14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi “Ngedeblag” di Kemenuh: Menakut-nakuti dan Berteman dengan Ketakutan

Ida Ayu Putri Adityarini by Ida Ayu Putri Adityarini
February 2, 2018
in Feature

Tradisi Ngedeblag di Kemenuh, Gianyar. /Foto-foto: Moe Umezawa

 

INI berarti sejak dua puluh lima tahun yang lalu saya sudah hidup bersama Tradisi Ngedeblag di desa saya, Kemenuh, Gianyar, Bali. Mungkin juga lebih karena ketika saya berada di dalam kandungan ibu saya, saya juga mungkin sempat diajak mengikuti tradisi ini.

Beberapa menit sebelum saya menulis catatan ini, saya mencoba mencari informasi di internet tentang Tradisi Ngedeblag. Dari sana saya tahu bahwa sudah banyak tulisan mengenai makna dan fungsi Tradisi Ngedeblag. Mulai dari tulisan populer dengan tujuan promosi pariwisata sampai penelitian ilmiah dengan tujuan lulus kuliah. Oleh karena itu, dalam catatan ini saya tidak akan menulis lagi, mungkin menulis sedikit saja, tentang makna dan fungsi Tradisi Ngedeblag ini.

Yang ingin saya tulis dalam catatan ini adalah sesuatu yang baru saja saya sadari setelah dua puluh lima tahun atau lebih saya hidup bersama tradisi ini dan juga tradisi-tradisi serupa lainnya yang ada di Bali.

Jadi, begini. Sejak saya sadar bahwa saya hidup dan mulai mengenal lingkungan di sekitar saya, Ttradisi Ngedeblag adalah tradisi yang sangat dinanti di desa saya, terutama oleh anak-anak. Saya juga termasuk orang yang selalu antusias menunggu tradisi ini sejak saya masih kecil sampai sekarang.

Bahkan, dulu ketika saya masih SD, seingat saya, sekolah saya biasanya memulangkan siswanya lebih awal saat Ngedeblag. Ini bukan karena Ngedeblag tercantum dalam kalender pendidikan sekolah, melainkan karena antusiasme siswa, yang sebagian besar berasal dari desa saya, untuk mengikuti tradisi ini.

Menuju tengah hari, para laki-laki dari segala usia sudah siap dengan penampilan mereka: riasan wajah dan tubuh; pakaian dan atribut; serta berbagai macam benda yang bisa menimbulkan bunyi-bunyian yang cukup keras. Dulu saya menganggap hal ini adalah hal yang biasa karena memang itulah bagian tradisi ini. “Nak mula keto” pikir saya.

Saya larut dalam antusias, kegembiaraan, dan kemeriahan Tradisi Ngedeblag ini. Namun, akhir-akhir ini, tepatnya setelah saya mengikuti tradisi Ngedeblag pada Oktober lalu ada satu hal yang baru saya sadari.

Ada sesuatu yang tersembunyi di balik hal-hal yang saya anggap biasa di dalam Tradisi Ngedeblag. Tepatnya pada riasan wajah para lelaki yang memang merupakan hal biasa dalam tradisi ini. Sesuatu yang tersembunyi itu menurut saya adalah semacam perlawanan terhadap rasa takut. Pun sebaliknya, juga sekaligus sebagai ungkapan pertemanan terhadap sumber ketakutan itu.

Dari cerita-cerita yang saya dengar dari para orang tua di desa saya dan dari beberapa tulisan tentang Ngedeblag yang saya baca, pada dasarnya tradisi ini bermakna penyeimbangan alam untuk menyambut musim baru atau dalam kalender Bali disebut  sebagai peralihan sasih kalima menuju sasih kaenem. Dalam penghitungan musim di Indonesia, biasanya ini adalah waktu peralihan musim kemarau menuju musim hujan. Nah! Di sinilah sumber ketakutan itu berasal.

