3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Padi Ladang Bertahan di Antara Perkebunan Karet dan Pipa Migas

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
February 2, 2018
in Khas

Foto-foto: Riki Dhamparan Putra

SEDIH sekali karena saya hanya bisa mengetahui sedikit info saja mengenai padi lokal yang ditanam penduduk di Kabupaten Pali (Penukal Abab Lematang Hilir). Padahal, melalui pengetahuan tentang pertanian padi lokal itu, kita dapat menelusuri warisan peradaban masyarakat hilir Lematang lebih baik lagi.

Setidaknya, kita bisa tahu bagaimana masyarakat bisa survive dari masa ke masa tanpa perlu tergantung pada produksi migas dan karet. Namun apa daya, waktu berkunjung yang hanya dua hari (efektif satu hari), dan energi yang harus dibagi untuk meliput potensi lainnya, membuat saya terpaksa menunda niat saya untuk memahami seluk beluk pertanian tradisional di kabupaten itu lebih dalam. Lagipula, topik padi lokal adalah bonus yang tidak saya rencanakan sebelumnya. Karena saya tidak mengira di daerah tersebut orang masih menanam padi ladang.

Tak ayal, saya tertakjub manakala melihat ladang-ladang padi terhampar di antara barisan kebun-kebun karet dan pipa-pipa migas milik Pertamina Pendopo saat berkendara menuju Tanah Abang dari arah Modong, terus ke jembatan Payuputat, berbalik lagi menuju desa Pengabuan melalui desa Lunas Jaya. Walaupun perkiraan saya luas keseluruhannya mungkin tidak sampai 15 % dari total areal lahan padi (baik basah dan kering) di Kabupaten Pali, itu sudah cukup membangkitkan perasaan romantik saya.

Padi Talang di antara kebun karet

Bayangan tentang Pulau Sumatra zaman kuno yang juga disebut Pulau Enjelai (Yava Dvipa) dalam episode terawal kitab Ramayana, terbentang di ingatan saya. Sebutan itu mendahului istilah Svarna Dvipa  atau Pulau Emas dan juga mendahului sebutan Pulau Andalas yang lebih populer belakangan.

Tak lain tak bukan, yava atau enjelai yang dimaksud itu adalah padi ladang sebagaimana pernah saya uraikan dalam sebuah esai saya, Peta Kuno Yava Dvipa (Bali Post, November 2016). Dasarnya, karena kata enjelai juga digunapakai orang Melayu Kuno untuk menyebut padi sebagaimana disinggung Ulrich Kozok dalam kajian tentang Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah yang ditemukan di Jambi.

Barangkali, karena itu pula, perjumpaan dengan padi ladang terlalu menggugah hati saya. Serupa kisah Sugriva yang terbang dari Sri Lanka untuk mencari Shinta di atas hamparan ladang enjelai, sungai-sungai dan gunung-gunung emas di Sumatra, angan saya pun terbang mencari ‘kemegahan pertanian padi’ yang menghilang di balik pipa-pipa dan sumur-sumur tua migas yang terus berproduksi di kawasan tepi Sungai Lematang Ilir. Di balik kemewahan lapangan golf kota Pendopo, di sela-sela hamparan perkebunan karet dan sawit yang kini menjadi komoditi andalan masyarakat Sumatra Selatan.

Bukan tanpa alasan kiranya, jika saya melamunkan suatu pencapaian pertanian yang megah di kawasan Sungai Lematang bagian hilir ini tempo dulu. Naskah gelumpai terjemahan yang telah saya baca, dibuka dengan gambaran kemakmuran pertanian negeri Kebon Dang atau Kebon Undang Lemah Abang yang telah mengundang orang datang.

Begini bunyinya“mula dikate awal cerito, dalam tahun 1025 (masehi, pen) Kebon Undang dekde benamo urang urip pindah bepindah dekde betentu  tani betani dekde pulo tau mereka ado urip gunduk begunduk Kebile ado banyak didapat bemakan…”

Jelas dari petikan itu tergambar faktor apa yang mendorong urbanisasi ke Kebon Undang adalah pertaniannya. Keadaan itu tampaknya tidak berubah sampai Negara Islam Kebon Undang dikatakan runtuh pada tahun 1498 masehi. Sebab pada tahun 1512, naskah mencatat ada panen raya akibat keberhasilan tani bertani di Kebon Undang.

Apatah pula lagi yang dimaksud dengan ‘tani betani’ itu kalau bukan bertanam padi. Mengingat komoditi masa lampau lain seperti damar dan kemenyan tidak lazim disebut komoditi tani betani. Melainkan hasil hutan yang diperdagangkan. Patut pula diduga, sampai trend pertanian masyarakat Sumatra Selatan beralih ke perkebunan karet di awal abad 20 (1902) , padi masih menjadi tanaman pokok utama. Baik padi lebak maupun padi talang atau padi ladang. Setidaknya itu bisa dilihat dari variasi jenis benih padi lokal yang dikenal petani.

