14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Purnama Pasah

Kadek Desi Nurani by Kadek Desi Nurani
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Ni Kadek Desi Nurani Sari

Purnama pasah, tiga anak bajang berjalan melenggang ke arah barat tempat di mana, rusuk seorang ibu tersesat jalan pulang. Mereka kembara, membawa bingkisan cerita agar kelak rasa lapar yang mereka sebut rindu di tanak masak-masak di rumah yang telah tersusun kembali bersama tangganya. Sementara itu dua ribu lima ratus sembilan puluh tujuh hari berlalu, pohon jambu di halaman rumah dipelihara musim dengan baik.

Sebagian dari pohonnya berambut bunga dan sebagian lagi berambut buah yang kulitnya mulai memerah sepadan warna pada cemas wajah wanita yang menunggu tiga anak bajang pulang ke rahim ibu. Tahun-tahun berlalu, musim lebih tangguh dari yang pernah peramal cuaca sampaikan. Ia selalu datang melawan pikiran dan harapan yang direncanakan.

PAGI ini kami berangkat bersama ke arah timur kota meninggalkan rumah dengan sedikit tergesa-gesa. Tetapi segala persiapan telah kami kemas sebelumnya. Berangkatlah kami, warna pagi tampak lebih gelap dan angin mencubit jauh lebih dingin dari pagi biasanya.

Mobil bergerak terasa lebih lamban, meski harapan lebih cepat dari kenyataan yang ada. Cuaca mengirim angin berembus seperti dicampur kemarahan, aku merasakannya, dari balik kaca seorang perempuan terlihat berjalan melawan gerakan angin seperti adegan ketika Jenny berteriak memberi isyarat pada Forest Gump untuk berlari sekeras teriakan demikian yang diharapkan.

Ada yang melawan di hadapannya, kedua tangannya berusaha meraih sedang langkahnya tetatih. Suara pintu mobil dibanting terdengar cukup keras, kami sampai dan perempuan yang menggapai-gapai tujuannya hilang seperti terputus siaran stasiun televisi.

Aku beranjak, udara mencubit. Musim dingin semestinya belum kembali datang di bulan ini. Jika saja ada pertukaran musim, seharusnya musim dingin hanya mengantar udara yang terasa lebih gigil, tanpa embusan angin. Tapi kali ini rupa-rupanya musim sungguh-sungguh memilih bulannya sendiri. Dari arah utara langit tiba-tiba menyeruap gelap, rumah-rumah beratap mendung, musim dingin sudah tiba.

Musim dingin di kota kami tidak pernah turun salju seperti halnya di Eropa, itu mengapa kami hanya butuh sedikit berhemat pakaian dan bepergian. Musim dingin di kota kami mengantar hujan yang senantiasa mengairi sungai-sungai mati setelah kemarau panjang. Segera kututup kembali pintu mobil, mengeluarkan segala sesaji upacara.

Sebelum pagi ini, kami sempat berunding tentang upacara ini. Ada pertimbangan tentang dilakukan tidaknya upacara hari ini atau menunda hingga tiba hari baik mengizinkan. Namun rencana ke depan tentang lain-lainnya tidak bisa menunggu hingga hari baik mengizinkan. Hingga akhir perbincangan upacarapun kami laksanakan hari ini. Di purnama pasah, yang menyembunyikan biasan mata hari dan menidurkan sedap malam dari mekarnya.

“Yan, baru kali ini Mbok dan Bli Mangku nganteb ngeruak di purnama pasah. Hanya Wayan yang berani, yang lainnya belum ada.”

Seorang bibi yang juga menjadi mangku bicara pada Bapak. Sambil tertawa cekikikan mereka mempersiapkan sarana bersama sambil lantang membahas keputusan yang diambil Bapak. Aku tidak paham apa yang mereka bicarakan tentang purnama pasah dan upacara ngeruak yang kami lakukan. Dalam percakapan itu mereka nampak saling memberi keyakinannya masing-masing tentang hari baik upacara digelar.

“Bagi tiang Mbok, karena pasah air laut naik lebih tinggi dan angin lebih kencang, air laut menguap meninggi dan hujan turun di bulan ini, itu kenapa pasah menjadi tak baik untuk ngeruak.”

