3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berlayar Bersama Cerita Cinta hingga Gelinjang Seksualitas

Made Sugianto by Made Sugianto
February 2, 2018
in Ulasan

LAYAR merupakan antologi cerpen perdana karya Gayatri Mantra. Ketua STKIP Agama Hindu Amlapura, Karangasem, Bali ini menyuguhkan 20 cerpen yang benang merahnya tentang derita cinta, kekerasan, dan seksualitas.

Tema seksualitas yang diangkat adalah lintas gender dan soal fetisisme (fantasi seks) yang mengikutinya. Orientasi seksualitas yang diulas juga beragam, ada yang jatuh cinta pada sesama, incest, heteroseksual, pedofilia, bahkan mengarah pada benda (celana dalam, hak sepatu dan lain sebagainya).

Dalam menuangkan ide-idenya, doktor kajian budaya Universitas Udayana ini menggunakan bahasa yang lugas. Langsung menyodok tanpa harus mengupas makna kata yang dirangkainya.

Cerita ‘Purusa’ misalnya, penulis menohok seorang anggota parlemen terhormat. Widura, anggota parlemen itu telah melakukan kekerasan seksual terhadap Maya, perempuan yang kemudian ia sebut pelacur. Saat berdebat dengan kawannya sesama anggota dewan, Widura malah menuduh benih di rahim Maya adalah milik seribu lelaki. Bahkan Widura menyebut perempuan itu tak lebih seperti properti. Meski menang bersilat lidah dengan rekannya sesama anggota dewan, bhatin Widura tetap tertekan atas perbuatannya bersama perempuan yang ia sebut pelacur.

‘Gaun Merah di Ujung Malam’, menceritakan kisah cinta beserta keganjilan yang dialami Miss Poleska. Gadis desa uang berjuang perbaiki perekonomian keluarga. Ia begitu juga anak-anak di kampungnya selalu bermimpi menjadi penjaga toko dan karyawan hotel. Ia pergi ke kota dan kehidupannya berubah.

Ia yang dulu lugu, tak pernah bersolek, akrab dengan bau kotoran sapi dan kuda menjadi perempuan liar, pandai berdandan, dan tubuhnya wangi parfum. Jika dulu ia berdendang di hutan cari kayu bakar, kini ia bernyanyi di pub dan diskotik. Meski hanya sebagai lips singer, pengunjung hiburan malam tak mempermasalahkannya. Mereka tergila-gila pada Miss Poleska bukan lantaran suaranya, tapi energi dan keliaran perempuan itu di ranjang.

Sebagai perempuan, Miss Poleska juga punya hati dan cinta. Ia menemukan cinta sejati pada anak sekolahan yang malam itu ingin belajar bercinta. Simak ringkasan ceritanya:

“Mengapa kau kemari? Tahukah kau? Tempat ini tak pantas untukmu. Tidak punya kekasih? Sayang sekali! Lelaki muda setampan kau harusnya memiliki seorang kekasih yang bisa kau ajak tidur. Tapi kau masih anak-anak.”

Lelaki muda itu terdiam dan menundukkan kepalanya.

“Punya uang? Dari orangtuamu? Harusnya kau belajar atau  tidur di rumah saja. Simpan uangmu! Mungkin kau perlukan untuk sekolah,” bisik Miss Poleska di belakang telinga lelaki itu.

“Ehm…. Aku punya seseorang”.

“Perempuan? Apa masalahmu?”

“Ehm… Kau tahu?! Ehm… Aku tak pernah melakukannya. Ehm… Aku tak tahu caranya. Ehm… Aku takut!”

“Hamil? Bodoh sekali, kau kan bisa pakai kontrasepsi!”

“Ehm… Aku malu….. Aku takut….. Aku tak mampu…. ehm.. Temanku yang mengajakku kemari. Ehm… Ia juga yang memberiku uang…”

“Begitukah?! Anak bodoh! Tapi, kau cukup tampan. Mari dekatlah padaku! Kau dan aku tak ada beda. Yang kau lihat, tak seperti yang kau duga. Aku akan mengajarimu. Simpan uangmu itu. Aku akan memberikanmu sesuatu yang akan kau kenang selama hidupmu,” desah Miss Poleska sambil mencumbui batang leher pemuda itu. Tubuh pemuda itu bergetar dan berkeringat.

Miss Poleska jatuh cinta. Menatap anak muda itu, letihnya menguap bersama asap tembakaunya. Ia melucuti pakaian anak muda itu dan mengajarinya bagaimana cara tidur tanpa rasa cemas. Miss Poleska, seperti seorang ibu menidurkan pemuda itu hingga tertidur puas dan pulas. Begitulah setiap akhir pekan, Miss Poleska berkencan dengan kekasih mudanya. Namun cinta itu akhirnya kandas, sang pemuda setamat kuliah ia memilih Maya dan ingin menjalani hidup normal.

