23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Banten-mebanten” Urusan Mutlak, Kapan Liburnya Ibu Kita?

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 2, 2018
in Opini

Istimewa

“Ma, melali yuk, ke Yogja, nyingakin Malioboro, bek ade hiburan ditu, sesekali refresinglah,” ajak seorang anak muda Bali kepada ibunya

“Nyen men orin mebanten yen Mama liburan, dadong di Solo?” sahut mamanya ketus sambil melanjutkan pekerjaannya.

***

PERCAKAPAN di atas merupakan satu di antara ketakutan sejumlah orang Hindu-Bali jika meninggalkan rumah terlalu lama, khususnya kaum ibu-ibu. Ida Sang Hyang Widhi Wasa, leluhur di merajan beserta dewa-dewa yang setiap hari dihaturkan banten akan marah kalau rutinitas mebanten tidak dilaksanakan.

Karena orang Bali percaya jika sampai leluhur marah apapun jalan yang dikehendaki akan selalu menemui kesusahan. Mau tidak mau, bagaimanapun keadaannya, mebanten kegiatan multak, tidak ada tawar-menawar. Harus.

Di Bali, ada satu tipe ibu-ibu menarik dan patut dipertahankan keberlangsungan hakikat hidupnya, yaitu ibu-ibu yang bekerja di perusahaan swasta atau memilih membuka perusahaannya sendiri. Kendati mengejar karir dan omzet penjualan, mereka tidak melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga.

Bisa dibayangkan akumulasi pekerjaanya, mulai dari urusan banten (dari pra sampai pasca), mengurus anak sekolah, melayani suami minimal membuatkan kopi di pagi hari, hingga remeh temeh menyama braya, belum lagi pekerjaan di kantor yang menuntut kredibilitas dan profesionalitas  kerja.

Setiap hari tipe ibu-ibu ini bangun lebih pagi dari anak dan suaminya. Ia seolah menjelma tentara untuk menyisir pasar mencari keperluan keluarga. Semisal bumbu masak, sayur, daging, janur, jaje banten, jaje Bali untuk kudapan, sarapan pagi dan lain sebagainya.  Cepat, tepat dan efisien waktu, bila perlu menghunus bayonet jika ada yang menghalang. Sesekali mereka saling adu mulut dengan sesama kaumnya, meminta pedagang agar melayaninya terlebih dahulu.

“Selag je tiang sik neh, sampun tengai niki, durung ngudiang-ngudiang.” Itu kalimat yang sering saya dengar, jika mereka ingin didahulukan. Apa boleh buat, pasrah saja, daripada kena tusuk bayonet, atau kena semprot gas air mata. Bahaya melawan ibu-ibu tipe ini di pagi hari. Ibarat membangunkan singa yang sedang tidur  pulas di atas kasur King Koil.

Sesampai di rumah ia menjadi seorang multitasking, memasak, nanding banten, mebanten, membersihkan rumah, hingga sarang bertanya sang anak atau suami jika barang yang ingin dicari tidak ditemukan. Syukur anggota lain berinisiatif membantu pekerjaan di pagi hari tersebut.

Saya jadi ingat ketika SD saat bertugas mebanten keliling, di lingkungan rumah, serta sejumlah pura. Sering kali saat itu saya hanya menaruh banten saiban  lalu ngayabin sekadarnya, karena takut, suasana masih gelap jam 05.00 wita, Broo. Sing ade nak bangun jam monto, kalau saya diterkam sesuatu gimana, atau melihat yang tidak sepantasnya dilihat? Sereeem…

Kembali lagi ke topik. Jika semuanya telah selesai, barulah ibu tipe ini mempersiapkan dirinya. kadang kala berias pun dilakukan terburu-buru, sebab waktu kian menghimpit. Belum lagi ada berkas kerjaan yang harus dibawa ke kantor.

Sepulang kerja, pekerjaan rumah tangga tak hentinya menghantui, mebanten sore hari, mengurus baju kotor, masak untuk makan malam, mengajarkan anak, dan lain lain. Itu baru rutinitas sehari-hari, belum jika ada rahinan namun kantor melarang mengambil libur. Tentu pekerjaan akan berlipat ganda, berkali lipat.

Pantas saja dadong di solo selalu menjadi kambing hitam, jika ibu-ibu ini mengambil pekerjaan tambahan di luar rutinitasnya. Contohnya berlibur.  Apalagi jika berkaitan dengan yang “diatas”, jangan dipalas. Oh ya kiasan dadong di Solo semacam kelakar yang berarti kemustahilan, ketidakmungkinan.

Memang benar kepanjangan Bali, BAnyak LIbur. tapi libur orang Bali bukan libur ala orang Eropa, yang mengalokasikan waktunya untuk mengunjungi tempat-tempat baru. Libur orang Bali tidak jauh-jauh dari urusan adat, agama dan menyama braya.

