15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi “Ngedeblag” di Kemenuh: Menakut-nakuti dan Berteman dengan Ketakutan

Ida Ayu Putri Adityarini by Ida Ayu Putri Adityarini
February 2, 2018
in Feature

Tradisi Ngedeblag di Kemenuh, Gianyar. /Foto-foto: Moe Umezawa

 

INI berarti sejak dua puluh lima tahun yang lalu saya sudah hidup bersama Tradisi Ngedeblag di desa saya, Kemenuh, Gianyar, Bali. Mungkin juga lebih karena ketika saya berada di dalam kandungan ibu saya, saya juga mungkin sempat diajak mengikuti tradisi ini.

Beberapa menit sebelum saya menulis catatan ini, saya mencoba mencari informasi di internet tentang Tradisi Ngedeblag. Dari sana saya tahu bahwa sudah banyak tulisan mengenai makna dan fungsi Tradisi Ngedeblag. Mulai dari tulisan populer dengan tujuan promosi pariwisata sampai penelitian ilmiah dengan tujuan lulus kuliah. Oleh karena itu, dalam catatan ini saya tidak akan menulis lagi, mungkin menulis sedikit saja, tentang makna dan fungsi Tradisi Ngedeblag ini.

Yang ingin saya tulis dalam catatan ini adalah sesuatu yang baru saja saya sadari setelah dua puluh lima tahun atau lebih saya hidup bersama tradisi ini dan juga tradisi-tradisi serupa lainnya yang ada di Bali.

Jadi, begini. Sejak saya sadar bahwa saya hidup dan mulai mengenal lingkungan di sekitar saya, Ttradisi Ngedeblag adalah tradisi yang sangat dinanti di desa saya, terutama oleh anak-anak. Saya juga termasuk orang yang selalu antusias menunggu tradisi ini sejak saya masih kecil sampai sekarang.

Bahkan, dulu ketika saya masih SD, seingat saya, sekolah saya biasanya memulangkan siswanya lebih awal saat Ngedeblag. Ini bukan karena Ngedeblag tercantum dalam kalender pendidikan sekolah, melainkan karena antusiasme siswa, yang sebagian besar berasal dari desa saya, untuk mengikuti tradisi ini.

Menuju tengah hari, para laki-laki dari segala usia sudah siap dengan penampilan mereka: riasan wajah dan tubuh; pakaian dan atribut; serta berbagai macam benda yang bisa menimbulkan bunyi-bunyian yang cukup keras. Dulu saya menganggap hal ini adalah hal yang biasa karena memang itulah bagian tradisi ini. “Nak mula keto” pikir saya.

Saya larut dalam antusias, kegembiaraan, dan kemeriahan Tradisi Ngedeblag ini. Namun, akhir-akhir ini, tepatnya setelah saya mengikuti tradisi Ngedeblag pada Oktober lalu ada satu hal yang baru saya sadari.

Ada sesuatu yang tersembunyi di balik hal-hal yang saya anggap biasa di dalam Tradisi Ngedeblag. Tepatnya pada riasan wajah para lelaki yang memang merupakan hal biasa dalam tradisi ini. Sesuatu yang tersembunyi itu menurut saya adalah semacam perlawanan terhadap rasa takut. Pun sebaliknya, juga sekaligus sebagai ungkapan pertemanan terhadap sumber ketakutan itu.

Dari cerita-cerita yang saya dengar dari para orang tua di desa saya dan dari beberapa tulisan tentang Ngedeblag yang saya baca, pada dasarnya tradisi ini bermakna penyeimbangan alam untuk menyambut musim baru atau dalam kalender Bali disebut  sebagai peralihan sasih kalima menuju sasih kaenem. Dalam penghitungan musim di Indonesia, biasanya ini adalah waktu peralihan musim kemarau menuju musim hujan. Nah! Di sinilah sumber ketakutan itu berasal.

Peralihan musim atau pancaroba adalah sebuah waktu yang sangat rawan. Rawan penyakit dan rawan bencana. Dari cerita-cerita yang saya dengar juga, di sinilah sang waktu menunjukkan kekuatannya. Mungkin, itu sebabnya tradisi ini digolongkan sebagai bhuta yadnya. Upacara persembahan kepada kekuatan alam. Kepada kekuatan waktu. Kepada kekuatan kala.

