12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi Ada di Mana-mana – Catatan Festival Puisi Bangkalan 2

Muzammil Frasdia by Muzammil Frasdia
February 2, 2018
in Khas

Foto-foto: Muzammil Frasdia

JUMAT 14 April 2017, tepat pukul 14.00 wib, Gedung Pendopo Pratanu menjadi saksi perayaan Festival Puisi Bangkalan 2. Para tamu yang terdiri dari penyair, siswa, guru, mahasiswa, dan sejumlah Pejabat Kab. Bangkalan hilir bergantian memenuhi kursi-kursi yang disediakan panitia.

Sementara panggung utama yang dilatari banner besar warna oranye bertuliskan “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata”, sisi sekelilingnya diapit gambar-gambar banner dan stan puisi penyair. Fantastik. Lalu dibukalah acara pembukaan FPB 2 oleh MC berparas kostum rapi, dengan senyum gagah ia sambut khalayak yang berkumpul di pelataran gedung, sambil memandu rangkaian acara yang dibacakan.

Sebuah musikalisasi puisi berjudul “Perempuan-Perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andang Jaya oleh Sanggar Pelangi tampil sebagai menu pembukaan FPB 2.  Disusul tampilan kèjhung puisi berjudul “Akor Apolong (rukun berkumpul)” karya Anwar Sadat dari Sanggar Kopi Lembah Arosbaya, seolah hadirin (para tamu) benar-benar sedang memasuki hamparan suasana alam bumi Madura yang seutuhnya.

Dihadiri ketua DPRD, KPUD  Bangkalan, dan sejumlah pejabat tinggi di lingkungan Pemkab Bangkalan, serasa momentum gelaran sastra bertajuk “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata” sempurna di segala harapan. Sejumlah apresiasi sambutan meriah tak terbendung, terlontar dari sejumlah tokoh yang kala itu hadir.

Instalasi Puisi

Di penutup acara pembukaan FPB 2, lagi-lagi penonton dibuat takjub oleh suguhan tampilan musikalisasi puisi berjudul “Madura, Akulah Darahmu” karya D. Zawawi Imron dari Sanggar Kisah Cinta SMK Negeri 1 Bangkalan.  Setelah acara ditutup doa, MC tak memperkenankan tamu lekas meninggalkan gedung. Mereka diarahkan dan dipandu keliling area untuk menikmati wisata instalasi puisi.

Instalasi Puisi

Wisata Instalasi puisi ini terbagi dua kriteria.

Pertama, Instalasi puisi umum.  Di mana, kita disuguhkan pada pemandangan yang tak lazim, tapi menarik. Puisi diekspresikan ke dalam benda-benda seperti batu, botol, pintu, atau barang bekas lain yang kemudian memunculkan esensi ruang imajinasi bagi penikmat. Tidak seperti pada umumnya, puisi diketik atau ditulis pada selembar kertas, dipublikasikan di facebook, blog, tweeter, dsb. Beragam ekspresi dapat kita temui langsung bagaimana puisi diperlakukan istimewa. Sehingga nilai yang tertangkap dari benda-benda tersebut memiliki kesan penuh makna.

Kedua, Instalasi puisi individu. Kreasi stan puisi yang beraneka ragam dari 23 penyair Bangkalan, adalah bentuk pemvisualan karakter masing-masing penyair bersama buku antologi puisi yang dipamerkan.

Puisi Ada di Mana-mana

Malam harinya, acara bertajuk “Mancing Sastra” dengan menghadirkan sastrawan Tia Setiadi (Yogyakarta) dan Iman Budhi Santosa (Yogyakarta) kian menyemangati animo peserta yang mayoritas didominasi Mahasiswa dari berbagai kampus di Bangkalan.

Dalam penyampaiannya, Pak Iman Budhi Santosa menjelaskan: “Belajar menulis puisi harus perhatikan makna. Jangan main-main. Harus tahu apa yang ingin disampaikan dan bagaimana menyampaikannya.”

Ia lanjutkan lagi, “Menghargai puisi sebetulnya menghargai manusia. Puisi bagian dari kebudayaan peradaban. Puisi tidak hanya bisa mengambil, meniru. Kita tidak bisa mencipta. Puisi sesungguhnya ada di mana-mana. Kita hanya bisa memungut dari sekeliling,” imbuhnya lagi.

