3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Karena Kita adalah Semeton Dewata” – Kebangkitan BU, Rujuk Suporter, dan Puisi Moh Yamin

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Kredit foto: semetondewatanewshol.wordpress.com

 

EUFORIA kemenangan Bali United (BU) atas tamunya PSM Makassar Minggu (23/07/2017) malam masih terasa hingga hari ini. Tim tamu berstatus mentereng klub papan atas dibungkam dengan skor 3-0 pada laga yang berlangsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar. Kemenangan itu sebagai pelecut semangat lagi menggapai posisi atas klasemen sementara Liga 1Indonesia 2017 pada putaran pertama.

Terbukti pada laga terakhir putaran pertama Liga I, BU mampu membungkam tuan rumah Persegres Gresik United dengan skor 3-1, Senin (31/07/2017). Tiga gol Serdadu Tridatumasing-masing dicetak Ahmad Faris menit ke-18 (gol bunuh diri), Fadil Sausu (‘84), dan Sylvano Comvalius (’88). Sedangkan gol hiburan tuan rumah Persegres GU diciptakan Arsyad Yusgiantoro (68’). Kemenangan laga kandang yang digelar di Stadion Surajaya Lamongan ini pun menempatkan anak asuh Widodo C Putro di posisi runner up paruh musim. Tepat di bawah Madura United dengan nilai yang sama 32 poin dari 17 laga. Hanya BU kalah secara head-to-head, sehingga MU mulus duduk di singgasana juara paruh musim.

Tetapi jauh lebih daripada itu adalah aksi yang dilakukan komunitas suporter pada laga BU kontra PSM Makassar lalu. Setelah pertandingan berakhir seluruh suporter di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, berdiri dan bersama-sama menyanyikan satu chant atau lagu. “Rasa Bangga” judul lagu dinyanyikan waktu itu.

Pemandangan itu tidak hanya membuat merinding para pemain dan ofisial BU yang melingkar di tengah lapangan menghadap ke suporter pada saat ritual tersebut, namun seisi stadion dihinggapi perasaan yang sama, “merinding”.

Begini lirik lagu Rasa Bangga itu:

/Mari Bersama, kita berjuang/ /Tak akan ada kata menyerah/ /Berjuang sepenuh jiwa/ /Penuh percaya, kau kebanggaan/.

Lirik-lirik dalam lagu itu pun begitu menyengat hati. Satu misi mendukung Bali United mengobarkan rasa persatuan antarsuporter. Menupuk rasa kebersamaan dalam lingkaran di tribun penonton. Kekuatan lirik dan lagu itu seolah bukan sebuah ekspresi pribadi namun ekspresi gagasan sebagai suporter Bali United.

Momentum itu pun ramai diperbincangkan di media sosial. Sebagaian besar menyatakan salut dan momentum fenomenal ini. Harapan pun begitu banyak terhadap aksi bersatunya kelompok suporter Bali ini. Aksi bernyanyi bersama seperti ini terus ada pada pertandingan-pertandingan BU selanjutnya.

Harapannya, para suporter BU bersatu dan menunjukkan kekompakan di stadion. Mereka kelompok suporter bersuara lantang menggema di seluruh penjuru sudut seolah-olah mengembalikan taksu Stadion Dipta. Tak tampak lagi, kelompok-kelompok yang saling bersaing dalam subkultur di stadion.

Inilah saatnya suporter kembali bersatu. Sepertinya, nama-nama kelompok suporter Northsideboys12(NSB12), Brigaz Bali, Curva Sud Semeton Dewata, Semeton BULDOG, Semeton BUST Tabanan, Semeton Bangli, Semeton Hooligan, Semeton Badung Utara (BADUT), Semeton Kenwa Negaroa, Semeton Sukawati, Semeton Buser Klungkung, Semeton Padangbai, Semeton Bangli, Semeton Ubud, Semeton Serdadu Kotaatau Semeton Dewata Reborn, dan lain-lain sedang bersatu padu melebur bernyanyi bersama dalam langgam Semeton Dewata.

