2 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bujo, Lelaki Pemburu Kiamat

Komang Astiari by Komang Astiari
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Komang Astiari

APAKAH kiamat itu benar benar nyata? Jika iya jawabnya,maka bagaimana engkau melukiskannya?

Barangkali kemunculan kiamat itu bak tsunami yang meluluhlantakkan bumi dan seluruh isinya. Atau barangkali adalah ketika etika yang mulai luntur dalam lukisan kehidupan?

***

Bujo, begitu dia dipanggil. Bujo si pemburu kiamat, sedari kecil tak henti-henti bertanya tentang kiamat. Lelaki 35 tahun ini paling rajin mengikuti berita tentang akhir dunia. Pertanyaan demi pertanyaan terangkai dalam setiap hembusan angin, seolah angin tidak memberikannya waktu sedetikpun untuk lari.

Jika para remaja itu gemar mencari kesenangan duniawi, Bujo justru lebih menyenangi menyelam ke dasar hati yang paling dalam, merenung lalu menghitung-hitung dosa yang sudah dia buat, mencari-cari kesalahannya semasa hidup lalu dia akan membiarkan pikirannya hanyut bersama derasnya rasa sunyi yang tiada henti. Memberi hukuman bagi dirinya sendiri atas tuduhan ketidakmampuan membahagiakan dirinya sendiri. Hatinya.

Bujo berperawakan tinggi, berkulit putih bersih dan berkacamata. Rambutnya ikal selalu dipotong rapi. Cara bicaranya sopan dan lembut. Sekilas saat kau melihatnya, dalam hitungan detik engkau akan terpesona akan daya tariknya.

Wanita lebih suka lelaki cool dan itu kau temukan dalam dirinya. Ibarat indahnya lautan dari kejauhan, begitulah wanita memandang Bujo. Mereka berusaha menarik perhatian Bujo. Tapi ketika hubungan itu berhasil dijalin, itu tidak akan bertahan lama. Dasar laut terlalu rumit, terlalu banyak hal yang menyakitkan, misterius.

Begitulah Bujo dengan segala kegundahannya. Pengertiannya tentang hidup, tentang Tuhan, tentang masa depan. Para wanita sulit memahami jalan pikiran Bujo. Satu persatu menjauh, dan kini tinggallah Bujo yang masih bujang di usianya yang ke-35 tahun yang telah memutuskan untuk menikah dengan kegundahan.

***

Suatu hari, media marak memberitakan dunia akan kiamat, para pemuka agama berlomba memberikan dakwah menyejukkan sebagai persiapan menuju Rumah Tuhan.

Bujo menyambut berita tentang kiamat itu dengan hati was was dan tidak yakin. Jika benar hari itu akan segera berakhir, bagaimana dia menghabiskan waktunya untuk menikmati hidup walau sedetik saja. Semasa hidup kebahagiaan itu terasa jauh. Sangat jauh. Segudang pertanyaan tidak berhasil dijawab. Karenanya Bujo ingin untuk sekali ini saja sebelum dia berangkat ke rumah Tuhan, semesta mengabulkan satu doanya. Dia mau bahagia.itu saja.

Tenda di puncak Gunung Semeru telah berdiri kokoh. Bujo memutuskan untuk mati di sana saja, di mana kesunyian benar-benar nyata. Tanpa ponsel. Tanpa teman. Tanpa kekasih apalagi keluarga. Tidak akan ada lagi yang saling merindukan, pikirnya.

Semua orang akan berangkat ke atas langit bersama malaikat secara bersama-sama. Semua orang akan mati. Dengan cara yang halal, dipanggil oleh Tuhan. Malang si Bujo, di hari ketika dia berkemah di puncak Gunung Semeru, tidak ada tanda-tanda kiamat. Langit justru begitu indah malam itu, terlalu indah untuk dilewatkan bahkan untuk satu kali kedipan mata.

Keindahan itu sampai terbawa-bawa mimpi, membuatnya terlena, hingga esok pagi Bujo bangun dalam kondisi sehat. Barangkali Tuhan belum siap, pikirnya. Matahari bersinar cerah pagi ini. Hangat tidak seperti biasanya. Namun masih terasa dingin di ruang hatinya, bahkan ruang itu terlalu besar.

