13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bukan Salah Sejarah, jika Takut pada “Hantu” dalam Sejarah

Gusti Ayu Ratna Sari by Gusti Ayu Ratna Sari
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

SUDAHKAH baca berita terbaru di negeri ini? Saat sebuah ormas demo di depan Mabes Polri, bendera merah putih yang kita banggakan ditulisi kata-kata yang saya sendiri tidak bisa baca dan artikan maknanya, apalagi ditambah gambar dua pedang menyilang.

Sempat terpikir bahwa orang Indonesia seperti mereka ternyata memiliki jiwa seni berlebih, saking berlebihnya mereka menuangkan karya seni bukan pada tempatnya. Jangan-jangan mereka pikir bendera sederhana yang hanya terdiri dari dua warna, merah dan putih, itu terlalu biasa sehingga mereka ingin berinovasi di atasnya.

Tapi mari kita doakan saja bakat seni berlebih mereka itu bisa tersalurkan dengan baik, mungkin mereka bisa membuat mural di tembok lapas agar penjara di Indonesia bisa lebih indah. Atas izin Kapolri tentunya.

Sebenarnya saya tidak ingin ngomongin bendera merah putih dalam peristiwa itu. Ada yang lebih menarik perhatian saya. Lagi-lagi nama PKI disebut-sebut dalam demo itu, seperti banyak demo sebelumnya.

Harus saya akui dengan jujur, sampai detik ini saya sedikit gagal paham ketika banyak orang begitu takut kepada PKI yang sudah dilenyapkan lebih dari 50 tahun yang lalu. Saya bisa paham bahwa negara ini memiliki ideologi sendiri yaitu Pancasila yang kita akui dan sepakati bersama sebagai dasar negara yang tidak akan pernah kita ubah. Saya juga paham bahwa TAP MPRS no 25 tahun 1966 masih berlaku  Tapi apa hanya karena itu?

Sejak zaman Orde Baru, kebencian terhadap PKI selalu dihubungkan dengan sebuah peristiwa berdarah paling mengerikan yang merenggut nyawa jenderal-jenderal AD saat itu. Peristiwa itu diberi nama G30S dan pemerintah menunjuk PKI sebagai otaknya.

Yang penasaran, skenario peristiwa itu bisa ditonton dalam film Pengkhianatan G 30 S PKI karya Arifin C. Noer. Tapi apakah yang digambarkan dalam film itu benar? Tidak ada yang bisa menjamin 100%. Karena sebuah peristiwa masa lalu tidak pernah bisa digambarkan kembali 100%.

Ketika saya membaca sebuah artikel opini yang mengatakan bahwa hampir tidak mungkin penulis sejarah benar-benar jujur,  saya tidak mendebat opini itu karena memang demikian adanya. Jujur dalam konteks ini adalah mengungkap sebuah peristiwa di masa lalu sebagaimana adanya saat itu.

Saya sendiri berkeyakinan hanya Tuhan dengan keajaibannya yang bisa memperlihatkan peristiwa semacam itu. Bahkan saat ada dua orang menjadi saksi mata peristiwa yang sama, tidak jarang mereka melihatnya dengan cara yang sangat berbeda.

Dalam tahapan orang ingin menulis sejarah, sebelum data diolah menjadi sebuah tulisan maka ada tahap interpretasi, pemaknaan. Pemaknaan tentunya adalah hasil dari pemikiran dan pengetahuan pribadi penulis tentang apa yang dia temukan. Ini sama seperti sudut pandang saat kita melihat sebuah kasus, dengan sudut pandang tersebut kita akan bisa berkomentar atas kasus tersebut.

Dan saya pikir, subjektivitas yang ditunjukkan dalam proses interpretasi inilah yang membuat banyak orang men-judge dan menurunkan derajat sejarah sebagai ilmu menjadi cerita karangan bahkan dongeng semata.

