2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Buleleng Festival: Makin Kehilangan Bentuk

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Opini

Atraksi seni di Buleleng Festival 2017/ Foto: Eka

 

BULELENG Festival (Bulfest) 2017 sudah berakhir, 6 Agustus lalu. Sebanyak 76 seniman tradisi, sebelas band lokal, dan tiga artis nasional dilibatkan. Seni tradisi, seni kontemporer, dan seni inovatif atau yang lebih keren disebut seni eksperimental, dipentaskan.

Pemerintah mengklaim Buleleng Festival tahun ini mengalami lompatan kesuksesan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara disebut mencapai 90.675 orang. Transaksi ekonomi disebut mencapai Rp 2,4 miliar.

Dua pendekatan perhitungan sukses ini sebenarnya mirip dengan pendekatan perhitungan sukses kegiatan pasar malam. Selama jumlah pengunjung meningkat, transaksi ekonomi meningkat, bisa dibilang sukses. Apalagi bila meningkat dua kali lipat. Masalah pencapaian target visi-misi, itu urusan nomor sekian bahkan cenderung boleh dilupakan.

Buleleng Festival tahun ini bisa dibilang makin kehilangan bentuk. Nyaris tidak ada kesamaan antara tema yang dipilih dengan konten yang dihadirkan. Bukan hal aneh, karena Buleleng Festival tidak memiliki tim kurator yang memiliki kuasa untuk mengendalikan keselarasan tema dan konten.

Urusan konten ditentukan entah oleh siapa. Selama penonton ramai dan perputaran uang tinggi, konten tak perlu dipedulikan. Urusan tema tak sesuai dengan konten, siapa peduli? Toh pengunjung sudah suka cita dihibur artis ibukota yang dibayar mahal oleh sponsor. Sedangkan seniman lokal sudah cukup puas tampil di Bulfest meski dibayar pas-pasan yang hanya cukup untuk sewa pakaian dan biaya berias.

Pergeseran Bulfest dari visi-misinya sudah dapat dilihat dari tampilan panggung utama. Sound system dan tata cahaya yang digunakan sudah tentu megah. Konon semua itu peralatan baru yang dibeli seharga Rp 1,5 miliar. Di balik tata suara dan tata lampu yang megah, backdrop-nya sungguh menyedihkan.

Backdrop itu sama sekali tak mencerminkan gaya ukiran khas Buleleng. Padahal backdrop dengan gaya ukiran khas Buleleng selalu berusaha dipertahankan sejak Bulfest pertama hingga ketiga. Tahun ini kualitas backdrop mencapai titik nadir. Seorang kawan bahkan menyebut bentuknya tak jauh beda dari candi bentar tapal batas antar dusun.

Belum lagi stand kuliner yang semakin tahun, kian kehilangan bentuk. Sejak awal, stand kuliner didedikasikan bagi kuliner khas Buleleng. Bukan pengusaha kuliner asal Buleleng. Alih-alih menyajikan kuliner khas, justru menyajikan burger dan sosis. Barangkali di era milenial ini, burger dan sosis sudah jadi makanan khas Buleleng.

Tema “The Power of Buleleng” yang dipilih tahun ini, juga patut dikritisi. Kesenian mana yang merepresentasikan tema ini? Dinas Kebudayaan Buleleng mengklaim, tema ini sudah cukup diwakili dengan kehadiran 20 sekaa baleganjur, 10 sekaa ngoncang, dan empat drama modern. Faktanya kekuatan utama kesenian Buleleng bukan di sana.

Kesenian Wayang Wong yang menjadi salah satu kekuatan seni di Buleleng – bahkan meraih penghargaan UNESCO – tahun ini tak ditampilkan. Entah apa alasannya, padahal ini salah satu kesenian yang menunjukkan “power” Buleleng di kancah seni tradisi.

Pertunjukan pamungkas di panggung utama Buleleng Festival juga hanya diisi oleh bintang tamu dari luar. Jauh lebih membanggakan jika band lokal diberi kesempatan mengisi kesenian pamungkas. Penampilan musisi Buleleng yang tergabung dalam Singaraja Music for Unity (Simfony) yang membawakan garapan kolaborasi khusus, tentu sangat layak dinanti dan akan memperkuat capaian tema tahun ini.

Panitia juga tak perlu alergi menampilkan seni tradisi sebagai penampilan pamungkas di panggung utama. Jangan lupa, gong kebyar adalah kekuatan utama seni tradisi di Buleleng. Gong kebyar mebarung tentu layak ditampilkan sebagai hiburan pamungkas.

Bayangkan jika Padepokan Seni Dwi Mekar atau Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya Banjar Paketan, tampil mebarung dengan Sanggar Cudamani atau Sekaa Yowana Gita Samudra Kuta. Mereka kemudian bersaing menampilan gaya kebyar masing-masing. Bali Utara bertahan dengan gaya Gde Manik, Bali Selatan memainkan gaya Wayan Lotring. Tentu jadi hiburan yang fantastis. Kurang “The Power of Buleleng” apa lagi coba?

Dinas Kebudayaan Buleleng juga perlu memperhatikan ketimpangan antara panggung satu dengan panggung lain. Setiap panggung, harus disediakan sound system dan tata cahaya yang memadai. Dari tiga panggung, tata cahaya dan sound system di Wantilan MR. Ketut Pudja (Lebih dikenal dengan nama Sasana Budaya) paling menyedihkan.

Wajib diingat, bahwa sejak awal Bulfest disusun dengan visi: membangkitkan kembali kebanggaan Buleleng sebagai kota warisan sejarah budaya bangsa.

Ada pula enam poin misi yang disusun. Pertama, menggali akar-akar kearifan lokal Buleleng; kedua, melestarikan budaya lokal Buleleng; ketiga, merepresentasikan karakter khas budaya Buleleng; keempat menggali budaya kontemporer yang berakar dan berkarakter; kelima, membina potensi lokal baik budaya tradisi maupun kontemporer; dan terakhir, membangkitkan potensi seni generasi muda. Ingatkan saya, jika visi-misi yang saya tulis ini salah.

Dengan visi-misi yang adiluhung, sudah sepatutnya Buleleng Festival memiliki target-target capaian yang jelas dari tahun ke tahun. Sejauh ini Buleleng Festival sudah sukses menghadirkan keramaian dan menghibur masyarakat Buleleng. Perkara sudah sejauh mana capaian visi-misi, jangan ditanya. Paling penting masyarakat terhibur, bapak juga senang.

Tahun depan, Bulfest konon akan diselenggarakan selama tujuh hari. Sebelum dilaksanakan selama itu, ada baiknya dilakukan evaluasi capaian visi-misi. Kalau indikator keberhasilannya hanya kunjungan dan perputaran ekonomi, ada baiknya Bulfest tidak dilaksanakan 7 hari. Lebih baik dilaksanakan selama 14 hari. Biar seperti pesta rakyat saat HUT Kota dan HUT RI. Toh indikator keberhasilannya tak jauh beda dengan event pasar malam. (T)

Tags: Budayabulelengbuleleng festivalSeni
Share1363TweetSendShareSend
Previous Post

Cak Puspita Jaya, Blahkiuh: Menjunjung Kualitas Berkarya

Next Post

“Susah Ya, Gak Ada Orang Jawa” – Sebuah Catatan Budaya

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post

“Susah Ya, Gak Ada Orang Jawa” - Sebuah Catatan Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co