3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelak, Mungkin Kiamat Disebabkan Punahnya Akal Sehat Manusia

Yoga Pramartha by Yoga Pramartha
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

“Kenapa kita di sini?”

SEBUAH pertanyaan klasik yang telah tergerus zaman dan tak dihiraukan lagi. Sebagian besar orang akan menertawakan pertanyaan itu. Tapi tak akan ada yang bisa menjawabnya. Dari zaman filsuf Yunani, seperti Plato, Socrates, Aristoteles dan lain sebagainya, hingga zaman digital ini pertanyaan itu tetap tidak akan memiliki jawaban sempurna.

Kehidupan semakin kompleks. Kebutuhan hidup semakin banyak. Ambisi manusia semakin luas. Semua itu membuat umat manusia melupakan pertanyaan itu. Pertanyaan mendasar sederhana namun yang tak akan bisa terjawab.

Konflik dan bentrok tak ada habisnya, bahkan untuk masalah-masalah sepele. Siswa sudah merasa hebat dan merasa tak memerlukan guru lagi. Pejabat sudah terlena dengan sistem yang membebaskan mereka mengambil uang tanpa bekerja. Anak muda sudah mulai meragukan eksistensi mereka saat melihat jumlah like yang sedikit pada foto yang baru saja mereka unggah di media sosial. Pemuka agama tidak lagi mengemukakan agama, tetapi justru kepentingan manusiawinya. Yang benar ditindas, yang salah dimuliakan.

Kaliyuga.

Ya, kaliyuga. Begitulah orang Bali menyebutnya. Saat saya masih kecil saya pikir itu hanyalah bualan dan gertakan belaka. Namun seiring tumbuh dewasa, saya merasakannya dan itu memang benar terjadi. Semuanya dibalik-balik. Tidak ada lagi common sense, akal sehat. Akal sehat sudah tidak berlaku lagi.

Apakah Anda pernah berpikir bahwa hari kiamat adalah hari di mana komet besar menghantam Bumi? Ataukah hari di mana alien menginvasi planet kita? Ataukah hari di mana terjadinya badai matahari? Atau mungkin Anda percaya dengan kiamat yang disebabkan oleh zombie? Atau apakah anda berpikir kiamat terjadi karena wabah penyakit yang tak bisa disembuhkan?

Di antara semua kemungkinan penyebab kiamat ada satu kemungkinan lain: kiamat karena manusia kehilangan akal sehat. Kemungkinan punahnya manusia karena kehilangan akal sehat sudah pernah difilmkan pada tahun 2006.

Film berjudul “Idiocracy” menceritakan dua tokoh utamanya bangun dari hibernasi panjang selama 500 tahun dan melihat peradaban manusia yang mengalami degradasi mental. Yang ada hanyalah budaya-budaya orang-orang bodoh, dungu dan malas. Semua orang memiliki IQ rendah. Tidak ada lagi keingintahuan intelektual, tanggung jawab sosial dilupakan sepenuhnya, keadilan dan hak manusia pun sudah tak berlaku lagi. Akal sehat sudah punah.

Atas dasar inilah saya sedikit mendukung masyarakat Jepang yang cenderung memilih untuk tidak menikah dan tidak ingin punya anak. Untuk apa menciptakan generasi baru, jika Bumi ini hanya akan semakin teracuni? Bahkan ada sebuah gerakan bernama Voluntary Human Extinction Movement, atau secara harfiah berarti gerakan kepunahan manusia secara sukarela.

Dalam pandangan gerakan ini, tujuan untuk tidak mereproduksi manusia lagi adalah untuk mengurangi degradasi lingkungan. Dan diterima atau tidak, saya rasa tingkat kerusakan lingkungan memang berbanding lurus dengan jumlah populasi manusia.

Bumi ini rusak. Manusia yang hidup di dalamnya sebenarnya dihukum.

