14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lingga

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Wulan Dewi Saraswati       

SEBELUM tengah malam meme menghubungiku, suaranya lelah, tak bergairah. Aku pikir tidak ada yang tidak dapat ia hadapi kecuali kemalasan bapa. Setiap menerima panggilan dari meme malam hari, aku hanya diam. Aku gemetar. Seperti mengingat kejadian puluhan tahun, saat aku tidak diizinkan ke luar rumah.

“Berbahaya main di luar! Kamu harus diam di rumah. Kamu dengar?!” Suara bapa memekik telinga. Matanya melotot tajam. Aku diam. Hanya tersungkur di balik tirai sambil mengintip dari jendela anak-anak yang bebas main sepeda.

“Berbahaya?” tanyaku lirih. Air mataku berjatuhan sambil menggigit bibirku. Dia mendekat lalu membuka tirai, menarik rambutku agar aku bangkit dari persembunyian.

“Tidak semua pertanyaan perlu jawaban. Aku pun tidak pernah mendapat jawaban atas pertanyaanku. Mengapa kau lahir sebagai perempuan? Apakah Tuhan menjawab doaku? Tidak! Biar jadi misteri. Seperti misteri kelahiranmu,” gertaknya sambil meremas rambutku.

Aku bodoh. Hal yang harus kulakukan adalah teriak, menangis lantang agar tetangga menolongku dari siksaan ini. Aku tidak mengerti mengapa bapa membenciku. Apa karena aku perempuan?

“Bapa, Luh. Bapa hilang! Sejak seminggu lalu ia hilang. Polisi dan keluarga juga sudah mencarinya. Luh, bapa hilang!”kata meme membuyarkan lamunanku.

Meme kerap menghubungiku bila terjadi sesuatu di rumah. Sebagai anak tertua, aku berkewajiban lebih besar mengurus meme dan bapa. Selain itu, tidak ada penerus keturunan di keluarga kami. Penerus keluarga haruslah laki-laki. Tidak boleh perempuan mengambil hak atas warisan ataupun nama keluarga. Setelah aku dan adikku bekerja di Zwolle, meme dan bapa hanya berdua. Semenjak itulah bapa jadi berbeda. Banyak orang menuduh bahwa ini akibat keluarga kami yang dikutuk leluhur.

“Luh, Bapa sudah gila! Kamu tanyakan pada orang pintar, mungkin ada yang perlu ditebus. Sepertinya leluhur mengutuk keluargamu,” kata Mbok Rai adik Bapa sewaktu aku menjenguk meme dan bapa.  

 “Kadang dia berjalan sendiri ke pasar ikan sambil bernyanyi Juru Pencar!” imbuh Mbok Sri tetangga seberang.

“Kamu nanti bukan keluarga ini lagi, lebih baik Putu Suta yang mengurus masalah ini. Dia sepupu lelaki tertuamu dan pantas menjadi ahli waris,” sambungnya.

Semenjak kepergianku ke Zwolle , orang-orang selalu membahas ahli waris. Aku jenuh mendengar ocehan mulut api seperti mereka. Aku pun geram.

“Lin! Sampai kapan kau tidak menjelaskan ini kepada orang tuamu? Kau tidak bisa lagi menyembunyikan identitasmu,” tiba-tiba Kylie menyahut dari belakang. Ia nampaknya tahu aku mendapat telepon dari meme.

“Kalau kau ada waktu, kembalilah. Ini semua bukan salahmu. Bukan salah siapa. Memang sudah takdir keluarga kita tidak diberikan penerus. Sudahlah, tidak usah jadi beban. Kamu tidak perlu sampai melarikan diri ke negeri orang. Pulang saja, Luh. Lelah sudah meme mengurusi bapa. Warga desa juga sudah putus asa. Sia-sia saja,” kata meme yang kudengar isak tangisnya.

