23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Padi Ladang Bertahan di Antara Perkebunan Karet dan Pipa Migas

Riki Dhamparan Putra by Riki Dhamparan Putra
February 2, 2018
in Khas

Foto-foto: Riki Dhamparan Putra

SEDIH sekali karena saya hanya bisa mengetahui sedikit info saja mengenai padi lokal yang ditanam penduduk di Kabupaten Pali (Penukal Abab Lematang Hilir). Padahal, melalui pengetahuan tentang pertanian padi lokal itu, kita dapat menelusuri warisan peradaban masyarakat hilir Lematang lebih baik lagi.

Setidaknya, kita bisa tahu bagaimana masyarakat bisa survive dari masa ke masa tanpa perlu tergantung pada produksi migas dan karet. Namun apa daya, waktu berkunjung yang hanya dua hari (efektif satu hari), dan energi yang harus dibagi untuk meliput potensi lainnya, membuat saya terpaksa menunda niat saya untuk memahami seluk beluk pertanian tradisional di kabupaten itu lebih dalam. Lagipula, topik padi lokal adalah bonus yang tidak saya rencanakan sebelumnya. Karena saya tidak mengira di daerah tersebut orang masih menanam padi ladang.

Tak ayal, saya tertakjub manakala melihat ladang-ladang padi terhampar di antara barisan kebun-kebun karet dan pipa-pipa migas milik Pertamina Pendopo saat berkendara menuju Tanah Abang dari arah Modong, terus ke jembatan Payuputat, berbalik lagi menuju desa Pengabuan melalui desa Lunas Jaya. Walaupun perkiraan saya luas keseluruhannya mungkin tidak sampai 15 % dari total areal lahan padi (baik basah dan kering) di Kabupaten Pali, itu sudah cukup membangkitkan perasaan romantik saya.

Padi Talang di antara kebun karet

Bayangan tentang Pulau Sumatra zaman kuno yang juga disebut Pulau Enjelai (Yava Dvipa) dalam episode terawal kitab Ramayana, terbentang di ingatan saya. Sebutan itu mendahului istilah Svarna Dvipa  atau Pulau Emas dan juga mendahului sebutan Pulau Andalas yang lebih populer belakangan.

Tak lain tak bukan, yava atau enjelai yang dimaksud itu adalah padi ladang sebagaimana pernah saya uraikan dalam sebuah esai saya, Peta Kuno Yava Dvipa (Bali Post, November 2016). Dasarnya, karena kata enjelai juga digunapakai orang Melayu Kuno untuk menyebut padi sebagaimana disinggung Ulrich Kozok dalam kajian tentang Naskah Undang-Undang Tanjung Tanah yang ditemukan di Jambi.

Barangkali, karena itu pula, perjumpaan dengan padi ladang terlalu menggugah hati saya. Serupa kisah Sugriva yang terbang dari Sri Lanka untuk mencari Shinta di atas hamparan ladang enjelai, sungai-sungai dan gunung-gunung emas di Sumatra, angan saya pun terbang mencari ‘kemegahan pertanian padi’ yang menghilang di balik pipa-pipa dan sumur-sumur tua migas yang terus berproduksi di kawasan tepi Sungai Lematang Ilir. Di balik kemewahan lapangan golf kota Pendopo, di sela-sela hamparan perkebunan karet dan sawit yang kini menjadi komoditi andalan masyarakat Sumatra Selatan.

Bukan tanpa alasan kiranya, jika saya melamunkan suatu pencapaian pertanian yang megah di kawasan Sungai Lematang bagian hilir ini tempo dulu. Naskah gelumpai terjemahan yang telah saya baca, dibuka dengan gambaran kemakmuran pertanian negeri Kebon Dang atau Kebon Undang Lemah Abang yang telah mengundang orang datang.

Begini bunyinya“mula dikate awal cerito, dalam tahun 1025 (masehi, pen) Kebon Undang dekde benamo urang urip pindah bepindah dekde betentu  tani betani dekde pulo tau mereka ado urip gunduk begunduk Kebile ado banyak didapat bemakan…”

Jelas dari petikan itu tergambar faktor apa yang mendorong urbanisasi ke Kebon Undang adalah pertaniannya. Keadaan itu tampaknya tidak berubah sampai Negara Islam Kebon Undang dikatakan runtuh pada tahun 1498 masehi. Sebab pada tahun 1512, naskah mencatat ada panen raya akibat keberhasilan tani bertani di Kebon Undang.

Apatah pula lagi yang dimaksud dengan ‘tani betani’ itu kalau bukan bertanam padi. Mengingat komoditi masa lampau lain seperti damar dan kemenyan tidak lazim disebut komoditi tani betani. Melainkan hasil hutan yang diperdagangkan. Patut pula diduga, sampai trend pertanian masyarakat Sumatra Selatan beralih ke perkebunan karet di awal abad 20 (1902) , padi masih menjadi tanaman pokok utama. Baik padi lebak maupun padi talang atau padi ladang. Setidaknya itu bisa dilihat dari variasi jenis benih padi lokal yang dikenal petani.

