2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rai Sri Artini# Umur Kelahiran

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
February 2, 2018
in Puisi

Wayan Redika, Purity of Universe, 2002, Oil, Acrylic on Canvas 100x135 cm

 

BUNGA KECOMBRANG

 

(1 )

Pada kelopak mudaku kau temukan rasa

yang enggan pergi

dari tiap ujung papila

Kau terbakar rasa larut dalam liur

kuntum kuntumku membuat dadamu lebih lapang dari tubuh pelangi

seperti tubuh ombak yang buncah

leleh dalam peram dan pejam

kau melenguh diantara peluh

melepas cadas legenda

dalam uap uapku

 

(2)

Tiga siung bawang merah dan sejumput terasi garam

kau padu aku dalam sebuah tempat

seperti seekor burung yang membuat sarang

kau hias dengan dongeng cabe rawit

kau melayari daerah daerah keramat

semakin jauh tak kenal mata angin

hanya kecombrang yang hujan

di langit lidahmu

 

(3)

Kini kau telanjang menghembus renjana

menghidu kuyup sebilah pedang dari masa lalu

bagimu aku tempat meledakkan setumpuk pahit

yang lama berakar di sekat tenggorokan

tubuhku ruah dalam liur hangat

ke batas sunyi kau hantar aku

dan kau

menjelma kupu-kupu

 

(Tegaljaya, Juli 2016)

 

 

UMUR KELAHIRAN

 

Aku lupa

kita pernah lahir dari rahim yang sama

Aku lupa

kita pernah melewati jalan yang sama di tanah tua

Semuanya aku lupa sebab,

kita tak lagi memahami duka sebagai kekuatan

kita hanya menakar suka duka dengan emosi

nilai kebersamaan pun tak berdaya apalagi umur kelahiran

Semua berlalu  bersama hembusan nafas terakhir di malam kelam

Jarak tak nampak memetakan aura kematian

Sejak detik itu

sajak sajak duka mengabut di matamu

bibirmu kelu mengeja luka

kenangan menggenang pilu di serabut jantungmu

 

Aku hanya dapat mengulum sunyi diam diam

menikahi kata-kata yang beterbangan dan tercecer di jalanan

kita selalu memulai babak hari dengan secangkir teh panas

dari asapnya kau melompat tajam

menghujaniku dengan pertanyaan getir dan satir

bibirku mengunyah tanya lumat menjadi debu purba

yang mengisi pori pori kita

 

Aku termangu antara umur kelahiran dan umur jiwaku

menjadikan puisi sebagai mempelai

sedang kau mencongkel tawa dari tubuh pagi

 

kita tercerabut dan terhempas ke matra yang lain

berjarak

tak berdaya mengingat setiap tetes air susu ibu yang pernah kita sesap

 

yang tersisa hanya jalan di depan kita,

yang tak pernah kita tahu ujungnya

 

(Kerobokan, 1 Februari 2015)

 

 

MALAM PURNAMA

 

Ini hari mengenang malam itu

Mengenang ratusan purnama

yang berbaris di hitam belacan

menari dalam kaldu santan

meruahkan liur kita yang pecah dalam derit malam

 

Ibu memintal tubuh ikan

mencelupkannya dalam lautan tepung

menjelma bayang masa lalu

Ibu berkata pada dirinya,

“Bayang bulan biarlah jadi tanah,

dan  kecambah rindu membuang sendu.”

 

Ini hari mengenang malam itu

Kita duduk di tikar pandan

Ibu menyuguhkan sajak warna-warni

tercelup kuah    gurih gurau

dalam uapnya semayam  urat akarmu

 

Uap teh jahe berkeliaran di dada kita

yang jadi lebih lapang karena wanginya

Kuteguk perlahan

Larik-larik puisi terbit  dari udara malam yang kau tiriskan

“Ini malam apa?” tanyaku

“Kubangan kenangan?”  tanyaku lagi

Kau mengaliskan senyum di dahiku

Aku tak paham

Yang ku tahu, hanya menguliti angka-angka di wajah purnama

Yang ku tahu, inilah purnama paling purna dalam darahku

 

(Tuban, April 2016)

 

 

JARAK

 

Mimpi tak henti melingkari kita

Dalam derai abu-abu      atau

bayang bayang sepi

Keluh kesah tak usai mengitari kita

menumbuhkan benih-benih jarak tak nampak

 

Bahkan sujud kita berjarak diantara dua cat

menari di sudut-sudut kamar         dan

menulis serangkaian kata-kata di tembikar

yang setiap hari kita elus

 

Suatu saat ia akan bercerita tentang hari ini

Saat tawa lahir dari sentuhan luka

atau tumbak yang mengumpan cemburu

 

Hujan tak mampu menyapu gigil ranting tubuh kita

selimut-selimut kering di ranjang tawar

air muka tak cukup menyingkap bebatu yang kita sandung

segaris sabit cuaca tlah menciptakan lembaran beku

di serambi jantung

 

Aku masih ingat, ketika pelangi menjadi warna mata

kita menjelma bunga dan kumbang

 

Kini ketika berlembar-lembar pagi tlah berlari

akar-akar ranting menahan batang tubuh

rambut rambut api meletupkan jarak

 

aku terhempas ke pintu sunyi

 

memiliki atau dimiliki

memerangkap indraku

ke sebuah labirin sepi seperti seseduh kopi

uapnya sepi tiada kata

hanya jarak

dan aku tak mampu menyeberang

ke kedalaman lautmu

tak mampu menerobos rerimbunan belantaramu

 

hingga

lapuk dalam pembaringan puisi

 

(Tegaljaya, September 2015)

 

 

KITA

 

Aku menemu malam di tubuhmu

menghitung pekat porimu dan tertegun menatap beku kelopak dadamu

yang membangun gigil di langit lidahku

 

Kasur dingin kuyup dalam bayang kemarau

sepotong ekor cicak

mencari tempat sembunyi

mencoba menghalau cemas dari ceruk yang lebih pekat dari sekadar gelap

 

Kita tak lebih tinggi dari awan

hanya butiran debu di eraman takdir

Kita tak lebih rendah dari lembah

hanya bebuih bir yang luruh di tenggorokan

 

Kita sering terjebak suara jalanan yang kerap singgah di rongga kepala

ketombe-ketombe liar menari diantara uban yang mengeriap tawar

meriutkan dada yang membusung tinggi

 

Tlah kita singgahi dalam tahun pertama

kala bulan setengah purnama menjarah usia

mencuri seperempat nafas

mengapa kita merasa asing?

 

Tak perlukah kita merasa senasib?

Lihatlah !

dalam puisi-puisi cintamu, birahi sembunyi di kaki kata-kata

dalam luapan ludahku kata-kata mabuk meremas-remas doa

tubuh kita tak berdosa

tak bernoktah

hanya kadang takut akan kemungkinan lain di luar isi kepala

sama seperti ekor cicak yang baru putus dan sembunyi

di sela-sela mimpi

 

(Tuban, Mei 2016)

 

 

Tags: Puisi
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Dalam Perapian Descartes – Aku Berpikir, Maka Aku Ada

Next Post

Purnama Pasah

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post

Purnama Pasah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co