14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memilih Buron

Yoyo Raharyo by Yoyo Raharyo
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Yoyo Raharyo

SUKRI masih duduk termenung di beranda rumah sepupunya, di sebuah desa yang tenang di Kota Air. Sore itu, lelaki 45 tahun ini membayangkan kembali kejadian seminggu lalu ketika seseorang bersama tetangga yang baru ia kenal, serta petugas keamanan adat, tiba-tiba datang ke rumah kontrakan yang ditinggalinya di Kota Pelangi.

Seseorang ini adalah pemilik kain yang dia curi enam bulan lalu. Karena kejadian itu, dia memilih jadi buronan polisi, ketimbang menyelesaikan secara baik-baik. Sukri juga tak berani pulang ke rumah aslinya di Kota Apel. Pikirnya, kalau itu ia lakukan, sangat mudah bagi polisi melakukan penangkapan.

“Pak,” seru Sutinah mengejutkan lamunannya. “Sampai kapan kita begini?”

Usai tergeragap, ia berkata: “Tak tahulah. Mungkin untuk sementara kita begini dulu, sampai kita cukup aman.”

“Tapi, kapan, Pak? Uang kita sudah menipis. Kalau Bapak terus sembunyi, diam begini saja, kita ndak enak sama sepupu kita. Malu Pak, jadi benalu,” katanya nyerocos.

“Sabar dulu, Bu. Aku juga belum bisa mikir.”

***

Sejak setahun lalu, kondisi perekonomian negeri memburuk. Dampak dari krisis ekonomi global yang melanda berbagai negeri. Sukri kena dampak. Ia gelisah karena pembeli sepi. Pelanggannya pun jarang yang datang ke tempat usahanya, di depan sebuah lapangan sepakbola, diapit sejumlah sekolah dan perumahan.

Sebelum masa paceklik, ia bisa menyelip daging sapi sebanyak 2 kilogram ditambah 2 kilogram daging ayam setiap hari. Buruknya daya beli masyarakat membuat dia terpaksa hanya menyelip separonya saja. Itu pun, kadang tidak habis terjual. Dijual kembali keesokan harinya, atau dibagikan kepada tetangga bila tak mampu terjual lagi. Terlalu lama tak laku, bakso pasti basi.

Di sisi yang lain, sang istri, Sutinah sedang mengandung anak kedua dari perkawinannya yang sudah berlangsung 14 tahun. Kalau ekonomi baik-baik saja, pikirnya, tentu dia tak perlu harus berpindah-pindah terus dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Rumah kontrakannya yang terakhir adalah sebuah rumah dengan biaya murah, di pinggiran Kota Pelangi, sebuah kota kecil di Pulau Dewata. Rumah tipe 21 meter persegi, dengan satu kamar tidur saja. Dinding tanpa plesteran, dengan lantai berplester kasar.

“Bu, kalau usaha kita begini terus, sepertinya aku tak mampu bayar biaya lahiran anak kedua kita,” katanya sambil membuat pentol bakso di dapur rumah kontrakannya, kala itu.

“Lalu, kita harus bagaimana, Pak? Sedangkan kita tak dapat JKN* yang digembar-gemborkan pemerintah.”

“Mungkin kita harus pakai jaminan kesehatan yang ditanggung pemerintah daerah. Kata Pak Sarto, itu mudah. Yang penting ada KTP provinsi sini.”

“Ya kalau begitu, cepetan diurus ke pak kades, Pak. Soalnya biaya bersalin tak sedikit juga. Belum lagi Adi, anak kita juga butuh biaya sekolah, belum lagi jajan sehari-hari yang tak cukup lima ribu rupiah.”

Dua bulan setelah percakapan itu, ketika tidur-tiduran di kamar, Sutinah merasakan mules. Dia yakin, bayi di kandungannya sudah siap memberontak, ingin menghirup udara bebas. Sukri yang sedang berjualan bakso di pangkalannya, segera pulang ketika mendapat telepon sang istri. Sutinah pun dibawa ke RSUD di Kota Pelangi. Anak pertamanya yang sudah kelas 3 SD pun dititipkan kepada tetangga, agar dia bisa fokus menunggu sang istri di rumah sakit.

“Bapak keluarga Ibu Sutinah?” tanya perawat.

“Ya, Bu. Saya suaminya.”