Ini juga merupakan suatu bentuk penyadaran untuk diri kita bahwa betapa sebenarnya kita tidak berdaya di hadapan kekuatan kala. Ia bisa membawa kita ke mana saja, bertemu, dan berpisah dengan (si)apa saja. Seperti kata pepatah; hanya waktu yang tahu, biarkan waktu yang menjawab. Begitulah. Kekuatan waktu begitu besar, misterius, dan menakutkan.

Saya yakin hal ini sudah sangat disadari oleh para tetua, para leluhur kita. Dengan naluri mereka terhadap alam dan rasa yang terus terasah, terciptalah simbol-simbol kekuatan waktu dan ketidakberdayaan kita terhadap kekuatan itu.

Dan menurut saya, Ngedeblag adalah salah satu wujud kesadaran itu. Kita berada dalam siklus waktu yang terus berputar. Ketika kita berada di titik bawah, saat waktu menunjukkan kekuatannya yang paling kuat, kita harus membuat semacam perlawanan terhadap hal negatif yang muncul dari kekuatan itu. Bentuk perlawanan itu tampak pada riasan para lelaki saat Ngedeblag yang (ceritanya) menyeramkan.

Itu dilakukan karena kita tidak pernah bisa mendeskripsikan dan mengukur kekuatan kala. Yang kita tahu kala mempunyai wujud yang sangat menyeramkan. Untuk melawan wujud yang menyeramkan itu, kita berusaha menjadi lebih menyeramkan. Menjadi lebih menakutkan. Kita mencoba menakut-nakuti kala. Menakut-nakuti ketakutan. Kita mencoba menjadi lebih menakutkan daripada ketakutan itu sendiri.

Dengan begitu, kita berharap hal-hal negatif yang muncul dari kekuatan kala tidak akan berani mendekati kita.

Di sisi lain, mungkin saja, riasan para lelaki ketika Ngedeblag yang (ceritanya) menyeramkan itu adalah juga bentuk pertemanan terhadap kala. Ini didasari juga oleh kesadaran bahwa kehidupan kita tidak akan pernah bisa lepas dari kala. Kala-lah yang membuat kita hidup. Kala sangat berharga dalam hidup kita. Kala adalah uang. Time is money, kata orang.

Karena kesadaran itulah, kita berusaha menyampaikan salam pertemanan kepada kala dengan mencoba menjadi sama-sama menakutkan dan menyeramkan. Kita mencoba menunjukan bahwa kita dan kala adalah teman baik. Dengan berteman baik dengan kala, kita berharap kala juga akan baik kepada kita sehingga kita bisa terhindar dari hal-hal negatif yang muncul dari kekuatannya.

Kita akan selalu berada dalam siklus waktu. Dalam siklus itu kita tidak akan pernah berhenti melawan sekaligus berteman dengan kekuatan waktu. Kekuatan kala. Kekuatan yang kita takuti. Kekuatan yang begitu menyeramkan sekaligus begitu berharga. Sekali waktu kita mencoba menakut-nakutinya. Kali lain kita berusaha menjadi temannya. Begitulah seterusnya dan seharusnya. (T)

Tags: agamaBudayaGianyarkebudayaanTradisi
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa Akademis vs Mahasiswa Aktivis – Mana Lebih Baik, Mana Lebih Buruk?

Next Post

Menulis Cerpen, Bacalah Cerpen! – Berita Lomba Cerpen UKM Pelana Undiksha

Ida Ayu Putri Adityarini

Ida Ayu Putri Adityarini

Pernah kuliah di Singaraja. Kini terus menulis puisi dan cerpen sembari bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali

Related Posts

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

Read moreDetails

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

Read moreDetails

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

Read moreDetails

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

Read moreDetails

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

Read moreDetails

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
0
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
0
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

Read moreDetails
Next Post

Menulis Cerpen, Bacalah Cerpen! – Berita Lomba Cerpen UKM Pelana Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co