3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelak, Mungkin Kiamat Disebabkan Punahnya Akal Sehat Manusia

Yoga Pramartha by Yoga Pramartha
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

“Kenapa kita di sini?”

SEBUAH pertanyaan klasik yang telah tergerus zaman dan tak dihiraukan lagi. Sebagian besar orang akan menertawakan pertanyaan itu. Tapi tak akan ada yang bisa menjawabnya. Dari zaman filsuf Yunani, seperti Plato, Socrates, Aristoteles dan lain sebagainya, hingga zaman digital ini pertanyaan itu tetap tidak akan memiliki jawaban sempurna.

Kehidupan semakin kompleks. Kebutuhan hidup semakin banyak. Ambisi manusia semakin luas. Semua itu membuat umat manusia melupakan pertanyaan itu. Pertanyaan mendasar sederhana namun yang tak akan bisa terjawab.

Konflik dan bentrok tak ada habisnya, bahkan untuk masalah-masalah sepele. Siswa sudah merasa hebat dan merasa tak memerlukan guru lagi. Pejabat sudah terlena dengan sistem yang membebaskan mereka mengambil uang tanpa bekerja. Anak muda sudah mulai meragukan eksistensi mereka saat melihat jumlah like yang sedikit pada foto yang baru saja mereka unggah di media sosial. Pemuka agama tidak lagi mengemukakan agama, tetapi justru kepentingan manusiawinya. Yang benar ditindas, yang salah dimuliakan.

Kaliyuga.

Ya, kaliyuga. Begitulah orang Bali menyebutnya. Saat saya masih kecil saya pikir itu hanyalah bualan dan gertakan belaka. Namun seiring tumbuh dewasa, saya merasakannya dan itu memang benar terjadi. Semuanya dibalik-balik. Tidak ada lagi common sense, akal sehat. Akal sehat sudah tidak berlaku lagi.

Apakah Anda pernah berpikir bahwa hari kiamat adalah hari di mana komet besar menghantam Bumi? Ataukah hari di mana alien menginvasi planet kita? Ataukah hari di mana terjadinya badai matahari? Atau mungkin Anda percaya dengan kiamat yang disebabkan oleh zombie? Atau apakah anda berpikir kiamat terjadi karena wabah penyakit yang tak bisa disembuhkan?

Di antara semua kemungkinan penyebab kiamat ada satu kemungkinan lain: kiamat karena manusia kehilangan akal sehat. Kemungkinan punahnya manusia karena kehilangan akal sehat sudah pernah difilmkan pada tahun 2006.

Film berjudul “Idiocracy” menceritakan dua tokoh utamanya bangun dari hibernasi panjang selama 500 tahun dan melihat peradaban manusia yang mengalami degradasi mental. Yang ada hanyalah budaya-budaya orang-orang bodoh, dungu dan malas. Semua orang memiliki IQ rendah. Tidak ada lagi keingintahuan intelektual, tanggung jawab sosial dilupakan sepenuhnya, keadilan dan hak manusia pun sudah tak berlaku lagi. Akal sehat sudah punah.

Atas dasar inilah saya sedikit mendukung masyarakat Jepang yang cenderung memilih untuk tidak menikah dan tidak ingin punya anak. Untuk apa menciptakan generasi baru, jika Bumi ini hanya akan semakin teracuni? Bahkan ada sebuah gerakan bernama Voluntary Human Extinction Movement, atau secara harfiah berarti gerakan kepunahan manusia secara sukarela.

Dalam pandangan gerakan ini, tujuan untuk tidak mereproduksi manusia lagi adalah untuk mengurangi degradasi lingkungan. Dan diterima atau tidak, saya rasa tingkat kerusakan lingkungan memang berbanding lurus dengan jumlah populasi manusia.

Bumi ini rusak. Manusia yang hidup di dalamnya sebenarnya dihukum.