“Jadi begini, Pak. Ibu Sutinah mengalami hipertensi. Tekanan darah tingginya naik jadi 150/100 mmHg. Ini cukup berbahaya. Maka, tekanan darahnya akan diturunkan dulu. Kalau sudah normal, dilakukan tindakan cesar.”

“Bagaimana baiknya saja, Bu. Yang penting ibu dan bayinya bisa selamat.”

Selang beberapa menit, Sukri dipanggil perawat. Dia diberikan resep obat untuk ditebus di apotek rumah sakit. Dan pihak apotek menyerahkan rincian obat dan biayanya. Tercetak angka Rp 845.000. Betapa terkejutnya Sukri. Ingin dia bertanya mengapa bayar, tapi tak berani. Hari kedua juga dia diberikan resep yang tak jauh berbeda. Baik obat-obatan, termasuk beberapa botol cairan infuse. Itu berlangsung sampai hari ketiga. Sekitar Rp 2.730.500 sudah dia keluarkan. Uang di dompetnya tertinggal Rp 125 ribu. Itu uang sisa yang didapat dari menggadaikan BPKB sepeda motor satu-satunya.

Pikiran Sukri kalut. Dia mencoba meminjam uang ke sana-sini. Tidak banyak yang dapat meminjami. Kalaupun ada yang mau meminjami, hanya seratusan sampai dua ratusan ribu rupiah saja.

Dan di  hari kelima, sang istri pun menjalani operasi cesar untuk mengeluarkan si jabang bayi. Ibu dan anak berhasil diselamatkan. Rasa bahagia dan nelangsa bercampur di batinnya. Senang karena istri yang terkasih berikut bayinya dapat tertolong. Tapi, dia masih belum tenang. Ini soal biaya rumah sakit yang terus membengkak. Sampai hari kelima itu, dia sudah mengeluarkan uang Rp 3.605.000. Sudah tidak ada uang di dompet. Hanya tersisa Rp 35 ribu di kantong celananya.

***

Ia berpikir keras. Sesekali menjambak rambut sendiri, memukul-mukul kepalanya menggunakan kepalan tangan. Lalu tertunduk, meratapi nasib. Ia menggugat Tuhan-nya. “Kepada siapa lagi aku mengadu, ya Tuhan. Tolonglah aku. Setiap hari kusembah, apakah Kau akan menelantarkan hambamu ini?”

Dalam gusar, ia teringat Tarno. Tetangga rumah kontrakannya terdahulu. Segera, Sukri menggeber sepeda motornya mencari mantan aktivis mahasiswa itu. Tapi, Tarno sedang tak ada di rumah. Padahal, dia sangat berharap Tarno bisa membantunya. Setidaknya bukan dengan uang, karena ia tahu, kehidupan Tarno juga hanya lebih baik sedikit darinya. Sukri butuh Tarno yang dikenal berani dan luas wawasannya.

“Bapak masih di luar kota, Pak Sukri. Mungkin besok siang sudah kembali,” kata Khodijah, istri Tarno.

Sambil mengendarai sepeda motor untuk kembali ke rumah sakit, pandangan Sukri tertuju pada bungkusan karung ukuran beras setengah kwintal. Seorang kondekturbaru menurunkan dari bus di depan minimarket yang tak terlalu ramai. Mendadak Tarno menghentikan laju sepeda motornya. Mengambil jarak 30 meter dari barang bidikannya, ia menyelidik, duduk di atas motornya yang sudah dimatikan. Sambil membakar rokoknya, lelaki yang tak tamat SD ini mengamati gerak pengunjung minimarket.

Lima menit menunggu, si empunya paket barang itu tak kunjung nongol. Tanpa pikir panjang lagi, Sukri pun segera mendekati karung yang kemudian ia tahu, itu berisi kain. Konon kain mahal, untuk membuat kebaya. Karung berisi paketan ini memang biasa seminggu sekali datang dan diturunkan di depan minimarket. Biasanya anak buah si pemilik paketan ini sudah menunggu sebelum bus tiba. Entah bagaimana, hari itu ia telat datang.

Dengan hati cemas, ia naikkan kain sekarung itu ke atas sepeda motornya, lalu dibawa ke rumah kontrakan. Sayang, tak mudah dia menjualnya. Beberapa kali ditawarkan ke tetangga, atau teman-temannya, baru sedikit saja yang laku. Dia baru bisa mengumpulkan uang Rp 2.500.000 dari menjual seperempat kain itu. Tapi, lagi-lagi hanya tersisa sedikit saja, untuk membeli obat kembali.

