2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pancasila Sebagai Ideologi Komplit

Indra Andrianto by Indra Andrianto
February 2, 2018
in Opini

Google

SETIAP negara di dunia memiliki ideologi sebagai pedoman dalam menjalankan roda kehidupan kenegaraannya. Beragam jenis ideologi yang ada di dunia ini seperti ideologi Marxisme-Komunisme yang dianut oleh negara Rusia, China, Korea Utara bahkan Vietnam Hanya saja di Vietnam pemerintahannya saja yang menerapkan komunisme sedangkan rakyatnya kebanyakan menolak ideologi yang dicetus Karl Marx. Ideologi Liberal yang dianut oleh negara dikdaya seperti Inggris dan Amerika Serikat.

Bagaimana dengan ideologi negara kesatuan Republik Indonesia? Bangsa Indonesia memiliki pandangan hidup (way of life) dalam menjalankan sistem negaranya tentu landasannya berkaitan dengan ideologi. Ideologi bangsa Indonesia adalah Pancasila sekaligus sebagai dasar negara (fundamental) sejak kemerdekaan bangsa Indonesia tahun 1945 telah diundangkan ke dalam Undang-Undang dasar 1945 yang berdasarkan Pancasila.

Secara etimologi Pancasila mengandung dua kata “Panca” yang berarti lima, “Sila” artinya dasar/prinsip. Para ahli menyimpulkan Pancasila sebagai cerminan dari perjalanan budaya dan karakter bangsa Indonesia yang berlangsung selama berabad-abad yang lampau dalam artian ini nilai-nilai dan norma-norma  yang terkandung dalam Pancasila bukan sesuatu yang asing bagi bangsa Indonesia. Bahkan Khaelan mengatakan bahwa kata Pancasila sudah dapat dijumpai di kitab Negarakertagama. Kumpulan nilai-nilai Pancasila diyakini kebenarannya dan kemudian ditetapkan sebagai ideologi negara.

Pancasila juga sangat kental dengan nilai-nilai kebudayaan Jawa dan kemudian nilai-nilai tersebut dipengaruhi oleh masuknya agama Islam di Nusantara setelah Hindu-Buddha ada. Kelima ajaran moral tercermin dalam tradisi Islam Jawa  yang dikenal dengan “lima larangan” atau “lima pantangan” dalam kehidupan tatanan bermasyarakat Jawa yang sesungguhnya   bersifat universal, seperti larangan untuk membunuh, mencuri, berzina, minuman keras dan candu, serta larangan berjudi.

Dari penyampaian ini dapat saya simpulkan bahwa Pancasila yang sifatnya universal mengandung dan berkaitan dengan etika agama. Semua agama tentu melarang perbuatan-perbuatan yang menjadi pantangan masyarakat Jawa pada waktu itu.

Keadaan Majemuk Masyarakat Indonesia

Kondisi Masyarakat Indonesia sangatlah beragam, mulai dari agama, budaya, suku, bahasa, dan adat istiadat, sehingga dalam ideologi yang dianut harus bisa mewadahi semua aspek-aspek yang ada di dalam keberagaman negara tersebut. Pancasila yang mengandung nilai-nilai universal dalam ke lima silanya merupakan suatu solusi yang dianggap mampu menciptakan keharmonisan antar setiap perbedaan, misalnya spesifikasi dari kelima sila mulai dari sila pertama sampai ke-lima:

“Ketuhanan Yang Maha Esa”. Jika kita lihat kaidah implementasinya terdapat makna mengakui keberagaman agama, mengakui kebebasan beragama, toleransi antar umat beragama, menyayangi semua mahluk ciptaan Tuhan YME serta membantu yang lemah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pancasila tidak memberikan sekat atau membeda-bedakan kedudukan manusia di hadapan Sang Maha Kuasa sehingga masyarakat atau bangsa Indonesia tetap hidup harmonis tanpa persoalan yang memicu konflik antar horisontal atau primordial. Sila pertama merupakan roh dari keempat sila senlanjutnya.

“Kemanusian yang adil dan beradab”. kaidah implementasi yang dianjurkan oleh sila ke dua yaitu kita sebagai masyarakat yang majemuk harus menyayangi, menolong, serta bekerja sama antar sesama manusia, memberlakukan bahwa semua mahluk yang bernafas adalah sama atau dalam artian kita menghargai dan mengakui kesamaderajatan dengan aturan emas yang juga diajarkan oleh berbagai agama tentang suatu perbuatan baik.

“Persatuan Indonesia”. Pemaknaan yang harus kita jadikan pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dari sila “Persatuan Indonesia” yaitu menyatukan semua unsur yang berbeda artinya bahwa kita sebagai bangsa indonesia haruslah menjadi satu kesatuan yang utuh tanpa membedakan golongan-golongan atau memberikan sekat-sekat di antara benyaknya perbedaan yang indikasinya akan hanya menimbulkan perpecahan internal yang mengancam ketahanan nasional.