Tergopoh gopoh turun gunung seorang diri, Bujo kecewa. Kiamat yang dinantikannya tak kunjung datang.

Apakah kiamat itu diawali dari kehancuran sebuah bangsa, lalu bangsa lain akan mengikuti, dan begitu seterusnya? Begitu tanyanya pada langit, pada tetesan embun di ranting pohon. Bujo terduduk karena lelah hati dan lelah fisik. Kehancuran yang seperti apa?

***

Bujo dibesarkan oleh seorang pembantu yang tidak tamat SD, Mbak Idah. Ibunya, seorang wanita karir berusia 55 tahun yang masih terlihat cantik. Si ibu adalah pengusaha sukses yang terkenal dengan kegigihan serta etos kerja yang sangat tinggi. Baginya hidup adalah bekerja dan bekerja membuatnya hidup.

Yang terekam dalam memori Bujo tentang sosok ibunya adalah sikapnya yang dingin, setidaknya saat memperlakukannya. Ibu jarang mengajaknya bicara dari hati ke hati. Bahkan mungkin tidak pernah. Masih lekat di ingatan ketika Bujo berusia 16 tahun, usia paling rentan dan labil.

Di pagi hari ketika Bujo membuka mata, sosok yang selalu hadir biasanya Mbak Idah, menyapa, “Mau makan apa Jo?”

“Ibu mana?”

“Ibu sudah berangkat subuh tadi,”

“Ke mana?”

“Mbak lupa, yang Mbak ingat katanya Nyonya naik pesawat terbang, kembali tiga hari lagi. Mbak dititipin ini sama Ibu,” ucap Mbak Idah sambil menyodorkan amplop berisi uang saku yang cukup dipakai buat tiga hari.

“Uangku masih banyak, buat Mbak saja,” ucap Bujo sambil tenggelam kembali ke pelukan hangatnya selimut. “Kecilkan suhu AC-nya, Mbak,”

“Jangan, nanti Bujo sakit.”

“Nggak apa Mbak, aku mau tidur seharian. Bolos saja.”

Mbak Idah tidak bisa berkata hanya mendesah prihatin. Dia bisa merasakan betapa kesepiannya anak seusia Bujo. Mendambakan sosok orangtua yang tidak kunjung datang.

Air mata Bujo jatuh lagi, berlomba-lomba untuk menarik perhatian rasa sedih agar menguasai Bujo, sesaat ketika Mbak Idah menutup pintu kamar. Ayah sudah lama meninggalkan Ibu. Alasannya sederhana, Ayah jatuh cinta lagi. Pada wanita lain.

Lalu wanita itu hamil dan mereka menikah, menyambut hari baru bersama, bersama bahagianya yang baru, meninggalkan Bujo dengan sekelumit pertanyaan. Sendirian.

Ayah Ibu sudah tidak saling mencintai lagi, setidaknya hanya jawaban itu yang dia simpulkan dari kejadian itu. Namun hingga kini Bujo belum paham apakah cinta itu. Apakah memang benar datangnya bagai kecepatan cahaya.  Jika iya, bukankah kehadiran cahaya tidak pernah abadi? Saatnya tiba dia akan hilang. Manusia mungkin terlalu bodoh mengikat diri satu sama lain untuk saling mencintai pada akhirnya mereka akan tahu bahwa rasa itu akan pupus juga oleh waktu, meninggalkan anak anaknya dengan segudang rasa sakit.

Kehidupannya di sekolah tidak meninggalkan kesan indah. Bujo muak dengan sekolah. Bersekolah membantunya menemukan kekurangannya, menggali kesalahan-kesalahannya hingga ke dasar-dasar, menganugerahkannya sebuah nilai yang bahkan dia tak tahu nilai itu akan diapakan dalam kehidupan yang lebih luas, masalah-masalah kehidupan yang tidak sesederhana nilai matematika A,B,C,D atau E.

Bujo ada di peringkat 16 dari 35 kepala di kelasnya. Hanya rasa geli menghampirinya tanpa malu-malu tiap kali Bujo melihat rapor, yang ada dalam bayangannya adalah segerombolan bebek yang sedang berjalan dan dia adalah bebek pada urutan ke 16.

