12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sumbang Ide Buleleng Festival 2018: Bayar Utang Drama Kolosal, Kolaborasi Musik, dan Lolot-Balaganjur

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Opini

Buleleng Festival 2017./Foto: Istimewa

 

JENGAH. Itu kata yang memicu lahirnya Buleleng Festival, lima tahun silam. Bagaimana tidak jengah? Kesenian Buleleng hanya menjadi penonton pada ajang kesenian tingkat provinsi.

Pada Pesta Kesenian Bali misalnya. Semasa gong kebyar menjadi salah satu lomba, Buleleng hanya sekali mencicipi gelar juara. Selebihnya, Gianyar, Badung, Denpasar, giliran meraih gelar juara. Padahal gong kebyar lahir di Buleleng pada 1913-1915 silam.

Buleleng tak ingin jadi penonton. Seniman harus berdikari dan terus mengembangkan daya cipta serta kreasinya. Karena rasa jengah itu, akhirnya dicetuskan Buleleng Festival. Event yang hakikatnya menggali sebanyak-banyaknya kesenian Buleleng, terutama yang klasik.

Buleleng Festival juga menjadi sarana diplomasi budaya untuk menunjukkan eksistensi kesenian Buleleng. Termasuk menunjukkan bahwa seni budaya Buleleng memiliki perbedaan dari Bali Selatan. Event ini sekaligus menjadi sarana menumbuhkan kebanggaan (bahkan fanatisme) pada kesenian khas Buleleng dari generasi ke generasi.

Seniman klasik diberi ruang tampil pada panggung yang glamour dan megah. Mereka tampil untuk menunjukkan bahwa kesenian khas Buleleng masih eksis. Tak peduli penonton suka atau tidak. Tak peduli yang menonton ramai atau sepi.

Masyarakat terpaksa (tepatnya dipaksa) menonton kesenian klasik di panggung utama, agar mereka tahu dengan kesenian khas Buleleng. Setelah tahu, mereka akan paham. Setelah paham, mereka akan bangga. Setelah bangga mereka akan mewarisi dan melestarikan kesenian itu, biar tak punah. Begitulah ruh Buleleng Festival sesungguhnya.

Sekarang mari move on dari masa lalu lahirnya Bulfest. Mari bicara tentang masa depan. Pikirkan apa yang harus dibuat pada Bulfest tahun depan. Mari bicarakan konten apa yang sekiranya layak tahun depan.

Pertama, bentuk tim kurator. Bulfest memiliki visi-misi yang adiluhung. Sebab itu, Bulfest harus memiliki kurator. Pada pundak kurator kita bebankan agar Bulfest tak kehilangan jati dirinya. Tetap on the track. Tidak lagi dituding hanya sekedar mendatang keramaian.

Kedua, rencakan Bulfest sejak setahun sebelumnya. Visi-misi Bulfest sangat tendensius. Memilih tema memang mudah. Menyesuaikan konten dengan tema, itu masalah lain. Di sini lah Bulfest sangat membutuhkan kurator. Kurator akan menyeleksi siapa-siapa saja yang layak tampil, sehingga tema sesuai dengan konten. Semua itu butuh proses panjang, tak bisa direncanakan dalam waktu empat bulan.

Khusus untuk kehadiran bintang tamu, ini juga perlu melalui proses ketat. Tahun 2015 lalu, Bulfest sudah mengangkat diri menjadi festival yang sangat mentereng. Terutama setelah kehadiran Slank. Gengsi festival ini sudah disejajarkan setinggi itu.

Bintang tamu yang dihadirkan harus terpilih. Bukan sekadar bisa menghadirkan banyak penonton, tapi juga bisa menghadirkan sajian yang tidak monoton. Buat apa mengundang bintang tamu yang hanya menyanyikan lagu milik orang lain.

Tahun depan, Iwan Fals sebaiknya diundang sebagai bintang tamu. Kehadiran sang legenda di panggung utama Bulfest, akan semakin meningkatkan gengsi Bulfest.

Buleleng Festival adalah panggung istimewa bagi masyarakat Buleleng, maka penampilnya juga harus istimewa. Seniman yang tampil di panggung utama harus tampil all out dan sebisa mungkin menampilkan karya baru. Band-band yang tampil juga harus all out. Kalau perlu, bukan hanya menampilkan karya sendiri, tapi juga kolaborasi.

