26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahasiswa Akademis vs Mahasiswa Aktivis – Mana Lebih Baik, Mana Lebih Buruk?

Fatika Arum Rahmawati by Fatika Arum Rahmawati
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung. /Foto hanya sebagai ilustrasi

 

SAYA sering mendengar pertentangan pendapat dari sejumlah teman. Bahwa: mahasiswa akademis lebih unggul dibandingkan dengan mahasiswa aktivis, atau  mahasiswa aktivis lebih unggul dari mahasiswa kademis.

Bagi saya, tidak ada istilah mahasiswa aktivis maupun mahasiswa akademis, semuanya sama: “mahasiswa”.

Apa arti mahasiswa? di era sekarang ini, mahasiswa bisa diartikan manusia yang merdeka, yang bebas menentukan arah tujuan demi menggapai sebuah harapan.

Lalu, apa arti akademis? Akademis itu artinya segala sesuatu yang berhubungan dengan akademi, yang bersifat ilmu pengetahuan dan bersifat ilmiah. Kemudian arti aktivis? Aktivis adalah manusia yang giat bekerja untuk kepentingan suatu organisasi.

Jika disimpulkan bahwa Mahasiswa Akademis mempunyai arti yaitu mahasiswa yang sibuk berkutat dengan kuliahnya saja, sedangkan Mahasiswa Aktivis yaitu mahasiswa yang selalu sibuk dengan organisasi.

Mana Lebih Baik, Mana Lebih Buruk?

Lalu, mana yang lebih baik, mahasiswa akademis atau mahasiswa aktivis? Jawabannya adalah ada pada diri sendiri.

Karena begini, seorang mahasiswa tentunya dia tidak hanya sekedar belajar di ruang kelas, namun mahasiswa juga perlu untuk dapat menembus batas jendela-jendela kelas dan masuk ke dimensi yang lebih luas tentang arti pentingnya tanggung jawab sosial yang melekat di dalam dirinya.

Seperti yang kita ketahui, kita sebagai mahasiswa yang berada di kampus memiliki tanggung jawab akademik sebagai prioritas utama. Orang tua menitipkan kita ke kampus untuk kuliah dan menambah ilmu sebanyak-banyaknya. Bukankah begitu? Orang tua ingin melihat kita segera lulus wisuda tepat waktu dengan nilai yang memuaskan istilahnya “cumlaude”.

Ketika kita menjadi mahasiswa akademis, maka kita hanya akan berfokus pada target mengejar nilai, siklusnya seperti masuk kelas, mendengarkan penjelasan dosen, mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen, dan mengumpulkannya tepat waktu. Kegiatan itu dilakukan secara berulang-ulang.

Dengan kerutinan yang seperti itu, ada anggapan ketika mahasiswa akademis lulus lalu terjun langsung di masyarakat, mereka cenderung lebih egois, mereka lebih bersifat acuh tak acuh, Mereka kurang kesadaran dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar yang memang tidak didapatkannya di dalam ruang kelas. Mereka juga lebih gampang marah ketika terjadi sesuatu hal di luar kendali, karena di dalam ruangan kelas tidak diajari atau tidak dilatih bagaimana cara bersikap ketika ada suatu hal yang tidak diharapkan terjadi.

Contohnya saja dalam mengerjakan tugas, ketika di dalam tugas tersebut ada yang salah dan mereka tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaikinya maka emosi mereka akan meningkat dan akhirnya mereka pun pasrah.

Namun, dalam hal proses kuliah, mahasiswa akademis tentu saja tidak keteteran dan lebih terstruktur.

Bagaimana dengan mahasiswa aktivis? Mereka lebih cenderung berfokus pada tanggung jawab di organisasinya, sehingga terkadang lupa dengan tujuan awal mereka, terkadang juga sampai melupakan tugas-tugas kuliah saking padatnya kegiatan organisasi, bahkan mengerjakan tugas pun sampai H-1 jam.

Akan tetapi mahasiswa aktivis dianggap lebih siap untuk terjun dan mengabdi pada masyarakat, karena mereka memang sudah dilatih untuk melakukan hal itu di organisasinya. Kegiatan-kegiatan di dalam organisasi lebih mengajarkan mahasiswa untuk dapat membaur di masyarakat, lebih dapat mengenal situasi kondisi di lingkungan masyarakat, mereka juga dapat lebih cepat memahami masalah-masalah yang ada di masyarakat sehingga mereka juga dapat memberikan solusi atas sebuah masalah.

Mahasiswa aktivis tentu saja punya kelemahan. Yitu mereka jarang bisa membagi waktu, istilahnya jarang bisa memanajemen waktu mereka di organisasi dengan tugas-tugas kuliah.

Bahkan saya sering sekali mendengar ada orang yang mengatakan bahwa “mahasiswa yang tidak lulus tepat waktu pada dasarnya faktor penyebab utamanya adalah kesibukannya di organisasi”.

Padahal, menurut saya, mahasiswa yang tidak lulus tepat waktu bukan hanya karena sibuk dengan organisasi, akan tetapi faktor dari mahasiswa tersebut memang pada dasarnya mempunyai wawasan yang masih kurang, mempunyai rasa malas, sehingga lambat untuk mencerna ilmu yang didapat.

