2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rai Sri Artini# Umur Kelahiran

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
February 2, 2018
in Puisi

Wayan Redika, Purity of Universe, 2002, Oil, Acrylic on Canvas 100x135 cm

 

BUNGA KECOMBRANG

 

(1 )

Pada kelopak mudaku kau temukan rasa

yang enggan pergi

dari tiap ujung papila

Kau terbakar rasa larut dalam liur

kuntum kuntumku membuat dadamu lebih lapang dari tubuh pelangi

seperti tubuh ombak yang buncah

leleh dalam peram dan pejam

kau melenguh diantara peluh

melepas cadas legenda

dalam uap uapku

 

(2)

Tiga siung bawang merah dan sejumput terasi garam

kau padu aku dalam sebuah tempat

seperti seekor burung yang membuat sarang

kau hias dengan dongeng cabe rawit

kau melayari daerah daerah keramat

semakin jauh tak kenal mata angin

hanya kecombrang yang hujan

di langit lidahmu

 

(3)

Kini kau telanjang menghembus renjana

menghidu kuyup sebilah pedang dari masa lalu

bagimu aku tempat meledakkan setumpuk pahit

yang lama berakar di sekat tenggorokan

tubuhku ruah dalam liur hangat

ke batas sunyi kau hantar aku

dan kau

menjelma kupu-kupu

 

(Tegaljaya, Juli 2016)

 

 

UMUR KELAHIRAN

 

Aku lupa

kita pernah lahir dari rahim yang sama

Aku lupa

kita pernah melewati jalan yang sama di tanah tua

Semuanya aku lupa sebab,

kita tak lagi memahami duka sebagai kekuatan

kita hanya menakar suka duka dengan emosi

nilai kebersamaan pun tak berdaya apalagi umur kelahiran

Semua berlalu  bersama hembusan nafas terakhir di malam kelam

Jarak tak nampak memetakan aura kematian

Sejak detik itu

sajak sajak duka mengabut di matamu

bibirmu kelu mengeja luka

kenangan menggenang pilu di serabut jantungmu

 

Aku hanya dapat mengulum sunyi diam diam

menikahi kata-kata yang beterbangan dan tercecer di jalanan

kita selalu memulai babak hari dengan secangkir teh panas

dari asapnya kau melompat tajam

menghujaniku dengan pertanyaan getir dan satir

bibirku mengunyah tanya lumat menjadi debu purba

yang mengisi pori pori kita

 

Aku termangu antara umur kelahiran dan umur jiwaku

menjadikan puisi sebagai mempelai

sedang kau mencongkel tawa dari tubuh pagi

 

kita tercerabut dan terhempas ke matra yang lain

berjarak

tak berdaya mengingat setiap tetes air susu ibu yang pernah kita sesap

 

yang tersisa hanya jalan di depan kita,

yang tak pernah kita tahu ujungnya

 

(Kerobokan, 1 Februari 2015)

 

 

MALAM PURNAMA

 

Ini hari mengenang malam itu

Mengenang ratusan purnama

yang berbaris di hitam belacan

menari dalam kaldu santan

meruahkan liur kita yang pecah dalam derit malam

 

Ibu memintal tubuh ikan

mencelupkannya dalam lautan tepung

menjelma bayang masa lalu

Ibu berkata pada dirinya,

“Bayang bulan biarlah jadi tanah,

dan  kecambah rindu membuang sendu.”

 

Ini hari mengenang malam itu

Kita duduk di tikar pandan

Ibu menyuguhkan sajak warna-warni

tercelup kuah    gurih gurau

dalam uapnya semayam  urat akarmu

 

Uap teh jahe berkeliaran di dada kita

yang jadi lebih lapang karena wanginya

Kuteguk perlahan

Larik-larik puisi terbit  dari udara malam yang kau tiriskan

“Ini malam apa?” tanyaku

“Kubangan kenangan?”  tanyaku lagi

Kau mengaliskan senyum di dahiku

Aku tak paham

Yang ku tahu, hanya menguliti angka-angka di wajah purnama

Yang ku tahu, inilah purnama paling purna dalam darahku

 

(Tuban, April 2016)

 

 

JARAK

 

Mimpi tak henti melingkari kita

Dalam derai abu-abu      atau

bayang bayang sepi

Keluh kesah tak usai mengitari kita

menumbuhkan benih-benih jarak tak nampak

 

Bahkan sujud kita berjarak diantara dua cat

menari di sudut-sudut kamar         dan

menulis serangkaian kata-kata di tembikar

yang setiap hari kita elus

 

Suatu saat ia akan bercerita tentang hari ini

Saat tawa lahir dari sentuhan luka

atau tumbak yang mengumpan cemburu

 

Hujan tak mampu menyapu gigil ranting tubuh kita

selimut-selimut kering di ranjang tawar

air muka tak cukup menyingkap bebatu yang kita sandung

segaris sabit cuaca tlah menciptakan lembaran beku

di serambi jantung

 

Aku masih ingat, ketika pelangi menjadi warna mata

kita menjelma bunga dan kumbang

 

Kini ketika berlembar-lembar pagi tlah berlari

akar-akar ranting menahan batang tubuh

rambut rambut api meletupkan jarak

 

aku terhempas ke pintu sunyi

 

memiliki atau dimiliki

memerangkap indraku

ke sebuah labirin sepi seperti seseduh kopi

uapnya sepi tiada kata

hanya jarak

dan aku tak mampu menyeberang

ke kedalaman lautmu

tak mampu menerobos rerimbunan belantaramu

 

hingga

lapuk dalam pembaringan puisi

 

(Tegaljaya, September 2015)

 

 

KITA

 

Aku menemu malam di tubuhmu

menghitung pekat porimu dan tertegun menatap beku kelopak dadamu

yang membangun gigil di langit lidahku

 

Kasur dingin kuyup dalam bayang kemarau

sepotong ekor cicak

mencari tempat sembunyi

mencoba menghalau cemas dari ceruk yang lebih pekat dari sekadar gelap

 

Kita tak lebih tinggi dari awan

hanya butiran debu di eraman takdir

Kita tak lebih rendah dari lembah

hanya bebuih bir yang luruh di tenggorokan

 

Kita sering terjebak suara jalanan yang kerap singgah di rongga kepala

ketombe-ketombe liar menari diantara uban yang mengeriap tawar

meriutkan dada yang membusung tinggi

 

Tlah kita singgahi dalam tahun pertama

kala bulan setengah purnama menjarah usia

mencuri seperempat nafas

mengapa kita merasa asing?

 

Tak perlukah kita merasa senasib?

Lihatlah !

dalam puisi-puisi cintamu, birahi sembunyi di kaki kata-kata

dalam luapan ludahku kata-kata mabuk meremas-remas doa

tubuh kita tak berdosa

tak bernoktah

hanya kadang takut akan kemungkinan lain di luar isi kepala

sama seperti ekor cicak yang baru putus dan sembunyi

di sela-sela mimpi

 

(Tuban, Mei 2016)

 

 

Tags: Puisi
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Dalam Perapian Descartes – Aku Berpikir, Maka Aku Ada

Next Post

Purnama Pasah

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post

Purnama Pasah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co