15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Hanya dengan Mata – Pengantar Buku Bianglala, Cerpen Anak-anak Muda Berkebutuhan Khusus

Dhenok Kristianti by Dhenok Kristianti
February 2, 2018
in Ulasan

MENIKMATI cerpen-cerpen karya anak-anak muda berkebutuhan khusus dalam buku ini, tidak cukup hanya dengan kekuatan mata. Pembaca perlu melibatkan hati/perasaan untuk menggali ‘mutiara-muiara’ yang terserak dalam banyak cerpen. Mengapa? Sebab nampaknya berbagai hal ingin disampaikan oleh para penulis, dan hampir semuanya berkaitan dengan nilai-nilai kemasyarakatan, kemanusiaan, dan hubungan antar sesama yang semestinya disikapi dengan kejernihan nurani.

Melibatkan hati dalam membaca cerpen, pada dasarnya sejalan dengan tujuan penciptaan karya sastra itu sendiri, yang menurut Rene Wellek & Austin Warren, berfungsi mendewasakan dan menghibur para pembaca. Dalam pengertian ini, kata ‘menghibur’ tentu bukan berarti ‘membuat gembira’, sebab banyak karya sastra yang justru sangat mengharukan, bahkan tidak sedikit yang membuat para pembaca menitikkan air mata. Pada konteks karya sastra, lebih tepat definisi ‘menghibur’ dimaknai sebagai kemampuan karya sastra dalam mengembangkan imajinasi pembaca, sehingga perasaan pembaca ikut ‘terseret’ sepanjang alur cerita, bahkan mampu ikut merasakan suka duka yang dialami oleh tokoh kisahan.

Pendeknya, karya yang dibaca meninggalkan kesan mendalam pada diri pembaca.

Para penulis cerpen dalam buku ini nampaknya menyadari benar bahwa fungsi sastra adalah mendewasakan, sehingga sebagian besar cerpen-cerpen yang termaktub mengandung muatan ‘mendidik’. Ambil contoh cerpen berjudul “Maafkan Ayah, Adit” yang mengisahkan penyesalan seorang ayah karena telah mengeksploitasi anaknya. Penyesalan itu dikemukakan secara verbal sebagai berikut:

Oh, maafkan Ayah, Adit, anakku. Tak seharusnya beban pekerjaanku kulampiaskan padamu. Di usiamu yang sekarang kau hanya harus memikirkan sekolah, bukan bebanku. Itulah hakmu. Kau adalah tanggung jawabku saat ini agar menjadi anak yang berguna kelak.

Dari ucapan tokoh Ayah di atas, nampak penulis (Agung Mayun Juliawan) menyampaikan prinsip hidup yang menjadi pesan moral dalam cerpen ini. Tentulah penulis memiliki harapan agar pesan tersebut ‘sampai’ kepada pembaca dan menjadi rhema yang menyadarkan serta semakin mendewasakan kepribadian.

Tendensi untuk mendidik pembaca juga nampak dalam cerpen besutan Ayu Wandari berjudul “The Second of My World” yang mengangkat cerita tentang cita-cita seorang gadis yang penuh pandangan mulia tentang sesamanya. Tokoh utamanya dibuat memiliki kepribadian sempurna yang sedemikian peduli pada sesama yang membutuhkan uluran tangan.

Bagai tersambar petir ketika aku melihat mereka. Aku seperti berada di dunia lain, dunia yang sama sekali berbeda dari duniaku sehari-hari. Tak kuasa kutahan, tangis ini pun pecah membanjiri perasaanku dengan rasa iba.

Melihat mereka yang berjuang untuk hidup dengan segala keterbatasan yang mereka miliki. Melihat para guru yang berusaha memberikan warna dan semangat dalam hidup anak-anak itu agar mereka dapat menikmati sisi lain dari diri mereka selama ini. Sungguh luar biasa.

Aku kini sudah tahu apa yang aku ingini. Aku segera menghubungi ayah dan mengatakan bahwa aku sudah menemukan apa yang ingin aku lakukan. Aku memutuskan untuk mengambil jurusan PLB.

Kutipan di atas menunjukkan motivasi penulisnya untuk ‘mempengaruhi’ pandangan pembaca tentang kemuliaan hidup yang layak digapai, meskipun harus mengorbankan sesuatu yang berharga. Dalam cerpen, tokoh utama memilih jalan sunyi dengan mengambil jurusan PLB dengan mengabaikan kesempatan masuk perguruan tinggi yang prestisius lewat jalur undangan.

Serupa dengan Ayu Wandari dan Agung Mayun, Aditya Putra Pidada juga memiliki tendensi kuat dalam menyampaikan pesan moral. Bedanya, dalam cerpen berjudul “Jana”, pesan yang disampaikan Aditya tidak semata-mata dalam bentuk verbal, tetapi melebur dalam alur. Pada cerpen ini, pembaca harus menggali sendiri nilai-nilai yang ditawarkan oleh penulis. Melalui kontras penokohan antara Jana-Yanti dan Pak Karyo pembaca diperhadapkan pada persoalan cinta sejati dan dorongan nafsu. Tentu saja penulis ingin menyatakan bahwa cinta sejati tidak mudah digoyahkan oleh situasi buruk, sementara cinta yang tumbuh karena dorongan nafsu tidak memiliki akar yang kuat. Gampang roboh dan sirna hanya oleh situasi yang tak diinginkan.

“Jika seperti ini, aku membatalkan pernikahan, ” ucap Pak Karyo marah sekaligus kecewa.

