23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Isu Sektarian Bisa Menular ke Pilgub Bali, “Wangsa” dan “Soroh” Bisa jadi Jualan Kampanye

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
February 2, 2018
in Opini

EUFORIA pemilukada serentak tahun 2017 resmi berakhir. Sisa endapan perseteruan, bahkan percikan kebencian tidak dapat ditunggu agar selesai, tapi harus diselesaikan.

Khusus di DKI Jakarta, selamat, mereka memiliki gubernur baru. Bukan lagi orang yang katanya arogan dan kasar. Sekitar 58% dari mereka yang ber-KTP DKI Jakarta, menurut hasil hitung cepat, memutuskan memilih sosok yang terlihat lebih santun. Masalah kinerja, nanti saja dilihat setelah resmi dilantik oleh Cahyo Kumolo.

Prihal pilkada DKI Jakarta menyita perhatian banyak orang beberapa bulan terakhir, itu juga fakta. Sebagian besar pembicaraan di dunia maya selalu ditujukan ke sana. Mulai ketika masih ada Agus, hingga hanya tersisa Anies dan Ahok. Tidak bisa dipungkiri banyak emosi terkuras, banyak konflik tercipta.

Ahok, seorang kristen, seolah menjadi bulan-bulanan di sana. Video yang diunggah Buni Yani nyatanya sukses, tepat sasaran. Memainkan isu agama yang memang sedari dulu sudah menjadi isu paling sensitif di negeri Pancasila ini.

Fakta unik lainnya, menurut hasil survei, kepuasan publik kepada Ahok tidak pernah menyentuh angka di bawah 70%. Namun, nyatanya menurut versi hasil hitung cepat, dia hanya dipilih 42% orang di DKI Jakarta (hasil hitung pagi 19-4-2017). Kemana sisanya? Menguap.

Jika berbicara hitung-hitungan rasional, rumusnya pasti begini: “kalau anda puas, anda akan memilihnya”. Itu hukum alam. Namun, sayangnya DKI Jakarta lebih dari sekadar perkara rasional. Ada unsur emosi yang dimainkan. Ada isu sektarian yang dihembuskan. Lalu, ada isu primordial radikal yang dikembangkan. Mulai agama hingga etnis. Yang sejujurnya bagiku itu bagian yang kurang relevan dalam konteks sebuah negara demokrasi ber-Pancasila.

Emosi itu manusiawi. Namun, apabila ditempatkan bukan pada tempat yang seharusnya, maka akan menjadi duri. Mungkin semua orang setuju, bahwa ketika sebuah keputusan diambil berdasarkan emosi, maka yang lahir adalah keputusan emosional. Bukan keputusan rasional. Silakan dimaknai sendiri, bagaimana jika emosi dimainkan ketika pemilukada. Dengan asumsi bahwa pemilukada adalah ajang pengambilan keputusan.

Yang jadi masalah kemudian adalah kekhawatiran bahwa emosi itu menular. Bahwa isu sektarian ini akan menyebar. Lalu, fanatisme primordial ini jadi merambat. Kemungkinan itu terbuka lebar, karena sekali lagi, sebagian manusia Indonesia masih memahami Pancasila sebatas pada pelajaran PPKn yang diajarkan Bapak/Ibu guru ketika SD. Hasilnya, Garuda tinggal burung perkutut, Pancasila tinggal kode buntut, kata Virgiawan Listanto. Lalu kataku, Bhinneka Tunggal Ika tinggal semboyan yang kalut.

Pilgub Bali

Sekarang aku ingin lebih khusus tentang Bali. Sebentar lagi, 2018, Bali akan menggelar pengambilan keputusan mengganti gubernur dan wakilnya. Kenapa mengganti? Ya, karena sudah dua periode, dan konstitusi tidak mengizinkan mereka untuk berkontestasi lagi. Kecuali kalau mau, tukar posisi antara gubernur dan wakilnya.

Jangan berpikir Bali tidak bisa dipermainkan oleh isu-isu macam tadi, seperti isu sektarian semacam agama. Kendati warga Bali mayoritas Hindu, nyatanya ada turunan di bawahnya yang saat ini masih bersegmen. Nama segmen itu antara lain kasta/wangsa, atau juga soroh atau klan.

