22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sudarmaja, Sukrawan, Suradnyana, dan Nasib Apes Ketua DPC PDIP di Pilkada

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Ulasan

Foto: dari beberapa sumber

ADA semacam mitos yang tampaknya bisa menghantui keluarga Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Buleleng dalam Pilkada, Februari 2017. Yakni, kenyataan bahwa sejak era reformasi, sejak partai itu bernama PDI Perjuangan, Ketua DPC di Buleleng yang dicalonkan menjadi kepala daerah atau wakil kepala daerah tak pernah menang Pilkada. Baik Pilkada Bupati di Buleleng maupun Pilkada Gubernur.

Tengoklah Pilkada pertama di Buleleng setelah zaman reformasi, tahun 2002. Calon Bupati Nyoman Sudarmaja Duniaji saat itu yang notabene adalah Ketua DPC PDIP Buleleng kalah secara dramatis bin tragis. Padahal peluang Sudarmaja untuk menang saat itu sangat besar.

Saat itu, pilkada belum dilaksanakan secara langsung. Pilkada saat itu hanya dilakukan oleh anggota DPRD. Sudarmaja dicalonkan oleh Fraksi PDIP menjadi Bupati berpasangan dengan Nyoman Sudiana, dosen yang kemudian menjadi Rektor Undiksha Singaraja.

Peluang menang PDIP saat itu memang sangat besar. Dari 45 anggota DPRD Buleleng hasil pemilu legislatif (pileg) tahun 1999, PDIP menduduki 31 kursi. Artinya, ditinggal tidur pun, calon kepala daerah dari PDIP pasti menang.

Tapi kenyataan dalam politik tak segampang hitung-hitungan jumlah kursi. Nasib Sudarmaja ternyata apes. Sejumlah anggota Fraksi PDIP membelot dan memilih calon lain yang bukan dicalonkan oleh Fraksi PDIP. Sehingga, saat kartu suara dihitung, kalahlah Sudarmaja. Pemenangnya adalah pasangan calon bupati dan wakil bupati, Putu Bagiada dan Gede Wardana, yang dicalonkan oleh fraksi lain.

Nasib Dewa Sukrawan

Setelah mengalami gejolak politik, PDIP Buleleng kemudian dipimpin Dewa Astawa, lalu Nyomang Muliarta. Nama dua tokoh PDIP itu tak pernah disebut-sebut masuk bursa bakal calon atau calon kepala daerah. Untuk itu, kita abaikan dua nama itu.

Kita lihat nama Dewa Nyoman Sukrawan. Lelaki asal Desa Bungkulan ini menjadi Ketua DPC PDIP Buleleng menggantikan Nyoman Muliarta. Beberapa kali nama Dewa Sukrawan muncul dalam bursa calon kepala daerah di Buleleng.

Pada Pilkada Buleleng 2007, nama Sukrawan sempat muncul pada masa-masa penjaringan calon. Namun apa boleh buat, DPP PDIP mengeluarkan rekomendasi untuk Putu Bagiada, orang yang mengalahkan calon dari PDIP pada Pilkada 2002. Putu Bagiada sebagai incumbent saat itu dipasangkan dengan kader PDIP, Arga Pynatih.

Seperti diketahui, pasangan Bagiada-Arga menang. Pasangan itu mengumpulkan suara 36,18 persen dan mengalahkan calon lain, yakni Jro Nyuman Ray Yusha-Ni Putu Febri Antari, Nyoman Sugawa Korry-Luh Kerthianing, dan pasangan Made Westra-Ketut Englan.

Pada Pilkada 2012, Dewa Sukrawan kembali memiliki peluang untuk menjadi calon bupati. Sebagai ketua DPC ia dianggap layak mendapatkan rekomendasi dari DPP. Namanya pun kembali beredar pada masa-masa penyaringan dan penjaringan calon. Namun Sukrawan mengalami nasib yang sama seperti lima tahun sebelumnya. Nasib baik tak memihaknya. DPP PDIP kemudian memilih Putu Agus Suradnyana dan Nyoman Sutjidra menjadi calon bupati dan wakil bupati. Dan Sukrawan harus puas menjadi ketua tim pemenangan.

Pada Pilkada 2012, Agus Suradnyana-Sutjidra memang dengan perolehan suara sekitar 54 persen, mengalahkan pasangan Gede Ariadi-Wayan Artha, Tutik Kusuma Wardani- Komang Nova Sewi Putra, dan pasangan Gede Wenten Suparlan-Ida Bagus Djodhi.

