3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Catatan Buleleng Festival: Makin Kehilangan Bentuk

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Opini

Atraksi seni di Buleleng Festival 2017/ Foto: Eka

 

BULELENG Festival (Bulfest) 2017 sudah berakhir, 6 Agustus lalu. Sebanyak 76 seniman tradisi, sebelas band lokal, dan tiga artis nasional dilibatkan. Seni tradisi, seni kontemporer, dan seni inovatif atau yang lebih keren disebut seni eksperimental, dipentaskan.

Pemerintah mengklaim Buleleng Festival tahun ini mengalami lompatan kesuksesan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara disebut mencapai 90.675 orang. Transaksi ekonomi disebut mencapai Rp 2,4 miliar.

Dua pendekatan perhitungan sukses ini sebenarnya mirip dengan pendekatan perhitungan sukses kegiatan pasar malam. Selama jumlah pengunjung meningkat, transaksi ekonomi meningkat, bisa dibilang sukses. Apalagi bila meningkat dua kali lipat. Masalah pencapaian target visi-misi, itu urusan nomor sekian bahkan cenderung boleh dilupakan.

Buleleng Festival tahun ini bisa dibilang makin kehilangan bentuk. Nyaris tidak ada kesamaan antara tema yang dipilih dengan konten yang dihadirkan. Bukan hal aneh, karena Buleleng Festival tidak memiliki tim kurator yang memiliki kuasa untuk mengendalikan keselarasan tema dan konten.

Urusan konten ditentukan entah oleh siapa. Selama penonton ramai dan perputaran uang tinggi, konten tak perlu dipedulikan. Urusan tema tak sesuai dengan konten, siapa peduli? Toh pengunjung sudah suka cita dihibur artis ibukota yang dibayar mahal oleh sponsor. Sedangkan seniman lokal sudah cukup puas tampil di Bulfest meski dibayar pas-pasan yang hanya cukup untuk sewa pakaian dan biaya berias.

Pergeseran Bulfest dari visi-misinya sudah dapat dilihat dari tampilan panggung utama. Sound system dan tata cahaya yang digunakan sudah tentu megah. Konon semua itu peralatan baru yang dibeli seharga Rp 1,5 miliar. Di balik tata suara dan tata lampu yang megah, backdrop-nya sungguh menyedihkan.

Backdrop itu sama sekali tak mencerminkan gaya ukiran khas Buleleng. Padahal backdrop dengan gaya ukiran khas Buleleng selalu berusaha dipertahankan sejak Bulfest pertama hingga ketiga. Tahun ini kualitas backdrop mencapai titik nadir. Seorang kawan bahkan menyebut bentuknya tak jauh beda dari candi bentar tapal batas antar dusun.

Belum lagi stand kuliner yang semakin tahun, kian kehilangan bentuk. Sejak awal, stand kuliner didedikasikan bagi kuliner khas Buleleng. Bukan pengusaha kuliner asal Buleleng. Alih-alih menyajikan kuliner khas, justru menyajikan burger dan sosis. Barangkali di era milenial ini, burger dan sosis sudah jadi makanan khas Buleleng.

Tema “The Power of Buleleng” yang dipilih tahun ini, juga patut dikritisi. Kesenian mana yang merepresentasikan tema ini? Dinas Kebudayaan Buleleng mengklaim, tema ini sudah cukup diwakili dengan kehadiran 20 sekaa baleganjur, 10 sekaa ngoncang, dan empat drama modern. Faktanya kekuatan utama kesenian Buleleng bukan di sana.

Kesenian Wayang Wong yang menjadi salah satu kekuatan seni di Buleleng – bahkan meraih penghargaan UNESCO – tahun ini tak ditampilkan. Entah apa alasannya, padahal ini salah satu kesenian yang menunjukkan “power” Buleleng di kancah seni tradisi.

Pertunjukan pamungkas di panggung utama Buleleng Festival juga hanya diisi oleh bintang tamu dari luar. Jauh lebih membanggakan jika band lokal diberi kesempatan mengisi kesenian pamungkas. Penampilan musisi Buleleng yang tergabung dalam Singaraja Music for Unity (Simfony) yang membawakan garapan kolaborasi khusus, tentu sangat layak dinanti dan akan memperkuat capaian tema tahun ini.

Panitia juga tak perlu alergi menampilkan seni tradisi sebagai penampilan pamungkas di panggung utama. Jangan lupa, gong kebyar adalah kekuatan utama seni tradisi di Buleleng. Gong kebyar mebarung tentu layak ditampilkan sebagai hiburan pamungkas.

Bayangkan jika Padepokan Seni Dwi Mekar atau Sekaa Gong Kebyar Eka Wakya Banjar Paketan, tampil mebarung dengan Sanggar Cudamani atau Sekaa Yowana Gita Samudra Kuta. Mereka kemudian bersaing menampilan gaya kebyar masing-masing. Bali Utara bertahan dengan gaya Gde Manik, Bali Selatan memainkan gaya Wayan Lotring. Tentu jadi hiburan yang fantastis. Kurang “The Power of Buleleng” apa lagi coba?

Dinas Kebudayaan Buleleng juga perlu memperhatikan ketimpangan antara panggung satu dengan panggung lain. Setiap panggung, harus disediakan sound system dan tata cahaya yang memadai. Dari tiga panggung, tata cahaya dan sound system di Wantilan MR. Ketut Pudja (Lebih dikenal dengan nama Sasana Budaya) paling menyedihkan.

Wajib diingat, bahwa sejak awal Bulfest disusun dengan visi: membangkitkan kembali kebanggaan Buleleng sebagai kota warisan sejarah budaya bangsa.

Ada pula enam poin misi yang disusun. Pertama, menggali akar-akar kearifan lokal Buleleng; kedua, melestarikan budaya lokal Buleleng; ketiga, merepresentasikan karakter khas budaya Buleleng; keempat menggali budaya kontemporer yang berakar dan berkarakter; kelima, membina potensi lokal baik budaya tradisi maupun kontemporer; dan terakhir, membangkitkan potensi seni generasi muda. Ingatkan saya, jika visi-misi yang saya tulis ini salah.

Dengan visi-misi yang adiluhung, sudah sepatutnya Buleleng Festival memiliki target-target capaian yang jelas dari tahun ke tahun. Sejauh ini Buleleng Festival sudah sukses menghadirkan keramaian dan menghibur masyarakat Buleleng. Perkara sudah sejauh mana capaian visi-misi, jangan ditanya. Paling penting masyarakat terhibur, bapak juga senang.

Tahun depan, Bulfest konon akan diselenggarakan selama tujuh hari. Sebelum dilaksanakan selama itu, ada baiknya dilakukan evaluasi capaian visi-misi. Kalau indikator keberhasilannya hanya kunjungan dan perputaran ekonomi, ada baiknya Bulfest tidak dilaksanakan 7 hari. Lebih baik dilaksanakan selama 14 hari. Biar seperti pesta rakyat saat HUT Kota dan HUT RI. Toh indikator keberhasilannya tak jauh beda dengan event pasar malam. (T)

Tags: Budayabulelengbuleleng festivalSeni
Share1363TweetSendShareSend
Previous Post

Cak Puspita Jaya, Blahkiuh: Menjunjung Kualitas Berkarya

Next Post

“Susah Ya, Gak Ada Orang Jawa” – Sebuah Catatan Budaya

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

“Susah Ya, Gak Ada Orang Jawa” - Sebuah Catatan Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co