24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merayakan Hari Ibu: Memutar Kembali Film “Lemantun” di Kepala Kita

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 2, 2018
in Ulasan

Sumber ilustrasi: youtube

#Film Pendek: Lemantun (2015) #Sutradara: Raphael Wregas Bhanuteja #Pemain: Tatik Wardiono, Den Baguse Ngarsa, Agus Kencrot, Titik Renggani, Trianto Hapsoro, Freddy Rotterdam

 

PERMISI nyilang margi para penggiat film, kritikus film, pembuat film, atau kawan-kawan yang fokus di dunia film.  Saya hanya penikmat film yang suka ngomong ngarul-ngidul, sok-sokan berkomentar  usai menonton film. Kadang sebagai bahan ringan pengantar minum kopi atau sebagai penyambung obrolan jikalau bertemu kawan-kawan lama.  Jadi tulisan ini anggap saja sebagai curhatan, opini, atau dongeng belaka. Tabik Sugra….

***

Made Wianta pelukis asal Bali, pernah bercerita kepada saya (sekitar tahun 2008), dirinya lebih tertarik pada seseorang lewat karya ciptaannya. Tidak menyoal siapa senimannya, yang penting adalah karyanya hadir dan menggugah.  pemahaman ini saya pegang dalam menelisik suatu karya seni, salah satunya film Wregas Bhanuteja.

Nama Wregas Bhanuteja sedang naik daun, sebagai sutradara muda berbakat. Tidak usah saya ulas raihan penghargaan yang ia peroleh ya, di dunia maya banyak sekali bertebaran informasi mengenai Wregas (Baca: malas mengulang tulisan sama) hahaha.

Saya pribadi mengenal nama Wregas usai membaca ulasan Putu Fajar Arcana tentang film pendek Prenjak di halaman  Kompas Minggu beberapa bulan yang lalu. Apa filmnya? Bagaimana ceritanya? Gimana framing-nya? Kok bisa dapat penghargaan tertinggi di Cannes? Siaaaal.

***

Dua bulan yang lalu akhirnya saya bisa nonton film Prenjak dalam rangkaian  Ubud Writer and Reader Festival (UWRF) di Betelnut, Ubud. Ada 5 film yang diputar saat itu yakni Senyawa, Lemantun, Floating Chopin, Lembusura dan Prenjak.

Dari kelima film tersebut yang masih melekat di hati dan pikiran adalah Lemantun, bukan Prenjak. Mungkin ulasan Prenjak sering saya baca sebelum menontonnya langsung, jadi telah ada konsep dan doktrin tertentu mengenai film Prenjak.

Film Lemantun berdurasi 20 menit dan diproduksi pada tahun 2014 itu berhasil mengganggu tidur saya setiap malam. Adegan film Lemantun seperti komedi putar di kepala. Apalagi kegelisahannya Tri dan logat Jawa  sang ibu seperti dua monster yang bercokol begitu saja di ujung imaji saya.

Saya memutuskan untuk menulis serta memberi ulasan pribadi kenapa film tersebut kuat melekat  hingga saat ini.

***

Tri, penjual bensin rumahan adalah anak ke-3 dari 5 bersaudara. Eko, Dwi,, Yuni, dan Anto. Keempat saudaranya memiliki gelar pendidikan yang cukup tinggi terbukti dari gelar yang bersanding di depan maupun di belakang nama mereka. Ibu dari kelima bersaudara ini hendak membagikan warisan, untuk itu mereka berkumpul di rumah masa kecilnya.

Warisan yang diberikan bukan tanah, perhiasan, atau uang tapi Lemari dalam bahasa jawanya disebut Lemantun.  Sang ibu menjelaskan lemari tersebut beliau beli setiap melahirkan. Jadi lemari disimbolkan sebagai bentuk kehadiran anak di keluarga tersebut.

