23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pendidikan Tidak Untuk Memanusiakan Manusia

I Wayan Artika by I Wayan Artika
February 2, 2018
in Opini

Sumber foto: FB/Lab-school Undiksha. (Foto hanya ilustrasi)

SEJARAH pendidikan nasional dimulai ketika tumbuhnya ide nasionalisme. Sebelumnya telah bertradisi berbagai model persekolahan Nusantara, seperti “sekolah” bela diri, kebatinan atau mistik, kedukunan, seni, kanuragan, dan agama. Pada masa penjajahan, Ki Hajar Dewantara, seorang bangsawan dari pusat kebudayaan Jawa di pedalaman, menyaksikan diskriminasi Belanda kepada anak-anak pribumi dalam bidang pengajaran modern. Diskriminasi ini juga dialami oleh Minke sebagaimana terkisah dalam Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer.

Sekolah Belanda hanya bagi anak-anak kaum penjajah. Diskriminasi ini untuk menunjukkan kehinaan anak pribumi dan penanaman mental inlander. Di tengah kondisi ini, Ki Hajar Dewantara mencetuskan ide pendidikan sebagai jalan mencapai kesetaraan dengan penjajah yang sama artinya dengan kemerdekaan pribumi. Pendidikan untuk meraih kemerdekaan bangsa. Jadi amat jelas, ideologi Perguruan Taman Siswa yang menjadi cikal-bakal pendidikan modern di tanah air.

Tercetus semboyan perguruan Taman Siswa, yang lebih menitikberatkan pada peranan luhur seorang guru dalam mendidik. Peran atau posisi guru sangat dinamis (di depan, di antara, dan di belakang siswa), baik ketika menjadi sosok teladan bagi siswa, membangun prakrsa, dan memberi dukungan. Peran dan posisi guru yang sangat mendasar ini, dihayati betul oleh para guru semasa pergerakan sehingga mengantarkan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan.

Orde Baru

Di alam kemerdekaan, negara mengadopsi ideologi Taman Siswa, yang terlihat pada semboyan “Tut Wuri Handayani”. Namun dinamika sejarah mengubah cara pandang bangsa ini terhadap ideologi pendidikan Ki Hajar Dewantara.

Tulisan ini membahas peranan guru dalam kaitan dengan ketiga posisi atau peran guru yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Topik ini juga dikaitkan dengan nasib para guru terbaik pasca Tragedi 1965. Mereka banyak yang terbunuh dalam prahara politik dan ideologi. Hal ini juga menyebabkan putusnya hubungan sejarah sehingga ideologi pendidikan Taman Siswa kelak semakin bergeser dalam praktik pengajaran di persekolahan.

Dalam sistem pemerintahan negara Orde Baru yang sentralistik dengan dukungan kuat aparat militer negara, praktik pendidikan berjalan penuh tekanan dan pemaksaan. Pendidikan bertujuan membentuk warga negara yang takut kepada pemerintah. Sehingga negara mudah mengatur warganya sesuai dengan kehendak penguasa.

Orde Baru memposisikan guru sebagai wakil negara hingga ke pelosok tanah air. Sebagaimana dalam baris-berbaris, guru adalah komandan, tukang perintah, juru teriak. Siswa adalah barisan robot yang tidak memiliki pilihan, kecuali mematuhi semua perintah atau teriakan. Praktik pendidikan ini dilakukan oleh guru-guru Orde Baru, yang dimaknai “disiplin”. Tidak ada yang sadar jika pendidikan militer Orde Baru merupakan penindasan anak-anak bangsa yang sedang tumbuh. Anak-anak bangsa itu sesungguhnya kehilangan kemerdekaan di alam kemerdekaan. Hal ini terjadi secara sistematis, berkelanjutan, terencana dalam pembangunan lima tahun (Pelita) atau pembangunan jangka panjang.

Jadi jangan tanya, peran guru sebagai teladan. guru hanya berteriak! Kelas semakin pengap oleh suara guru, suara yang membungkam siswa, sejak SD hingga SMA.

Orde Baru benar-benar menjungkirbalikkan ide humanisme Ki Hajar Dewantara. Tidak perlu heran jika peran guru sebagai teladan, pencetus karsa, dan pemberi dorongan, semuanya omong kosong atau nol besar. Hal ini memang masuk akal jika dipahami dari konsep pendidikan sebagai alat kekuasaan. Bukankah Paulo Freire memaparkan bahwa pendidikan adalah tindakan politik. Artinya, lewat pendidikan kaum politisi mencapai tujuan politik yang jauh dari humanisme.

