24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Banten-mebanten” Urusan Mutlak, Kapan Liburnya Ibu Kita?

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 2, 2018
in Opini

Istimewa

“Ma, melali yuk, ke Yogja, nyingakin Malioboro, bek ade hiburan ditu, sesekali refresinglah,” ajak seorang anak muda Bali kepada ibunya

“Nyen men orin mebanten yen Mama liburan, dadong di Solo?” sahut mamanya ketus sambil melanjutkan pekerjaannya.

***

PERCAKAPAN di atas merupakan satu di antara ketakutan sejumlah orang Hindu-Bali jika meninggalkan rumah terlalu lama, khususnya kaum ibu-ibu. Ida Sang Hyang Widhi Wasa, leluhur di merajan beserta dewa-dewa yang setiap hari dihaturkan banten akan marah kalau rutinitas mebanten tidak dilaksanakan.

Karena orang Bali percaya jika sampai leluhur marah apapun jalan yang dikehendaki akan selalu menemui kesusahan. Mau tidak mau, bagaimanapun keadaannya, mebanten kegiatan multak, tidak ada tawar-menawar. Harus.

Di Bali, ada satu tipe ibu-ibu menarik dan patut dipertahankan keberlangsungan hakikat hidupnya, yaitu ibu-ibu yang bekerja di perusahaan swasta atau memilih membuka perusahaannya sendiri. Kendati mengejar karir dan omzet penjualan, mereka tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Bisa dibayangkan akumulasi pekerjaanya, mulai dari urusan banten (dari pra sampai pasca), mengurus anak sekolah, melayani suami minimal membuatkan kopi di pagi hari, hingga remeh temeh menyama braya, belum lagi pekerjaan di kantor yang menuntut kredibilitas dan profesionalitas  kerja.

Setiap hari tipe ibu-ibu ini bangun lebih pagi dari anak dan suaminya. Ia seolah menjelma tentara untuk menyisir pasar mencari keperluan keluarga. Semisal bumbu masak, sayur, daging, janur, jaje banten, jaje Bali untuk kudapan, sarapan pagi dan lain sebagainya.  Cepat, tepat dan efisien waktu, bila perlu menghunus bayonet jika ada yang menghalang. Sesekali mereka saling adu mulut dengan sesama kaumnya, meminta pedagang agar melayaninya terlebih dahulu.

“Selag je tiang sik neh, sampun tengai niki, durung ngudiang-ngudiang.” Itu kalimat yang sering saya dengar, jika mereka ingin didahulukan. Apa boleh buat, pasrah saja, daripada kena tusuk bayonet, atau kena semprot gas air mata. Bahaya melawan ibu-ibu tipe ini di pagi hari. Ibarat membangunkan singa yang sedang tidur  pulas di atas kasur King Koil.

Sesampai di rumah ia menjadi seorang multitasking, memasak, nanding banten, mebanten, membersihkan rumah, hingga sarang bertanya sang anak atau suami jika barang yang ingin dicari tidak ditemukan. Syukur anggota lain berinisiatif membantu pekerjaan di pagi hari tersebut.

Saya jadi ingat ketika SD saat bertugas mebanten keliling, di lingkungan rumah, serta sejumlah pura. Sering kali saat itu saya hanya menaruh banten saiban  lalu ngayabin sekadarnya, karena takut, suasana masih gelap jam 05.00 wita, Broo. Sing ade nak bangun jam monto, kalau saya diterkam sesuatu gimana, atau melihat yang tidak sepantasnya dilihat? Sereeem…

Kembali lagi ke topik. Jika semuanya telah selesai, barulah ibu tipe ini mempersiapkan dirinya. kadang kala berias pun dilakukan terburu-buru, sebab waktu kian menghimpit. Belum lagi ada berkas kerjaan yang harus dibawa ke kantor.

Sepulang kerja, pekerjaan rumah tangga tak hentinya menghantui, mebanten sore hari, mengurus baju kotor, masak untuk makan malam, mengajarkan anak, dan lain lain. Itu baru rutinitas sehari-hari, belum jika ada rahinan namun kantor melarang mengambil libur. Tentu pekerjaan akan berlipat ganda, berkali lipat.

Pantas saja dadong di solo selalu menjadi kambing hitam, jika ibu-ibu ini mengambil pekerjaan tambahan di luar rutinitasnya. Contohnya berlibur.  Apalagi jika berkaitan dengan yang “diatas”, jangan dipalas. Oh ya kiasan dadong di Solo semacam kelakar yang berarti kemustahilan, ketidakmungkinan.

Memang benar kepanjangan Bali, BAnyak LIbur. tapi libur orang Bali bukan libur ala orang Eropa, yang mengalokasikan waktunya untuk mengunjungi tempat-tempat baru. Libur orang Bali tidak jauh-jauh dari urusan adat, agama dan menyama braya.

