2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Banten-mebanten” Urusan Mutlak, Kapan Liburnya Ibu Kita?

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 2, 2018
in Opini

Istimewa

“Ma, melali yuk, ke Yogja, nyingakin Malioboro, bek ade hiburan ditu, sesekali refresinglah,” ajak seorang anak muda Bali kepada ibunya

“Nyen men orin mebanten yen Mama liburan, dadong di Solo?” sahut mamanya ketus sambil melanjutkan pekerjaannya.

***

PERCAKAPAN di atas merupakan satu di antara ketakutan sejumlah orang Hindu-Bali jika meninggalkan rumah terlalu lama, khususnya kaum ibu-ibu. Ida Sang Hyang Widhi Wasa, leluhur di merajan beserta dewa-dewa yang setiap hari dihaturkan banten akan marah kalau rutinitas mebanten tidak dilaksanakan.

Karena orang Bali percaya jika sampai leluhur marah apapun jalan yang dikehendaki akan selalu menemui kesusahan. Mau tidak mau, bagaimanapun keadaannya, mebanten kegiatan multak, tidak ada tawar-menawar. Harus.

Di Bali, ada satu tipe ibu-ibu menarik dan patut dipertahankan keberlangsungan hakikat hidupnya, yaitu ibu-ibu yang bekerja di perusahaan swasta atau memilih membuka perusahaannya sendiri. Kendati mengejar karir dan omzet penjualan, mereka tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Bisa dibayangkan akumulasi pekerjaanya, mulai dari urusan banten (dari pra sampai pasca), mengurus anak sekolah, melayani suami minimal membuatkan kopi di pagi hari, hingga remeh temeh menyama braya, belum lagi pekerjaan di kantor yang menuntut kredibilitas dan profesionalitas  kerja.

Setiap hari tipe ibu-ibu ini bangun lebih pagi dari anak dan suaminya. Ia seolah menjelma tentara untuk menyisir pasar mencari keperluan keluarga. Semisal bumbu masak, sayur, daging, janur, jaje banten, jaje Bali untuk kudapan, sarapan pagi dan lain sebagainya.  Cepat, tepat dan efisien waktu, bila perlu menghunus bayonet jika ada yang menghalang. Sesekali mereka saling adu mulut dengan sesama kaumnya, meminta pedagang agar melayaninya terlebih dahulu.

“Selag je tiang sik neh, sampun tengai niki, durung ngudiang-ngudiang.” Itu kalimat yang sering saya dengar, jika mereka ingin didahulukan. Apa boleh buat, pasrah saja, daripada kena tusuk bayonet, atau kena semprot gas air mata. Bahaya melawan ibu-ibu tipe ini di pagi hari. Ibarat membangunkan singa yang sedang tidur  pulas di atas kasur King Koil.

Sesampai di rumah ia menjadi seorang multitasking, memasak, nanding banten, mebanten, membersihkan rumah, hingga sarang bertanya sang anak atau suami jika barang yang ingin dicari tidak ditemukan. Syukur anggota lain berinisiatif membantu pekerjaan di pagi hari tersebut.

Saya jadi ingat ketika SD saat bertugas mebanten keliling, di lingkungan rumah, serta sejumlah pura. Sering kali saat itu saya hanya menaruh banten saiban  lalu ngayabin sekadarnya, karena takut, suasana masih gelap jam 05.00 wita, Broo. Sing ade nak bangun jam monto, kalau saya diterkam sesuatu gimana, atau melihat yang tidak sepantasnya dilihat? Sereeem…

Kembali lagi ke topik. Jika semuanya telah selesai, barulah ibu tipe ini mempersiapkan dirinya. kadang kala berias pun dilakukan terburu-buru, sebab waktu kian menghimpit. Belum lagi ada berkas kerjaan yang harus dibawa ke kantor.

Sepulang kerja, pekerjaan rumah tangga tak hentinya menghantui, mebanten sore hari, mengurus baju kotor, masak untuk makan malam, mengajarkan anak, dan lain lain. Itu baru rutinitas sehari-hari, belum jika ada rahinan namun kantor melarang mengambil libur. Tentu pekerjaan akan berlipat ganda, berkali lipat.

Pantas saja dadong di solo selalu menjadi kambing hitam, jika ibu-ibu ini mengambil pekerjaan tambahan di luar rutinitasnya. Contohnya berlibur.  Apalagi jika berkaitan dengan yang “diatas”, jangan dipalas. Oh ya kiasan dadong di Solo semacam kelakar yang berarti kemustahilan, ketidakmungkinan.

Memang benar kepanjangan Bali, BAnyak LIbur. tapi libur orang Bali bukan libur ala orang Eropa, yang mengalokasikan waktunya untuk mengunjungi tempat-tempat baru. Libur orang Bali tidak jauh-jauh dari urusan adat, agama dan menyama braya.