Oh ya, soal kolaborasi, saya mendadak punya ide. Bagaimana jika tahun depan, musisi Buleleng diberi kesempatan khusus untuk tampil di panggung utama. Misalnya saja band-band yang tergabung dalam Singaraja Music for Unity (Simfony) tampil dalam konsep ala-ala Konser Kemerdekaan.

Dalam konser ini mereka tampil membawa lagu baru, yang khusus dibuat untuk menyesuaikan tema Bulfest. Tentu mengesankan melihat Ake Buleleng yang beraliran pop, Rastafara Cetamol yang berkiblat reggae, The Souled Out dengan blues, Poleng Band yang mebasa Bali, hingga Makan di Warung (MDW) yang mengusung post hardcore, tampil dalam satu panggung besar dan berkolaborasi.

Anggap saja kini band di bawah naungan Simfony ada 20 dari berbagai genre. Mereka masing-masing menciptakan satu lagu yang disesuaikan dengan tema Bulfest tahun depan. Mereka juga menciptakan sebuah lagu yang dinyanyikan oleh all artist. Jika itu terealisasi, tahun depan Simfony bisa membuat sebuah album kompilasi yang khusus dirilis saat Bulfest. Simfony lalu minta Bupati bantu promosi, siapa tahu laku seribu copy.

Saya juga usul agar tahun depan Lolot diundang lagi. Kenapa harus Lolot? Alasannya sederhana, salah satu personilnya, Lanang Botax berasal dari Buleleng. Dari Desa Temukus tepatnya. Jadi Lolot memiliki darah Buleleng. Alasan lainnya, Lolot punya ribuan fans fanatik dalam wadah Bali Rockers. Alasan lain lagi, sebagai sebuah band mebasa Bali, Lolot sangat produkfit menelorkan album.

Dengan catatan tahun depan Lolot harus menampilkan sesuatu yang istimewa. Tak cukup lagu baru. Tapi harus tampil kolaborasi. Misalnya Lolot berkolaborasi dengan seniman asal Runuh, Wayan Jingga, sambil membawakan lagu Capung Gantung. Bisa juga tampil dengan salah satu sekaa baleganjur di Buleleng dan berkolaborasi membawakan lagu Cek-Cek serta Barong Bangkung sebagai tampilan pamungkas. Dahsyat kan?

Oh iya satu lagi, panitia Bulfest sejak tahun 2014 sampai tahun 2017 punya utang janji. Janji itu adalah membuat dramatari kolosal. Tahun depan, ada baiknya Bulfest dibuka oleh sebuah dramatari kolosal yang mengambil cuplikan kisah dalam epos Ramayana. Kenapa harus Ramayana? Ini tidak ada hubungannya dengan isu politik Rai Mantra-Agus Suradnyana.

Epos Ramayana harus dipilih, agar kesenian Wayang Wong bisa ikut serta terlibat dalam garapan kolaborasi ini. Wayang Wong hanya bisa dipentaskan dengan mengambil cuplikan epos Ramayana. Wayang Wong harus dilibatkan, karena dia warisan budaya dunia tak benda yang berasal dari Buleleng. Kalau bukan kita yang bangga, siapa lagi? Apa harus menunggu klaim negara tetangga baru kita bangga? Tentu tidak.

Sebenarnya masih ada banyak lagi catatan tentang Bulfest yang belum ditulis. Tapi biar tidak terlalu panjang lebar bin dawe melembot, cukup sekian saja.

Mudah-mudahan tahun depan saya dapat undangan menghadiri Bulfest. Jika saya dapat undangan, pasti saya simpan dengan rapi biar tidak nyelip. (T)

Tags: bulelengbuleleng festivalSeni
Share96TweetSendShareSend
Previous Post

Drama Dokumenter: Buah Pala yang Membangkitkan Nasionalisme

Next Post

Nonton “Revolusi di Nusa Damai” – Gus Martin: Saya Salut dengan Putu Satria Kusuma

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post

Nonton “Revolusi di Nusa Damai” - Gus Martin: Saya Salut dengan Putu Satria Kusuma

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co