2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukan Salah Sejarah, jika Takut pada “Hantu” dalam Sejarah

Gusti Ayu Ratna Sari by Gusti Ayu Ratna Sari
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

SUDAHKAH baca berita terbaru di negeri ini? Saat sebuah ormas demo di depan Mabes Polri, bendera merah putih yang kita banggakan ditulisi kata-kata yang saya sendiri tidak bisa baca dan artikan maknanya, apalagi ditambah gambar dua pedang menyilang.

Sempat terpikir bahwa orang Indonesia seperti mereka ternyata memiliki jiwa seni berlebih, saking berlebihnya mereka menuangkan karya seni bukan pada tempatnya. Jangan-jangan mereka pikir bendera sederhana yang hanya terdiri dari dua warna, merah dan putih, itu terlalu biasa sehingga mereka ingin berinovasi di atasnya.

Tapi mari kita doakan saja bakat seni berlebih mereka itu bisa tersalurkan dengan baik, mungkin mereka bisa membuat mural di tembok lapas agar penjara di Indonesia bisa lebih indah. Atas izin Kapolri tentunya.

Sebenarnya saya tidak ingin ngomongin bendera merah putih dalam peristiwa itu. Ada yang lebih menarik perhatian saya. Lagi-lagi nama PKI disebut-sebut dalam demo itu, seperti banyak demo sebelumnya.

Harus saya akui dengan jujur, sampai detik ini saya sedikit gagal paham ketika banyak orang begitu takut kepada PKI yang sudah dilenyapkan lebih dari 50 tahun yang lalu. Saya bisa paham bahwa negara ini memiliki ideologi sendiri yaitu Pancasila yang kita akui dan sepakati bersama sebagai dasar negara yang tidak akan pernah kita ubah. Saya juga paham bahwa TAP MPRS no 25 tahun 1966 masih berlaku  Tapi apa hanya karena itu?

Sejak zaman Orde Baru, kebencian terhadap PKI selalu dihubungkan dengan sebuah peristiwa berdarah paling mengerikan yang merenggut nyawa jenderal-jenderal AD saat itu. Peristiwa itu diberi nama G30S dan pemerintah menunjuk PKI sebagai otaknya.

Yang penasaran, skenario peristiwa itu bisa ditonton dalam film Pengkhianatan G 30 S PKI karya Arifin C. Noer. Tapi apakah yang digambarkan dalam film itu benar? Tidak ada yang bisa menjamin 100%. Karena sebuah peristiwa masa lalu tidak pernah bisa digambarkan kembali 100%.

Ketika saya membaca sebuah artikel opini yang mengatakan bahwa hampir tidak mungkin penulis sejarah benar-benar jujur,  saya tidak mendebat opini itu karena memang demikian adanya. Jujur dalam konteks ini adalah mengungkap sebuah peristiwa di masa lalu sebagaimana adanya saat itu.

Saya sendiri berkeyakinan hanya Tuhan dengan keajaibannya yang bisa memperlihatkan peristiwa semacam itu. Bahkan saat ada dua orang menjadi saksi mata peristiwa yang sama, tidak jarang mereka melihatnya dengan cara yang sangat berbeda.

Dalam tahapan orang ingin menulis sejarah, sebelum data diolah menjadi sebuah tulisan maka ada tahap interpretasi, pemaknaan. Pemaknaan tentunya adalah hasil dari pemikiran dan pengetahuan pribadi penulis tentang apa yang dia temukan. Ini sama seperti sudut pandang saat kita melihat sebuah kasus, dengan sudut pandang tersebut kita akan bisa berkomentar atas kasus tersebut.

Dan saya pikir, subjektivitas yang ditunjukkan dalam proses interpretasi inilah yang membuat banyak orang men-judge dan menurunkan derajat sejarah sebagai ilmu menjadi cerita karangan bahkan dongeng semata.