Satu sisi beliau juga meluruskan ihwal karya sastra yang gagal dimuat di sebuah antologi puisi atau koran. Apa pun wujudnya, karya tetaplah karya dari hasil intuisi penyair. Dan di akhir pembahasan, Pak Iman Budhi Santosa menyisipkan kalimat yang cukup intuitif: “Saat dia menjadi penyair, saat itulah dia menjadi dirinya sendiri,” tuturnya menggairahkan peserta semangat menulis.

Tia Setiadi dan Iman Budhi Santosa

Sedangkan Tia Setiadi yang sejak awal selalu tampak berpenampilan segar dan murah senyum meladeni peserta, dalam pemaparannya, juga tak kalah heboh memberi umpan pancingan tentang puisi. Jiwa muda yang dimiliki Tia Setiadi tampak paham betul pada skema kebutuhan komunikasi yang digandrungi peserta. Ia lebih menggunakan teknik analogi cerita penggambaran terhadap konsep sebuah proses menulis puisi.

Wisata puisi

Sabtu siang di tempat Penginapan penyair Nusantara. Setelah paginya jalan-jalan menyusuri udara pagi Kota Bangkalan. Mereka (para penyair dari berbagai kota) turut andil mengambil momen FPB 2 dengan gelaran ngumpul bersama di Pendapa Pusdiklat.  Obrolan renyah, santai, dan tidak pernah lepas dari kopi, tampak mewarnai sisi yang lain dari meriahnya FPB 2 tahun ini.

Sesekali dalam suasana keakraban tersebut, mereka isi dengan apresiasi baca puisi secara bergiliran membaca. Mereka, nama saya sebut adalah Sofyan RH. Zaid (Sumenep/Bekasi), Gemi Mohawk (Jakarta), W Haryanto (Blitar), Kim Al Ghazali (Bali), Suyitno Ethex (Mojokerto), Abidin Wakur (Makassar), L Surajiya (Kulonprogo), Puput Amiranti (Blitar), Mahendra (Sumenep), Alfa Anisa (Blitar), Hermin Setyoningsih (Magetan),  Moh. Gufron Cholid (Sampang), Rakai Lukman (Gresik), Sugik Muhammad Sahar (Pamekasan), Ahmad Subki (Bangkalan), Rosi Praditya (Sampang), Zammil Hamzah (Sumenep), Masdon O (Sumenep).

Pembacaan Puisi

Jauh-jauh meluangkan waktu hadir ke FPB 2, sepertinya tak cukup hanya dengan duduk diskusi dan menikmati tampilan-tampilan yang disuguhkan dalam acara. Para penyair dipandu panitia mengunjungi tempat-tempat wisata religi di Bangkalan yang menyimpan nilai kultur sejarah.

Kunjungan pertama, yakni bertamu ziarah ke Makam Syaikhona Kholil. Seorang Ulama Besar Karismatik di Pulau Madura yang juga dikenal sebagai Waliyullah. Sedangkan kunjungan kedua, ke Pesarean Aer Mata Ebu “air mata ibu” di Arosbaya. Lokasinya sekitar 25 km arah utara kota Bangkalan. Di mana tempat tersebut merupakan kediaman makam silsilah keluarga raja-raja di Madura.

Tibalah pada Malam Puncak Perayaan Festival Puisi Bangkalan 2, sekaligus diluncurkannya buku Antologi Puisi Nusantara “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata”,  di dalamnya memuat 100 penyair yang lolos seleksi karya terpilih oleh Dewan Kurator.

Para peserta, penyair, masyarakat, dan beberapa tokoh petinggi di Bangkalan kembali berkumpul di Gedung Pratanu (Pendopo II) Bangkalan menghabiskan suasana malam puncak gelaran FPB 2. Pak Iman Budhi Santosa dan Tia Setiadi dalam suasana kemeriahan tersebut hadir duduk menyaksikan berbagai suguhan tampilan yang ada.

Sebelum menginjak pada acara inti Launching Buku Antologi Puisi Nusantara, sambutan dewan kurator yang kala itu diwakili oleh sastrawan Bangkalan M. Helmy Prasetya, beliau tak urung mengungkapkan rasa terima kasih kepada para penyair dari berbagai kota yang telah hadir mengapresiasi gelaran FPB 2 secara luar biasa. Sehingga pada kepentingan itu pula, Bangkalan, di mata publik sastra patut diperhitungkan eksistensinya dalam membangun iklim sastra yang maju, yang bergerak di suatu wilayah kecil di Madura.