Pak Martani dan ‘istri baru’nya

“Petani masih menanam benih lokal seperti Dayang Merindu, Seni, dan Padi Putih untuk jenis padi beras. Atau padi pulut antaranya Padi Lupa Laki.“ kata Pak Martani (53 tahun), petani asal desa Pengabuan. Namun ia mengakui intensitas menanam padi lokal makin turun.

“Umpama istri tua, padi kampung makin ditinggalkan. Karena sekarang petani banyak mencoba benih unggul baru yang dianjurkan pemerintah. Istri baru…” katanya sambil terkekeh.

 

Ditinggalkan

Di kabupaten Pali sendiri, belum diperoleh data kongkrit seberapa luas padi ladang yang masih ditanam penduduk saat ini. Untuk sawah tadah hujan dan sawah lebak (sawah rawa) terdapat kurang lebih 8459 ha. Bila ditambahkan luasnya dengan program cetak sawah yang dilakukan pemerintah kabupaten baru-baru ini, berarti hanya ada sekitar  10000 ha sawah produktif di wilayah itu. Tidak berbeda jauh dengan luas kebun sawit yang mencapai 8.875 ha pada tahun 2014 lalu.

Bandingkan dengan luas perkebunan karet rakyat yang mencapai 45.868 ha, dengan total produksi  65.313  ton pada 2014. Jika harga karet mencapai rp 7000 setiap kilo gram, berarti dari karet saja, ada pemasukan ekonomi sejumlah Rp 457.191.000.000, 00. Setara dengan separo APBD kabupaten Pali mencapai Rp 704 miliar pada 2015 lalu. Apakah arti produksi padi dibanding jumlah itu?

Tak sulit ditebak, kiranya alasan ini menyebabkan masyarakat makin meninggalkan pertanian padi sebagai mata pencarian. Di desa Tempirai, rawa-rawa sekitar Sungai Penukal yang hingga 1977 merupakan lumbung pertanian penduduk desa itu, kini menjadi lahan tidur. Begitu pula kebanyakan tanah berawa  di sepanjang tepi Sungai Lematang, tersia-sia dan penuh semak belukar. Padi sawah penduduk hanya terkonsentrasi di beberapa desa seperti Pengabuan, Tempirai, Modong, dan beberapa desa lain. Sementara padi talang jumlahnya semakin menipis.

Di Desa Pengabuan Kecamatan Abab misalnya, 75% petani menanam padi lebak atau padi sawah. Sisanya menanam padi ladang. Namun karena orientasi lahan kering di wilayah itu terutama ditujukan untuk perkebunan karet, padi ladang pada dasarnya hanya ditanam sebagai tanaman pendamping. Yakni memanfaatkan masa sela, sembari menunggu pohon karet tumbuh dewasa. Setelah karet dewasa, biasanya petani tak menanam padi lagi, karena daun-daunnya menghalangi cahaya matahari.

Selain alasan di atas, menurut Pak Martani (53 tahun), petani asal Pengabuan, masa panen yang hanya efektif sekali dalam setahun, membuat padi ladang bukan pilihan.

“Pada talang berasnya memang enak dan proses menanamnya juga mudah. Yakni mancah (membuka lahan), obin (membersihkan lahan yang sudah ditebangi), kemudian menugal. Namun di sini kebanyakan petani menanam padi sawah dari benih lokal ” katanya.

Nasib padi ladang di desa Pengabuan, mencerminkan pula keadaan umum di wilayah propinsi Sumatra Selatan. Walaupun statistik menunjukkan lahan sawah mengalami peningkatan, namun pertanian padi lahan kering justru sebaliknya. Itu terlihat dari kontribusi padi lahan kering yang jauh lebih kecil dibanding padi sawah. Pada tahun 2015 lalu misalnya, berdasar statistik resmi, produksi padi ladang hanya 141.427 ton.  Lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 163.991 ton GKG.

Memang belakangan,  di beberapa wilayah seperti Musi Rawas, upaya untuk menghidupkan kembali padi talang kembali digalakkan. Namun tampaknya belum mampu mengejar ketertinggalan padi ladang dibanding varietas unggul yang digalakkan oleh kementrian pertanian. (T)

2017

Baca laporan dari Kabupaten Pali lainnya:

# Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (1): Bumi Ayu, Situs Hindu Terbesar di Sumatra

# Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (2): Kebon Undang, “Negare” Islam Pertama di Sumatra Selatan

 

Tags: Kabupaten PalipertambanganpertanianSumatra
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Lebih Baik “Maceki” daripada ke Alexis

Next Post

Kenapa Orang Bali Suka Ahok?

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails
Next Post

Kenapa Orang Bali Suka Ahok?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co