3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Ngayah” adalah “Game” untuk Menunjukkan Kehebatan Orang Tua?

Satia Guna by Satia Guna
February 2, 2018
in Opini

Foto: Istimewa

MENJELANG Hari Galungan biasanya banyak warga adat menggelar karya gede di Pura. Karya Gede di sebuah Pura merupakan hari yang ditunggu-tunggu warga. Di situ banyak orang akan memainkan game. Bukan game Pokemon, tapi game untuk menunjukkan kehebatan warga adat, terutama para orang tua.

Karena karya gede juga membutuhkan dana besar, maka para donatur pun berseliweran datang dan pergi untuk memainkan game kedermawanan mereka. Mereka sudah pasti “menyumbang” (point pentingnya). Banyak dari donator yang dari partai ini, itu, di sana, di situ, merah, kuning, hijau di langit yang biru.

Beralih dari cerita sumbang menyumbang yang sudah mainstream diketahui masyarakat. Mari kita menelusuri lebih ke dalam lagi. Misalnya tentang ngayah banjar yang bagi kebanyakan orang Bali merupakan suatu arena di mana mereka bisa menunjukkan kehebatan dan keunggulan mereka masing-masing.

Misalkan ada juru tanding yang bertugas mengatur sesajen yang akan dihaturkan (ini sangat rumit butuh keterampilan khusus agar sesajen terbagi rata dan ditata secara apik). Itu kesulitan level 1.

Ada pula yang berada pada game katagori daging. Pada katagori daging ini para warga akan berlomba-lomba menunjukkan kehebatan mereka dalam misalkan menangkap  bangkung atau celeng. Yang berpotensi menangkap celeng adalah orang-orang yang berbadan seperti Bima. Kalau badan seperti Arjuna alangkah baiknya jangan ngejuk celeng mending jadi artis saja.

Itu masalah ngejuk celeng yang level kesulitannya sangat tinggi. Jadi, yang kurus dianjurkan untuk menonton saja.

Setelah celeng ditangkap lalu digotong. Adapun selanjutnya celeng di gorok atau disembelih. Nah, untuk urusan penyebelihan ini sudah disediakan tukang jagal yang menggorok celeng dengan brutal. Lalu selanjutnya ada pemotongan daging. Ini level yang lumayan tinggi kalau diambil oleh pemuda mungkin akan game over.

Itu masalah daging, belum lagi masalah yang lain-lain seperti mengaduk lawar yang sangat melegenda. Mengaduk lawar merupakan adegan di mana orang mengaduk-ngaduk adonan daging, sayur, dan lain-lain, dengan tangan sembari tak ragu untuk memasukkan berbagai jenis bumbu tanpa melihat takarannya. Sungguh menakjubkan.

Karena kalau ada bumbu yang kurang maka lawar akan asin atau bisa juga hambar maka tukang aduk lawar harus memiliki skill yang mumpuni agar lawar terasa nikmat. Itu seputar ngayah mebat.

Berbeda lagi dengan ngayah yang lain seperti halnya membuat katik sate yang memiliki berbagai jenis, macam, julukan, dan filosofi. Bukan hanya katik sate, lho. Kita tahu masih banyak yang lainnya seperti membuat klakat. Dulu sewaktu SD saya pernah diajari mengulat klakat dan itu sangat mudah.

Tapi klakat juga memiliki banyak jenis dan banyak tipe. Ada yang berisi bingkai ada yang berbentuk segitiga, berbentuk segi empat dan masih banyak lagi. Yang paling membuat saya jengkel waktu di Sekolah Dasar adalah klakat sudamala yang pembuatannya membutuhkan kesabaran ekstra josss.

Nah itu klakat, belum lagi klabang, yakni suatu sulaman dari daun kelapa tua yang fungsinya untung membuat atap. Ini level kesulitannya hampir mendekati level kesulitan membuat kise (tempat menaruh ayam atau bebek) yang dipergunakan untuk ber-yadnya.

Mungkin hanya sedikit yang saya ketahui tentang ngayah. Haruskah saya sebutkan semua level tertinggi dari game ngayah ini? Mending main game pokemon, saja lebih greget gess.

Mengapa saya tak menyebutkan semua sub-sub dari prosesi ngayah tersebut. Karena hanya sebegitu ilmu yang saya ketahui tentang ngayah. Inti dari artikel ini bukan level-level yang ada pada game ngayah. Tapi saya selaku pemuda merasa belum menguasai tetek bengek tentang ngayah tersebut.

Mungkin karena saya kurang bertanya atau bersosialisasi dengan orang tua tapi dari kenyataan yang saya alami bahwa orang tua katanya memiliki gaya tersendiri untuk mendidik pemudanya. Misalkan seperti menyulam kelabang akan ada banyak orang tua yang lebih memilih untuk mencaci-maki pemudanya saat mereka mulai belajar.

Tak banyak dari orang tua yang mengajari dengan bimbingan melainkan dengan bentakan dan ejekan. Menurut mereka ejekan dan bentakan merupakan suatu pemecut bagi pemuda agar ia belajar mandiri dengan hanya melihat hasil dari pekerjaan orang tua. Maka, jadilah para orang tua itu menunjukkan kelihaiannya membuat sarana yadnya seperti main game antarmereka.