Terdengar Bapak bicara seperti bagaimana guru ilmu pengetahuan alam di SD dulu proses turunnya hujan.

Percakapan bersambung hingga segala sesaji telah rampung disiapkan. Aku masih duduk di atas gundukan tanah yang dipersiapkan untuk pemasang pondasi bangunan. Tikar digelar, aku berpindah tempat menuju tikar bersama yang lainnya. Di samping kananku duduk adik lelakiku yang kini tumbuh menjadi lebih dewasa. Jakunnya mulai terlihat jelas dan suarannya mengembang.

Sambil menatap handphone genggamnya sedikitpun ia nampak tidak tertarik pada percakapan. Di samping kiriku wanita tua yang mulai memperlihatkan putih rambutnya dan satu gigi depannya yang tersisa tersenyum-senyum melihat sekelilingnya. Ia biasa melakukannya. Nenek yang lama kehilangan pendengarannya seperti menemukan suara sekitarnya dalam pikirannya sendiri yang sedikit-sedikit ia curi dari gerakan bibir kami. Sementara itu di hadapan kananku duduk bapakku dan di hadapan kiriku ada ibuku, lalu Bik Mangku dan Pak Mangku.

Di hadapan kananku ada Bapak, kemudian di hadapan kiriku ada Ibu. Ibu? Ia tak tampak seperti wajah ibuku. Tapi Bapak selalu menyebutnya Ibu untuk kami. Wanita itu lebih cantik dari wajah Ibu yang kami kenal tujuh tahun lalu. Tapi ia berubah sewaktu-waktu menjadi apa yang takdikenal Bapak.

“Luh, coba saja, sebentar lagi akan turun hujan. Sekarang waktunya tukang Wayan lembur. Sepertinya harus diberi asupan lebih.” Bik Mangku memulai lagi percakapan, sembari Pak Mangku masih ngayat aturan.

Sambil tertawa cekikik wanita yang dipanggil Iluh, dan diperkenalkan Bapak sebagai Ibu menjawab, “ Gampang saja Mbok, mie taluh, kopi, teh, jaje sudah disiapkan.”

Percakapan itu segera terputus oleh suara gemuruh, angin kencang, dan Pak Mangku menyodorkan kembang sebagai sarana persembahyangan. Sekali lagi gemuruh terdengar lebih lantang. Dari arah utara suara angin seperti hentakan risik yang panjang dan bergerombol, angin membawa hujan, langit menghitam, suara para pekerja bersorak sorai seperti menunggu kepastian yang dipikirkannya benar telah terjadi.

Genta masih terdengar mengantar doa-doa kami. Suaranya timbul-tenggelam di antara pukulan hujan.

Semakin jauh, jauh, jauh, terdengar mantra seperti menipis menuju sebuah jalan mengarah ke sebuah rumah, yang pada berandanya seorang wanita duduk dengan sebatang rokok yang dihisapnya pelan. Sorot matanya mengarah ke hadapan halaman. Dua anak perempuan dan seorang anak lelaki sedang bermain di kebun kecil halaman rumahnya. Tiga anak remaja menyiram sebuah pohon yang dipercakapkannya akan tumbuh besar kelak dan dinikmati anak-anak mereka.

Wanita di beranda rumah itu masih menatap ke arah mereka, dalam matanya seperti ada cerita lain yang seolah-olah bercerita  di hadapannya. Satu hisapan panjang lagi, rokok itu dipadamkannya pada asbak di atas meja tempat duduknya, lalu dihembuskannya panjang kembali asap mengepul menutupi pandanganku. Wajah wanita itu kini mengarah kepadaku. “Dek, matikan airnya. Tidak perlu menyiram hari ini. sekarang purnama pasah. Hujan akan datang menyiramnya sebentar lagi.”

Wanita itu kemudian memanggil dua anak remaja di halaman rumah. Seorang lelaki dan seorang lagi perempuan. Seorangnya lagi, perempuan yang bermain bersama mereka adalah aku.  Mereka berdua saudara-saudaraku dan wanita di beranda rumah adalah ibu kami, ibu yang rahimnya kami singgahi dan kami curi sebagian apa yang ada pada dirinya.

Purnama pasah hari itu, setelah semua kesenangan kami sudahi, Ibu datang dengan tiga mangkuk mie kuah telur dan kisah panjang yang dititipkannya pada setiap suapan kami. Tentang kami yang akhirnya duduk berempat di beranda rumah.