Lemari diundi berdasarkan nomor. Kelima anak mendapatkan “harta”nya masing-masing. Kemudian sang ibu meminta agar mereka segera memindahkan lemari itu dari rumahnya, hari itu juga. Jika tidak akan dikenakan denda. Alhasil Eko, Dwi, Yuni dan Anto kelimpungan mencari bala bantuan untuk memenuhi perintah sang ibu. Sementara Tri bingung ke mana lemari miliknya dipindahkan,  sebab ia belum memiliki rumah sendiri, ia masih  seatap bersama sang ibu.

Setelah keempat saudaranya pergi bersama lemari warisan. Tri bersusah payah mengangkat lemari untuk di bawa ke rumah temannya. Ia bermaksud untuk menitipkan terlebih dahulu. Sebelum nanti ia benar-benar memiliki kediaman sendiri. Tapi sang ibu tak mengizinkannya, malah menyarankan Tri untuk menitipkan di rumah ibu saja  untuk sementara waktu.

Singkat cerita sang ibu terjatuh di kamar mandi. Sehingga memerlukan bantuan jika hendak beraktifitas. Tri-lah yang menjaga dan membantu ibunya setelah insiden tersebut. Ia merawat ibu sama seperti ibu membesarkan dirinya, tulus dan penuh kasih sayang

Warisan Tri berakhir menjadi tempat berjualan bensin di depan rumah. Sementara lemari warisan yang lain berakhir di ruang kerja, di pasar loak, di pinggir sungai bahkan di toko barang bekas.

Adegan-adegan Ciamik

Film yang berlatar belakang keluarga kecil di Jawa ini begitu memikat, selain jalan cerita yang sederhana tapi kuat dan menggugah. Sejumlah adegan juga patut mendapat acungan jempol. Karena memiliki andil besar mengantarkan pemahaman penonton untuk menangkap maksud sang sutradara.

Ada sejumlah adegan menarik, layaknya bumbu pemanis dari keseluruhan film Lemantun. Misalnya adegan saat Tri memasukkan tubuhnya ke lemari. Berwajah bimbang, linglung, dipadu dengan warna  coklat lusuh dari lemari tua, adegan tersebut berhasil membangun suasana muram di hati saya.

Ditambah pula setting dapur khas Jawa konvensional. Menambah kesan lampau dan begitu purbanya adegan tersebut.  Tri seperti bermain teater di tengah ruang lemari, sembari menerka solusi akan dibawa ke mana warisan ibu ini.  Adegan ini tak biasa, namun sungguh ciamik. Dasar film indie selalu ada absurd-nya.  Hahaha

Jika lebih jauh menerka dapat ditafsir lemari sebagai simbol ibu dan Tri adalah anak dalam kandungan. Tri seolah menjadi bayi yang berpulang ke rahim. Lemari melindungi pakaian, ibu melindungi anaknya. Mereka pelindung. Adegan ini jeg teater sajan.

Selain itu sejumlah adegan lucu pun diporsikan secukupnya. Seperti adegan Dwi menjaili Anton. Dwi menceritakan lemari Anton isinya seekor naga. Dengan logat bahasa Jawa yang kental, percakapan mengalir serta diselipi kata-kata makian khas Jawa. Begitu pula adegan Dwi saat berswafoto dengan lemarinya, kekinian banget.

Itu adegan berhasil mengundang tawa penonton, swafoto begitu dekat dengan keseharian, mungkin tawa mereka dalam rangka menertawai diri sendiri.  Hehehe.

Akhir film mengisahkan “rumah baru” lemari. Jika kita sepakati lemari warisan itu adalah simbol ibu, dalam ekspektasi saya warisan tersebut tentu mendapat tempat yang layak. Tapi senyatanya tak semua demikian, ada yang berakhir di pinggir jalan serta di toko barang bekas. Secara pribadi penggambaran  visual adegan ini menyentuh hati.

Salah satunya, lemari berada di pinggir sungai bersanding dengan barang bekas lainnya, miris. Ada pula lemari yang berada di pinggir jalan, berjejer dengan benda usang berkarat. Satu daun pintunya bergerak terbuka ditiup angin. Entah sang sutradara meniati adegan itu atau memang tak sengaja. Tapi jelas, bahasa gambar ini top markotop. Salut.