Jadi, mana lebih baik, mana lebih buruk? Hanya mahasiswa sendiri yang tahu.

Ada beberapa teman saya lebih senang menjadi mahasiswa akademis. Mereka benar-benar tidak suka berorganisasi. Setelah saya tanyakan apa alasannya, dia mengatakan bahwa: organisasi itu hanya membuang-buang waktu saja, terkadang hari libur dipakai kegiatan, lebih enakan liburan untuk pulang ke kampung halaman atau jalan-jalan.

Akan tetapi ada juga teman saya yang lebih suka berorganisasi, dia mengatakan bahwa: dunia tak seluas ruang kelas, jadi jika hanya anda mengandalkan ilmu yang didapat di ruang kelas, kapan kita bisa bersosialisasi di masyarakat kalau bukan kita dapatkan di organisasi.

Bersikap Adil

Nah, sekarang pilih mana? Apakah menjadi mahasiswa akademis saja sehingga lupa bagaimana rasa bahagia ketika berbaur dengan sesama? Atau apakah menjadi mahasiswa aktivis yang senang dalam dunia lapangan sehingga lupa dengan berteori?

Disinilah kita membutuhkan keseimbangan antara prestasi dalam bidang akademik dan pengalaman berorganisasi.

Kita butuh menjadi mahasiswa akademis yang paham akan berbagai banyak teori sehingga kita dapat lulus tepat waktu dan mendapat IPK sesuai harapan kita dan harapan kedua orang tua utamanya, dan kita juga butuh menjadi mahasiswa aktivis untuk menambah pengalaman akan berbagai macam fenomena-fenomena sosial sehingga kita sudah mengerti akan situasi kondisi di masyarakat.

Tetapi, bagaimana caranya kita dapat menyeimbangkan keduanya secara adil?  Caranya adalah bersikap adil dengan membagi rata keduanya.

(1) Kita harus dapat memposisikan diri kita terlebih dahulu. Sesuai dengan pengalaman, saya akan memprioritaskan tugas kuliah terlebih dahulu. Selesaikan tugas kuliah terlebih dahulu, setelah itu barulah mengerjakan tugas-tugas organisasi, sehingga sepenting-pentingnya organisasi bagi mahasiswa, akan tetapi prioritaskan yang lebih utama sebagai mahasiswa yaitu kuliah.

(2) Buatlah jadwal deadline atau agenda kecil. Hal ini mempermudah mahasiswa untuk dapat memanajemen waktu dengan baik. Sehingga mahasiswa dapat mengetahui kapan waktu untuk membuat tugas kuliah, kapan waktu mengerjakan tugas organisasi, sehingga waktu 24 jam sehari itu dapat bermanfaat dan tidak sia-sia.

(3) Ingat amanah orang tua. Amanah dari orang tua adalah yang pertama yaitu “kuliah”. Kalau kita bisa merasakan bagaimana orang tua mencari biaya kuliah, hati anak manusia mana yang tak tersentuh. Coba renungkan sejenak dalam diri mengingat perjuangan orang tua yang membiayai kita hingga sampai perguruan tinggi. Apakah kita tahu bagaimana rasa lelah yang didapat ketika bekerja? Apakah orang tua kita pernah mengeluh? Pasti tidak pernah, karena orang tua akan selalu memberikan yang terbaik buat anaknya.

Dengan kita dibayang-bayangi dan melihat jerih payah orang tua kita, maka mahasiswa pun akan sadar dengan dirinya sendiri bahwasanya kita juga harus membuat orang tua kita bangga terhadap kita apa yang kita lakukan.

Namun di sisi lain, seorang mahasiswa juga harus mengembangkan dirinya di luar kelas agar memiliki banyak pengalaman bekerjasama dengan manusia lain, bagaimana bekerjasama, bagaimana menyelesaikan masalah-masalah kehidupan yang tak bisa diselesaikan hanya dengan teori-teori akademik.

Jadi, saran saya adalah teman-teman kuliah fokus pada target IPK yang ingin hendak diraih, akan tetapi terjunlah di organisasi yang mendukung pengembangan skill akademis, pilihlah organisasi yang berisi orang-orang dengan satu semangat, satu visi kuliah, sehingga antara kuliah dan organisasi dapat mendukung. Kuliah prioritas, organisasi totalitas. (T)

Tags: aktiviskampusmahasiswaorganisasi mahasiswaPendidikan
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Kekuatan Rasa dalam Masa – Dari Pameran Seni Rupa 5 Sahabat di Santrian Gallery

Next Post

Tradisi “Ngedeblag” di Kemenuh: Menakut-nakuti dan Berteman dengan Ketakutan

Fatika Arum Rahmawati

Fatika Arum Rahmawati

Lahir di Tabanan, 28 Juli 1997. Wanita karier sekaligus seorang istri.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Tradisi “Ngedeblag” di Kemenuh: Menakut-nakuti dan Berteman dengan Ketakutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co