Peralihan musim atau pancaroba adalah sebuah waktu yang sangat rawan. Rawan penyakit dan rawan bencana. Dari cerita-cerita yang saya dengar juga, di sinilah sang waktu menunjukkan kekuatannya. Mungkin, itu sebabnya tradisi ini digolongkan sebagai bhuta yadnya. Upacara persembahan kepada kekuatan alam. Kepada kekuatan waktu. Kepada kekuatan kala.

Ini juga merupakan suatu bentuk penyadaran untuk diri kita bahwa betapa sebenarnya kita tidak berdaya di hadapan kekuatan kala. Ia bisa membawa kita ke mana saja, bertemu, dan berpisah dengan (si)apa saja. Seperti kata pepatah; hanya waktu yang tahu, biarkan waktu yang menjawab. Begitulah. Kekuatan waktu begitu besar, misterius, dan menakutkan.

Saya yakin hal ini sudah sangat disadari oleh para tetua, para leluhur kita. Dengan naluri mereka terhadap alam dan rasa yang terus terasah, terciptalah simbol-simbol kekuatan waktu dan ketidakberdayaan kita terhadap kekuatan itu.

Dan menurut saya, Ngedeblag adalah salah satu wujud kesadaran itu. Kita berada dalam siklus waktu yang terus berputar. Ketika kita berada di titik bawah, saat waktu menunjukkan kekuatannya yang paling kuat, kita harus membuat semacam perlawanan terhadap hal negatif yang muncul dari kekuatan itu. Bentuk perlawanan itu tampak pada riasan para lelaki saat Ngedeblag yang (ceritanya) menyeramkan.

Itu dilakukan karena kita tidak pernah bisa mendeskripsikan dan mengukur kekuatan kala. Yang kita tahu kala mempunyai wujud yang sangat menyeramkan. Untuk melawan wujud yang menyeramkan itu, kita berusaha menjadi lebih menyeramkan. Menjadi lebih menakutkan. Kita mencoba menakut-nakuti kala. Menakut-nakuti ketakutan. Kita mencoba menjadi lebih menakutkan daripada ketakutan itu sendiri.

Dengan begitu, kita berharap hal-hal negatif yang muncul dari kekuatan kala tidak akan berani mendekati kita.

Di sisi lain, mungkin saja, riasan para lelaki ketika Ngedeblag yang (ceritanya) menyeramkan itu adalah juga bentuk pertemanan terhadap kala. Ini didasari juga oleh kesadaran bahwa kehidupan kita tidak akan pernah bisa lepas dari kala. Kala-lah yang membuat kita hidup. Kala sangat berharga dalam hidup kita. Kala adalah uang. Time is money, kata orang.

Karena kesadaran itulah, kita berusaha menyampaikan salam pertemanan kepada kala dengan mencoba menjadi sama-sama menakutkan dan menyeramkan. Kita mencoba menunjukan bahwa kita dan kala adalah teman baik. Dengan berteman baik dengan kala, kita berharap kala juga akan baik kepada kita sehingga kita bisa terhindar dari hal-hal negatif yang muncul dari kekuatannya.

Kita akan selalu berada dalam siklus waktu. Dalam siklus itu kita tidak akan pernah berhenti melawan sekaligus berteman dengan kekuatan waktu. Kekuatan kala. Kekuatan yang kita takuti. Kekuatan yang begitu menyeramkan sekaligus begitu berharga. Sekali waktu kita mencoba menakut-nakutinya. Kali lain kita berusaha menjadi temannya. Begitulah seterusnya dan seharusnya. (T)

Tags: agamaBudayaGianyarkebudayaanTradisi
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa Akademis vs Mahasiswa Aktivis – Mana Lebih Baik, Mana Lebih Buruk?

Next Post

Menulis Cerpen, Bacalah Cerpen! – Berita Lomba Cerpen UKM Pelana Undiksha

Ida Ayu Putri Adityarini

Ida Ayu Putri Adityarini

Pernah kuliah di Singaraja. Kini terus menulis puisi dan cerpen sembari bekerja di Balai Bahasa Provinsi Bali

Related Posts

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

by tatkala
September 11, 2026
0
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails
Next Post

Menulis Cerpen, Bacalah Cerpen! – Berita Lomba Cerpen UKM Pelana Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co