Hidup tak karuan. Terbebani masalah pekerjaan. Terbebani masalah keluarga. Terlilit hutang, anak-anak terlantar. Sakit hati ditinggal pacar. Beban berat menyelesaikan skripsi. Lalu gantung diri. Semuanya menyebalkan. Semuanya adalah masalah. Hidup di Bumi ini adalah hukuman. Lalu untuk apa hidup jika hanya untuk menjalani hukuman?

Itu hanyalah salah satu cara pandang terhadap kehidupan.

Hidup juga bisa dipandang sebagai hadiah. Manusia yang hidup di Bumi ini adalah para pemenang.

Hidup adalah sebuah kesempatan yang diberikan kepada manusia untuk dimanfaatkan sebaik mungkin. Sang pemenang diberikan kesempatan untuk mengecap segala karunia Tuhan. Mulai dari segala pengalaman berharga, kebersamaan dengan orang-orang terkasih dan kemampuan merasakan cinta. Kemampuan menikmati tempat-tempat indah di seluruh pelosok dunia. Semuanya itu adalah keistimewaan manusia hidup. Hanya manusia yang hiduplah yang mampu menikmati segala keindahan itu.

Sudah ada banyak orang yang sadar akan hal ini, dan saya yakin semakin lama akan semakin banyak yang sadar akan keindahan Bumi dan semuanya akan kembali ke akal sehat mereka. Semakin kita sadar, akan semakin sedikit konflik dan bentrok antar agama, semakin berkurang siswa yang tidak menghormati gurunya, akan berkurang pejabat yang korup, semua pemuda tak akan mempedulikan media sosial mereka karena mereka tahu bahwa keberadaan dirinya tak perlu dibuktikan dengan jumlah like, dan para pemuka agama akan kembali ke akal sehat mereka dan mengajarkan agama dengan cara yang sepatutnya.

Hanya butuh kesadaran. Kesadaran yang dipicu dengan cara belajar seumur hidup. Belajar tanpa henti, baca buku setiap hari, cari pengalaman positif sebanyak-banyaknya.

Hanya butuh kesadaran dan keingintahuan untuk menjawab pertanyaan “Kenapa kita di sini?”

Apakah kita adalah orang-orang yang dihukum untuk menjalani kehidupan sulit yang penuh masalah? Atau apakah kita merupakan para pemenang yang dihadiahi kesempatan untuk merasakan kenikmatan hidup yang tak terbatas dalam harmoni dan kedamaian?

Dalam mitologi Yunani terdapat istilah “Era Keemasan” di mana kedamaian, keharmonisan, kestabilan dan kesejahteraan hidup pada suatu masa terjadi. Di masa ini, manusia hidup hingga masa tua dan pada akhirnya meninggal dengan tenang. Saat itu semuanya stabil, tidak seperti masa ini. Tapi era keemasan itu bisa kita wujudkan kembali jika kita semua sepakat untuk sadar dan kembali ke akal sehat kita.

Hentikan Kaliyuga bersama-sama.

Dari sekian jenis makhluk di Bumi ini, hanya manusia hidup saja yang mampu merasakan kesedihan dan kebahagiaan. Hanya manusia hidup saja yang mampu memutuskan untuk memilih perasaan yang mana.

Hanya satu dari sedikit kesadaran saya yang sederhana. Semoga tidak ada yang tersinggung. Ambilah manfaatnya dan lupakan hal yang tidak penting. Semua orang tujuannya baik.

Salam Damai 😀

Tags: kemanusiaankiamat
Share248TweetSendShareSend
Previous Post

Dan Semua Berubah Ketika Tugas Kuliah Menyerang…

Next Post

In Memoriam Durpa: Merdekalah di Sorga Seperti Kemerdekaan dalam Berkesenian

Yoga Pramartha

Yoga Pramartha

Bernama lengkap Kadek Yoga Pramartha. Lahir 1 Juni 1994 dan kini tinggal di Banjar Batanwani, Desa Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post

In Memoriam Durpa: Merdekalah di Sorga Seperti Kemerdekaan dalam Berkesenian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co