2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Jalan Politik, Apa yang Tak Mungkin untuk Eka Wiryastuti?

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Opini

Foto: Edo Hary Purnawan

 

“Boleh panggil saya Pak Adi, boleh juga Pak Eka!” kata Nyoman Adi Wiryatama kepada saya, suatu hari di tahun 2000.

Saat itu, ia baru saja duduk secara resmi di kursi Bupati Tabanan setelah terpilih melalui sidang paripurna pemilihan bupati di DPRD Tabanan. Saat itu, kepala daerah masih dipilih DPRD, belum dipilih secara langsung seperti sekarang ini. Saya, sebagai wartawan Radio Global FM dan Bali Post saat itu, sengaja menemuinya untuk berkenalan sekaligus wawancara tentang berbagai hal.

Sebutan Pak Adi, tentu saja merujuk pada namanya, Adi Wiryatama. Sebutan Pak Eka, saya belum paham betul. Tapi ia kemudian melanjutkan, “Saya biasa dipanggil Pak Eka. Anak saya namanya Eka,” kata dia.

Oh, barulah saya paham. Sebutan itu semacam pungkusan. Di Bali, orang tua yang sudah punya anak biasanya dipanggil dengan sebutan nama anak pertama yang ditambahi kata Pan atau Men di depannya. Jika anak pertama bernama Putri, bapaknya biasa dipanggil Pan Putri dan ibunya dipanggil Men Putri. Pan berarti Pak, Men berarti Bu.

Jika begitu, Adi Wiryatama seharusnya dipanggil Pan Eka. Namun, sebutan itu tentu sangat tak cocok untuk seorang Bupati, apalagi di zaman modern ini. Maka Pan Eka diindonesiakan menjadi Pak Eka. Tentu karena Eka adalah anak pertamanya.

Awalnya saya kira Eka itu laki-laki. Saya tak bertanya nama lengkapnya, mungkin karena saya tak perhatian terhadap latar keluarga, dan hanya tertarik pada wawancara tentang hal-hal yang saya anggap penting semacam rencana pembangunan dan sejenisnya. Sebagai wartawan, betapa bodoh saya waktu itu. Setidaknya, saya mesti bertanya secara lebih humanis, siapa anak, siapa istri, bagaimana peranan keluarga dalam karir politik.

Dan itu tak saya lakukan. Sehingga dalam waktu lama saya mengira Eka adalah laki-laki. Apalagi, setidaknya pada lima tahun pertama pemerintahan Adi Wiryatama, nama Eka nyaris tak pernah tersebutkan, baik di lingkungan politik maupun lingkungan birokrasi. Eka sepertinya bagian lain dari kehidupan Adi Wiryatama saat itu.

Sampai akhirnya ada kabar Eka menikah dan disunting oleh seorang lelaki dari luar Bali. Kata “disunting oleh lelaki” itu yang menyadarkan saya bahwa Eka adalah perempuan dengan nama lengkap Ni Putu Eka Wiryastuti. Owalah, sebagai wartawan, betapa tidak rungu saya. Betapa tidak peka saya. Harusnya saat itu juga saya dipecat jadi wartawan.

Lebih bodoh lagi, lebih tak peka lagi, saya tak pernah menduga (jangankan menduga, bahkan berpikir pun tidak pernah) bahwa Eka, anak dari Pak Eka itu, akan masuk ke ranah politik. Apalagi menduga ia akan berkuasa dan menjadi Bupati. Saya tak pernah memikirkan itu. Beh, beh, lagi-lagi saya harusnya dipecat jadi wartawan untuk keduakalinya.

Sebab kenyataannya, menjelang Pemilu Legislatif 2009, nama Eka Wiryastuti muncul. Ia menjadi Ketua Banteng Muda Indonesia (BMI) Tabanan. Dan seolah-olah ada agenda besar dari BMI, mendadak organisasi underbow PDIP itu begitu populer, bukan hanya di Tabanan, juga di wilayah kepengurusan Provinsi Bali dan semua kabupaten di Bali.

Pertemuan-pertemuan pengurus dan kader BMI selalu ramai, seperti sempat dilaksanakan di Gedung Kesenian Singaraja. Bendera-bendera BMI berkibar lebih kerap dari biasanya, bahkan seakan bersaing dengan bendera-bendera PDIP yang menjadi induknya. Nama-nama ketua BMI saat itu seakan sama terkenal dan sama pentingnya dengan ketua DPC PDIP, termasuk tentu saja nama Eka Wiryastuti.

Nama Eka terus mencorong ketika ia ikut bertarung dalam Pemilu Legislatif 2009, dan kemudian mulus melangkah ke Gedung Dewan di Sanggulan. Namanya dibicarakan hingga menjelang Pilkada Tabanan 2010. Saat itu, ayahnya, Pak Eka, harus diganti karena sudah dua periode memimpin Tabanan. Santerlah disebut Eka disiapkan untuk mengganti ayahnya. Dari segi kepopuleran, nama Eka langsung bersaing dengan nama tokoh PDIP senior seperti Wayan Sukaja dan Made Sudana.

