22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pancasila Sebagai Ideologi Komplit

Indra Andrianto by Indra Andrianto
February 2, 2018
in Opini

Google

SETIAP negara di dunia memiliki ideologi sebagai pedoman dalam menjalankan roda kehidupan kenegaraannya. Beragam jenis ideologi yang ada di dunia ini seperti ideologi Marxisme-Komunisme yang dianut oleh negara Rusia, China, Korea Utara bahkan Vietnam Hanya saja di Vietnam pemerintahannya saja yang menerapkan komunisme sedangkan rakyatnya kebanyakan menolak ideologi yang dicetus Karl Marx. Ideologi Liberal yang dianut oleh negara dikdaya seperti Inggris dan Amerika Serikat.

Bagaimana dengan ideologi negara kesatuan Republik Indonesia? Bangsa Indonesia memiliki pandangan hidup (way of life) dalam menjalankan sistem negaranya tentu landasannya berkaitan dengan ideologi. Ideologi bangsa Indonesia adalah Pancasila sekaligus sebagai dasar negara (fundamental) sejak kemerdekaan bangsa Indonesia tahun 1945 telah diundangkan ke dalam Undang-Undang dasar 1945 yang berdasarkan Pancasila.

Secara etimologi Pancasila mengandung dua kata “Panca” yang berarti lima, “Sila” artinya dasar/prinsip. Para ahli menyimpulkan Pancasila sebagai cerminan dari perjalanan budaya dan karakter bangsa Indonesia yang berlangsung selama berabad-abad yang lampau dalam artian ini nilai-nilai dan norma-norma  yang terkandung dalam Pancasila bukan sesuatu yang asing bagi bangsa Indonesia. Bahkan Khaelan mengatakan bahwa kata Pancasila sudah dapat dijumpai di kitab Negarakertagama. Kumpulan nilai-nilai Pancasila diyakini kebenarannya dan kemudian ditetapkan sebagai ideologi negara.

Pancasila juga sangat kental dengan nilai-nilai kebudayaan Jawa dan kemudian nilai-nilai tersebut dipengaruhi oleh masuknya agama Islam di Nusantara setelah Hindu-Buddha ada. Kelima ajaran moral tercermin dalam tradisi Islam Jawa  yang dikenal dengan “lima larangan” atau “lima pantangan” dalam kehidupan tatanan bermasyarakat Jawa yang sesungguhnya   bersifat universal, seperti larangan untuk membunuh, mencuri, berzina, minuman keras dan candu, serta larangan berjudi.

Dari penyampaian ini dapat saya simpulkan bahwa Pancasila yang sifatnya universal mengandung dan berkaitan dengan etika agama. Semua agama tentu melarang perbuatan-perbuatan yang menjadi pantangan masyarakat Jawa pada waktu itu.

Keadaan Majemuk Masyarakat Indonesia

Kondisi Masyarakat Indonesia sangatlah beragam, mulai dari agama, budaya, suku, bahasa, dan adat istiadat, sehingga dalam ideologi yang dianut harus bisa mewadahi semua aspek-aspek yang ada di dalam keberagaman negara tersebut. Pancasila yang mengandung nilai-nilai universal dalam ke lima silanya merupakan suatu solusi yang dianggap mampu menciptakan keharmonisan antar setiap perbedaan, misalnya spesifikasi dari kelima sila mulai dari sila pertama sampai ke-lima:

“Ketuhanan Yang Maha Esa”. Jika kita lihat kaidah implementasinya terdapat makna mengakui keberagaman agama, mengakui kebebasan beragama, toleransi antar umat beragama, menyayangi semua mahluk ciptaan Tuhan YME serta membantu yang lemah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Pancasila tidak memberikan sekat atau membeda-bedakan kedudukan manusia di hadapan Sang Maha Kuasa sehingga masyarakat atau bangsa Indonesia tetap hidup harmonis tanpa persoalan yang memicu konflik antar horisontal atau primordial. Sila pertama merupakan roh dari keempat sila senlanjutnya.

“Kemanusian yang adil dan beradab”. kaidah implementasi yang dianjurkan oleh sila ke dua yaitu kita sebagai masyarakat yang majemuk harus menyayangi, menolong, serta bekerja sama antar sesama manusia, memberlakukan bahwa semua mahluk yang bernafas adalah sama atau dalam artian kita menghargai dan mengakui kesamaderajatan dengan aturan emas yang juga diajarkan oleh berbagai agama tentang suatu perbuatan baik.

“Persatuan Indonesia”. Pemaknaan yang harus kita jadikan pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dari sila “Persatuan Indonesia” yaitu menyatukan semua unsur yang berbeda artinya bahwa kita sebagai bangsa indonesia haruslah menjadi satu kesatuan yang utuh tanpa membedakan golongan-golongan atau memberikan sekat-sekat di antara benyaknya perbedaan yang indikasinya akan hanya menimbulkan perpecahan internal yang mengancam ketahanan nasional.

