24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi “Ngedeblag” di Kemenuh: Menakut-nakuti dan Berteman dengan Ketakutan

Ida Ayu Putri Adityarini by Ida Ayu Putri Adityarini
February 2, 2018
in Feature

Tradisi Ngedeblag di Kemenuh, Gianyar. /Foto-foto: Moe Umezawa

 

INI berarti sejak dua puluh lima tahun yang lalu saya sudah hidup bersama Tradisi Ngedeblag di desa saya, Kemenuh, Gianyar, Bali. Mungkin juga lebih karena ketika saya berada di dalam kandungan ibu saya, saya juga mungkin sempat diajak mengikuti tradisi ini.

Beberapa menit sebelum saya menulis catatan ini, saya mencoba mencari informasi di internet tentang Tradisi Ngedeblag. Dari sana saya tahu bahwa sudah banyak tulisan mengenai makna dan fungsi Tradisi Ngedeblag. Mulai dari tulisan populer dengan tujuan promosi pariwisata sampai penelitian ilmiah dengan tujuan lulus kuliah. Oleh karena itu, dalam catatan ini saya tidak akan menulis lagi, mungkin menulis sedikit saja, tentang makna dan fungsi Tradisi Ngedeblag ini.

Yang ingin saya tulis dalam catatan ini adalah sesuatu yang baru saja saya sadari setelah dua puluh lima tahun atau lebih saya hidup bersama tradisi ini dan juga tradisi-tradisi serupa lainnya yang ada di Bali.

Jadi, begini. Sejak saya sadar bahwa saya hidup dan mulai mengenal lingkungan di sekitar saya, Ttradisi Ngedeblag adalah tradisi yang sangat dinanti di desa saya, terutama oleh anak-anak. Saya juga termasuk orang yang selalu antusias menunggu tradisi ini sejak saya masih kecil sampai sekarang.

Bahkan, dulu ketika saya masih SD, seingat saya, sekolah saya biasanya memulangkan siswanya lebih awal saat Ngedeblag. Ini bukan karena Ngedeblag tercantum dalam kalender pendidikan sekolah, melainkan karena antusiasme siswa, yang sebagian besar berasal dari desa saya, untuk mengikuti tradisi ini.

Menuju tengah hari, para laki-laki dari segala usia sudah siap dengan penampilan mereka: riasan wajah dan tubuh; pakaian dan atribut; serta berbagai macam benda yang bisa menimbulkan bunyi-bunyian yang cukup keras. Dulu saya menganggap hal ini adalah hal yang biasa karena memang itulah bagian tradisi ini. “Nak mula keto” pikir saya.

Saya larut dalam antusias, kegembiaraan, dan kemeriahan Tradisi Ngedeblag ini. Namun, akhir-akhir ini, tepatnya setelah saya mengikuti tradisi Ngedeblag pada Oktober lalu ada satu hal yang baru saya sadari.

Ada sesuatu yang tersembunyi di balik hal-hal yang saya anggap biasa di dalam Tradisi Ngedeblag. Tepatnya pada riasan wajah para lelaki yang memang merupakan hal biasa dalam tradisi ini. Sesuatu yang tersembunyi itu menurut saya adalah semacam perlawanan terhadap rasa takut. Pun sebaliknya, juga sekaligus sebagai ungkapan pertemanan terhadap sumber ketakutan itu.

Dari cerita-cerita yang saya dengar dari para orang tua di desa saya dan dari beberapa tulisan tentang Ngedeblag yang saya baca, pada dasarnya tradisi ini bermakna penyeimbangan alam untuk menyambut musim baru atau dalam kalender Bali disebut  sebagai peralihan sasih kalima menuju sasih kaenem. Dalam penghitungan musim di Indonesia, biasanya ini adalah waktu peralihan musim kemarau menuju musim hujan. Nah! Di sinilah sumber ketakutan itu berasal.