Tapi bagi orang Bali hal tersebut juga berlibur ketemu sanak keluarga dari segala penjuru, kemudian maceki, minum tuak hingga teler. Esensinya sama kan, bersenang-senang.

Kaum ibu pekerja memang tidak pula ikut teler minum tuak, tapi mereka sibuk mengurus segala kebutuhan sesaji, jangan dianggap remeh hal tersebut. Sebab di Bali ibu-ibu harus menghafal banyak bentuk banten, sampian, serta detail-detailnya.

Mama saya saja membawa sejumlah catatan dari mertuanya untuk membuat sejumlah banten. Tapi ketika saya tanya, apa maknanya. Jawabnya pasti pendek, “mule keto catatanne”. Jawaban pamungkas, tidak boleh ditanya lagi, hasilnya akan sama.

***

Jika ditelisik lebih jauh, apakah benar Tuhan, leluhur, serta dewa-dewa yang kita puja setiap hari itu memberatkan. Apakah mungkin mereka (sugra pakulun) menebar ketakutan kepada umatnya, sehingga rutinitas mebanten setiap hari  dilaksanakan. Jadi, mebanten bukan lagi korban suci tulus ikhlas yang dilakukan dengan kidmat, tapi karena alasan ketakutan, takut kena musibah, takut tidak direstui, takut rezeki tidak lancar, dan alasan takut lainnya.

Tidak adakah pengecualian bagi kaum ibu-ibu pekerja untuk meliburkan diri dalam urusan mebanten tersebut. sehingga mereka bisa liburan ke Gunung Bromo misalnya melihat kehidupan Suku Tengger yang beragama Hindu dengan tata cara adat yang lebih sederhana. Sekalian studi bandinglah bedik.

Ada seorang kawan pernah bercerita  tentang tetangganya yang tidak lagi mebanten saiban ke sejumlah tempat yang seharusnya. Tetangganya itu hanya mebanten di merajan dan di dapur, sejumlah tempat yang diangap penting.

Yang terjadi adalah istrinya sakit, dan keluarganya banyak masalah, serta bisnisnya tidak lancar karena sang istri jatuh sakit. Hal tersebut dikaitkan sedemikian rupa hingga menjadi masuk akal, bahwa kalau tidak mebanten musibah akan datang.

Ratu Bethara, kok ada manusia berfikir sesempit itu. Tidak semua hal mesti dikaitkan ke dunia irasional. Bukankah sakit masalah medis, dan dapat ditelaah penyebabnya. Sementara urusan mebanten keyakinan masing-masing setiap individu, jadi tak perlu disoalkan dan digosipkan di ranah publik.

***

Kalau ada ibu-ibu pekerja yang keluar kota, pastilah urusan kantor, atau urusan bisnis. Ia menitipkan urusan mebanten kepada suami atau anak-anaknya. Yang penting kegiatan banten-mebanten berlangsung tanpa dirinya. Tidak jarang sang ibu akan menelepon suaminya untuk menanyakan “sudah ngatur rarapan, sudah mebanten, sudah ngatur kopi di tugunkarang”. Bukan menanyakan hal yang lebih kontekstual misalnya sekolah anaknya, perkembangan anaknya di sekolah hari itu, makanan suaminya, atau apapun-lah.

Beberapa ibu yang memiliki usaha sendiri menjelaskan kepada saya, ia sedikit memikirkan kualitas pendidikan anaknya, sibuk untuk bekerja agar bisa maturan, mebanten setiap hari, membuat prani (gebogan) saat Galungan, singkatnya urusan agama dan adat nomor satu. Jadi urusan lainnya tidak menjadi prioritas, apalagi liburan.

Untuk itu dalam rangka menyambut Hari Ibu ini, saya sarankan bagi para suami, siswa, mahasiswa, kaum pekerja atau siapapunlah yang masih memiliki ibu di rumah, khususnya tipe ibu-ibu yang saya jelaskan di atas. Akuisisi semua pekerjaannya lalu ajak jalan-jalan ke tempat yang belum pernah ia kunjungi. Bila perlu keluar kota. Sampaikan jika ia khawatir, pekerjaan rumah sudah di-handle seseorang termasuk urusan mebanten.

Kalaupun Anda berbohong, saya yakin Tuhan, leluhur dan dewa-dewa tak akan marah. Mereka pasti memakluminya. Cepok gen, sing engken kok. Hehehehehe.

Selamat Hari Ibu. (T)

Tags: baliibuorang baliPerempuan
Share21TweetSendShareSend
Previous Post

Merayakan Hari Ibu: Memutar Kembali Film “Lemantun” di Kepala Kita

Next Post

“Sesar atau Normal”, Tidak Mengurangi Keibuan Seorang Ibu

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post

“Sesar atau Normal”, Tidak Mengurangi Keibuan Seorang Ibu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co