Hingga kini aku masih memanggilnya meme. Begitupun meme selalu menyebutku dengan Luh. Yah, aku Luh Lin. Semenjak usaha rumput lautku berhasil, bahkan sampai ke negeri Belanda, aku dan keluargaku tidak lagi jadi bahan olok-olokan. Paman dan bibi tidak lagi merampas hak kami, termasuk jatah beras dari sawah kakek. Orang-orang desa tidak lagi menghina meme yang tidak pernah bisa melahirkan anak laki-laki. Selain itu, bapa tetap saja malas tidak mau bekerja.

Tidak pernah kulihat bapa bekerja. Ia hanya sibuk menjual tanah-tanahnya kepada orang kota. Semakin laku, semakin tinggi nafsunya mencari gadis-gadis dekat terminal. Setelah itu, bapa punya utang. Kalau tidak segera dilunasi, bapa mengancam bunuh diri.

Akhirnya hasil penjualan ayam potong meme, diberikan padanya. Kesal sekali. Lelaki macam apa yang malas dan lemah seperti itu. Apa karena ia terlahir sebagai lelaki ia mampu meneruskan keluarga kemudian mendapat warisan? Toh nanti juga dijual. Tidak menjamin pewaris keluarga itu adi luhur sikapnya. Aku benci bila mengingat kejadian itu.

Semenjak aku di Zwolle bersama Kylie, aku lebih tenang. Aku jarang mengingat kejadian itu kecuali pada saat meme menghubungiku seperti saat ini. Isak tangis yang terdengar seperti lagu tidur malam saat masa kanakku dulu. Meme selalu menyimpan rasa kecewa lewat air matanya.

“Kalau aku pulang, apa meme akan tetap menerimaku?” tanyaku usai menenangkan diri.

“Mengapa tidak, Luh? Meme sangat merindukanmu dan Ris, adikmu. Namun sayang, adikmu sudah meninggal,” sahutnya semakin melemah. Aku meneguk wine, menenangkan diri. Udara sejuk Zwolle di akhir tahun sungguh membantuku menenangkan diri. Aku terdiam.

“Kalau saja bapa punya anak laki-laki pasti sudah hebat dia. Bisa main tajen, main di terminal, ngurusi bapa. Kalau kamu dan adikmu? Cuman bisa di rumah,” kata bapa ketika ia mabuk usai judi di bale banjar. Aku ingat benar, hanya aku yang dapat melawan bapa. Malam itu juga, selagi ia tidak sadar penuh. Aku siram kemaluannya dengan air hangat. Tidak ada yang berani membelaku sejak itu.

Malam itu adalah malam terakhir bapa merasakan nikmatnya menjadi lelaki. Kelaminnya terkelupas dan mengkerut. Ia hanya bisa tersungkur menahan kobaran panas. Setelah itu, tidak pernah kudengar kabar bapa ke terminal atau bale banjar satu-satunya yang ia tahu adalah kasur dan kamar mandi. Kakinya tidak berfungsi baik. Bila buang air kecil hanya tetes demi setetes. Bapa hanya menggerutu. Sepertinya ia mengutukku dalam hati. Aku tidak peduli. Kutukannya tidak akan didengar leluhur.

Bagiku, lebih baik bapa bermalas di rumah ketimbang keluyuran mencari orang-orang malas yang lainnya di luar. Aku sudah membantu leluhurku. Membantu mereka menyadarkan bapa sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab mengurus rumah. Ah, kejadian itu benar-benar membuat aku muntah. Cepat-cepat kuteguk sisa wine berharap kenangan itu segera tertelan.

“Besok aku pulang bersama temanku,” sahutku tenang.

“Terima kasih, Luh. Mungkin kehadiranmu dapat membuat bapa pulang. Meme harus ke kantor polisi, semoga sudah ada perkembangan tentang ini.”

“Apa benar meme ingin mencari bapa? Bukannya lebih baik ia tidak ada?”

“Luh!”

“Lelah, Me!”

“Tidak ada yang lebih pantas kau sebut bapa selain dia. Apa pernah dia menjualmu?”

“Mungkin saja. Kalau utangnya belum lunas!”

“Jangan lagi kau berbicara begitu. Kamu harus mengerti kondisi.”