Apabila masyarkat Indonesia menghayati dan mengimplementasikan kaidah sila ketiga dengan baik dalam keseharian kita maka hubungan di antara sesama akan sangatlah sehat dalam kehidupan bersosial karena pandangan kedewasaan yang harus kita ketahui bahwa kita lahir dari rahim yang sama yaitu kita adalah anak kandung ibu pertiwi.

“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan”.  Sila keempat yang patut dijadikan suatu pegangan hidup sebagai mahluk sosial yang hidup dalam sila ke-empat yaitu bagimana kita diberikan kebebasan berkumpul dan berserikat serta menyampaikan pendapat.

Dalam hal ini keterbukaan terhadap semua keberagaman dapat menyatukan sebuah pandangan, tujuan, cita-cita dan keinganan. Biasanya ranah musyawarah dapat menjawab problematika berbangsa misalnya contoh konflik antar umat beragama yang tidak menemukan titik temu, di mana para pemuka agama yang bersiteru duduk berdampingan lalu melakukan dialog publik untuk memberikan pemahaman terhadap umat yang sedang bersiteru.

Sehingga dari hal tersebut bisa dikatakan adanya ranah musyawarah sehingga menemukan suatu kesepakatan “bahwa semua agama melarang yang namanya saling bunuh antar sesama mahluk ciptaan Tuhan”. Hal ini merupakan goal dari hasil musyawarah yang disebut mufakat.

“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Keadilan yang sosial bukan berarti sama rata sama rasa seperti yang diterapkan di negara China dan beberapa negara yang berlandaskan paham komunismenya. Muatan dalam sila kelima ini yang dimaksudkan adalah berlalku adil atau tidak membeda-bedakan dengan siapa saja kita hidup bernegara dan juga dalam hal ini kita sebagai bangsa Indonesia dianjurkan untuk bekerja sama-sama dalam artian kita menjunjung asas gotong royong.

Sehingga di antara banyak keberagaman kita dapat mempererat tali persaudaraan. Sila kelima merupakan target yang harus segera dicapai karena dampaknya belum begitu terasakan sehingga masih banyak masyarakat Indonesia yang hidup dalam garis kemiskinan sehingga kemakmuran dan kesejahteraan di negara ini belum sepenuhnya tercapai. Maka dari itu dalam sila ini diajarkan tentang kaidah implementasi bagaimana yang kuat dianjurkan membantu yang lemah dalam artian saling tolong menolong.

Alangkah begitu eloknya negeri ini jika Pancasila dipahami dan diimplementasikan dengan baik. Namun realita mengatakan sejauh ini masyarakaat kita hanya sekedar menghapal dan hanya tahu saja tentang Pancasila. Bisa kita bayangkan kita duduk di bangku sekolah dasar sampai perguruan tinggi diberlakukan pendidikan tentang Pancasila namun segelintir saja mau paham dan menjalankan sila-silanya dengan baik. Maka sesungguhnya Pancasila mengandung nilai-nilai universal yang mempunyai cita-cita baik.

Perbandingan Ideologi

Ideologi Pancasila yang merupakan ideologi negara dan dasar negara, mempumyai kedudukan penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan dasar bagi semua peraturan perundang-undangan Negara Republik Indonesia.

Selain itu, Pancasila menjadi dasar bagi perilaku aparatur negara dan pemerintah Indonesia. Sebagai sarana persatuan bangsa Indonesia, Pancasila sebagai ideologi bangsa indonesia memiliki berbagai perbedaan dengan sistem ideologi liberal dan komunis. Pancasila mengakui dan melidungi baik hak individu maupun masyaraakat baik di bidang ekonomi maupun di bidang politik dengan demikian ideologi kita mengakui secara selaras baik kolektif maupun individualisme.

Demokrasi yang di kembangkan bukan semata politik seperti ideologi komunis tapi juga ekonomi dalam sistem liberal, dasar perekonomian bukan usaha bersama dan kekeluargaan namun kebebasan individu untuk berusaha. Pancasila berfungsi sebagai pengikat seluruh bangsa dalam bidang ideologi politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan penduduk Indonesia.

Fungsi Pancasila yang demikian, menyebabkan bangsa Indonesia memerlukan keberadaan ideologi ini demi kelangsungan hidup bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia. Ideologi asing seperti Liberalis dan Komunis tidak cocok diterapkan di Indonesia karena bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. (T)

Tags: IdeologiIndonesiapancasila
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Dokumentasi, Bagasi Pikiran…

Next Post

Pertanyaan Polos Pekak Renes: Pariwisata Merawat Bali atau Menikam Bali?

Indra Andrianto

Indra Andrianto

Lahir pada tanggal 14 Maret 1995 kelahiran Bondowoso-Jatim. Saat ini menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Undiksha-Bali. Kabid Perguruan Tinggi dan Kepemudaan HMI Cabang Singaraja.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Pertanyaan Polos Pekak Renes: Pariwisata Merawat Bali atau Menikam Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co