Apabila masyarkat Indonesia menghayati dan mengimplementasikan kaidah sila ketiga dengan baik dalam keseharian kita maka hubungan di antara sesama akan sangatlah sehat dalam kehidupan bersosial karena pandangan kedewasaan yang harus kita ketahui bahwa kita lahir dari rahim yang sama yaitu kita adalah anak kandung ibu pertiwi.

“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan”.  Sila keempat yang patut dijadikan suatu pegangan hidup sebagai mahluk sosial yang hidup dalam sila ke-empat yaitu bagimana kita diberikan kebebasan berkumpul dan berserikat serta menyampaikan pendapat.

Dalam hal ini keterbukaan terhadap semua keberagaman dapat menyatukan sebuah pandangan, tujuan, cita-cita dan keinganan. Biasanya ranah musyawarah dapat menjawab problematika berbangsa misalnya contoh konflik antar umat beragama yang tidak menemukan titik temu, di mana para pemuka agama yang bersiteru duduk berdampingan lalu melakukan dialog publik untuk memberikan pemahaman terhadap umat yang sedang bersiteru.

Sehingga dari hal tersebut bisa dikatakan adanya ranah musyawarah sehingga menemukan suatu kesepakatan “bahwa semua agama melarang yang namanya saling bunuh antar sesama mahluk ciptaan Tuhan”. Hal ini merupakan goal dari hasil musyawarah yang disebut mufakat.

“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Keadilan yang sosial bukan berarti sama rata sama rasa seperti yang diterapkan di negara China dan beberapa negara yang berlandaskan paham komunismenya. Muatan dalam sila kelima ini yang dimaksudkan adalah berlalku adil atau tidak membeda-bedakan dengan siapa saja kita hidup bernegara dan juga dalam hal ini kita sebagai bangsa Indonesia dianjurkan untuk bekerja sama-sama dalam artian kita menjunjung asas gotong royong.

Sehingga di antara banyak keberagaman kita dapat mempererat tali persaudaraan. Sila kelima merupakan target yang harus segera dicapai karena dampaknya belum begitu terasakan sehingga masih banyak masyarakat Indonesia yang hidup dalam garis kemiskinan sehingga kemakmuran dan kesejahteraan di negara ini belum sepenuhnya tercapai. Maka dari itu dalam sila ini diajarkan tentang kaidah implementasi bagaimana yang kuat dianjurkan membantu yang lemah dalam artian saling tolong menolong.

Alangkah begitu eloknya negeri ini jika Pancasila dipahami dan diimplementasikan dengan baik. Namun realita mengatakan sejauh ini masyarakaat kita hanya sekedar menghapal dan hanya tahu saja tentang Pancasila. Bisa kita bayangkan kita duduk di bangku sekolah dasar sampai perguruan tinggi diberlakukan pendidikan tentang Pancasila namun segelintir saja mau paham dan menjalankan sila-silanya dengan baik. Maka sesungguhnya Pancasila mengandung nilai-nilai universal yang mempunyai cita-cita baik.

Perbandingan Ideologi

Ideologi Pancasila yang merupakan ideologi negara dan dasar negara, mempumyai kedudukan penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan dasar bagi semua peraturan perundang-undangan Negara Republik Indonesia.

Selain itu, Pancasila menjadi dasar bagi perilaku aparatur negara dan pemerintah Indonesia. Sebagai sarana persatuan bangsa Indonesia, Pancasila sebagai ideologi bangsa indonesia memiliki berbagai perbedaan dengan sistem ideologi liberal dan komunis. Pancasila mengakui dan melidungi baik hak individu maupun masyaraakat baik di bidang ekonomi maupun di bidang politik dengan demikian ideologi kita mengakui secara selaras baik kolektif maupun individualisme.

Demokrasi yang di kembangkan bukan semata politik seperti ideologi komunis tapi juga ekonomi dalam sistem liberal, dasar perekonomian bukan usaha bersama dan kekeluargaan namun kebebasan individu untuk berusaha. Pancasila berfungsi sebagai pengikat seluruh bangsa dalam bidang ideologi politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan penduduk Indonesia.

Fungsi Pancasila yang demikian, menyebabkan bangsa Indonesia memerlukan keberadaan ideologi ini demi kelangsungan hidup bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia. Ideologi asing seperti Liberalis dan Komunis tidak cocok diterapkan di Indonesia karena bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. (T)

Tags: IdeologiIndonesiapancasila
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Kecil Putu Wijaya: Dokumentasi, Bagasi Pikiran…

Next Post

Pertanyaan Polos Pekak Renes: Pariwisata Merawat Bali atau Menikam Bali?

Indra Andrianto

Indra Andrianto

Lahir pada tanggal 14 Maret 1995 kelahiran Bondowoso-Jatim. Saat ini menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Undiksha-Bali. Kabid Perguruan Tinggi dan Kepemudaan HMI Cabang Singaraja.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Pertanyaan Polos Pekak Renes: Pariwisata Merawat Bali atau Menikam Bali?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co