Tapi bagi orang Bali hal tersebut juga berlibur ketemu sanak keluarga dari segala penjuru, kemudian maceki, minum tuak hingga teler. Esensinya sama kan, bersenang-senang.

Kaum ibu pekerja memang tidak pula ikut teler minum tuak, tapi mereka sibuk mengurus segala kebutuhan sesaji, jangan dianggap remeh hal tersebut. Sebab di Bali ibu-ibu harus menghafal banyak bentuk banten, sampian, serta detail-detailnya.

Mama saya saja membawa sejumlah catatan dari mertuanya untuk membuat sejumlah banten. Tapi ketika saya tanya, apa maknanya. Jawabnya pasti pendek, “mule keto catatanne”. Jawaban pamungkas, tidak boleh ditanya lagi, hasilnya akan sama.

***

Jika ditelisik lebih jauh, apakah benar Tuhan, leluhur, serta dewa-dewa yang kita puja setiap hari itu memberatkan. Apakah mungkin mereka (sugra pakulun) menebar ketakutan kepada umatnya, sehingga rutinitas mebanten setiap hari  dilaksanakan. Jadi, mebanten bukan lagi korban suci tulus ikhlas yang dilakukan dengan kidmat, tapi karena alasan ketakutan, takut kena musibah, takut tidak direstui, takut rezeki tidak lancar, dan alasan takut lainnya.

Tidak adakah pengecualian bagi kaum ibu-ibu pekerja untuk meliburkan diri dalam urusan mebanten tersebut. sehingga mereka bisa liburan ke Gunung Bromo misalnya melihat kehidupan Suku Tengger yang beragama Hindu dengan tata cara adat yang lebih sederhana. Sekalian studi bandinglah bedik.

Ada seorang kawan pernah bercerita  tentang tetangganya yang tidak lagi mebanten saiban ke sejumlah tempat yang seharusnya. Tetangganya itu hanya mebanten di merajan dan di dapur, sejumlah tempat yang diangap penting.

Yang terjadi adalah istrinya sakit, dan keluarganya banyak masalah, serta bisnisnya tidak lancar karena sang istri jatuh sakit. Hal tersebut dikaitkan sedemikian rupa hingga menjadi masuk akal, bahwa kalau tidak mebanten musibah akan datang.

Ratu Bethara, kok ada manusia berfikir sesempit itu. Tidak semua hal mesti dikaitkan ke dunia irasional. Bukankah sakit masalah medis, dan dapat ditelaah penyebabnya. Sementara urusan mebanten keyakinan masing-masing setiap individu, jadi tak perlu disoalkan dan digosipkan di ranah publik.

***

Kalau ada ibu-ibu pekerja yang keluar kota, pastilah urusan kantor, atau urusan bisnis. Ia menitipkan urusan mebanten kepada suami atau anak-anaknya. Yang penting kegiatan banten-mebanten berlangsung tanpa dirinya. Tidak jarang sang ibu akan menelepon suaminya untuk menanyakan “sudah ngatur rarapan, sudah mebanten, sudah ngatur kopi di tugunkarang”. Bukan menanyakan hal yang lebih kontekstual misalnya sekolah anaknya, perkembangan anaknya di sekolah hari itu, makanan suaminya, atau apapun-lah.

Beberapa ibu yang memiliki usaha sendiri menjelaskan kepada saya, ia sedikit memikirkan kualitas pendidikan anaknya, sibuk untuk bekerja agar bisa maturan, mebanten setiap hari, membuat prani (gebogan) saat Galungan, singkatnya urusan agama dan adat nomor satu. Jadi urusan lainnya tidak menjadi prioritas, apalagi liburan.

Untuk itu dalam rangka menyambut Hari Ibu ini, saya sarankan bagi para suami, siswa, mahasiswa, kaum pekerja atau siapapunlah yang masih memiliki ibu di rumah, khususnya tipe ibu-ibu yang saya jelaskan di atas. Akuisisi semua pekerjaannya lalu ajak jalan-jalan ke tempat yang belum pernah ia kunjungi. Bila perlu keluar kota. Sampaikan jika ia khawatir, pekerjaan rumah sudah di-handle seseorang termasuk urusan mebanten.

Kalaupun Anda berbohong, saya yakin Tuhan, leluhur dan dewa-dewa tak akan marah. Mereka pasti memakluminya. Cepok gen, sing engken kok. Hehehehehe.

Selamat Hari Ibu. (T)

Tags: baliibuorang baliPerempuan
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Merayakan Hari Ibu: Memutar Kembali Film “Lemantun” di Kepala Kita

Next Post

“Sesar atau Normal”, Tidak Mengurangi Keibuan Seorang Ibu

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post

“Sesar atau Normal”, Tidak Mengurangi Keibuan Seorang Ibu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co