Deklarasi Sanur

Siang itu, Minggu28 Desember 2014 lalu sebuah momentum penting terjadi. Tepatnya di Warung Kayu Api, Sanur, Denpasar, terjadi pertemuan antarkelompok suporter yang ada di Bali. Perwakilan dari berbagai elemen suporter atau koordinator lapangan masing-masing wilayah Bali waktu itu urun rembug bareng. Tidak ada lagi suporter Persekaba Badung, Perseden Denpasar, Persegi Gianyar, dan Perst Tabanan, atau Persibu Buleleng, atau Persada Jembrana. Dalam pertemuan tersebut ada nama-nama dari perwakilan suporter sebagai jubir Dewa Sanur, manajemen Bali United Pusam, Pieter Tanuri kakak kandung CEO BU, Yabes Tanuri dan pelatih BU waktu itu coach Indra Sjafri.

Lalu puncaknya menyatukan persepsi membuat nama suporter Bali United (Pusam waktu itu).Ada yang mengusulkan nama di antaranya Laskar Dewata, Bala Dewata. Namun lantaran dua nama tersebut identik dengan nama organisasi masyarakat (ormas). Nama semeton juga waktu itu masih ada yang mengganjal karena akan teridentifikasi sebagai bagian Semeton Jokowi. Namun kuatnya makna Semeton dan dengan keyakinan tidak ada kaitan dengan Semeton Jokowi, nama satu kata “SEMETON” yang berarti “teman” akhirnya disepakati.

Lalu kata berikutnya, muncul kata Bali United, Bali, dan Dewata. Kalau digabung waktu itu, Semeton Bali United, atau Semeton Bali, atau Semeton Dewata. Musyawarah dan diskusi begitu cair sambil makan siang itu dan sepakat suporter Bali United adalah “Semeton Dewata”. Selain itu juga julukan tim Bali United dengan Serdadu Tridatu. Kesepakata ini ketok palu, dan akan ditindaklanjuti dengan pertemuan berikutnya di Stadion I Wayan Dipta Gianyar untuk menyusun organ.

Selesai makan siang kemudian foto bersama di depan warung itu. Merentangkan tangan dan saling berpegangan (kebetulan saya kebagian motret momentum itu) tampak begitu antusias dari wajah mereka. Bersatu membentuk satu jalinan Semeton Dewata.

Sepertinya kehadiran BU membuat semangat suporter Bali bangkit dan rindu menggelora untuk mendukung tim sepak bola Bali yang sudah lama vakum. Nah, di saat pamitan tiba-tiba ada yang berbisik dan terdengar begitu jelas di telinga saya. “Ah, ini mungkin tidak akan lama. Akan jalan-jalan sendiri.”

Wah,saya tidak percaya!

Jeg sajan! Perjalanan organ Semeton Dewata seolah penuh dengan rintangan. Setelah terbentuk struktur organisasi dengan Ketua Semeton Dewata, Ida Bagus Gaga Mahardika alias Gus Casper, permasalahan dan friksi membayangi. Kabar Semeton Dewata pecah dan bercerai berai mulai merebak menjelang pembukaan Turnamen Piala Presiden 2015. Tepat pada Minggu1 November 2015, kelompok suporter Brigaz dan Buldog keluar dari organ Semeton Dewata. Buldog dan Brigaz membuat barisan baru dengan memakai nama Buldog Brigaz Bersatu (BBB).

Perpecahan ini disulut dari berbagai permasalahan. Mulai isu penjualan baju atau jersey, perlakuan manajemen terhadap pengurus suporter, dan status-status di media sosial yang saling menyudutkan dan saling serang komentar. Pada saat Piala Presiden 2015 digelar pun tampak suporter Semeton Tribun Kelod BBB (STK BBB) menempati tribun selatan.

Lalu dalam beberapa pekan berikutnya  tepatnya 17 November 2015, Semeton Dewata Buldog menegaskan tetap bergabung bersama Semeton Dewata. Mereka kembali bergabung bersama korlap-korlap lain Semeton Dewata di tribun timur Stadion Kapten Dipta Gianyar. Tidak ada genderangan bunyi penyemangat pemain. Sorak sorai dan koreografi khas suporter sepak bola. Ketika perpecahan itu terjadi tribun timur tampak kosong di beberapa laga. Bahkan pernah hanya tampak kelompok suporter Semeton Dewata Buldog dengan membawa bendara berada di pojok tribun timur. Lupa peristiwa itu?

Laga antara Bali United versus Pusamania Borneo FC pada lanjutan kompetisi Liga I pada 15 Mei 2017 lalu seolah menjadi titik balik Semeton Dewata. Dalam laga yang dimenangi Bali United dengan skor 3- 0 ini tampak ada koreo bertuliskan “UP” di tribun timur. Dalam laman blog semetondewatanewshol.wordpress.com tertulis kata “UP”disebut-sebut dipilih menjadi koreo karena berbagai pertimbangan dan memiliki banyak pengharapan. Satu di antaranya pengharapan terhadap bangkit kembalinya Bali United yang memberikan kepuasan tersendiri bagi Semeton Dewata.