Tampilan musikalisasi puisi dari Sanggar Mutiara berjudul “Gerimis Pagi” karya Lennon Machali dan pertunjukan teater berjudul “Tubuh Hilang” karya dan Sutradara Soul Esto dan Aulina Umaza dari SENDRATASIK UNESA tampil menghangati suasana pra acara serunya malam puncak perayaaan gelaran FPB 2.

Di bagian yang tak kalah memukau dari tampilan musikalisasi dan teater, adalah kehebohan parade baca puisi oleh para penyair Nusantara yang secara bergiliran membacakan puisinya. Tidak tanggung-tanggung, salah seorang penyair bernama Rosi Praditya (Sampang Madura) rela membuka bajunya hanya demi tuntutan totalitas diri dalam mengapresiasi baca puisi. Darinya, penonton sontak menggemuruh dan aplaus untuk penyair Rosi Praditya dari Sampang.

Di menu penutup rangkaian acara malam puncak FPB 2, sesi diskusi membahas kelahiran Buku Antologi Puisi Nusantara “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata” memperkenankan tiga sastrawan ditunjuk sebagai pembicara. Mereka: W Haryanto (Blitar), Gemi Mohawk (Jakarta), dan Sofyan RH. Zaid (Sumenep/Bekasi).

Ketiganya saling sambung beri penjelasan yang variatif tentang kehadiran buku Antologi Puisi Nusantara “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata” yang diterbitkan oleh Penerbit Komunitas Masyarakat lumpur. Dari W Haryanto, beliau memaparkan tentang sejarah peta pergerakan sastra dan karya sastra Jawa Timur, kemudian pentingnya dibuatkan sebuah pusat dokumentasi karya di setiap wilayah.

Gemi Mohawk dalam tuturannya menyarankan pentingnya ke-istiqomah-an diri dalam menulis puisi. Sedangkan Sofyan RH. Zaid, bicara kaitan tentang proses kreatif, ia mengingatkan pada sebuah prinsip orang Madura:” “Cong, jâ’ pangghâmpang makaluaran sadhâ’ dâri sarongah, tapè bile arè’ jiya èpakaluar dâri bâddhâna, haram èpamaso’ polè mon tadâ dârâ” (jangan mudah mengeluarkan celurit dari sarungnya, tapi kalau celurit itu sudah keluar, haram dimasukkan kembali kalau tidak ada darah).

Hubungannya dengan proses kreatif adalah kita sebagai pekerja teater, puisi, esai, dll, jangan sesekali mengeluarkan sebuah karya, kalau karya itu tidak bisa melukai. Lebih baik kita tidak produktif daripada produktif mengeluarkan banyak karya tapi tidak melukai.” Begitulah diskusi anteng digelar hingga berakhir sekitar pukul 00.15 wib.

Pada wacananya, gelaran festival sastra ini adalah agenda program tahunan yang diselenggarakan oleh Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan. Setelah sebelumnya festival yang pertama sukses berlangsung pada bulan Mei tahun 2016 yang lalu. Dan tahun depan akan berjumpa pada gelaran perayaan Festival Puisi Bangkalan 3. (T)

Bangkalan, 22 April 2017

 

Tags: BangkalanfestivalMaduraPuisi
Share74TweetSendShareSend
Previous Post

Berlayar Bersama Cerita Cinta hingga Gelinjang Seksualitas

Next Post

Tak Hanya dengan Mata – Pengantar Buku Bianglala, Cerpen Anak-anak Muda Berkebutuhan Khusus

Muzammil Frasdia

Muzammil Frasdia

Anak muda Bangkalan ini menjadi guru di SDN Ra’as Kecamatan Klampis Kabupaten Bangkalan. Aktif mengelola Komunitas Masyarakat Lumpur. Sedang giat-giatnya bersastra dan berteater. Pernah pentas di dua tempat dalam selang waktu sehari di Mataram dan Bandung, tahun 2012. Dia bisa ditemui di frasdia@gmail.com

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post

Tak Hanya dengan Mata – Pengantar Buku Bianglala, Cerpen Anak-anak Muda Berkebutuhan Khusus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co