4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahasiswa Akademis vs Mahasiswa Aktivis – Mana Lebih Baik, Mana Lebih Buruk?

Fatika Arum Rahmawati by Fatika Arum Rahmawati
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung. /Foto hanya sebagai ilustrasi

 

SAYA sering mendengar pertentangan pendapat dari sejumlah teman. Bahwa: mahasiswa akademis lebih unggul dibandingkan dengan mahasiswa aktivis, atau  mahasiswa aktivis lebih unggul dari mahasiswa kademis.

Bagi saya, tidak ada istilah mahasiswa aktivis maupun mahasiswa akademis, semuanya sama: “mahasiswa”.

Apa arti mahasiswa? di era sekarang ini, mahasiswa bisa diartikan manusia yang merdeka, yang bebas menentukan arah tujuan demi menggapai sebuah harapan.

Lalu, apa arti akademis? Akademis itu artinya segala sesuatu yang berhubungan dengan akademi, yang bersifat ilmu pengetahuan dan bersifat ilmiah. Kemudian arti aktivis? Aktivis adalah manusia yang giat bekerja untuk kepentingan suatu organisasi.

Jika disimpulkan bahwa Mahasiswa Akademis mempunyai arti yaitu mahasiswa yang sibuk berkutat dengan kuliahnya saja, sedangkan Mahasiswa Aktivis yaitu mahasiswa yang selalu sibuk dengan organisasi.

Mana Lebih Baik, Mana Lebih Buruk?

Lalu, mana yang lebih baik, mahasiswa akademis atau mahasiswa aktivis? Jawabannya adalah ada pada diri sendiri.

Karena begini, seorang mahasiswa tentunya dia tidak hanya sekedar belajar di ruang kelas, namun mahasiswa juga perlu untuk dapat menembus batas jendela-jendela kelas dan masuk ke dimensi yang lebih luas tentang arti pentingnya tanggung jawab sosial yang melekat di dalam dirinya.

Seperti yang kita ketahui, kita sebagai mahasiswa yang berada di kampus memiliki tanggung jawab akademik sebagai prioritas utama. Orang tua menitipkan kita ke kampus untuk kuliah dan menambah ilmu sebanyak-banyaknya. Bukankah begitu? Orang tua ingin melihat kita segera lulus wisuda tepat waktu dengan nilai yang memuaskan istilahnya “cumlaude”.

Ketika kita menjadi mahasiswa akademis, maka kita hanya akan berfokus pada target mengejar nilai, siklusnya seperti masuk kelas, mendengarkan penjelasan dosen, mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen, dan mengumpulkannya tepat waktu. Kegiatan itu dilakukan secara berulang-ulang.

Dengan kerutinan yang seperti itu, ada anggapan ketika mahasiswa akademis lulus lalu terjun langsung di masyarakat, mereka cenderung lebih egois, mereka lebih bersifat acuh tak acuh, Mereka kurang kesadaran dan kurang peka terhadap lingkungan sekitar yang memang tidak didapatkannya di dalam ruang kelas. Mereka juga lebih gampang marah ketika terjadi sesuatu hal di luar kendali, karena di dalam ruangan kelas tidak diajari atau tidak dilatih bagaimana cara bersikap ketika ada suatu hal yang tidak diharapkan terjadi.

Contohnya saja dalam mengerjakan tugas, ketika di dalam tugas tersebut ada yang salah dan mereka tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaikinya maka emosi mereka akan meningkat dan akhirnya mereka pun pasrah.

Namun, dalam hal proses kuliah, mahasiswa akademis tentu saja tidak keteteran dan lebih terstruktur.

Bagaimana dengan mahasiswa aktivis? Mereka lebih cenderung berfokus pada tanggung jawab di organisasinya, sehingga terkadang lupa dengan tujuan awal mereka, terkadang juga sampai melupakan tugas-tugas kuliah saking padatnya kegiatan organisasi, bahkan mengerjakan tugas pun sampai H-1 jam.

Akan tetapi mahasiswa aktivis dianggap lebih siap untuk terjun dan mengabdi pada masyarakat, karena mereka memang sudah dilatih untuk melakukan hal itu di organisasinya. Kegiatan-kegiatan di dalam organisasi lebih mengajarkan mahasiswa untuk dapat membaur di masyarakat, lebih dapat mengenal situasi kondisi di lingkungan masyarakat, mereka juga dapat lebih cepat memahami masalah-masalah yang ada di masyarakat sehingga mereka juga dapat memberikan solusi atas sebuah masalah.

Mahasiswa aktivis tentu saja punya kelemahan. Yitu mereka jarang bisa membagi waktu, istilahnya jarang bisa memanajemen waktu mereka di organisasi dengan tugas-tugas kuliah.

Bahkan saya sering sekali mendengar ada orang yang mengatakan bahwa “mahasiswa yang tidak lulus tepat waktu pada dasarnya faktor penyebab utamanya adalah kesibukannya di organisasi”.