Peralihan musim atau pancaroba adalah sebuah waktu yang sangat rawan. Rawan penyakit dan rawan bencana. Dari cerita-cerita yang saya dengar juga, di sinilah sang waktu menunjukkan kekuatannya. Mungkin, itu sebabnya tradisi ini digolongkan sebagai bhuta yadnya. Upacara persembahan kepada kekuatan alam. Kepada kekuatan waktu. Kepada kekuatan kala.

Ini juga merupakan suatu bentuk penyadaran untuk diri kita bahwa betapa sebenarnya kita tidak berdaya di hadapan kekuatan kala. Ia bisa membawa kita ke mana saja, bertemu, dan berpisah dengan (si)apa saja. Seperti kata pepatah; hanya waktu yang tahu, biarkan waktu yang menjawab. Begitulah. Kekuatan waktu begitu besar, misterius, dan menakutkan.

Saya yakin hal ini sudah sangat disadari oleh para tetua, para leluhur kita. Dengan naluri mereka terhadap alam dan rasa yang terus terasah, terciptalah simbol-simbol kekuatan waktu dan ketidakberdayaan kita terhadap kekuatan itu.

Dan menurut saya, Ngedeblag adalah salah satu wujud kesadaran itu. Kita berada dalam siklus waktu yang terus berputar. Ketika kita berada di titik bawah, saat waktu menunjukkan kekuatannya yang paling kuat, kita harus membuat semacam perlawanan terhadap hal negatif yang muncul dari kekuatan itu. Bentuk perlawanan itu tampak pada riasan para lelaki saat Ngedeblag yang (ceritanya) menyeramkan.

Itu dilakukan karena kita tidak pernah bisa mendeskripsikan dan mengukur kekuatan kala. Yang kita tahu kala mempunyai wujud yang sangat menyeramkan. Untuk melawan wujud yang menyeramkan itu, kita berusaha menjadi lebih menyeramkan. Menjadi lebih menakutkan. Kita mencoba menakut-nakuti kala. Menakut-nakuti ketakutan. Kita mencoba menjadi lebih menakutkan daripada ketakutan itu sendiri.

Dengan begitu, kita berharap hal-hal negatif yang muncul dari kekuatan kala tidak akan berani mendekati kita.

Di sisi lain, mungkin saja, riasan para lelaki ketika Ngedeblag yang (ceritanya) menyeramkan itu adalah juga bentuk pertemanan terhadap kala. Ini didasari juga oleh kesadaran bahwa kehidupan kita tidak akan pernah bisa lepas dari kala. Kala-lah yang membuat kita hidup. Kala sangat berharga dalam hidup kita. Kala adalah uang. Time is money, kata orang.

Karena kesadaran itulah, kita berusaha menyampaikan salam pertemanan kepada kala dengan mencoba menjadi sama-sama menakutkan dan menyeramkan. Kita mencoba menunjukan bahwa kita dan kala adalah teman baik. Dengan berteman baik dengan kala, kita berharap kala juga akan baik kepada kita sehingga kita bisa terhindar dari hal-hal negatif yang muncul dari kekuatannya.

Kita akan selalu berada dalam siklus waktu. Dalam siklus itu kita tidak akan pernah berhenti melawan sekaligus berteman dengan kekuatan waktu. Kekuatan kala. Kekuatan yang kita takuti. Kekuatan yang begitu menyeramkan sekaligus begitu berharga. Sekali waktu kita mencoba menakut-nakutinya. Kali lain kita berusaha menjadi temannya. Begitulah seterusnya dan seharusnya. (T)

Tags: agamaBudayaGianyarkebudayaanTradisi
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa Akademis vs Mahasiswa Aktivis – Mana Lebih Baik, Mana Lebih Buruk?

Next Post

Menulis Cerpen, Bacalah Cerpen! – Berita Lomba Cerpen UKM Pelana Undiksha

Ida Ayu Putri Adityarini

Ida Ayu Putri Adityarini

Pernah kuliah di Singaraja. Kini terus menulis puisi dan cerpen sembari bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali

Related Posts

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
0
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

Read moreDetails

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
0
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails
Next Post

Menulis Cerpen, Bacalah Cerpen! – Berita Lomba Cerpen UKM Pelana Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co