Namun Yanti kembali menanyakan untuk meyakinkan keputusan Pak Karyo menikahinya. Dikarenakan ada pula cinta yang tak mengenal rupa atau keadaan fisik saja. Dikarenakan bunga suatu hari dapat layu, begitu pula janji siang terhadap malam.

“Aku mencintaimu apa adanya. Seperti pertama aku melihat binar di matamu. Dan aku tahu dimana harus aku labuhkan pelayaranku hingga ujung senja,” ucap Jana mantap.

Begitulah, cerpen-cerpen dalam buku ini sarat akan pesan moral yang mengajak pembaca lebih mengutamakan nilai-nilai luhur kehidupan. Dari sisi tersebut, buku ini dapat dikatakan memiliki keunggulan yang pantas dipelajari. Barangkali satu hal yang masih perlu ditingkatkan oleh beberapa penulis dalam buku ini adalah bagaimana menggarap alur cerita, sehingga fungsi karya sastra yang kedua yaitu ‘menghibur’ (‘mengesankan’ dalam istilah saya), juga dapat dicapai selain soal kandungan nilai moral. Memang, ada kalanya penulis yang terlalu fokus untuk memenuhi tuntutan ‘mendewasakan pembaca’, seringkali kedodoran dalam menggarap alur.

Demikian juga sebaliknya, yang hanya mementingkan alur cerita, seringkali melupakan unsur mendewasakan. Ambil contoh cerpen karya Arizandi berjudul “Perempuan Berbaju Merah”, alurnya cukup menggelitik dan membuat pembaca penasaran. Klimaks cerita juga diperhitungkan, sehingga imajinasi dan perasaan pembaca berkembang seiring berjalannya alur cerita. Sayang sekali, setelah selesai membaca seluruh cerpen ini, pembaca tidak mendapatkan pesan moral atau nilai-nilai kehidupan yang cukup berarti bagi pendewasaan kepribadian.

Akhirnya aku lemas dan terjatuh tak sadarkan diri. Saat tersadar ternyata aku telah berada di kamar. Kejadian yang baru saja tadi terjadi rupanya hanyalah mimpi burukku. Kulihat jam dinding masih berada pada pukul setengah dua pagi. Badanku yang baru saja tersadar dari mimpiku tadi terasa lemas dan bajuku pun basah oleh keringat.

Kutipan pada akhir cerpen “Perempuan Berbaju Merah”, menginformasikan bahwa seluruh cerita menegangkan tersebut ternyata hanya mimpi buruk. Pembaca dipuaskan oleh alur cerita yang menggarap topping dan dropping dengan baik, namun tidak memperoleh ‘makanan’ bagi batin.

Cerpen yang dalam buku ini memenuhi secara lengkap fungsi karya sastra (‘mendewasakan’ dan ‘menghibur’/’mengesankan’) antara lain adalah karya Didon Kajeng berjudul “Indigo”. Cerpen ini cukup mengesankan sebab alurnya tertata dengan baik, pilihan kata terjaga, dan kalimat terstruktur. Perasaan pembaca pasang-surut mengikuti alur cerita dan dapat menggali lebih dalam pesan moral yang disampaikan penulis, yaitu tentang ikatan batin dan kasih sayang yang mendalam antara seorang anak dengan ayahnya. Cinta sejati yang mengatasi dimensi waktu dan tempat, mengental dalam cerpen ini.

Aku melayang-layang, tubuhku terasa ringan, kusadari aku telah masuk dimensi lain, kulihat penumpang lain tampak wajah-wajah bingung. Aahh, teringat aku pada Aurum, saat itu juga tiba-tiba aku sudah berada di samping Aurum.

Dia sedang berbaring di tempat tidur memandang kepadaku, “Jangan tinggalkan Aurum, Pa, Aurum sayang sama Papa!”

“Tidak, Nak, Papa tidak akan meninggalkanmu, Papa akan selalu menjagamu.”

Melalui kutipan di atas, penulis menyampaikan pesan bahwa kasih sayang sejati antara anak dan orang tua tak dapat dipisahkan, bahkan oleh kematian. Yang membuat cerpen ini mengesankan, Didon Kajeng berhasil menyampaikan pesan secara lembut, tersamar, tidak verbal, dan tidak menggurui pembaca. Membaca cerpen ini, imajinasi dan interpretasi pembaca bebas berkelana, memasuki ruang-ruang dalam si tokoh cerita, Aurum dan Papa.

Demikian beberapa hal yang menjadi catatan mengiringi terbitnya buku kumpulan cerpen ini. Berbagai persoalan manusia disingkapkan oleh para penulis muda yang secara fisik memiliki keterbatasan. Tentu hal ini menambah nilai plus dalam karya-karya mereka, sebab ternyata mereka pun ‘membaca’ persoalan-persoalan yang dihadapi manusia, dan… mereka menuliskan pandangan-pandangan yang indah dalam bentuk karya sastra. Agaknya, mereka sudah sampai pada taraf ‘membaca kehidupan’ tak cukup hanya dengan mata! (T)

Tangerang, awal tahun 2017

Tags: anak-anak berkebutuhan khususBukuCerpenkumpulan cerpenresensi
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi Ada di Mana-mana – Catatan Festival Puisi Bangkalan 2

Next Post

Juru Kunci yang Selalu Dikenang – Tentang Bali United, Mbah Maridjan, hingga Wajeeh

Dhenok Kristianti

Dhenok Kristianti

Sastrawan, kini bermukim di Jakarta

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Juru Kunci yang Selalu Dikenang – Tentang Bali United, Mbah Maridjan, hingga Wajeeh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co