23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Harian Sugi Lanus: Kiat Belajar & Bagawan Garga Sang Pendiri Kalender Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

sumber foto: https://subak.wikispaces.com/Balinese+Calendar#discussion

 

BAGAIMANA caranya belajar kalender Bali?

Jika kita serius ingin belajar kalender Bali, yang berdasar pawukon dan juga sasi(h), mau tidak-mau harus membaca naskah Lontar Bagawan Garga yang menjadi acuan para leluhur Bali dan Jawa Kuno dalam merumuskan penentuan hari dalam pertanian dan juga dalam berbagai ritual.

Lontar Bagawan Garga adalah bentang intisari dan teologi di balik hari-hari dan wuku, juga penuh dalil keselarasan alam yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sekaligus bisa menjadi acuan filosofis yang mendalam jika disimak dengan sungguh.

Tahap selanjutnya, setelah membaca Lontar Bagawan Garga, silahkan lengkapi dengan membaca juga Lontar Aji Swamandala yang menguraikan tentang penentuan hari baik dan buruk (padewasan) yang merupakan ajaran dari Bhatara Surya Candra. Ini merumuskan prihal ritual tawur atau pecaruan dan berbagai rumusan kalender, yang dalam lontar ini disebutkan sebagai pedoman ritual di Besakih, dan juga acuan semua wilayah yang mengikuti kalender ritual Besakih.

Jangan khawatir, Lontar Bagawan Garga telah pernah dialihaksara dan diterjemahkan oleh tim Pusat Dokumentasi Kebudayaan Bali, 1988, bisa di-fotocopy bukunya di Pusdok Bali. Demikian juga Lontar Aji Swamandala telah ada transkripnya. Kedua naskah tersebut memang tidak dibahas tuntas, tapi dua terbitan atau usaha itu telah membuka jalan bagi pembaca yang mencoba memasuki pintu “ilmu wariga Bali”.

Jika ingin spesifik soal wuku dan upakara Hindu di Bali, lebih lanjut dari kedua lontar (Lontar Bagawan Garga dan Lontar Aji Swamandala) tampaknya diturunkan-jelaskan dengan cukup sistematis menjadi pedoman hari-hari atau kalender upakara yaitu dalam Lontar Sunarigama yang memberi acuan berbagai upakara sepanjang siklus 210 hari, dari Hari Suci Saraswati, berbagai Anggarkasih dan Tumpek, lalu Galungan dan Kuningan, sampai kembali ke Pagerwesi, balik lagi ke Saraswasti. Putarannya 210 hari tersebut dalam naskah lontar Sundarigama dirinci.

Dengan membaca secara rinci 3 naskah tersebut, dengan seksama, kita diajak memahami konsepsi dan relasi kosmologi, astrologi keterkaitannya dengan berbagai ritual-ritual Bali.

Kalender Bali yang dirumuskan dalam Lontar Bagawan Garga dan Lontar Aji Swamandala itulah menjadi acuan penulisan berbagai lontar lainnya, juga berbagai ritual lainnya, dan berbagai perhitungan baik-buruk hari spesifik lainnya, bisa ditemukan dalam beberapa seperti: Lontar Wariga Gemet, Lontar Wariga Krimping, Wariga Parerasian, Wariga Palalawangan, Purwaka Wariga, dan lain-lain.

Ajarannya bisa sangat luas, dari perhitungan hari menanam kacang-kacangan, mengambil ternak sapi, kucit (bibit/anak babi), pengobatan, perang dan persoalan hari baik ngaben dan upakara-upakara besar lainnya, sampai memilih hari untuk memasuki alam gaib. Termasuk, yang dalam Lontar Pengayam-ayam, diulas menghitung warna ayam dan dicocokkan dengan “warna hari” serta “arah mata anginnya”.

Pertanyaan yang banyak ditanyakan di antara orang Bali: Darimana sumber ajaran Wariga tersebut? Siapa peletak dasar ajaran tersebut?

Sekalipun lontar-lontar tersebut secara gamblang tidak menjelaskan siapa perumusnya, tapi nama atau judul Lontar Bagawan Garga jelas memberi nama tokoh sumber ajaran tersebut: Hyang Bagawan Garga.

Siapa Bagawan Garga?

Bagawan Garga atau Ṛṣi Garga atau Garga Acarya atau Garga Muni adalah sosok sangat ternama dalam ilmu astrologi kuno. Ajaran beliau tersebar hampir di berbagai suku bangsa di Asia. Nama beliau tercatat dalam kitab Weda dan Purana.

Dalam kitab puranika beliau disebutkan sebagai putra Ṛṣi Bharadvāja. Selain nama Ṛṣi Garga yang tercatat sebagai perumus atau ahli astrologi dan astronomi, serta sistem penanggalan, disebutkan nama-nama Ṛṣi terkenal lainnya yang ahli astrologi, seperti: Ṛṣi Brahma, Ṛṣi Surya, Ṛṣi Soma, Ṛṣi Vasiṣṭhta, Ṛṣi Pulastya, Ṛṣi Romaka, Ṛṣi Arya.

Di Bali sendiri, nama Ṛṣi/Bagawan Garga adalah nama yang paling ternama dan ajarannya disebut-sebut dalam pengajaran lokal ketika seseorang ikut belajar ajaran Wariga dan Pelintangan baik lewat tradisi lisan dalam menghitung tika dan titimangsa, juga dalam kajian secara tradisional lewat membaca lontar-lontar yang diturunkan dari orang tua dan generasi kakek-buyut kita.