***

Tarno tiba di rumah sesuai rencana. Sang istri memberitahu bahwa Sukri sempat datang kemarin siang. Meski hidup dengan kesederhanaan, dia orang yang ringan tangan. Kerap membantu orang tanpa berpamrih. Sebagai mantan aktivis mahasiswa, ia memang pintar bersilat lidah. Argumentasinya sering masuk akal. Dengan dibumbui sedikit gertakan, aparatur pelayanan publik kerap tak berkutik menghadapinya.

“Sudah sewajarnya kita membantu sesama,” katanya kepada sang istri. “Bukankah yang kuat harus membantu yang lemah, atau yang pintar membantu yang bodoh, yang tahu membantu yang belum mengetahui?”

“Iya, tapi tak dapat apa-apa dari itu semua. Hanya dapat capek.”

“Apakah semua hal harus dinilai dengan materi, harus diuangkan? Tentu tidak. Alangkah sebaiknya kita tetap saling membantu. Suatu saat, mungkin kita yang membutuhkan bantuan orang lain,” tuturnya seperti berceramah.

Di saat asyik berbincang di beranda rumahnya, Sukri yang ditunggu-tunggu datang. Dia menceritakan masalahnya. “Jadi, sebetulnya, kalau pakai jaminan kesehatan ini harusnya gratis atau tidak sih, Pak? Tolong saya, Pak. Saya sudah tidak punya uang lagi.”

“Memang, itu gratis kalau pelayanan, fasilitas, termasuk obat yang diberikan sesuai formula dari jaminan kesehatan ini. Kalau tidak, maka bayar. Ada kemungkinan, pelayanan yang didapatkan, termasuk obatnya tidak sesuai formula itu. Masalahnya, waktu diberikan resep obat yang bayar itu, apakah Pak Sukri sempat dijelaskan atau diberikan pilihan untuk memakai obat yang gratis atau bayar?”

“Saya ndak pernah diberikan penjelasan apa-apa, Pak. Hanya diberikan resep dan disuruh menebusnya di apotik. Saya ndak tahu yang gitu-gitu, Pak.”

“Baik,” kata Tarno. “Saya akan coba tanyakan hal ini ke manajemen rumah sakit ini.”

***

Di hadapan direktur operasional RSUD Kota Pelangi, Tarno dan Sukri pun menjelaskan duduk perkaranya. Dengan segala argumentasinya, Tarno seperti mengadili direktur operasional itu.

“Waduh, maaf kalau ada kesalahan. Mungkin petugas kami sibuk. Jadi tidak sempat menjelaskan, Pak. Nanti akan saya sampaikan kepada petugas terkait masalah ini.”

“Masalahnya,” tohok Tarno. “Bukan kali ini saja pasien jaminan kesehatan daerah dimintai biaya. Padahal pemerintah sudah bilang ini gratis. Kami khawatir, ini modus dari oknum di dalam rumah sakit. Mudah-mudahan ini bukan berjamaah,” katanya lagi menohok. “Terkait masalah pasien Sutinah, istri Pak Sukri ini, karena sudah kadung membayar, untuk selanjutnya kami minta agar pelayanannya sesuai formula jaminan kesehatan daerah ini. Tak perlu obat-obat paten, generik pun cukup, tak masalah. Yang penting bisa sembuh.”

“Baik, Pak. Akan kami usahakan, dan kami perbaiki ke depannya.”

Tarno dan Sukri pun pamit meninggalkan ruangan kantor RSUD. Tarno pulang ke rumahnya, dan Sukri kembali ke ruang perawatan pasien di kelas III yang berjubel pasien dan penunggunya. Hanya ada kipas angin di ruang perawatan itu.

Selepas pertemuan dengan manajemen RS, wajah Sukri tampak semringah. Walau, uang yang dia miliki makin menipis. Untuk menutup kekurangan, sekaligus sebagai jaga-jaga bila dibutuhkaan, dia kembali menjual beberapa meter kain curiannya.

***

Setelah dirawat 10 hari, pihak dokter menyatakan sang istri dan bayinya sudah bisa pulang.

”Bayar berapa?” tanya keluarga pasien di bed sebelah istrinya.

“Ndak bayar.”

“Kok bisa? Sebelum-sebelumnya masih ada tagihan lagi sampai Rp 2,5 juta. Pasti ada orang bermain dalam di Rumah Sakit, ya?”

