3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sarjana Modern yang Kehilangan Arah dan Idealisme

Yoga Pramartha by Yoga Pramartha
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

SARJANA.  

Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar.   Terlalu banyak sarjana modern yang merasa salah arah, kehilangan arah dan tersesat di jalan. Termasuk saya.  

Saya adalah seorang fresh graduate di tahun 2016 ini. Salah satu sarjana modern. Sedikit malu juga rasanya kalau saya berbicara tentang diri sendiri. Jadi mungkin itu saja informasi tentang diri saya.  

Sekarang ijinkan saya mengelaborasi apa yang saya amati dan sedang nikmati dalam pikiran saya.  

Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada Februari 2015 sebanyak 5,34 persen pengangguran bertitel sarjana dan meningkat menjadi 6,22 persen dalam satu tahun. Sarjana pengangguran itu ibaratnya adalah orang-orang yang punya tiket konser, tapi tak bisa menonton konser itu karena ternyata lapangan konser tak seluas yang dibayangkan.  

Ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Di sini saya ingin membeberkan cara pandang saya pribadi akan hal tersebut. Jadi jangan dicuri ya. Ini pikiran saya lho, inget. hehe Setiap tahun jumlah lulusan sarjana meningkat. Sangat jelas ini terkait langsung terhadap masalah yang terjadi ini.  

Lalu kenapa setiap tahun semakin banyak lulusan sarjana? Tentu saja karena setiap tahun mahasiswa yang diangkat semakin banyak. Contoh nyata saja, mahasiswa satu angkatan saya dalam satu jurusan berjumlah 6 kelas dengan jumlah mahasiswa kurang lebih 30-an orang per kelas. Kemudian angkatan setahun kemudian jumlahnya bertambah menjadi 10 kelas. Begitu seterusnya.  

Sebenarnya implikasinya adalah bahwa taraf hidup masyarakat sudah semakin meningkat, karena semakin banyak orang tua yang mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Namun banyak orang yang tidak memperhitungkan dampak dari kemajuan ini. Tentu saja dampak nyatanya adalah semakin ketatnya persaingan di dunia kerja. Lalu ini semua salah siapa?  

Tentu tak ada yang bisa disalahkan. Jangan pernah menyalahkan pihak manapun. Orang tua tak bisa disalahkan karena mereka ingin anaknya mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Mahasiswa pun tak bisa disalahkan karena mereka memilih untuk meningkatkan kualitas hidupnya lewat pendidikan.  

Lalu bagaimana dengan perguruan tinggi itu sendiri?  

Seperti yang saya katakan tadi, tak ada yang perlu disalahkan. Namun, seandainya saja penerimaan mahasiswa baru dilakukan seketat dulu, mungkin saja jumlah mahasiswa bisa dibendung. Namun kenapa kebanyakan sekolah, perguruan tinggi, dsb. mencari siswa sebanyak-banyaknya dengan proses seleksi yang sedikit renggang?  

Mungkin sudah tergambar sedikit. Silahkan simpulkan sendiri. Satu-satunya petunjuk yang saya berikan adalah bahwa kebutuhan di jaman modern begitu kompleks, meski tak ada yang mengharuskan hal itu terjadi. Maka tak salahlah jika segala hal dijadikan industri. Tak salah. Sama sekali tidak. Karena industri diciptakan oleh manusia. Jadi tak salah. Karena memang sifat manusia yang hanya memikirkan diri sendiri. Itu manusiawi. Sayapun begitu.  

Kebanyakan dari kita begitu terfokus dengan kepentingan kita dan tidak memikirkan apa dampak yang diterima orang lain atas ambisi kita memenuhi kepentingan atau kebutuhan kita.  

Singkatnya begini.  

Sekolah dan Perguruan Tinggi mempersilahkan masuk banyak siswa sehingga pemasukan yang diterimapun semakin banyak. Tak salah kan? Namun, ada satu hal yang mungkin tak terlalu mendapatkan perhatian pihak instansi tersebut.  

Saya memang bukan dewa. Maaf saya bukan orang hebat. Mungkin saya bisa mengatakan idealisme saya, apa yang saya anggap seharusnya dilakukan semua pihak tapi saya sendiri tidak pernah mencoba meletakkan kaki saya di sepatu mereka. Sebagai seorang guru mungkin saya tak berhak dan mungkin saya sendiri tak mampu mewujudkan idealisme saya.  

Tapi setidaknya saya ingin mengutarakan pemikiran sederhana saya ini.   Saat ini saya bekerja di sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris. Suatu saat saya diajak berbincang dengan bapak pemilik kursus ini. Kita berbincang mengenai hal-hal yang bisa dikatakan kurang berhubungan dengan profesi guru kami. Kita berbicara bisnis. Beliau mengutarakan bahwa perguruan tinggi, khususnya jurusan kami, pendidikan, terlalu menekankan mahasiswa untuk menjadi guru yang baik, tapi tak pernah kami diajarkan untuk menjadi penyedia lapangan kerja.  

Intinya adalah, sarjana seperti didoktrin untuk menjadi pegawai. Memang ada mata kuliah entrepreneurship selama satu semester, namun seperti yang saya nyata rasakan, sepertinya ada yang kurang dalam hal itu. Sepertinya itu saja tidak cukup. Memang, mencari kerja sebagai pegawai saja sudah susah, bagaimana bisa menjadi bos? Sejak lulus kuliah hingga akhirnya diajak berbincang itu, saya baru tersadar bahwa memang ada satu hal yang belum diajarkan.  

Bagaimana membuka pikiran dan jiwa?   