***

Penulis juga menyuguhkan cinta dan tragedi pada cerita ‘Layar’ yang juga dipilih jadi judul antologi perdananya. Penulis mengisahkan kehidupan nelayan Supena dan istrinya, Karti. Seharusnya Supena berbahagia setelah mengetahui istrinya berbadan dua. Namun justru istrinya berikan kabar duka. Karti berterus terang, janin yang ada dalam kandungannya bukan hasil karya Supena, melainkan Jaka, yang sama-sama berprofesi sebagai nelayan. Kejujuran Karti membuat hati Supena hancur. Supena yang emosi kemudian menceraikan Jaka dari tubuh dan jiwanya.

Kematian Jaka menyisakan raungan kepedihan bagi Karti. Jaka adalah ayah biologis dari janinnya sementara Supena adalah suami dan pelabuhan hatinya. Karti merasakan betapa dunia telah menenggelamkannya pada kesedihan yang mendalam. Tubuh Karti menggigil melihat polisi membawa suaminya dan memasukkan mayat Jaka ke dalam kantung hitam. Karti tak tahu apa yang harus dilakukannya. Supena tak mungkin membantunya dan Jaka telah mati.

Karti tak punya pilihan. Setelah melahirkan dan menitipkan anaknya di kampung, ia pergi ke kota. Bekerja sebagai penjaga kafe dekat pelabuhan. Di antara kerlap kerlip temaram lampu, Karti menghibur para ABK. Sementara Supena dikisahkan harus dilayar ke penjara lainnya karena membunuh nara pidana lainnya. Supena jadi sadis dan punya kelainan seksual, seorang bocah menjadi keganasan nafsu birahinya.

Dari 20 cerita yang disuguhkan, Gayatri Mantra yang seorang dosen tampaknya menyelipkan pesan pendidikan pada karyanya. Pesan terselubung itu justru menjadi kekuatan dalam buku ini. Secara garis besar tertangkap pesan seksualitas adalah hak dasar yang bersifat manusiawi.

Pendidikan seksualitas penting untuk memahami peradaban manusia yang paling fundamental untuk melihat sisi terdalam manusia yang utuh sebagai diri.

Sementara wacana gender yang dibangun bukan soal laki dan perempuan di ranah karir vs domestik saja. Tapi soal orientasi diri sebagai laki atau perempuan terhadap pilihan-pilihan hidupnya. Ada kegelisahan dan bahan tanya seputar cinta, perempuan, laki, bencong, trasgender, hingga transeksual. Hal itu tergambar pada cerpen berjudul ‘Wanita Sejati’. Seorang anak hasil adopsi semula percaya bahwa ibu angkatnya adalah wanita tulen. Ia tak menghiraukan cibiran teman sekolahnya yang menyebut ibu asuhnya bencong.

Saking sering diejek, ia pun meminta ibu angkatnya membuktikan diri sebagai perempuan. Ibu yang menyayangi anak angkatnya ini tentu memenuhi keinginan putranya. Hingga sang anak percaya, bahwa ibu angkatnya sama dengan ibu-ibu yang lain. Punya payudara hingga vagina. Setelah dewasa, tokoh Aku akhirnya tahu dan mengerti. Ibu angkatnya adalah seorang transeksual, waria yang telah operasi kelamin.

Tema fantasi seks dilukiskan dalam cerpen ‘Ray dan Sebentuk Wajah’ serta ‘Celana Dalam’. Ray adalah pemuda yang kesehariannya sebagai juru dandan jenazah. Ia pernah jatuh cinta pada seorang wanita, Maya namanya. Namun cinta itu bertepuk sebelah tangan karena Ray tak punya keberanian mengucapkan perasaannya. Maya jatuh ke dalam pelukan lelaki lain dan akhirnya meninggal. Saat menerima panggilan merias jenazah, barulah Ray tahu bahwa Maya telah tiada. Akibat fantasinya, Ray seakan mendapat bisikan dari roh Maya yang memintanya berterus terang. Pernah mencintainya dan Maya inginkan lelaki perias jenazah itu menciuminya. Ray pun menuruti.

Keganjilan laku hidup di dunia nyata berupa cinta sesama jenis tergambarkan dalam cerpen ‘Megalomanius’ sementara hubungan ayah dengan anak kandung atau incest tergambar dalam cerita ‘Tidak Perawan Lagi’. Cerita-cerita yang ditawarkan sangat menggoda. Penulis tampak lihai memainkan perasaan dengan menggunakan alur campuran. (T)

Tags: BukuCerpencintakumpulan cerpenresensiSeksualitas
Share29TweetSendShareSend
Previous Post

Bercakap-Cakap dengan Pencuri

Next Post

Puisi Ada di Mana-mana – Catatan Festival Puisi Bangkalan 2

Made Sugianto

Made Sugianto

Lelaki sibuk. Selain sebagai penulis Sastra Bali Modern, juga mengelola penerbit indie Pustaka Ekspresi. Juga mengelola Majalah Ekspresi. Lama bekerja tetap sebagai wartawan di Nusa Bali, sebelum memutuskan rehat setelah ia dipilih menjadi Perbekel (Kepala Desa) di kampungnya di Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Puisi Ada di Mana-mana - Catatan Festival Puisi Bangkalan 2

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co