Pernahkan kita merenung sejenak, bukan bertapa, hanya merenung, bukan juga tidur, tapi duduk sambil jongkok-jongkok di WC bahwa mengingat budaya Bali kita perlu lestarikan bukan hanya dari tarian-tarian, gamelan-gamenalan, dan seni pertunjukan lainnya.

Tapi ketika orang tua sudah habis lalu kita selaku pemuda yang kemudian menjadi orang tua apa yang akan kita ajarkan kepada pemuda kita apakah bentakan dan ejekan yang kita ajarkan? Mungkin saja iya, karena sistem balas dendam sudah mendarah daging di tubuh kita.

Pasraman. Pernah mendengar kata pasraman? Ya di waktu SD mungkin kita pernah merasakan yang namanya pasraman. Saya selaku orang Bali sangat berhutang budi kepada pasraman. Karena berkat pasraman saya bisa menyulam kise, klabang, klakat dan juga membuat katik sate.

Tapi itu dulu. Waktu SD sekarang boro-boro mau bikin, katik sate saja dibeli di pasar-pasar terdekat (tegulan dijual terpisah). Bukan hanya katik sate, segala jenis perlengkapan yadnya sudah tersedia. Jadi apa yang pemuda harus khawatirkan? Ingin ber-nyadnya tinggal ke pasar semua sudah ada. Gampang. Jadi tak perlu belajar semua sudah ada tinggal siapkan uang seperangkat alat yadnya sudah bisa didapatkan.

Dan kalau ditelisik lebih mendalam ternyata penjual seperangkat alat yadnya tersebut merupakan orang tua juga. Jadi kalau orang tua penjual seperangkat alat yadnya itu tiada, lalu ber-yadnya dengan apa?

Memiliki keterampilan dalam membuat seperangkat alat yadnya sebenarnya merupakan sebuah kebanggan yang mendalam di level desa. Sama seperti main game Pokemon yang kerap juga memamerkan rasa bangganya kepada teman-teman karena sudah mendapatkan banyak koleksi Pokemon.

Kalau mau bangga untuk level se-Bali ikut lomba saja, atau adakan lomba untuk pembuatan seperangkat alat yadnya. Menarik sih, biayanya tak akan mahal. Tak perlu mewah pula karena seperangkat alat yadnya dari alam juga. Kise dari daun kepala, klabang juga dari daun kelapa, katik sate dari bambu, tak usah beli kita masih punya tegalan kan? Atau tegalan sudah jadi vila? Oh sayang pohon kelapa dan bambu tempat memedi beranak pinak sudah kita tebang dan jual. Ya, pemuda hendaknya mengerti akan hal ini.

Kembali ke pengajar pembuatan seperangkat alat yadnya bagi pemuda. Haruskah orang tua masih berusaha menyombongkan diri untuk mengambil segala pekerjaan dan memainkan game sendirian saat ngayah berlangsung?

Saya pernah melihat saat ngayah di Pura, saat orang tua sibuk dengan pekerjaannya. Saya melihat pemudanya tak selaras dengan itu, pemuda yang ikut ngayah malah ngopi dan merokok di warung dekat Pura. Ada sesuatu yang janggal sebenarnya? Atau terbalik? Coba kalau bisa dibalik, pemuda diberi kesempatan untuk belajar ngayah sedangkan orang tua duduk santai melihat pemudanya bekerja keras. Bukankah lebih enak terlihat.

Pemuda yang memiliki tenaga lebih besar mengambil pekerjaan yang berat. Sedangkan para orang tua bisa bersantai dan mengatur pekerjaan dari pemuda tersebut. Namun ego berkata lain. Orang tua lebih memilih menunjukkan kehebatannya kepada para pemuda dan menghabiskan seluruh pekerjaan tanpa memberi tahu bagaimana caranya membuat.

Tapi ngayah  memiliki keunikan tersendiri yang baru saya jumpai bahwasanya ngayah bisa menjadi ajang mengadu kehebatan (yang pertama), dan (yang kedua) tempat bergosip paling ciamik baik dari kalangan Bapak-Bapak maupun Ibu-Ibu. Ah, itu bisa dibahas lain kali saja. (T)

Tags: baligamengayahupacara
Share22TweetSendShareSend
Previous Post

Sudarmaja, Sukrawan, Suradnyana, dan Nasib Apes Ketua DPC PDIP di Pilkada

Next Post

“De Ngon”, ini Buleleng! – Tentang Gerak Jalan Warga’S dan Lain-lain…

Satia Guna

Satia Guna

Lelaki pendiam yang selalu bikin kangen, terutama dikangeni teman-temannya di Komunitas Mahima. Suka main teater, suka menulis puisi, esai dan cerpen. Kini juga melukis.

Related Posts

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails
Next Post

“De Ngon”, ini Buleleng! – Tentang Gerak Jalan Warga’S dan Lain-lain…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co