Hidup tak karuan. Terbebani masalah pekerjaan. Terbebani masalah keluarga. Terlilit hutang, anak-anak terlantar. Sakit hati ditinggal pacar. Beban berat menyelesaikan skripsi. Lalu gantung diri. Semuanya menyebalkan. Semuanya adalah masalah. Hidup di Bumi ini adalah hukuman. Lalu untuk apa hidup jika hanya untuk menjalani hukuman?

Itu hanyalah salah satu cara pandang terhadap kehidupan.

Hidup juga bisa dipandang sebagai hadiah. Manusia yang hidup di Bumi ini adalah para pemenang.

Hidup adalah sebuah kesempatan yang diberikan kepada manusia untuk dimanfaatkan sebaik mungkin. Sang pemenang diberikan kesempatan untuk mengecap segala karunia Tuhan. Mulai dari segala pengalaman berharga, kebersamaan dengan orang-orang terkasih dan kemampuan merasakan cinta. Kemampuan menikmati tempat-tempat indah di seluruh pelosok dunia. Semuanya itu adalah keistimewaan manusia hidup. Hanya manusia yang hiduplah yang mampu menikmati segala keindahan itu.

Sudah ada banyak orang yang sadar akan hal ini, dan saya yakin semakin lama akan semakin banyak yang sadar akan keindahan Bumi dan semuanya akan kembali ke akal sehat mereka. Semakin kita sadar, akan semakin sedikit konflik dan bentrok antar agama, semakin berkurang siswa yang tidak menghormati gurunya, akan berkurang pejabat yang korup, semua pemuda tak akan mempedulikan media sosial mereka karena mereka tahu bahwa keberadaan dirinya tak perlu dibuktikan dengan jumlah like, dan para pemuka agama akan kembali ke akal sehat mereka dan mengajarkan agama dengan cara yang sepatutnya.

Hanya butuh kesadaran. Kesadaran yang dipicu dengan cara belajar seumur hidup. Belajar tanpa henti, baca buku setiap hari, cari pengalaman positif sebanyak-banyaknya.

Hanya butuh kesadaran dan keingintahuan untuk menjawab pertanyaan “Kenapa kita di sini?”

Apakah kita adalah orang-orang yang dihukum untuk menjalani kehidupan sulit yang penuh masalah? Atau apakah kita merupakan para pemenang yang dihadiahi kesempatan untuk merasakan kenikmatan hidup yang tak terbatas dalam harmoni dan kedamaian?

Dalam mitologi Yunani terdapat istilah “Era Keemasan” di mana kedamaian, keharmonisan, kestabilan dan kesejahteraan hidup pada suatu masa terjadi. Di masa ini, manusia hidup hingga masa tua dan pada akhirnya meninggal dengan tenang. Saat itu semuanya stabil, tidak seperti masa ini. Tapi era keemasan itu bisa kita wujudkan kembali jika kita semua sepakat untuk sadar dan kembali ke akal sehat kita.

Hentikan Kaliyuga bersama-sama.

Dari sekian jenis makhluk di Bumi ini, hanya manusia hidup saja yang mampu merasakan kesedihan dan kebahagiaan. Hanya manusia hidup saja yang mampu memutuskan untuk memilih perasaan yang mana.

Hanya satu dari sedikit kesadaran saya yang sederhana. Semoga tidak ada yang tersinggung. Ambilah manfaatnya dan lupakan hal yang tidak penting. Semua orang tujuannya baik.

Salam Damai 😀

Tags: kemanusiaankiamat
Share248TweetSendShareSend
Previous Post

Dan Semua Berubah Ketika Tugas Kuliah Menyerang…

Next Post

In Memoriam Durpa: Merdekalah di Sorga Seperti Kemerdekaan dalam Berkesenian

Yoga Pramartha

Yoga Pramartha

Bernama lengkap Kadek Yoga Pramartha. Lahir 1 Juni 1994 dan kini tinggal di Banjar Batanwani, Desa Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

In Memoriam Durpa: Merdekalah di Sorga Seperti Kemerdekaan dalam Berkesenian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co