Mungkin ada andil guru sejarah, tapi jelas ini bukan salah sejarah. Saya rasa kasus PKI bisa dijadikan contoh yang cukup bagus. Jika saya tanya, apa yang kita ketahui tentang PKI atau  sejarahnya? Apa yang sebenarnya kita pahami tentang komunisme?

Saya cukup ragu jika kita akan bisa menjelaskan jawaban atas pertanyaan tersebut dengan lancar. Saya tidak berharap bahwa jawaban atas dua pertanyaan tersebut lagi-lagi akan dijawab dengan menyebut tanggal 30 September 1965 atau kudeta atau tujuh jenderal yang diculik yang kita hormati sebagai pahlawan revolusi.

Hal-hal tersebut mungkin berhubungan, tapi terlalu berlebihan rasanya jika kita membenci setengah mati sebuah ideologi atau kelompok (yang sudah dilenyapkan) berdasarkan satu peristiwa saja.

Buktinya, kita tidak sebenci itu terhadap kelompok-kelompok lain yang juga pernah memberontak kepada negeri ini bahkan secara jelas ingin membangun negara atas dasar ideologi selain Pancasila. Jika kita belajar sejarah, tentu kita tahu itu.

Kenapa juga kita tidak marah saat kurang lebih tiga juta (pengakuan Sarwo Edhie) anak bangsa dibinasakan dan banyak di antaranya tanpa proses hukum karena dituduh PKI? Dengan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada pahlawan, perlakuan itu seikit tidak adil karena toh mereka sama-sama manusia Indonesia.

Dan jika kita yakin bahwa seorang sejarawan hampir tidak mungkin mengungkapkan kebenaran 100%, maka bukan sebuah dosa jika kita mulai meragukan isi buku sejarah yang pernah kita baca saat SMA dulu.

Ragukanlah, lalu cari tahu dari sumber lain, maka kita sesungguhnya sedang dalam proses belajar menjadi kritis. Jika ini terjadi di dalam kelas saya, maka ini sesungguhnya adalah tantangan yang menyenangkan bagi seorang guru sejarah.  Sayangnya kebanyakan orang saat mulai meragukan sejarah malah berhenti bertanya dan akhirnya tidak akan pernah menemukan jawaban yang cukup meyakinkan.

Seringkali dalam aktivitas di media sosial, beberapa teman begitu mudah membagikan sebuah berita dengan judul yang sangat provokatif dan menarik, namun ketika dibaca isinya tidak sesuai judul. Fenomena itu membuat saya berasumsi bahwa jika ada orang yang sering terjebak dengan hal-hal remeh seperti ini, bukan tidak mungkin kita juga sedang terjebak untuk membenci sesuatu yang sesungguhnya isinya tidak kita ketahui secara pasti.

Kita sebenarnya jarang mau tahu apa yang dicap sebagai musuh kita itu. Bagaimana kita tahu ideologi itu jahat jika kita tidak pernah memahami isi ideologi itu? Itu sama seperti kita bersikeras bahwa jeruk itu pasti asam padahal kita tidak pernah makan jeruk, sehingga kita tidak pernah tahu bahwa ada jeruk yang manis.

Jika kita tak tahu dan tak mau tahu tentang “sesuatu” dalam sejarah, itu sama juga dengan kita menciptakan “hantu” dalam sejarah, lalu kita takut sendiri. Jika begitu, jika kita tidak tahu, jika tidak mau tahu, tentu ini bukan salah sejarah toh. (T)

Tags: Komunismerah putihPendidikansejarah
Share61TweetSendShareSend
Previous Post

Kenapa Orang Bali Suka Ahok?

Next Post

Membicarakan Made Sugianto dan Sastra Bali Modern di Hari Saraswati

Gusti Ayu Ratna Sari

Gusti Ayu Ratna Sari

Lahir di Kaliasem, 16 Desember 1994. Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Pendidikan Ganesha. Senang belajar sejarah, bicara politik dan beroganisasi.

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post

Membicarakan Made Sugianto dan Sastra Bali Modern di Hari Saraswati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co