“Ndak juga,” sergahnya. ”Cuma saya bersama teman sempat menyampaikan masalah ini ke pihak manajemen. Dan manajemen mengakui salah. Sehingga, ndak perlu bayar lagi.”

 ***

Enam bulan setelah istrinya melahirkan, Sukri pun kembali berjualan bakso. Namun, kondisi ekonomi memang belum pulih sepenuhnya. Maka, usahanya pun masih kembang kempis. Dan untuk memenuhi kebutuhan hidup, Sukri masih bergantung dari sisa kain curiannya yang masih sekitar separo karung. Apalagi, kelahiran anak keduanya meninggalkan utang di sana-sini, termasuk di koperasi untuk menebus BPKB sepeda motor satu-satunya.

Dia menawarkan kain-kain itu kepada beberapa tetangga. Ada yang berminat, tak sedikit pula yang menolak. Tapi, apes memang. Salah satu tetangga yang ditawari kain ini ternyata malah anak buah pemilik kain yang dicurinya. Sang anak buah bernama Ami itu pun memberitahukan kepada sang majikan. Mendengar kabar itu,  si majikan dan pekerjanya ini langsung datang ke rumah kontrakan Sukri.

“Kami tidak mau cari masalah,” kata pemilik kain didampingi petugas keamanan adat pula. “Kami hanya minta uang kami dikembalikan sekitar Rp 20 juta. Itu uang modal saya. Saya tak cari untung, dan saya anggap masalah hukumnya selesai.”

Sukri tak bisa berkata banyak,  “Saya usahakan, Bu.”

***

Sampai malam hari, Sukri belum mampu juga mengembalikan uang yang dijanjikan. Setelah berembuk dengan sang istri, Sukri memilih kabur. Istri dan kedua anaknya ikut serta. Barang-barang miliknya, ia tinggalkan. Termasuk sepeda motor dan rombong bakso dititipkan kepada temannya. Dia menyeberangi pulau, menggunakan bus, untuk menghindari pemeriksaan di pelabuhan.

***

Saat nonton tivi di ruang keluarga, Tarno dan istrinya membicarakan nasib keluarga Sukri. Mereka tak menyangka Sukri bisa senekat itu. Padahal, selama bertetangga dua tahun lalu, Tarno tahu Sukri orang yang baik.

“Kalau kepepet, apa pun bisa terjadi, Bu.”

“Memang betul, Pak. Tapi, kasihan anak-anaknya. Khususnya Adi yang harus meninggalkan sekolahnya.”

“Ya, kesalahan ini ndak bisa ditimpakan sepenuhnya kepada Sukri. Oknum-oknum di rumah sakit juga turut berkontribusi. Seandainya mereka jujur, bekerja sesuai SOP, tentu jaminan kesehatan bisa dijalankan semestinya, gratis. Bukan mempermainkan kebodohan orang untuk mencari keuntungan semata.”

***

Di tempat persembunyiannya, Sukri termenung. Ia berpikir keras, mencari jalan jeluar atas masalah yang dihadapi. Dia memikirkan nasib Adi, anak pertamanya yang belum bisa bersekolah lagi. Ia takut Adi putus sekolah, mengikuti jejaknya yang tak pernah tamat SD. Sedangkan, untuk berdagang bakso lagi di tempat barunya ini pun, ia belum bisa. Belum memiliki keberanian untuk itu.

“Apakah aku harus menyerahkan diri kepada polisi?” tanyanya dalam hati.

 

Catatan:

*) JKN = Jaminan Kesehatan Nasional. Program pemerintah ini hanya menanggung premi sekitar 40 persen warganya, agar bisa mendapat pelayanan kesehatan gratis. Sedangkan, sisanya harus membayar premi atau iuran sendiri, dan tak sedikit orang miskin yang tercecer, tidak masuk tanggungan pemerintah.

Lembah Kauripan, 28/11/2016, di waktu Subuh

Tags: Cerpen
Share39TweetSendShareSend
Previous Post

Wajah Komik Indonesia Hari Ini: Dari “Tahilalats”, “Trickster”, sampai “Nusantara Droid War”

Next Post

Banjir di Bali: Kita Korban atau Pelaku Utama?

Yoyo Raharyo

Yoyo Raharyo

Wartawan dan penulis esai yang belakangan berminat nulis fiksi yang diolah dari kisah-kisah nyata. Tinggal di Bali

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post

Banjir di Bali: Kita Korban atau Pelaku Utama?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co