Jadi bisakah disimpulkan kalau kasih sayang anak kepada ibunya hanya sepanjang galah?

Belum tentu. Ada Tri yang dikisahkan menjaga, merawat dan melindungi ibunya di rumah. Jadi walaupun sepanjang galah, tapi jangan lupa galah dapat di sambung-sambung hingga panjangnya menjulang. Tapi tak semua orang memperlakukan ibunya seperti Tri, ada pula yang acuh tak acuh. Penanda kesinambungan hidup di dunia, ada hitam ada putihnya. Jadi silahkan di pilih.

Dalam sesi tanya jawab Wregas menjelaskan  film Lemantun ini merupakan kisah nyata yang diambil dari salah seorang keluarganya. Waduuuuh,  film ini pernah terjadi di dunia nyata. Hidup kadang absurd yah, seabsurd imajinasi manusia.

Selain adegan, saya pula mencermati sudut pengambilan gambar Lematun. Sungguh sederhana, tidak banyak neko-neko. Bahkan cenderung statis. Terkesan lemah? Bagi saya tidak, karena cerita Lemantun cukup kuat. Jadi pengambilan gambar tak perlu ribet-lah. Tapi bahasa gambarnya yang digodok sedemikian rupa agar penyampaian pesan tercapai.

Satu pengambilan gambar  yang saya suka saat keempat saudara memindahkan lemari menggunakan mobil pribadi dan kendaraan sewaan. Wregas mengambil adegan ini dari jauh (long shoot), memperlihatkan bentangan sawah, dan luasan langit.  Mobil mereka berjalan beriringan di tengah frame. Gilaaaa, cakeeep bener ni gambar.

Hal-hal yang tak Saya Setujui

Sejujurnya saya penasaran kenapa ada lemari warisan yang diberikan ibu tidak dirawat baik oleh anaknya. Apa yang terjadi? Itu warisan, lho. Dari ibu pula. Pertanyaan memadat di benak saya. Apakah penonton diperintahkan merangkai ending sendiri atau dibiarkan mengawang sedemikian?

Selain ending, saya tidak suka karakter ibu dalam film ini, walaupun tutur kalimatnya lemah lembut, tapi mimik wajah tokoh yang memerankan ibu “tidak sampai”. Ada yang mengganjal di hati saya, setiap dialog tokoh ibu. Entahlah kurang soft paras mukanya kali yah.

Juga saya merasa ada missing link adegan, saat adegan pembagian lemari. Masing-masing anak mencari lemari sesuai nomor undian. Setelah menemukan lemarinya. Mereka menempelkan print nama sebagai penanda. Naaah pertanyaannya adalah dari mana print nama masing-masing tokoh berasal? Padahal nomor undiannya dibuat dadakan menggunakan angka kalender oleh Tri.

Tidak dijelaskan detail hal tersebut. Print nama ini cukup penting dalam menata imajinasi penonton, karena di sana tercantum nama lengkap tokoh beserta gelar sarjana yang ia raih.

Tapi tak apalah bisa termaafkan karena bobot ceritanya, mampu membuat mata saya berkaca-kaca.  Hiks hiks

***

Seusai menulis, saya menelpon Mama. Menanyakan mau dibelikan apa untuk camilan malam hari.

“Jaje Bali yang di Peken Kreneng ya, belikan mama,” sahut Mama di seberang sana.

“Oke, siap. Sehat selalu ya, Ma,”  tutup saya.

Saya bergegas menuju Peken Kreneng, Denpasar sambil memutar kembali film Lemantun dengan gambar-gambar yang melekat di kepala. Buiiiiiikkkk.

Selamat Hari Ibu. (T)

Tags: filmibuPerempuan
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Mengungkap Misteri “Suku Maya” di Mexiko atau di Layar Gadget

Next Post

“Banten-mebanten” Urusan Mutlak, Kapan Liburnya Ibu Kita?

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

“Banten-mebanten” Urusan Mutlak, Kapan Liburnya Ibu Kita?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co