Kasta/wangsa memiliki kadar sensitivitas yang mirip dengan isu agama atau entis yang bermain di DKI Jakarta tempo hari. Yang juga akan laku menjadi barang jualan kampanye politik. Buktinya, beberapa hari lalu aku membaca artikel dengan judul “Pilgub Bali 2018: Hasil Penelitian UI, Masyarakat Bali Ingin Top Leader Triwangsa”. Ilmiah? Iya, sepertinya. Karena membawa label Universitas Indonesia. Logis? Sama sekali tidak, bagiku.

Aku punya keyakinan bahwa tulisan itu memiliki niat untuk memperjelas segmen dalam kehidupan masyarakat Bali yang senyatanya segmen itu memang sudah ada. Tulisan itu mencoba menggiring opini bahwa yang diinginkan masyarakat untuk memimpin Bali adalah tokoh wangsa Brahmana, Ksatria, dan Waisya. Jangan lupa, di Bali juga ada wangsa Sudra.

Tulisan itu sepertinya mencoba menggiring opini bahwa yang layak memimpin Bali hanya tokoh dari kalangan Triwangsa. Kalau mau dilihat secara frontal, bagiku, tulisan itu punya unsur memecah belah. Ingin mengadopsi taktik politik di DKI Jakarta, lalu dibawa ke Bali. Agar menguntungkan golongan tertentu, dan merugikan yang lain. Padahal, faktanya pemilukada bukan sekadar perkara wangsa.

Bagaimana sebaiknya orang Bali bersikap?

Gubernur bukan prihal wangsa. Pemimpin itu perkara kualitas. Ketika ada di antara mereka yang kaum Sudra memiliki kualitas lebih baik, apa mesti dipaksakan agar gubernur berasal dari wangsa Brahmana, Ksatria, dan Waisya? Apa layak menitipkan pemerintahan kepada seseorang hanya dengan pertimbangan wangsa dan mengesampingkan kualitas? Bukankah Bali bagian dari Indonesia yang mengakui Pancasila? Yang menjamin hak seluruh warganya untuk memilih dan dipilih.

Sederhananya, siapa yang berkualitas, itu yang dipilih. Biarlah prihal wangsa berada pada domain yang berbeda. Meskipun, sampai sekarang pemaknaan wangsa nyatanya masih banyak yang keliru.

Domain Wangsa dan Politik

Dalam pandanganku, ketika domain wangsa dicampuradukkan dengan domain politik sebagaimana pencampuran agama dan politik di DKI Jakarta, ya nasibnya akan 11-12 seperti di DKI Jakarta. Mungkin akan ada isu sing maan setra bagi mereka yang memilih berbeda. Akan semakin menegaskan otokritik masyarakat Bali bahwa arit mangan itu ke tengah. Akan ramai konflik bahkan ada yang mepuik dengan pisaga selat tembok. Lalu, yang tertinggal hanya teriakkan Ajeg Bali yang bermakna Ajeng Bali dan mempertegas bahwa politik devide at impera Belanda nyatanya masih lestari hingga saat ini.

Memisahkan kedua domain itu memang bukan perkara mudah, namun bukan sesuatu yang mustahil. Sederhana, kalau menyatakan diri percaya Tuhan, linier dengan itu seharusnya manusia menghargai perbedaan. Karena nyatanya mereka yang berbeda juga diciptakan oleh Tuhan. Selanjutnya, ketika sudah merasa bahwa kita semua berasal dari Tuhan, maka selayaknya memiliki kewajiban dan hak yang sama. Kewajiban sebagaimana dharma agama dan dharma negara, serta hak, yang dalam konteks tulisan ini, untuk menjadi pemimpin pemerintahan tanpa batasan wangsa. Karena, sepemahamanku, Tuhan tidak menciptakan wangsa, melainkan menciptakan warna yang bersifat fungsional dan tidak herediter.

Terakhir, biarlah perkara wangsa menjadi bagian dari tradisi. Dalam konteks politik dan pemerintahan, mari lebih mengedepankan nalar yang rasional daripada fanatisme primordial yang radikal. Bali patut belajar dari DKI Jakarta jika ingin menjadi Bali yang tetap ajeg dan menjadi Bali yang tetap dimiliki oleh seluruh orang Bali. (T)

Tags: agamabaliDKI JakartaPilkadaPolitiksorohwangsa
Share57TweetSendShareSend
Previous Post

Puspayoga Kalah jadi Menteri, Ahok Kalah jadi Apa?

Next Post

Belajar Tari Lewat Video – Swasthi Bandem: “Jika Salah, Video tak Bisa Perbaiki”

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Belajar Tari Lewat Video – Swasthi Bandem: “Jika Salah, Video tak Bisa Perbaiki”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co