24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelak, Mungkin Kiamat Disebabkan Punahnya Akal Sehat Manusia

Yoga Pramartha by Yoga Pramartha
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

“Kenapa kita di sini?”

SEBUAH pertanyaan klasik yang telah tergerus zaman dan tak dihiraukan lagi. Sebagian besar orang akan menertawakan pertanyaan itu. Tapi tak akan ada yang bisa menjawabnya. Dari zaman filsuf Yunani, seperti Plato, Socrates, Aristoteles dan lain sebagainya, hingga zaman digital ini pertanyaan itu tetap tidak akan memiliki jawaban sempurna.

Kehidupan semakin kompleks. Kebutuhan hidup semakin banyak. Ambisi manusia semakin luas. Semua itu membuat umat manusia melupakan pertanyaan itu. Pertanyaan mendasar sederhana namun yang tak akan bisa terjawab.

Konflik dan bentrok tak ada habisnya, bahkan untuk masalah-masalah sepele. Siswa sudah merasa hebat dan merasa tak memerlukan guru lagi. Pejabat sudah terlena dengan sistem yang membebaskan mereka mengambil uang tanpa bekerja. Anak muda sudah mulai meragukan eksistensi mereka saat melihat jumlah like yang sedikit pada foto yang baru saja mereka unggah di media sosial. Pemuka agama tidak lagi mengemukakan agama, tetapi justru kepentingan manusiawinya. Yang benar ditindas, yang salah dimuliakan.

Kaliyuga.

Ya, kaliyuga. Begitulah orang Bali menyebutnya. Saat saya masih kecil saya pikir itu hanyalah bualan dan gertakan belaka. Namun seiring tumbuh dewasa, saya merasakannya dan itu memang benar terjadi. Semuanya dibalik-balik. Tidak ada lagi common sense, akal sehat. Akal sehat sudah tidak berlaku lagi.

Apakah Anda pernah berpikir bahwa hari kiamat adalah hari di mana komet besar menghantam Bumi? Ataukah hari di mana alien menginvasi planet kita? Ataukah hari di mana terjadinya badai matahari? Atau mungkin Anda percaya dengan kiamat yang disebabkan oleh zombie? Atau apakah anda berpikir kiamat terjadi karena wabah penyakit yang tak bisa disembuhkan?

Di antara semua kemungkinan penyebab kiamat ada satu kemungkinan lain: kiamat karena manusia kehilangan akal sehat. Kemungkinan punahnya manusia karena kehilangan akal sehat sudah pernah difilmkan pada tahun 2006.

Film berjudul “Idiocracy” menceritakan dua tokoh utamanya bangun dari hibernasi panjang selama 500 tahun dan melihat peradaban manusia yang mengalami degradasi mental. Yang ada hanyalah budaya-budaya orang-orang bodoh, dungu dan malas. Semua orang memiliki IQ rendah. Tidak ada lagi keingintahuan intelektual, tanggung jawab sosial dilupakan sepenuhnya, keadilan dan hak manusia pun sudah tak berlaku lagi. Akal sehat sudah punah.

Atas dasar inilah saya sedikit mendukung masyarakat Jepang yang cenderung memilih untuk tidak menikah dan tidak ingin punya anak. Untuk apa menciptakan generasi baru, jika Bumi ini hanya akan semakin teracuni? Bahkan ada sebuah gerakan bernama Voluntary Human Extinction Movement, atau secara harfiah berarti gerakan kepunahan manusia secara sukarela.

Dalam pandangan gerakan ini, tujuan untuk tidak mereproduksi manusia lagi adalah untuk mengurangi degradasi lingkungan. Dan diterima atau tidak, saya rasa tingkat kerusakan lingkungan memang berbanding lurus dengan jumlah populasi manusia.

Bumi ini rusak. Manusia yang hidup di dalamnya sebenarnya dihukum.