Foto: semetondewatanewshol.wordpress.com

Jauh sebelum itu, elemen suporter menggelar pertemuan di Stadion Dipta pada Rabu 3 Mei 2017. Meskipun tidak semua kelompok suporter datang, namun ada beberapa poin menjadi kesepakatan. Di antaranya rapat rutin suporter dan menyanyikan chant bersama di awal babak pertama yaitu chant “Padamu Bali” dan satu chant penyemangat tim. Lirik-lirik dan lagu telah menyatukan semaunya.

Puisi Mohammad Yamin

Sekarang saatnya euforia makna persatuan antar suporter kembali menggelora. Mari kita rujuk risalah sumpah pemuda yang diawali puisi “Tanah Air” dan “Tumpah Darahku” karya Mohammad Yamin. Sebuah gagasan persatuan di awal-awal gambaran negara Indonesia lahir.

Puisi Yamin tidak hanya bermakna secara struktural maupun pragmatik, namun benar-benar memberikan arti secara nyata. Semangat mempersatukan kelompok-kelompok membuatnya ia dikenal sebagai tokoh pemersatu. Penulis dekade 1920-an ini legawa dan membuang ego kedaerahan Tanah Air Sumatera diubah menjadi Tanah Air Indonesia. Pada tahun 1922 silam, puisi “Tanah Air” Yamin ditulis. Dalam puisi tersebut yang dimaksud Tanah Air adalah Minangkabau di Sumatera. Isinya pun masih banyak menyebut keagungan Sumatera.

Lalu tepatnya pada 28 Oktober 1928 karya Yamin muncul lagi dengan “Tumpah Darahku”. Dalam puisi ini sangat penting, karena Yamin dan beberapa pejuang kebangsaan lainnya memutuskan menghormati satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia yang tunggal. “karena kita sedarah-sebangsa/tanah air di Indonesia.”

Dalam buku “Jalan Puisi” yang ditulis Maman S Mahayana (2016: KPS) secara detail menyebutkan Yamin dalam menulis puisi tidak sekadar sebagai alat mengekspresikan perasaan pribadi namun ekspresi sebagai warga bangsa. Dalam pemikiran Yamin dalam puisi, mula-mula mengangkat tema kedaerahan sebagai ekspresi kekagumanannya pada alam. Namun melihat alam tanah leluhur dikuasai penjajah maka pemikiran Yamin bergerak menuju tema kebangsaan.

Ia menempatkan alam kedaerahan (Minangkabau) dalam hubungannya dengan Tanah Air Indonesia. Nah, menelusuri puisi-puisi Yamin “Tumpah Darah” maka tampak gagasan pemikiran Yamin. Di antaranya Indonesia sebagai Tanah Air, Indonesia sebagai bangsa, dan Indonesia yang terdiri dari keanekaragamaan suku bangsa memerlukan sebuah bahasa untuk mempersatukannya.

Maka tidak berlebihan jika Yamin adalah tokoh konseptor utama penyusan teks Sumpah Pemuda yang mampu mempersatukan  pemuda. Teks yang disusun dengan model tipografi pusi yang di sana ada permainan repetisi, metafora, dan kata-kata simbolik dengan keseluruhan membangun sebuah tema: Indonesia. Jadi kekuatan kata-kata dalam puisi dan lagu mampu menjadi alat pemersatu.

Nah,mumpung sekarang lagi tren islah suporter, maka tidak salah dengan membusungkan dada lalu berteriak “Kita adalah Semeton Dewata.” Dan karena Yamin piawai menerjemahkan karya penulis ternama di luar negeri, ia kemudian menuliskan “Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi” ketika ia menerjemahkan ungkapan William Shakespeare, “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” (T)

Tags: balibali unitedIndonesiaPuisisemeton dewatasepakbola
Share290TweetSendShareSend
Previous Post

Cinta Bahasa, Kafe Bahasa, Cinta Puisi, di Littletalks Ubud

Next Post

“Ayo Membaca!” – Inilah E-Book untuk Guru & Penyuluh Bahasa Bali

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

"Ayo Membaca!" - Inilah E-Book untuk Guru & Penyuluh Bahasa Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co