Padahal, menurut saya, mahasiswa yang tidak lulus tepat waktu bukan hanya karena sibuk dengan organisasi, akan tetapi faktor dari mahasiswa tersebut memang pada dasarnya mempunyai wawasan yang masih kurang, mempunyai rasa malas, sehingga lambat untuk mencerna ilmu yang didapat.

Jadi, mana lebih baik, mana lebih buruk? Hanya mahasiswa sendiri yang tahu.

Ada beberapa teman saya lebih senang menjadi mahasiswa akademis. Mereka benar-benar tidak suka berorganisasi. Setelah saya tanyakan apa alasannya, dia mengatakan bahwa: organisasi itu hanya membuang-buang waktu saja, terkadang hari libur dipakai kegiatan, lebih enakan liburan untuk pulang ke kampung halaman atau jalan-jalan.

Akan tetapi ada juga teman saya yang lebih suka berorganisasi, dia mengatakan bahwa: dunia tak seluas ruang kelas, jadi jika hanya anda mengandalkan ilmu yang didapat di ruang kelas, kapan kita bisa bersosialisasi di masyarakat kalau bukan kita dapatkan di organisasi.

Bersikap Adil

Nah, sekarang pilih mana? Apakah menjadi mahasiswa akademis saja sehingga lupa bagaimana rasa bahagia ketika berbaur dengan sesama? Atau apakah menjadi mahasiswa aktivis yang senang dalam dunia lapangan sehingga lupa dengan berteori?

Disinilah kita membutuhkan keseimbangan antara prestasi dalam bidang akademik dan pengalaman berorganisasi.

Kita butuh menjadi mahasiswa akademis yang paham akan berbagai banyak teori sehingga kita dapat lulus tepat waktu dan mendapat IPK sesuai harapan kita dan harapan kedua orang tua utamanya, dan kita juga butuh menjadi mahasiswa aktivis untuk menambah pengalaman akan berbagai macam fenomena-fenomena sosial sehingga kita sudah mengerti akan situasi kondisi di masyarakat.

Tetapi, bagaimana caranya kita dapat menyeimbangkan keduanya secara adil?  Caranya adalah bersikap adil dengan membagi rata keduanya.

(1) Kita harus dapat memposisikan diri kita terlebih dahulu. Sesuai dengan pengalaman, saya akan memprioritaskan tugas kuliah terlebih dahulu. Selesaikan tugas kuliah terlebih dahulu, setelah itu barulah mengerjakan tugas-tugas organisasi, sehingga sepenting-pentingnya organisasi bagi mahasiswa, akan tetapi prioritaskan yang lebih utama sebagai mahasiswa yaitu kuliah.

(2) Buatlah jadwal deadline atau agenda kecil. Hal ini mempermudah mahasiswa untuk dapat memanajemen waktu dengan baik. Sehingga mahasiswa dapat mengetahui kapan waktu untuk membuat tugas kuliah, kapan waktu mengerjakan tugas organisasi, sehingga waktu 24 jam sehari itu dapat bermanfaat dan tidak sia-sia.

(3) Ingat amanah orang tua. Amanah dari orang tua adalah yang pertama yaitu “kuliah”. Kalau kita bisa merasakan bagaimana orang tua mencari biaya kuliah, hati anak manusia mana yang tak tersentuh. Coba renungkan sejenak dalam diri mengingat perjuangan orang tua yang membiayai kita hingga sampai perguruan tinggi. Apakah kita tahu bagaimana rasa lelah yang didapat ketika bekerja? Apakah orang tua kita pernah mengeluh? Pasti tidak pernah, karena orang tua akan selalu memberikan yang terbaik buat anaknya.

Dengan kita dibayang-bayangi dan melihat jerih payah orang tua kita, maka mahasiswa pun akan sadar dengan dirinya sendiri bahwasanya kita juga harus membuat orang tua kita bangga terhadap kita apa yang kita lakukan.

Namun di sisi lain, seorang mahasiswa juga harus mengembangkan dirinya di luar kelas agar memiliki banyak pengalaman bekerjasama dengan manusia lain, bagaimana bekerjasama, bagaimana menyelesaikan masalah-masalah kehidupan yang tak bisa diselesaikan hanya dengan teori-teori akademik.

Jadi, saran saya adalah teman-teman kuliah fokus pada target IPK yang ingin hendak diraih, akan tetapi terjunlah di organisasi yang mendukung pengembangan skill akademis, pilihlah organisasi yang berisi orang-orang dengan satu semangat, satu visi kuliah, sehingga antara kuliah dan organisasi dapat mendukung. Kuliah prioritas, organisasi totalitas. (T)

Tags: aktiviskampusmahasiswaorganisasi mahasiswaPendidikan
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Kekuatan Rasa dalam Masa – Dari Pameran Seni Rupa 5 Sahabat di Santrian Gallery

Next Post

Tradisi “Ngedeblag” di Kemenuh: Menakut-nakuti dan Berteman dengan Ketakutan

Fatika Arum Rahmawati

Fatika Arum Rahmawati

Lahir di Tabanan, 28 Juli 1997. Wanita karier sekaligus seorang istri.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Tradisi “Ngedeblag” di Kemenuh: Menakut-nakuti dan Berteman dengan Ketakutan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co