Saya bukannya ingin mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia, apalagi saya seorang guru, ya sudah pasti akan ditertawakan. Namun begitulah saya. Otak saya dipenuhi idealisme-idealisme yang mungkin susah untuk terwujud.

Salah satu idealisme yang terlalu di angan-angan yang saya miliki adalah sebuah sistem pendidikan di mana siswa bisa mengembangkan softskill mereka sejak dini dengan menekankan perkembangan psikomotor anak dibanding kognitif.

Jujur, saya pribadi tertawa saat mengetik kata-kata ini mengingat saya bukanlah tipe orang yang suka praktek. Saya adalah tipe orang yang suka merenung, berpikir, melamun dan berteori. Memang bukanlah jenis orang yang terlalu berguna di dunia ini. Tapi entah mengapa saya merasa bahwa ada orang di luar sana yang mengerti cara pandang saya, dan saya harap beliau mampu sedikit mewujudkan pemikiran saya.  

Ada sebuah wacana “full day school”. Memangnya nggak capek ya? LOL  

Menurut saya rencana itu bagus sekali, asal… Waktu seharian itu dibagi dengan bijak. Misalkan saja mungkin sehari siswa diajak ke sekolah selama 8 jam. Nah, dalam 8 jam itu, 4 jamnya kita beri waktu siswa untuk belajar di kelas. Lalu sisanya? 4 jam yang lain kita bisa gunakan untuk mengembangkan potensi mereka.  

Nah, alternatif saya, dan yang mungkin sedikit susah untuk direalisasikan adalah pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler yang memang sesuai dengan minat dan bakat anak. Jadi intinya adalah, kita tidak menyediakan daftar ekskul. Tapi… (Nah ini yang menarik :D) kita berikan siswa kesempatan untuk menentukan hal apa yang ingin mereka lakukan dalam 4 jam itu. Terserah mereka.  

Mungkin bagi anda yang pernah menonton film Accepted (itu mungkin keluaran tahun 2006? Saya lupa) yang dibintangi Justin Long, akan mengerti cara pandang saya. Jadi dalam film itu, Bartleby Gaines (J. Long) diceritakan tidak diterima di kampus manapun. Itulah sebabnya dia mendirikan universitas bohong-bohongan yang ceritanya menerima dia agar orang tuanya tak kecewa dia tidak kuliah.  

Namun ada sebuah kesalahan teknis yang membuat sekolah itu seakan-akan memang memiliki website sendiri dan dari website itu, orang-orang yang tidak diterima di kampus-kampus lain (unaccepted people) mendaftar dan diterima otomatis.

Bukannya mengatakan kebenarannya, si Bartleby justru membiarkan orang-orang itu masuk. Tanpa adanya dosen, Bartleby menyuruh mahasiswa-mahasiswa KW itu belajar sendiri dan mempelajari apa yang mereka ingin pelajari. Tanpa dosen.

Banyak dari pelajaran-pelajaran yang mereka pelajari bukanlah pelajaran yang lumrah (contoh: ada yang belajar meledakkan benda dengan telepati, LOL). Tapi mereka mempelajari hal yang mereka minati, dan itu membuat mereka bahagia. Itu membuka jiwa dan pikiran mereka.  

Banyak anak yang merasa terpaksa belajar matematika. Banyak pula yang merasa begitu semangat saat pak guru matematika datang ke kelas. Banyak yang membenci pelajaran sejarah. Banyak pula yang selalu mengangkat tangan saat guru sejarah mengajukan pertanyaan.  

Artinya adalah semua orang memiliki minat sendiri-sendiri. Sebagai fasilitator, kenapa kita tak biarkan mereka mengembangkan minat mereka DALAM PENGAWASAN yang baik selama 4 jam sisa sekolah mereka.  

Memang sulit. Oleh karena itulah, profesi guru selayaknya diapresiasi tinggi. Bukan karena saya seorang guru lho ya. Tapi itu memang murni pemikiran saya yang begitu sederhana. Semua anak memiliki potensi dan minat yang selayaknya dibantu untuk dikembangkan, bukannya dikekang. Asaal…. Tetap dalam pengawasan. Itu saja kok. Sederhana tapi sulit.  

Tapi jika itu mampu terwujud, bukan tak mungkin mereka menjadi calon-calon sarjana yang bisa membuka lapangan kerja sendiri sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing.  

Sebagai seorang Hindu saya begitu familiar dengan ungkapan Tat Twam Asi yang artinya Aku adalah Kamu. Tapi, saya sedikit kurang setuju. Andai saja diperbolehkan untuk merubah artinya, mungkin saya akan ubah menjadi “Aku dan Kamu Satu”. Apa yang aku lakukan berdampak pada hidupmu. Apa yang kamu lakukan berdampak pada hidupku. Karena kita satu, bukan sama.  

Semoga tidak ada yang salah paham atau tersinggung ya. Maksud saya baik kok. Kalau ternyata pikiran Anda sama, ya saya bersyukur sekali. Tapi namanya pemikiran kan tak harus sama toh. Yang penting saling menghargai saja. Kan hidup kita singkat. Ngapain nyari gara-gara?   

Salam damai 😀

Tags: mahasiswaPendidikanSarjana
Share183TweetSendShareSend
Previous Post

Putus Cinta, Sakit Hati, Anak Muda Kadang Ingin Makan Ban…

Next Post

Pameran Qilin: Membaca Kisah Tionghoa-Singaraja dalam Karya Rupa

Yoga Pramartha

Yoga Pramartha

Bernama lengkap Kadek Yoga Pramartha. Lahir 1 Juni 1994 dan kini tinggal di Banjar Batanwani, Desa Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post

Pameran Qilin: Membaca Kisah Tionghoa-Singaraja dalam Karya Rupa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co