Hidup tak karuan. Terbebani masalah pekerjaan. Terbebani masalah keluarga. Terlilit hutang, anak-anak terlantar. Sakit hati ditinggal pacar. Beban berat menyelesaikan skripsi. Lalu gantung diri. Semuanya menyebalkan. Semuanya adalah masalah. Hidup di Bumi ini adalah hukuman. Lalu untuk apa hidup jika hanya untuk menjalani hukuman?

Itu hanyalah salah satu cara pandang terhadap kehidupan.

Hidup juga bisa dipandang sebagai hadiah. Manusia yang hidup di Bumi ini adalah para pemenang.

Hidup adalah sebuah kesempatan yang diberikan kepada manusia untuk dimanfaatkan sebaik mungkin. Sang pemenang diberikan kesempatan untuk mengecap segala karunia Tuhan. Mulai dari segala pengalaman berharga, kebersamaan dengan orang-orang terkasih dan kemampuan merasakan cinta. Kemampuan menikmati tempat-tempat indah di seluruh pelosok dunia. Semuanya itu adalah keistimewaan manusia hidup. Hanya manusia yang hiduplah yang mampu menikmati segala keindahan itu.

Sudah ada banyak orang yang sadar akan hal ini, dan saya yakin semakin lama akan semakin banyak yang sadar akan keindahan Bumi dan semuanya akan kembali ke akal sehat mereka. Semakin kita sadar, akan semakin sedikit konflik dan bentrok antar agama, semakin berkurang siswa yang tidak menghormati gurunya, akan berkurang pejabat yang korup, semua pemuda tak akan mempedulikan media sosial mereka karena mereka tahu bahwa keberadaan dirinya tak perlu dibuktikan dengan jumlah like, dan para pemuka agama akan kembali ke akal sehat mereka dan mengajarkan agama dengan cara yang sepatutnya.

Hanya butuh kesadaran. Kesadaran yang dipicu dengan cara belajar seumur hidup. Belajar tanpa henti, baca buku setiap hari, cari pengalaman positif sebanyak-banyaknya.

Hanya butuh kesadaran dan keingintahuan untuk menjawab pertanyaan “Kenapa kita di sini?”

Apakah kita adalah orang-orang yang dihukum untuk menjalani kehidupan sulit yang penuh masalah? Atau apakah kita merupakan para pemenang yang dihadiahi kesempatan untuk merasakan kenikmatan hidup yang tak terbatas dalam harmoni dan kedamaian?

Dalam mitologi Yunani terdapat istilah “Era Keemasan” di mana kedamaian, keharmonisan, kestabilan dan kesejahteraan hidup pada suatu masa terjadi. Di masa ini, manusia hidup hingga masa tua dan pada akhirnya meninggal dengan tenang. Saat itu semuanya stabil, tidak seperti masa ini. Tapi era keemasan itu bisa kita wujudkan kembali jika kita semua sepakat untuk sadar dan kembali ke akal sehat kita.

Hentikan Kaliyuga bersama-sama.

Dari sekian jenis makhluk di Bumi ini, hanya manusia hidup saja yang mampu merasakan kesedihan dan kebahagiaan. Hanya manusia hidup saja yang mampu memutuskan untuk memilih perasaan yang mana.

Hanya satu dari sedikit kesadaran saya yang sederhana. Semoga tidak ada yang tersinggung. Ambilah manfaatnya dan lupakan hal yang tidak penting. Semua orang tujuannya baik.

Salam Damai 😀

Tags: kemanusiaankiamat
Share248TweetSendShareSend
Previous Post

Dan Semua Berubah Ketika Tugas Kuliah Menyerang…

Next Post

In Memoriam Durpa: Merdekalah di Sorga Seperti Kemerdekaan dalam Berkesenian

Yoga Pramartha

Yoga Pramartha

Bernama lengkap Kadek Yoga Pramartha. Lahir 1 Juni 1994 dan kini tinggal di Banjar Batanwani, Desa Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

In Memoriam Durpa: Merdekalah di Sorga Seperti Kemerdekaan dalam Berkesenian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co