan mengatakan: “Wahai sodaraku umat Muslim Sholatlah dengan Khusu’ dan Khidmat, biar di luar kami (pecalang) yang menjagamu dari gangguan Syaiton yang terkutuk”

Dalam hati ini bergetar mendengar ilustrasi yang disampaikan oleh Prof. Yudana. Betapa Bali sebagai miniatur keberagaman yang ideal, antara agama satu dan agama yang lain saling rangkul bahu membahu. Jika dimaknai arti kehadiran Pancasila itu sendiri maka yang akan terjadi adalah kedamaian dan ketentraman seperti yang Prof. Dr. Yudana sampaikan melalui penuturannya.

Pancasila hari ini hanya dimaknai kulitnya saja, tidak pada isi dan maknanya. Tentu ini bukan sekedar beropini bagaimana bangsa kita sudah kehilangan rantai sejarah dan dibumbui sedikit berpikir liberal, seperti yang dikatakan oleh ketua KAHMI Provinsi Bali, Kanda Suwardi Rasyid “ Tidak perlu pertumbahan darah untuk menjajah suatu negara, cukup putus rantai sejarahnya dan biarkan berpikir liberal”

Anak-anak bangsa di daerah pedalaman perbatasan Malaysia-Indonesia di Kalimantan mereka lebih mengetahui lagu wajib negara Malaysia daripada lagu wajib nasional Indonesia. Logikanya bagaimana mereka mengenali Pancasila secara komprehensif dan kompleks jika lagu kebangsaannya saja tidak tahu.

Di sisi lain saat saya melakukan PPL Real di salah satu SMP di Kabupaten Buleleng kebanyakan dari siswa hanya mengetahui Pancasila sebatas hafal dan tahu. Tentu ini bukan cita-cita yang diinginkan oleh visi yang diamanatkan oleh bapak-bapak kita terdahulu. Maka kenali Pancasila, hayati, maknai dan terapkan dalam kehidupan bernegara dengan demikian Negara Kesatuan Republik Indonesia akan menjadi negara yang maju pesat secara kebangsaannnya, dan konflik primordial semakin berkurang.

Untuk menuju hal tersebut tentunya diawali dari diri sendiri dan sentuhan pemerintahan yang punya wewenang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melaui pendidikan secara menyeluruh seperti yang telah diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945. (T)

Tags: bulelenghinduMuslimpancasilatoleransiUndiksha
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Kiat Belajar & Bagawan Garga Sang Pendiri Kalender Bali

Next Post

Tetap Menjaga Harapan Baik pada Jalur Naik-Turun Gunung Agung

Indra Andrianto

Indra Andrianto

Lahir pada tanggal 14 Maret 1995 kelahiran Bondowoso-Jatim. Saat ini menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Undiksha-Bali. Kabid Perguruan Tinggi dan Kepemudaan HMI Cabang Singaraja.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Tetap Menjaga Harapan Baik pada Jalur Naik-Turun Gunung Agung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co