22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hati Perempuan Bukan Rumah Bordil – Curhat Klise pada Suatu Senja

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
February 2, 2018
in Opini

Foto: Ole

SAYA bukan pedanda, orang pintar, tukang penasehat, atau orang spiritual yang mampu menyembuhkan setiap gulana. Tapi nyatanya sering sekali kawan-kawan melampiaskan ceritanya kepada saya. Mulai dari senang, gembira setengah riang, sedih, pilu, putus cinta bahkan pengalaman pribadi yang tak masuk akal. Tapi menarik sebagai bahan untuk mengenal siapa diri kita beserta hal-hal yang tak selesai di sekitarannya.

***

Satu hari pada hari Minggu di bulan November, Sedan Accord Maestro melaju lamban menyusur liku jalan aspal menuju daerah Petitenget, Kuta Utara, Badung. Kami bertiga, berencana   makan siang sekaligus melepas kangen dengan beberapa kawan di daerah tersebut.

Saya duduk di kursi belakang, Mahir menjadi kopilot , dan Omot jadi pilot setia kami, jika hendak berpergian seperti ini. Omot lelaki kamera (photographer),  tinggi, agak gempal, dan cenderung pendiam, tapi pendapatnya selalu jadi bahan pertimbangan.

Mahir, perempuan, cantik, berkacamata, tingginya cukuplah untuk menjadi model baju distro yang saat ini lagi ngehits di Denpasar, bekerja di salah satu bidang pariwisata, dan paling penting dia baru saja menandaskan Novel Midah Si Manis Bergigi Emas, karya Pramoedya Ananta Toer.

Itu suangar bro. Perempuan pembaca selalu menarik hati saya, entahlah, pesona auranya berbeda dari kebanyakan perempuan yang sukanya foto selfi berlatar belakang dinding restoran.

Beberapa waktu lalu usai menamatkan novel Midah, Mahir mengontak saya melalui whatshap dan mengemukakan pendapat pribadinya. Seperti pemimpin orasi, intinya ia menyuarakan keputusan Midah tidak masuk akal. Membiarkan dirinya sendiri mengurus anak, sementara si suami pergi meninggalkannya.  Itu adalah bentuk penindasan terhadap perempuan, kenapa ada orang seperti Midah yang tak berdaya, tak berkekuatan untuk melawan, akhirnya ikhlas kepada yang di atas. Hidup macam apa itu.

Usai membaca orasi panjangnya, saya cekikikan dalam hati. Mahir tak menyadari sebulan ini ia juga sedang ditindas, tapi penindasan dalam bentuk halus. Ditindas hatinya oleh seorang lelaki yang setelah sebulan melaksanakan jurus PDKT, kemudian hilang. Persis seperti awatara penyelamat bumi, setelah menyelesaikan tugasnya, lalu kembali kedunianya. Nasbedag.

Atau seperti anak SD yang bermain di bawah pohon beringin lalu diajak oleh wong samar ke dunia lain. Hilang ya benar-benar hilang dan absurd.

***

“Lalu bagaimana lelaki mu itu?” tanya saya membuka obrolan. Saat itu sedan kami melaju perlahan berdesak ruang bersama kendaraan lain. Maklum Minggu. Bali selalu begini.

“Aku sudah selesai kontak, kadang rindu juga sih. Aku telah menemukan jawabannya di akun Path pribadinya. Seminggu setelah hilang kontak ia mengunggah meme, isinya tentang ia trauma jatuh cinta lagi dan belum siap membuka hati,”  jawabnya cepat  bahkan terkesan ala kadarnya.

“Kamu tak mengontaknya? Menanyakan perihal sikapnya, tiba-tiba hilang begitu,” desakku dengan nada serius.

“Ngapain harus tanya, bukankah sudah jelas, unggahannya itu sudah menjawab semuanya.”

“Percuma kamu baca Midah karya Bung Pram yang tersohor itu , ya kamu itu Midah, sama-sama ditindas.”

“Maksud? Berikan penjelasan atas kalimatmu itu!” ucapnya dengan nada tinggi, tanda sejumlah  darah menggumpal dan  memekat di kepala sahabatku itu.

Percakapan kami memanas, sepanas terik matahari yang kian menyengat. AC mobil kalah.

***

Di lingkungan saya, lelaki dewasa dianggap wajar bergonta-ganti pasangan dalam memilih pedamping hidupnya, bahkan ketika telah berkeluarga jika kedapatan berselingkuh, lelaki selalu diupayakan untuk benar. Sementara perempuan sekali selingkuh langsung dipulangkan ke rumah orang tuanya. Kemudian secara otomatis dua kata terpatri di jidatnya, barang bangke. Dianggap perempuan tidak baik-baik. Sial.

Lelaki memiliki seribu jurus kungfu dalam menaklukkan setiap perempuan. Mengandalkan (menghalalkan) segala cara untuk mendapatkan perhatian sang pujaan hati. Kehadiran aplikasi chating di smartphone juga menjamurkan fenomena ini.

Kasus sahabat saya Mahir, juga sedikit tidaknya ulah aplikasi maya itu. Ngobrol saban hari, bertegur saban hari, menanyakan apa sudah makan setiap hari, menanyakan baju apa yang dipakai, warna celana apa yang dipakai, bahkan berbagai pertanyaan lainnya. Yaaaaa lewat layar yang dia genggam serta antek-antek pendukungnya itu.

