4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wajah Lalu Lintas adalah Wajah Kita – Curhat Pengendara Jantungan

I Gusti Bagus Weda Sanjaya by I Gusti Bagus Weda Sanjaya
February 2, 2018
in Opini

PERJALANAN menuju tempat kerja sejauh 17 kilometer, tiap hari, pulang dan pergi, sangat melelahkan bagi saya, baik secara fisik maupun mental. Lelah fisik diakibatkan oleh deraan angin, polusi udara akibat emisi dari truk-truk pengangkut pasir, termasuk kiriman butiran pasirnya yang hinggap di mata, dan juga serangan terhadap jantung karena banyaknya permainan-permainan kejutan yang dihadiahkan oleh pengemudi lain.

Lelah mental, karena seringnya menahan dongkol, atau saat harus mengumpat, mencaci, dan tindakan-tindakan melampiaskan emosi lainnya, seperti memencet klakson secara keras dan panjang.

Melelahkan. Terlebih untuk saya, seorang pengendara jantungan.

Perjalanan pagi menuju tempat kerja, harus melewati tak kurang dari lima pasar desa. Situasi jalan di sekitar pasar akan diwarnai dengan permainan ‘tebak pikiran’ yang disuguhkan oleh ibu-ibu bermotor matic di tengah-tengah ruas jalan. “Ayo tebak… saya akan ke kiri atau ke kanan?” seperti itu kira-kira permainan ini.

Akan lebih mudah jika ibu-ibu itu memberi sedikit klue, semisal motor bergoyang-goyang agak ke kanan, lirik-lirik ke kanan, atau semacamnya. Namun acap kali ibu-ibu itu langsung begitu saja membuka kunci jawaban, memberi surprise tepat di depan kita, memotong jalur untuk menyebrang, atau masuk gang, atau nyamperin dagang nasi kuning di seberang jalan. “Taraaaa…. aku belok kanan!” kejutan yang diberikan dengan wajah tak berdosa dari seorang pembawa surga.

Tak kalah serunya suguhan dari penguasa jalanan di seputaran pasar; Sopir Bemo. Sebagai pengendara jantungan, tingkah sang penguasa ini sangat perlu diwaspadai. Keluar-masuk jalur sesuka hati. Kadang tanpa sein, tanpa penanda lampu rem. Tak ubahnya seperti kekasih yang sedang datang bulan, tak memberi tanda sedikitpun, kalau sampai ada kejadian, kita yang salah. “Kamu harus ngertiin aku, dong!” Ya, begitulah.

Terhadap para sopir bemo, kita yang harus selalu mengerti, selalu memaklumi jikalau dia harus berhenti mendadak, ataupun masuk jalur secara tiba-tiba, itu semata hanya sebagai pelayanan prima terhadap penumpangnya.

Perjalanan pulangpun, dalam situasi malam hari tak kalah memberikan exercises pada fisik dan mental. Para pengendara cuek, yang tak peduli dengan pengendara lain sering kali mendukung program exercises ini. Sepeda motor di kegelapan jalan yang baru nampak pada radius 5 meter di depan kita karena lampu belakangnya mati, memberikan sensasi yang cukup bagi jantung.

Terlebih dari arah depan ada pengendara dengan lampu jarak jauh yang cahayanya tepat menembak mata kita. Akan semakin seru lagi, karena kita akan silau dibuatnya. Tiba-tiba tepat di depan kita telah ada kendaraan lain. Rem mendadak. Satu pukulan keras di jantung! Ah, masih banyak lagi hal-hal yang sering kita temukan di jalan, yang kadang membuat perjalanan berkendara seperti permainan Execite Bike di Nintendo; seru, tapi ngeselin.

Malas dan Egois

Dengan melihat keadaan lalu lintas seperti itu, saya memberikan jedgement bahwa kita adalah bangsa yang malas dan egois. Kita malas berjalan kaki. Kadang untuk membeli pembalut di warung depan rumah saja, kita memilih untuk mengendarai sepeda motor.

Kita sering menyeberang jalan secara sembarangan, hanya karena malas berjalan untuk mencari zebra cross meskipun jaraknya tak lebih dari 10 meter di samping kita. Kita sering parkir secara sembarangan – bahkan di tempat yang jelas-jelas ada rambu larangan parkir – hanya dengan alasan parkir yang disediakan jauh dari tempat belanja yang akan kita kunjungi.

Kemalasan-kemalasan itu, tentu juga merupakan wujud keegoisan kita. Kita tak pernah peduli permasalahan emisi dari kendaraan yang kita hidupkan hanya untuk membeli pembalut di warung depan. Aksi ‘peduli lingkungan’ kita belum sampai di level itu. Kita tak peduli keselamatan pengendara di belakang kita, karena kita malas mengganti bola lampu belakang yang harganya tak lebih dari 20 ribu rupiah itu.

Kita tak pernah juga peduli, kendaraan yang kita parkir dengan memakan badan jalan, mengurangi kenyamanan pengguna jalan lainnya, bisa mengakibatkan kemacetan atau bahkan kecelakaan. Kita terlalu malas untuk memikirkan orang lain. Bahkan, untuk kepentingan diri kita saja, kita masih malas.

Kita malas mengenakan helm. Padahal penggunaan helm adalah murni untuk keselamatan diri kita. Yang terpaksa menggunakanpun, sering malas untuk mengunci talinya sesuai aturan “klik!”. Tanpa kunci tali pengaman, tentu penggunaan helm akan menjadi sia-sia. Saat terjadi kecelakaan, helm akan terlepas lebih dahulu, dan kepala kita tetap saja bertemu dengan lawan yang lebih keras. Tapi kita memang selalu malas memikirkan itu.

Kita malas menaati aturan. Perlu kita sadari bahwa sering kali kita menerobos lampu merah, bukan karena terburu-buru, atau harus mengejar waktu, tapi semata-mata karena kita malas berhenti. Meskipun sedang mengendarai matic yang untuk berhenti hanya tinggal pencet rem, dan untuk jalan hanya tinggal putar gas.

Jika untuk perkara sesimpel gas dan rem saja malas, wajar saja jika lebih malas lagi untuk lirik sepion, hidupkan seins sebelum pindah haluan, apa lagi untuk memindah ke lampu jarak dekat saat ada pengendara lain di depan kita. Masih banyak kemalasan-kemalasan lain disini. Di bangsa pemalas ini. Bangsa pemalas yang egois, yang tak pernah peduli nasib orang lain. Nasib pengendara lain. Nasib saya. Pengendara jantungan. (T)

Salam hangat,

Untuk pengendara Scoopy berlampu jarak jauh.

Tags: Indonesialalu lintastransportasi
Share40TweetSendShareSend
Previous Post

Pernik PPL Mahasiswa: Cinlok Bisa jadi Spesial, Cinta Lama jadi Sial

Next Post

“Sembah Puyung” dan “Puyung Maisi” – Puji pada Esensi Keheningan Diri

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

I Gusti Bagus Weda Sanjaya

Pembelajar yang ditugaskan menemani pembelajar lain untuk belajar. Serupa guru. Lahir di Tabanan, lereng selatan Gunung Batukaru.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

“Sembah Puyung” dan “Puyung Maisi” - Puji pada Esensi Keheningan Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co