Ibuku, ia takpernah menyebut dirinya sebagai seorang janda. Hanya terkadang ia harus menjadikan dirinya selayaknya janda yang ditinggal mati suaminya. Ia selalu mengatakan bahwa ia tinggal untuk kami. Untuk kenang-kenangan yang Ibu dan Bapak miliki. Mie kuah yang kami kunyah akan terasa sekat masuk melewati tenggorokan kami. Kami selalu tak suka membahas kisah menyedihkan kepergian Bapak yang tak berkabar dan meninggalkan kami dengan kesedihan.

Tapi kami tahu hati Ibu butuh kami dengarkan untuk mengobati kemarahan dan kerinduannya. Sampai di akhir suapan kami, isak kesedihan Ibu atas kisah yang ia dan kami alami masih terdengar ia mengatakan kami boleh pergi mencari Bapak kami.

Aku dan kedua saudara saling bertukar pandangan. Ada ketidakyakinan di antara kami. Bagaimana tidak, Ibu sangat menentang pertemuan kami dengan Bapak. Terlebih jika kami harus datang menemuinya. Ibu ingin Bapaklah yang datang menemui kami.

“Kali ini Ibu bersungguh-sungguh. Pergilah. Esok datanglah kembali bersama Bapakmu. Kalian pergi untuk kita. Kelak kalian akan paham bahwa tiada rumah tangga yang utuh ketika kehilangan anak-anak tangganya.”

Ibu beranjak. Ia datang kembali dan menyodorkan telepon genggamnya dan memberikannya pada kami. Sebuah panggilan telah tertuju pada sebuah nomor yang dinamai ibuku “sayang”. Panggilan itu untuk Bapak. Panggilan itu tidak dijawab. Kemudian sebuah pesan dikirim Ibu yang mengatakan bahwa kami bisa dijemput untuk diajak bersama Bapak. Pesan itu terjawab segera. Kami akan dijemput esok paginya. Ibu memberi isyarat pada kami untuk berkemas.

Menyiapkan beberapa pakaian yang kami butuhkan. Ia pergi, ibuku menuju dapur bersama isak tangisnya sambil menyalakan dupa. Kami dipanggil untuk ikut bersamanya menuju merajan. Mengaturkan doa agar apa yang kami harapkan dapat Tuhan dengarkan. Bahwa esok kami akan kembali bersama Bapak.

Ibu memulai langkahnya, satu per satu saudaraku mengikuti langkahnya, aku masih menunggu di beranda. Ibu menoleh padaku, tak henti-henti ia membiarkan matanya mengeluarkan kesediahan, aku hanyut, kami menangis sekuat-kuatnya. Kami bahkan tidak peduli seberapa keras isak kami hingga tetangga begitu bernafsu ingin menghampiri kediaman kami untuk mendapatkan sesuatu yang enak diperbincangkan.

Namun alam menikam kesedihan kami pada guyuran hujan yang ibu isyaratkan sebelumnya pada kami. Nyala dupa yang dibawa Ibu sejak tadi telah mati di hadapan kami, tetapi tangan Ibu masih mengatup pada ubun-ubunnya. Mengucapkan doa yang tersedak isaknya.

Entahlah apa doa kedua saudaraku hari itu. Samakah seperti yang Ibu pinta, atau entahlah. Aku hanya merasa mereka tak punya doa yang selesai diucapkan hari itu sebab kesedihan terlalu larut.

Aku sendiri, aku tidak bisa mengucapkan apapun untuk kusebut sebagai doa. Aku menatap ke langit, pandanganku dicabik-cabik butir hujan, tak nampak di kejauhan ada langit yang lapang tempat kami berumah mimpi selayaknya putri, seperti yang pernah Ninik ceritakan pada kami.

Aku memejamkan mata, tiba-tiba saja isak suara Ibu menyepi lalu hilang. Segera kubuka mataku, aku berada di atas ranjang tua dari kayu kelapa. Suaranya terdengar pilu ketika kubangkitkan tubuhku dari tidur. Aku berada di rumah Ninik Kompyang Rai. Wanita tua yang tinggal sendiri di pondok apilan. Pondok dengan atap daun kelapa, berdinding kelapa, tak berpintu yang dapur dan tempat tidurnya dalam satu tempat saja.