Dewa Sukrawan seakan-akan mendapatkan kembali nasib baiknya sebagai Ketua DPC PDIP, ketika dicalonkan sebagai Wakil Gubernur Bali berpasangan dengan AA Ngurah Puspayoga pada Pilkada Gubernur Bali 2013. Banyak orang kaget ketika tiba-tiba nama Sukrawan muncul setelah pihak PDIP terkesan kebingungan menentukan nama untuk dipasangkan dengan Puspayoga. Namun saat itu memilih Sukrawan tampaknya cukup tepat. Meski namanya tidak begitu populer di luar Buleleng, ia dianggap bisa mengumpulkan suara di Buleleng. Apalagi Buleleng memiliki jumlah pemilih terbesar di Bali.

Seperti diketahui, nasib baik belum memihak Sukrawan. Pasangan Puspayoga-Sukrawan dikalahkan dengan selisih suara yang tipis oleh pasangan Mangku Pastika-Sudikerta.

Setelah tak menjabat sebagai Ketua DPC, pada Pilkada 2017 rupanya Sukrawan mencoba kembali keberuntungan politiknya dengan mencalonkan diri lewat jalur perseorangan alias jalur independen. Dengan menggandeng Dharma Wijaya (mantan Ketua DPC Partai Demokrat), Sukrawan sudah mendaftar ke KPU Buleleng dan melalui rapat pleno KPU, 12 Agustus 2016, pasangan itu dinyatakan lolos dalam verifikasi pemenuhan jumlah minimal dan sebaran dukungan.

Apakah Sukrawan-Dharma Wijaya akan lolos verifikasi dalam tahapan pencalonan berikutnya, lalu ditetapkan menjadi calon resmi, lalu menang pada Pilkada Buleleng 2017? Dalam politik, apa pun bisa terjadi.

Agus Suradnyana sebagai Incumbent

Pertanyaan yang muncul pada masa-masa maraknya obrolan politik tahun ini adalah: apakah Putu Agus Suradnyana akan mengalami nasib apes seperti dua Ketua DPC PDIP, Sudarmaja Duniaji dan Dewa Sukrawan, dalam Pilkada 2017 ini? Jawabannya sama dengan jawaban untuk pertanyaan tentang Dewa Sukrawan: dalam politik apa pun bisa terjadi.

Tapi pertanyaan tanpa dasar ilmu politik itu sah-sah saja muncul, karena Putu Agus Suradnyana saat ini menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Buleleng menggantikan Dewa Sukrawan. Di sisi lain PDIP sudah memastikan Putu Agus Suradnyana dan Nyoman Sutjidra tetap dipasangkan untuk menjadi calon bupati dan wakil bupati pada Pilkada 2017. Jika melihat nasib apes Ketua DPC sebelumnya yang bertarung dalam Pilkada, wajar jika ada kecemasan jika Agus Suradnyana bernasib sama.

Seperti dalam sepakbola, mitos atau hitung-hitungan sejarah, kadang selalu dijadikan dasar-dasar prediksi meskipun tak memiliki dasar teori yang bisa dipercaya. Demikian juga dalam politik. Bumbu-bumbu irasional kadang menjadi penyedap rasa agar pembicaraan politik menjadi tetap asyik.

Tentang nasib apes Ketua DPC PDIP Buleleng tentu belum layak disebut mitos. Sejarahnya masih cukup pendek untuk bisa dikatakan sebagai mitos. Apalagi acuannya baru dua Ketua DPC. Mungkin nasib apes itu memang hanya kebetulan semata. Namun, lagi-lagi namun, hal-hal berbau niskala dan irasional semacam ini tetap harus diwaspadai.

Oh, ya, bicara mitos dan kebetulan-kebetulan, di Bali tak ada pasangan calon bupati dan wakil bupati incumbent dari PDIP yang kalah dalam Pilkada. Pada Pilkada serentak tahun 2015 lalu, semua calon incumbent PDIP menang Pilkada, bahkan sebagian besar menang secara mudah. Artinya, sebagai calon incumbent, Putu Agus Suradnyana punya kekuatan rasional sekaligus irasional untuk mematahkan anggapan bahwa Ketua DPC PDIP selalu apes.

Secara rasional, calon incumbent sudah memiliki kekuatan dukungan nyata, selain karena memiliki power sebagai kepala daerah, ia juga memiliki pengalaman bertarung pada Pilkada sebelumnya. Secara irasional, ya itu tadi, semua calon Bupati incumbent dari PDIP tak pernah kalah dalam Pilkada di Bali.

Namun, lagi-lagi namun, dalam politik apa pun bisa terjadi. (T)

Tags: mitosPartai PolitikPilkadaPolitik
Share74TweetSendShareSend
Previous Post

Negeri Kopi

Next Post

“Ngayah” adalah “Game” untuk Menunjukkan Kehebatan Orang Tua?

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

“Ngayah” adalah “Game” untuk Menunjukkan Kehebatan Orang Tua?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co