Mungkin ada andil guru sejarah, tapi jelas ini bukan salah sejarah. Saya rasa kasus PKI bisa dijadikan contoh yang cukup bagus. Jika saya tanya, apa yang kita ketahui tentang PKI atau  sejarahnya? Apa yang sebenarnya kita pahami tentang komunisme?

Saya cukup ragu jika kita akan bisa menjelaskan jawaban atas pertanyaan tersebut dengan lancar. Saya tidak berharap bahwa jawaban atas dua pertanyaan tersebut lagi-lagi akan dijawab dengan menyebut tanggal 30 September 1965 atau kudeta atau tujuh jenderal yang diculik yang kita hormati sebagai pahlawan revolusi.

Hal-hal tersebut mungkin berhubungan, tapi terlalu berlebihan rasanya jika kita membenci setengah mati sebuah ideologi atau kelompok (yang sudah dilenyapkan) berdasarkan satu peristiwa saja.

Buktinya, kita tidak sebenci itu terhadap kelompok-kelompok lain yang juga pernah memberontak kepada negeri ini bahkan secara jelas ingin membangun negara atas dasar ideologi selain Pancasila. Jika kita belajar sejarah, tentu kita tahu itu.

Kenapa juga kita tidak marah saat kurang lebih tiga juta (pengakuan Sarwo Edhie) anak bangsa dibinasakan dan banyak di antaranya tanpa proses hukum karena dituduh PKI? Dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pahlawan, perlakuan itu seikit tidak adil karena toh mereka sama-sama manusia Indonesia.

Dan jika kita yakin bahwa seorang sejarawan hampir tidak mungkin mengungkapkan kebenaran 100%, maka bukan sebuah dosa jika kita mulai meragukan isi buku sejarah yang pernah kita baca saat SMA dulu.

Ragukanlah, lalu cari tahu dari sumber lain, maka kita sesungguhnya sedang dalam proses belajar menjadi kritis. Jika ini terjadi di dalam kelas saya, maka ini sesungguhnya adalah tantangan yang menyenangkan bagi seorang guru sejarah.  Sayangnya kebanyakan orang saat mulai meragukan sejarah malah berhenti bertanya dan akhirnya tidak akan pernah menemukan jawaban yang cukup meyakinkan.

Seringkali dalam aktivitas di media sosial, beberapa teman begitu mudah membagikan sebuah berita dengan judul yang sangat provokatif dan menarik, namun ketika dibaca isinya tidak sesuai judul. Fenomena itu membuat saya berasumsi bahwa jika ada orang yang sering terjebak dengan hal-hal remeh seperti ini, bukan tidak mungkin kita juga sedang terjebak untuk membenci sesuatu yang sesungguhnya isinya tidak kita ketahui secara pasti.

Kita sebenarnya jarang mau tahu apa yang dicap sebagai musuh kita itu. Bagaimana kita tahu ideologi itu jahat jika kita tidak pernah memahami isi ideologi itu? Itu sama seperti kita bersikeras bahwa jeruk itu pasti asam padahal kita tidak pernah makan jeruk, sehingga kita tidak pernah tahu bahwa ada jeruk yang manis.

Jika kita tak tahu dan tak mau tahu tentang “sesuatu” dalam sejarah, itu sama juga dengan kita menciptakan “hantu” dalam sejarah, lalu kita takut sendiri. Jika begitu, jika kita tidak tahu, jika tidak mau tahu, tentu ini bukan salah sejarah toh. (T)

Tags: Komunismerah putihPendidikansejarah
Share61TweetSendShareSend
Previous Post

Kenapa Orang Bali Suka Ahok?

Next Post

Membicarakan Made Sugianto dan Sastra Bali Modern di Hari Saraswati

Gusti Ayu Ratna Sari

Gusti Ayu Ratna Sari

Lahir di Kaliasem, 16 Desember 1994. Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Pendidikan Ganesha. Senang belajar sejarah, bicara politik dan beroganisasi.

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post

Membicarakan Made Sugianto dan Sastra Bali Modern di Hari Saraswati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co