Saat itulah saya benar-benar sadar bahwa dalam politik, sesuatu yang tak pernah diduga orang (orang semacam saya) bisa terjadi, bahkan terasa dengan begitu mudah. Sesuatu yang dianggap tak mungkin oleh orang awam, dalam politik bisa jadi amat mungkin. Buktinya, kader senior yang begitu kuat bisa jatuh bergelimpangan, sementara kader baru bisa melenggang di jalur yang seakan tol – bebas hambatan.

Nama Eka dibicarakan lagi begitu rekomendasi untuk Pilkada Tabanan 2010 dari DPP PDIP. Paketnya: Wayan Sukaja-Eka Wiryastuti. Tapi paket itu ditentang oleh sekelompok orang di PDIP. Terjadi konflik internal di PDIP. Meski ditentang, banyak orang menganggap rekomendasi tak mungkin dianulir. Tapi kenyataannya, rekomendasi itu dianulir, dan keluarlah rekomendasi baru. Paketnya: Ni Putu Eka Wiryastuti-IKG Sanjaya (Eka-Jaya).

Wayan Sukaja yang pencalonannya dibatalkan, tak mundur. Sukaja memilih berpasangan dengan IGN Anom dan dicalonkan oleh Partai Golkar. Banyak orang mengira Sukaja bisa menang mudah karena kader PDIP itu memiliki basis massa yang kuat, yang sudah “dipelihara” sejak bertahun-tahun.

Tapi nyatakan Eka-Jaya menang. Pasangan itu memperoleh suara terbanyak yakni 134.441 suara. Sementara pasangan Sukaja-IGN Anom mengumpukan 116.153 suara. Satu pasangan, yakni IGG Putra Wirasana-I Putu Oka Mahendra yang diusung Partai Demokrat hanya memperoleh suara 26.258 suara.

Menjelang Pilkada 2015 banyak juga orang mengira Eka akan kalah jika dicalonkan kembali sebagai calon petahana. Di media sosial Eka terus diserang kampanye negatif, terutama tentang banyaknya jalan rusak di Tabanan. Namun, jalan politik bisa seperti jalan rusak yang simsalabim bisa langsung dihotmik mulus. Eka-Jaya yang dicalonkan kembali sebagai calon petahan ternyata mendapat lawan yang tak begitu sepadan, sehingga jalan yang dilalui untuk kembali ke kursi bupati memang seperti jalan homix.

Di Pilkada itu, Eka-Jaya menang dengan perolehan 170.869 suara. Dan lawannya, Wayan Sarjana-Ida Bagus Komang Astawa Merta memperoleh 94.583 suara. Asal tahu saja, Wayan Sarjana sesungguhnya kader PDIP yang kemudian “membelot” untuk melawan Eka-Jaya.

Selama kepemimpinan Eka di Tabanan banyak penilaian miring dialamatkan kepada pemerintahan, terutama diunggah di media sosial. Namun penilaian miring itu tak menjatuhkannya, justru namanya terus mencorong. Bahkan berbagai penghargaan terus diperolehnya sebagaimana disiarkan di media-media massa mainstreams.

Menjelang Pilgub Bali, nama Eka kembali menjadi pembicaraan. Pasalnya, namanya didaftarkan sebagai bakal calon gubernur ke DPD PDIP, bersaing dengan Wayan Koster dan Rai Mantra. Nama Eka seakan mencuat ke tengah arena setelah sejak lama nama Koster dan Rai Mantra memenuhi ruang analisis politik di PDIP.

Di tengah gemuruh politik di Bali, terutama di internal PDIP, menjelang Pilgub, nama Eka seakan menjadi bintang yang menyerobot cahaya bintang lainnya. Orang boleh tak setuju. Boleh tak senang. Boleh komentar miring. Tapi, di jalan politik, apa yang tidak mungkin? Eka sudah membuktikannya.

Jadi, rekomendasi dari DPP PDIP bisa saja jatuh kepada Eka. Mungkin sebagai calon wakil gubernur berpasangan dengan Koster, Rai Mantra, atau dengan nama lain yang tak terduga. Mungkin juga jadi calon gubernur.

Bisa saja, siapa yang tahu? Bahkan Megawati, saat ini, mungkin tak tahu juga… (T)

Tags: Eka WiryastutiPartai PolitikPilkada BaliPolitiktabanan
Share50TweetSendShareSend
Previous Post

Lucu jika Rocky Menyanyi Lagu Lucu

Next Post

Cak Puspita Jaya, Blahkiuh: Menjunjung Kualitas Berkarya

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails
Next Post

Cak Puspita Jaya, Blahkiuh: Menjunjung Kualitas Berkarya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co