Tapi bagi orang Bali hal tersebut juga berlibur ketemu sanak keluarga dari segala penjuru, kemudian maceki, minum tuak hingga teler. Esensinya sama kan, bersenang-senang.

Kaum ibu pekerja memang tidak pula ikut teler minum tuak, tapi mereka sibuk mengurus segala kebutuhan sesaji, jangan dianggap remeh hal tersebut. Sebab di Bali ibu-ibu harus menghafal banyak bentuk banten, sampian, serta detail-detailnya.

Mama saya saja membawa sejumlah catatan dari mertuanya untuk membuat sejumlah banten. Tapi ketika saya tanya, apa maknanya. Jawabnya pasti pendek, “mule keto catatanne”. Jawaban pamungkas, tidak boleh ditanya lagi, hasilnya akan sama.

***

Jika ditelisik lebih jauh, apakah benar Tuhan, leluhur, serta dewa-dewa yang kita puja setiap hari itu memberatkan. Apakah mungkin mereka (sugra pakulun) menebar ketakutan kepada umatnya, sehingga rutinitas mebanten setiap hari  dilaksanakan. Jadi, mebanten bukan lagi korban suci tulus ikhlas yang dilakukan dengan kidmat, tapi karena alasan ketakutan, takut kena musibah, takut tidak direstui, takut rezeki tidak lancar, dan alasan takut lainnya.

Tidak adakah pengecualian bagi kaum ibu-ibu pekerja untuk meliburkan diri dalam urusan mebanten tersebut. sehingga mereka bisa liburan ke Gunung Bromo misalnya melihat kehidupan Suku Tengger yang beragama Hindu dengan tata cara adat yang lebih sederhana. Sekalian studi bandinglah bedik.

Ada seorang kawan pernah bercerita  tentang tetangganya yang tidak lagi mebanten saiban ke sejumlah tempat yang seharusnya. Tetangganya itu hanya mebanten di merajan dan di dapur, sejumlah tempat yang diangap penting.

Yang terjadi adalah istrinya sakit, dan keluarganya banyak masalah, serta bisnisnya tidak lancar karena sang istri jatuh sakit. Hal tersebut dikaitkan sedemikian rupa hingga menjadi masuk akal, bahwa kalau tidak mebanten musibah akan datang.

Ratu Bethara, kok ada manusia berfikir sesempit itu. Tidak semua hal mesti dikaitkan ke dunia irasional. Bukankah sakit masalah medis, dan dapat ditelaah penyebabnya. Sementara urusan mebanten keyakinan masing-masing setiap individu, jadi tak perlu disoalkan dan digosipkan di ranah publik.

***

Kalau ada ibu-ibu pekerja yang keluar kota, pastilah urusan kantor, atau urusan bisnis. Ia menitipkan urusan mebanten kepada suami atau anak-anaknya. Yang penting kegiatan banten-mebanten berlangsung tanpa dirinya. Tidak jarang sang ibu akan menelepon suaminya untuk menanyakan “sudah ngatur rarapan, sudah mebanten, sudah ngatur kopi di tugunkarang”. Bukan menanyakan hal yang lebih kontekstual misalnya sekolah anaknya, perkembangan anaknya di sekolah hari itu, makanan suaminya, atau apapun-lah.

Beberapa ibu yang memiliki usaha sendiri menjelaskan kepada saya, ia sedikit memikirkan kualitas pendidikan anaknya, sibuk untuk bekerja agar bisa maturan, mebanten setiap hari, membuat prani (gebogan) saat Galungan, singkatnya urusan agama dan adat nomor satu. Jadi urusan lainnya tidak menjadi prioritas, apalagi liburan.

Untuk itu dalam rangka menyambut Hari Ibu ini, saya sarankan bagi para suami, siswa, mahasiswa, kaum pekerja atau siapapunlah yang masih memiliki ibu di rumah, khususnya tipe ibu-ibu yang saya jelaskan di atas. Akuisisi semua pekerjaannya lalu ajak jalan-jalan ke tempat yang belum pernah ia kunjungi. Bila perlu keluar kota. Sampaikan jika ia khawatir, pekerjaan rumah sudah di-handle seseorang termasuk urusan mebanten.

Kalaupun Anda berbohong, saya yakin Tuhan, leluhur dan dewa-dewa tak akan marah. Mereka pasti memakluminya. Cepok gen, sing engken kok. Hehehehehe.

Selamat Hari Ibu. (T)

Tags: baliibuorang baliPerempuan
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Merayakan Hari Ibu: Memutar Kembali Film “Lemantun” di Kepala Kita

Next Post

“Sesar atau Normal”, Tidak Mengurangi Keibuan Seorang Ibu

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

“Sesar atau Normal”, Tidak Mengurangi Keibuan Seorang Ibu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co