Guru semasa Orde Baru menjadi manifestasi kekuasaan negara otoriter. Lewat kurikulum nasional dan seluruh praktik pengajaran, para guru memperoleh wibawa dan kuasa di mata siswa. Sekolah adalah bentuk lain dari negara dan siswa kaum rakyat yang dikuasai oleh para guru. Maka, hal ini membentuk mental penakut di kalangan siswa. Siswa pun menjadi sosok kaku, tidak berkutik, seperti barisan robot terakota.

Wibawa dan kuasa mengangkat guru pada posisi lebih tinggi dan siswa harus menghormati. Guru Orde Baru gila hormat di hadapan siswa. Guru harus disapa terlebih dahulu dengan salam komando. Para siswa harus menunggu guru dan jika guru terlambat, harus dijemput di ruang guru. Guru pantang jika datang lebih awal di kelas karena sama dengan merendahkan wibawa dan kuasa.

Guru Orde Baru tidak perlu melahirkan prakarsa. Hal ini sudah disediakan oleh negara. Guru cukup menjadi para beo negara. Apapun kata negara itulah yang harus diucapkan oleh guru di hadapan siswa. Soal siswa mengerti atau tidak, bukan urusan guru. Yang penting membeo dan mendidik siswa agar menjadi burung beo. Siswa pun tidak terlatih berpendapat atau memandang. Mereka sangat miskin ide.

Peran guru dalam memberi dorongan sama sekali tidak ada. Orde Baru tidak mengenal dorongan karena sistem militer dari atas ke bawah secara mutlak. Justru sebaliknya, guru harus mampu membentuk siswa yang memberi dorongan atau dukungan kepada semua kebijakan politik Negara.

Pendidikan sebagai Pasar

Dengan memahami sistem politik dan cara Orde Baru menyelenggarakan pemerintahan, dapat dipahami berbagai kemerosotan bangsa saat ini karena dampak pendidikan terasa dua hingga tiga dekade kemudian. Inilah bahanyanya pendidikan yang salah. Sampai saat ini pun dunia pendidikan belum pulih dan ideologi perguruan Taman Siswa semakin tidak dihayati.

Guru belum menjadi teladan. Guru belum mampu memberi prakarsa. Guru juga belum mampu memberi dorongan. Wibawa dan kuasa guru semakin pudar karena terjadi perubahan cara pandang terhadap hubungan guru dan siswa.

Pandangan ini bersumber pada semakin kuatnya pengaruh pemikiran “pendidikan sebagai pasar”. Di sini posisi siswa dan orang tua sebagai konsumen atau pembeli pendidikan yang harus dihormati lebih tinggi lagi ketimbang para guru. Sistem pasar dalam penyelenggaraan pendidikan menuntut guru tunduk kepada kehendak pasar.

Sekali lagi guru tidak berkutik, hanya sebagai tenaga penjual murahan karena dikendalikan oleh pemilik saham. Menjadi guru bukan untuk memberi teladan, membangun prakarsa, dan memberi dorongan kepada siswa tetapi untuk memperoleh penghasilan semata. Dalam sistem pendidikan apapun seharusnya guru memiliki wibawa dan kuasa sendiri, yang ditawarkan kepada dunia politik atau kepada pasar.

Dalam pendidikan sistem pasar, tidak hanya guru, sekolah pun menjadi hamba yang hanya mengikuti segala keinginan pasar. Tampaknya, ideologi perguruan Taman Siswa kian redup. Banyak sekolah mandiri dan bebas dari kuasa politik negara, sebagaimana pernah dialami di masa Orde Baru, namun kini pendidikan dikuasai oleh kekuatan uang. Sekolah merupakan salah satu lembaga bisnis atau perusahan yang menghasilkan untung bagi para penanam modal, seperti halnya rumah sakit, laboratorium klinik, dan berbagai program medis yang ditawarkan oleh para dokter. Keberhasilan sekolah diukur oleh larisnya sekolah tersebut. Sekolah dikembangkan untuk meraih untung besar. Tidak ada lagi sekolah untuk memanusiakan manusia. Yang ada justru sekolah untuk semakin tidak memanusiakan manusia.

Begitulah adanya, kini ideologi pendidikan Ki Hajar Dewantara tidak dipraktikkan.

Tags: guruKI Hajar DewantaraOrde BaruPendidikansekolahsiswa
Share310TweetSendShareSend
Previous Post

Stop Corat-coret Seragam, Coba Ajak Siswa Tirtayatra Maraton dari Pura ke Pura

Next Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Dokumentasi, Bagasi Pikiran…

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Dokumentasi, Bagasi Pikiran...

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co