Hanya ada satu guru yang hingga kini masih melekat dalam ingatannya, Pak Berto. Pak Berto baik, selalu bersahabat dengan muridnya, setidaknya di dalam kelas, dia memposisikan muridnya sama rata, tidak memberi label pintar, bodoh atau malas atau label lain.

Pak Berto tidak seperti guru lain yang bisanya memberi ceramah satu arah lalu seisi ruangan dipaksa manggut-manggut bak penyanyi rap, seolah mengerti dengan apa yang dia katakan padahal tidak.

Dalam kesempatan kosong, Bujo sering mencuri waktu menggambar robot di bukunya. Bukan hanya satu robot tapi banyak. Mereka adalah murid-murid dalam kelas yang digerakkkan oleh kurikulum yang kaku, membunuh kreativitas, oleh ambisi- ambisi pribadi orangtua yang mau anaknya terus berprestasi agar terlihat bergengsi di permukaan.

Ibu Bujo bukan wanita yang religius. Dia hampir tidak pernah sembahyang. Seingat Bujo sang ibu pernah berkata, “Buat apa sembahyang, Jo, kalau kamu masih berbuat dosa, tidak hormat sama orangtua, sama guru dan sama pemuka agama.”

Dalam hati Bujo mendengus, termasuk Ibu yang lupa sama anak karena menomorsatukan karir dan uang. Ibu juga gak pantas sembahyang, gumamnya dalam hati.

Lagipula Bujo juga tidak butuh ke tempat ibadah. Tidak ada panutan yang mampu menggiringnya menuju bahagia.

***

Baru setengah perjalanan turun Gunung Semeru, Bujo sudah merasakan lelah luar biasa. Kakinya gemetar sangat keras. Hatinya meracau. Keringat mengalir deras. Seharusnya hari ini, gumamnya. Bukan besok, bukan lusa.

Kegelisahan berkepanjangan. Sepanjang hidupnya, Bujo mengais kasih sayang, mencari panutan hidup. Di mana panutan hidupnya? Tuhan telah membuat rencana untuk hidupnya, bahwa seorang Bujo tak pantas mencicipi rasa bahagia, manisnya cinta kasih. Langkahnya gontai, Sekujur tubuhnya mati rasa. Bujo memaksa untuk tetap berjalan. Sedikit lagi, aku harus bertahan. Bujo terus berjalan, langkahnya pendek dan pelan, lama lama menjadi semakin pelan. Dia tidak ingat hal terakhir yang terjadi padanya, setelah kaki itu jatuh terperosok ke dalam lubang besar. Yang terasa, hanya sakit.

Dua hari sejak kejadian itu, Ibu Bujo yang menyadari bahwa putranya hilang melaporkan kehilangannya ke polisi. Bersamaan dengan itu masyarakat menemukan sesosok mayat yang diduga adalah Bujo.  Setelah dibawa ke rumah sakit, benarlah bahwa itu Bujo yang malang.

Menurut cerita yang beredar, sejak kematian Bujo, sang Ibu semakin jarang di rumah, lebih sering bekerja. Mbak Idah menceritakan bahwa keluarga Bujo semakin kehilangan denyutnya. Kiamat, seperti yang selalu diharapkan Bujo.

“Namun Bujo tidak benar-benar mati,” ucap Mbak Idah. “Dan tidak pernah benar-benar hidup!” (T)

 

Tags: Cerpen
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

Renungan “Tumpek Wayang” di Akhir Tahun: Manusia Selalu Dikejar Sang Kala

Next Post

Bicara “Topi Saya Bundar”, Bicara Definisi Kehormatan

Komang Astiari

Komang Astiari

Lahir 28-02-1984. Lulusan Sastra Inggris Universitas Warmadewa Denpasar. Ibu dua anak ini punya ketertarikan besar pada bidang seni, terutama melukis dan menulis. Beberapa lukisannya menjadi ilustrasi di tatkala.co

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post

Bicara “Topi Saya Bundar”, Bicara Definisi Kehormatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co