Dulu zaman ayah saya dewasa, memilah perempuan haruslah berhati-hati. Karena PDKT-an dilakukan secara gamblang, terang-terangan tidak memakai kaca riben sedikit pun. Ayah harus datang ke rumah perempuan idamannya untuk sekadar menanyakan apa kabar, apa sudah makan atau apa-apa lainnya.

Saat proses PDKT-an itu, bukan tidak mungkin ayah saya bertemu  dengan keluarga inti, paman, bibi, keluarga dekat bahkan tetangga  si perempuan. Naaah looo kalau sudah sejauh itu, dan tidak jadi pacaran. Dije kel jang muane, lek atine Bro (di mana mau diletakkan wajahnya, malu, Bro). Jadi ada konsep malu, takut  dan was-was ketika memulai mendekati perempuan.

360 derajat berbeda dengan sekarang. Mendekati perempuan tidak ada konsep ketakutan, malu atau semacamnya. Konsep yang tertanam, coba dulu di-chating, ketemuan di luar (tidak harus menjemput ke rumah) kalau tidak cocok ya cari yang lain.

Mungkin konsep kedua ini  nyantol  di kepala  lelaki yang melukai hati sahabat saya. Mencari keinstanan tanpa melirik dan mempertimbangkan hal paling penting, perasaan. Eaaaaaa. Ibarat sebuah kamar, lelaki itu datang menjamah sudut ruang, mencoba kasur, menelisik isi lemari, menggunakan cermin rias, tidur di lantai sekenanya, Setelah bosan lalu pergi.

Hati perempuan tidak seperti rumah bordil. Bisa di bayar, dipakai, lalu ditinggalkan.

***

Sementara Mahir juga membuat saya gregetan. Sahabat saya itu sungguh ikhlas, lebih parah lagi, ia mempertimbangkan jika lelaki itu kembali, hatinya terbuka lapang dan menerimanya dengan senang hati. Lihatlah begitu lemahnya Mahir. Kesal atas perlakuan lelaki itu tapi munafik tak ingin kehilangan.

Mahir tidak berani melawan, tidak berani bersikap, tidak berani hidup, tidak berani masuk menemu malam. Lalu apa gunanya hidup.

Benar kata Amhad Tohari, perempuan adalah bubu yang bila sudah dipasang hanya bisa menunggu ikan masuk. Selamanya bubu tak akan mengejar ikan atau memaksanya masuk ke dalam. Begitu pasrahnya begitu nrimonya.

Jadi perempuan itu diam saja, lelakilah yang bersusah mencari dan memasuki setiap bubu. Jika bubu dimisalkan hati. Betapa tak sakit hatinya itu perempuan, jika ikan hanya keluar dan masuk sekenanya.

Tapi bubu punya sistem perangkap, mengurung ikan yang masuk. Sistem inilah yang mestinya diperkuat oleh perempuan. Perluas pergaulan, ambil resiko, tidak bergantung pada lelaki, jadi perempuan mandiri dan sekali lagi membaca buku. Dan tentunya ini akan menentukan sikap perempuan atas berbagai hal yang merintangnya.

Mahir harus melawan, bukan orasi di jalan, bukan beradu fisik, bukan pula menyewa algojo untuk menghajar si lelaki, tapi hal yang lebih matang di usianya, bentuk sikap. Ini era lelaki dan perempuan memiliki hak bicara yang setara.. Mahir seolah lupa bangsa kita punya Ibu Kartini, lupa juga punya Ibu Susi dengan keberaniannya menumpas para pencuri di wilayah perairan Indonesia.

Salah satunya, ya, menulis. Menuliskan amarah dengan tatanan kalimat yang baik, saya lebih suka seseorang mengatakan marahnya secara gamlang dibanding melampiaskannya dalam bentuk anarki. Menulis adalah kematangan diri, tanggung jawab umur, tanggung jawab gelar, tanggung jawab atas kehendak hidup ini.

“Tulislah kekesalanmu, dalam bentuk surat. Bukan untuk mempertanyakan sikapnya tapi bentuk pernyataan atas yang ia lakukan, kalau saya ketemu perempuan seperti itu. langsung saya ajak nikah dah” ujar saya sekenanya

“Tapi, apa yang harus kutulis, kampret kamu membuatku berfikir,” jawabnya dengan nada kesal.

***

Tidak dipungkiri saya juga pernah menyakiti hati seorang perempuan, pengalaman selalu mengajarkan yang terbaik. Tapi bukan untuk mengulanginya namun memperbaiki langkah ke depan. Penindasan sering terjadi di sekitar kita, bahkan hal terkecil sekalipun, masalah hati.

Sedan Accord kami belum juga sampai di tempat tujuan. Saya takjub melihat riuh rendah papan iklan yang bertebaran di jalanan, iklan restoran, hotel, kedai kopi, jasa pariwisata, jasa spa,  jasa penyewaan motor dan iklan lainnya, dinamika kota yang menarik. Tiba tiba saya terperanjat dan menyadari,  saya juga dalam pusaran rantai jajahan yang tak terasa.

“Kleeeeee, saya juga sedang dijajah,” igau saya, sambil tersenyum kecil melihat sepasang bule di seberang jalan berpegangan sambil melambaikan tangan meminta taxi berhenti. (supir taxinya nak Bali, ada banten di dasbord mobilnya). (T)

 

 

Tags: cintaPerempuan
Share73TweetSendShareSend
Previous Post

Malam Minggu bagi “Darah Muda”: Tak Sekadar Pacaran

Next Post

Lingga

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Lingga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co