Ninik Kompyang Rai, dia bukan siapa-siapaku. Hanya saja ia janda tua yang ditiggal mati suaminya tanpa seorang anak. Aku diterimanya sebagai cucu. Selayaknya cucu dari anaknya sendiri, ia selalu memberiku cerita-cerita ajaib tentang apa saja yang ada di sekitarku. Segala macam pertanyaanku ia bungkus menjadi cerita pengantar tidur.

“Galuh, tinggal dulu di sini. Hujan masih deras sekali. Tidurlah lagi. Purnama Pasah, rerainan dan hujan.”

Ia bicara padaku sambil mengoceh atas hujan yang datang. Selalu aku ingin bertanya kenapa, kemudian kusampaikan rasa ingin tahuku tentang purnama pasah.

“Kompyang, kalau purnama pasah selalu turun hujan?”

Ia kemudian mendekatiku menuju tempat tidur. Sambil dielus rambutku, direbahkannya badan di sampingku dan ia bercerita panjang tentang purnama pasah.

Kepalaku meringan, sentuhan tangan dan suara Ninik Kompyang Rai hilang, sesuatu mengguncangkan tubuhku. Aku terperenjat, adikku Raka memegang lenganku sambil mengisyarakan untuk kembali menuju rumah. Sebab hujan terlalu deras.

Aku menatap kakakku Tantri. Ia menyetujui. Lalu kami menatap Ibu. Sedikitpun tubuhnya tak berubah sejak tadi. Tangannya masih mengatup. Tak berubah tingginya dan kokoh tubuhnya menumpu doa. Hari ini pasah, Ibu, dewa-dewa sedang bersemadi untuk keselamatn bumi. Mereka sedang bermain komedi putar pada putaran bumi untuk memulai segala sebagai sebuah awal. Ada baiknya kita simpan doa hari ini. Kita akan mengganggu keselamatan seluruh alam semesta.

Dalam hati ingin kusampaikan pada Ibu bahwa tak tepat kita berdoa hari ini. Aku berpikir dewa-dewa tak mendengar doa Ibu. Suara petir menyambar kencang, aku dan saudaraku berteriak ketakutan. Kami saling memeluk histeris.

Aku membuka mata, upacara ngeruak telah selesai dan hujan turun deras mengguyur tubuh kami. Kami semua berkemas, tergesa-gesa, berlarian menuju rumah teduh. Aku menarik dalam panjang nafasku, ada yang tertahan dan mengendap menjadi berat. Perempuan yang kini kami sebut Ibu, melambaikan tangan meminta bantuan untuk beberapa barang yang harus dirapikan.

Aku menatapnya dalam. Ia, perempuan yang melarikan kerinduan kami tujuh tahun lalu. Yang memisahkan doa Tantri kakaku di hari pernikahannya pada Ibu. Ia tertawa riang, menukar tawa dengan Bapak di antara hujan.

Aku menoleh ke arah kiri, menuju jalan raya, tempat kutemukan perempuan yang menggapai-gapai langkahnya tadi, kini berdiri wajah Ibu tujuh tahun lalu yang mengisak tangisnya di merajan bersama guyur hujan. Tangannya memegang sebuah jambu merah. Ia tersenyum, dibiarkan tubuhnya basah dan gigil, lalu disapu mobil. Wajah Ibu hilang di sebrang jalan.

Tahun-tahun berlalu, musim lebih tangguh dari yang pernah peramal cuaca sampaikan. Ia selalu datang melawan pikiran dan harapan yang direncanakan. Tiga anak bajang, setelah lama kembara, mereka tak kunjung pulang. (T)

Tags: Cerpen
Share39TweetSendShareSend
Previous Post

Rai Sri Artini# Umur Kelahiran

Next Post

Berburu Pokémon di Bali, Bawalah “Kamben” dan “Udeng”

Kadek Desi Nurani

Kadek Desi Nurani

Pemain teater, juga menulis puisi dan cerpen. Puisinya terkumpul dalam antologi "Hadiah untuk Langit". Alumni Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha, Singaraja. Kini tinggal di Denpasar

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post

Berburu Pokémon di Bali, Bawalah “Kamben” dan “Udeng”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co