Dalam Kitab Mahabharata, Santi Parwa, Bagawan Garga dikatakan telah menjadi “penjaga tahun saṃvatsara”. Juga disebutkan berjejer dengan para Rsi agung lainnya: “Kemudian Sukra, dalam kediaman Agung yang luas itu, menjadi pemimpin doa. Valakhilyas menjadi penasihatnya, dan Saraswatas adalah teman-temannya. Ṛṣi Garga yang hebat dan terkenal menjadi penghitung dan penentu harinya (astrolog)”.

Dalam The Brhat-Samhita,’ or Complete System or Natural Astrology of Varahamihira, H. Kern, menyatakan bahwa Abad 1 Sebelum Masehi penulis sistem kalender di India Selatan bernama Bala Bhadra yang menulis Horā Ratnaṁ sangat dipengaruhi oleh Ṛṣi Garga.

Kitab-kitab kuno ternama seperti Taittirīya-saṃhitā, Pāraskara-gṛhya-sūtra, Varāha-mihira’s Bṛhat-saṃhitā, Bhāgavata-purāṇa menyebut sistem saṃvatsara yang “dijaga” oleh Ṛṣi Garga.

Berbagai sumber kuno menyebutkan bahwa beliau adalah penulis Garga Horā dan Garga Samhita, keduanya dan berbagai warisana Gargya-jyotisa adalah jyotiṣa atau risalah kuno terkait astrologi dan pelintangan.

Kedua kitab tersebut, Garga Horā dan Garga Samhita, sejauh pengamatan saya, terlihat sebagai rujukan dalam berbagai lontar Wariga yang menjadi acuan kita berupakara dan ritual serta praktek pertanian dan kehidupan lainnya di Bali. Tentunya dengan berbagai penyesuaian lokalitas nama dan peristilahan, dengan penyesuaian gelagat musim dan perbintangan lokal, serta situasi kultural kehidupan pertanian dan keagamaan yang kita warisi secara tradisional.

Jika ada yang bertanya-tanya kenapa wariga atau kalender Bali demikian banyak mengatur atau berurusan dengan ritual?

Ada baiknya juga mendengar informasi ini, bahwa menurut beberapa sumber, disebutkan ada tokoh bernama Ṛṣi Garga adalah pewaris silsilah ajaran Pasupata yang diturunkan oleh Yang Mulia Siva-Srikantha. Yang Mulia Srikantha adalah guru spritual besar yang ajarannya tersebar di Asia, termasuk Jawa dan Bali. Dalam naskah Pihgalamata, sebuah naskah Tantra yang terwariskan di Nepal ditulis tahun 1174, beliau disebut sebagai Bhagavat Srikanthanatha. Lakulisa kemungkinan adalah murid dari Bhagvat Srikanthanatha. Bersama murid lainnya, Kusika, Mitra, dan Kaurusya, Garga kemungkinan menurunkan ajaran Pasupata yang dihayatinya lewat kalender yang diwariskannya. Lakulisa dan 4 muridnya (Kusika, Garga, Mitra, dan Kaurusya) disebutkan dalam Prasasti Candragupta II dari dinasti Gupta. Di Bali ajaran Pasupata sepertinya terkait dengan kabar dalam berbagai lontar tentang kedatangan Hyang Pasupati ke Bali.

Dalam tradisi sastra Jawa Kuno dan Sunda Kuno disebutkan pula guru-guru penurun ajaran Pasupata tersebut: Kusika, Mitra, Kaurusya, dan Garga. Apakah Ṛṣi Garga pewaris silsilah ajaran Pasupata yang diturunkan oleh Yang Mulia Siva-Srikantha ini yang menurunkan Lontar Bagawan Garga? Ataukah kesamaan nama/gelar itu merujuk pada keahlian kepakaran yang sama? Jika Ṛṣi Garga pewaris silsilah ajaran Pasupata ini yang dirujuk oleh Lontar Bagawan Garga maka tidak heran rumusannya banyak menerangkan perihal ritual-upakara yang memang lekat dengan ajaran Pasupata.

Kalau boleh saya sarankan, jika ingin serius menekuni kalender Bali, sebaiknya pertama-tama, marilah kita sama-sama merunduk dengan penuh hormat pada para guru besar wariga yang kita abaikan dan lupakan selama ini: Pertama-tama tentu terhadap Hyang Bagawan Garga, kemudian merunduk sujud dalam hati pada Ṛṣi Brahma, Ṛṣi Surya, Ṛṣi Soma, Ṛṣi Vasiṣṭhta, Ṛṣi Pulastya, Ṛṣi Romaka, Ṛṣi Arya, juga para dang-hyang leluhur kita yang telah mewariskan pada kita tradisi besar ini. (T)

Catatan Harian, 22 November 2017

Tags: balibali kunoindiakalenderPendidikan
Share106TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Desa Plaga, Kapulaga dan Bunga Mpu Bahula

Next Post

Pancasila, Keberagaman dan Toleransi – Catatan Usai Seminar di Undiksha

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post

Pancasila, Keberagaman dan Toleransi – Catatan Usai Seminar di Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co