Pak Martani dan ‘istri baru’nya

“Petani masih menanam benih lokal seperti Dayang Merindu, Seni, dan Padi Putih untuk jenis padi beras. Atau padi pulut antaranya Padi Lupa Laki.“ kata Pak Martani (53 tahun), petani asal desa Pengabuan. Namun ia mengakui intensitas menanam padi lokal makin turun.

“Umpama istri tua, padi kampung makin ditinggalkan. Karena sekarang petani banyak mencoba benih unggul baru yang dianjurkan pemerintah. Istri baru…” katanya sambil terkekeh.

 

Ditinggalkan

Di kabupaten Pali sendiri, belum diperoleh data kongkrit seberapa luas padi ladang yang masih ditanam penduduk saat ini. Untuk sawah tadah hujan dan sawah lebak (sawah rawa) terdapat kurang lebih 8459 ha. Bila ditambahkan luasnya dengan program cetak sawah yang dilakukan pemerintah kabupaten baru-baru ini, berarti hanya ada sekitar  10000 ha sawah produktif di wilayah itu. Tidak berbeda jauh dengan luas kebun sawit yang mencapai 8.875 ha pada tahun 2014 lalu.

Bandingkan dengan luas perkebunan karet rakyat yang mencapai 45.868 ha, dengan total produksi  65.313  ton pada 2014. Jika harga karet mencapai rp 7000 setiap kilo gram, berarti dari karet saja, ada pemasukan ekonomi sejumlah Rp 457.191.000.000, 00. Setara dengan separo APBD kabupaten Pali mencapai Rp 704 miliar pada 2015 lalu. Apakah arti produksi padi dibanding jumlah itu?

Tak sulit ditebak, kiranya alasan ini menyebabkan masyarakat makin meninggalkan pertanian padi sebagai mata pencarian. Di desa Tempirai, rawa-rawa sekitar Sungai Penukal yang hingga 1977 merupakan lumbung pertanian penduduk desa itu, kini menjadi lahan tidur. Begitu pula kebanyakan tanah berawa  di sepanjang tepi Sungai Lematang, tersia-sia dan penuh semak belukar. Padi sawah penduduk hanya terkonsentrasi di beberapa desa seperti Pengabuan, Tempirai, Modong, dan beberapa desa lain. Sementara padi talang jumlahnya semakin menipis.

Di Desa Pengabuan Kecamatan Abab misalnya, 75% petani menanam padi lebak atau padi sawah. Sisanya menanam padi ladang. Namun karena orientasi lahan kering di wilayah itu terutama ditujukan untuk perkebunan karet, padi ladang pada dasarnya hanya ditanam sebagai tanaman pendamping. Yakni memanfaatkan masa sela, sembari menunggu pohon karet tumbuh dewasa. Setelah karet dewasa, biasanya petani tak menanam padi lagi, karena daun-daunnya menghalangi cahaya matahari.

Selain alasan di atas, menurut Pak Martani (53 tahun), petani asal Pengabuan, masa panen yang hanya efektif sekali dalam setahun, membuat padi ladang bukan pilihan.

“Pada talang berasnya memang enak dan proses menanamnya juga mudah. Yakni mancah (membuka lahan), obin (membersihkan lahan yang sudah ditebangi), kemudian menugal. Namun di sini kebanyakan petani menanam padi sawah dari benih lokal ” katanya.

Nasib padi ladang di desa Pengabuan, mencerminkan pula keadaan umum di wilayah propinsi Sumatra Selatan. Walaupun statistik menunjukkan lahan sawah mengalami peningkatan, namun pertanian padi lahan kering justru sebaliknya. Itu terlihat dari kontribusi padi lahan kering yang jauh lebih kecil dibanding padi sawah. Pada tahun 2015 lalu misalnya, berdasar statistik resmi, produksi padi ladang hanya 141.427 ton.  Lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 163.991 ton GKG.

Memang belakangan,  di beberapa wilayah seperti Musi Rawas, upaya untuk menghidupkan kembali padi talang kembali digalakkan. Namun tampaknya belum mampu mengejar ketertinggalan padi ladang dibanding varietas unggul yang digalakkan oleh kementrian pertanian. (T)

2017

Baca laporan dari Kabupaten Pali lainnya:

# Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (1): Bumi Ayu, Situs Hindu Terbesar di Sumatra

# Seribu Tahun Warisan Budaya Pali (2): Kebon Undang, “Negare” Islam Pertama di Sumatra Selatan

 

Tags: Kabupaten PalipertambanganpertanianSumatra
Share8TweetSendShareSend
Previous Post

Lebih Baik “Maceki” daripada ke Alexis

Next Post

Kenapa Orang Bali Suka Ahok?

Riki Dhamparan Putra

Riki Dhamparan Putra

Lahir di Padang, pernah tinggal di Bali, kini di Jakarta. Dikenal sebagai sastrawan petualang yang banyak penggemar

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post

Kenapa Orang Bali Suka Ahok?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co