“Kondisi bahwa kita menyerah pada takdir? Takdir bisa diubah.”

“Kamu anak perempuan yang selalu berbicara kasar tentang dia.”

“Aku tidak seperti yang meme bayangkan lagi.”

“Apa maksudmu, Luh?”

“Sudahlah. Takdir adalah perjuangan, Me. Aku sudah berjuang melawan takdirku!” Aku makin geram. Sloki ditangan kubantai, hampir terkena lengan Kylie. Untung saja, remah gelas itu tidak menusuk Kylie yang sedang menidurkan North.

“Kalau saja meme ditakdirkan untuk memilih sebagai ibu atau ayah. Tentu meme akan memilih sebagai ibu. Jadi ibu untukmu. Sudahlah, sampai jumpa. Meme tunggu.” Telepon ditutup. Isak tangis itu tidak lagi kudengar. Tapi North menangis sejadi-jadinya. Kylie panik dan memberikannya padaku. Aku mengayun North agar tidur lelap untuk beberapa waktu.

“Mengapa tak kau ceritakan semua?” tanya Kylie sembari membetulkan selimut.

“Nanti, setelah kita tiba di sana,” jawabku sekadar. Tengah malam kami pun berkemas. Beberapa perlengkapan yang benar-benar perlu saja dibawa. Perjalanan panjang yang memakan waktu 16 jam tentu melelahkan. Lebih baik North diamankan. Lebih baik ia ditaruh di koper agar tidak merepotkan. Robot bayi yang kubeli di Amerika itu memang cukup merepotkan.

“Me, perkenalkan temanku Kylie. Calon istriku,” itulah kata pertama yang kuberi buat meme  yang tidak kunjung menemukan bapa.

“Duh, ratuuuuuu! Meme pikir kau akan membantu!” sahutnya gemetar memendam amarah.

“Ini takdirku, Me! Takdir yang kuperjuangkan dari dulu! Ini semua untuk keluarga! Beginilah bentuk bantuanku, Me.”

“Tersiksa menjadi perempuan bukan berarti kau harus menjadi orang lain!”

“Me! Demi operasi, susah payah kukumpulkan uang, sampai pergi ke negeri luar hanya untuk menjawab keresahan keluarga ini!”

Di tengah perselisihan, muncul seseorang. Ia membuka pagar dengan menggeser engsel perlahan hingga decit besi tua itu terdengar. Kami diam. Tak saling menatap. Perlahan mataku melihat lelaki tua dengan gincu di bibirnya. Ia berjalan sambil bernyanyi Juru Pencar! Ya itu bapa!

“Siapa kamu? Mengapa di rumahku?” tanyanya.

“Perkenalkan aku Lingga, purusa di keluarga ini,” sahutku tegas.

“Lin?”

Keadaan semakin dingin. Aku ragu, apa benar ini bapa yang selalu punya tenaga untuk melawanku? Kali ini aku lihat benar gincu itu. Bapa ternyata hilang untuk kembali lagi ke terminal tempat perempuan malam berkubang! Aku geram, aku geram!

“Aku tidak lagi Lin!”

“Kau anak perempuanku.”

“Tidak lagi!”

“Ke mana saja bapa selama ini? Tidak hentinya meme mencari dan menangis karena bapa! Aku sudah jadi apa yang kalian ingin. Sekarang mari buat perayaan pernikahanku,” gertakku.

“Maaf. Aku pergi ke terminal. Menjadi perempuan binal.”

Kami hening. Tak saling menatap. Tak saling berpeluk. Mungkin juga leluhur membisu. Ternyata takdir adalah kutukan. (T)

Tags: Cerpen
Share58TweetSendShareSend
Previous Post

Hati Perempuan Bukan Rumah Bordil – Curhat Klise pada Suatu Senja

Next Post

Naik Delman Lebih Istimewa – Renungan dari Upanishad hingga Ibu Sud

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post

Naik Delman Lebih Istimewa - Renungan dari Upanishad hingga Ibu Sud

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co