23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gabriela

Putri Handayani by Putri Handayani
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Putri Handayani

 

“Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapnya. Pohon itu lumayan tinggi tapi tidak setinggi pohon kelapa. Terletak di jantung kota. Daunnya rimbun serimbun gugusan awan, akarnya panjang menggelayut seperti ekor kuda. Pohon beringin ini kini menatapku. Matanya mendelik dengan mulut yang terkatup-katup seperti merapal mantra. Akar-akar gantungnya – yang menggelayut seperti ekor kuda – ia kibaskan kesana-kemari seperti seorang penari yang tengah mengibaskan sampurnya. Aku semakin keheranan. Pasti ada yang salah.

Bagaimana mungkin sebuah pohon bisa menari? Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Orang-orang lalu lalang, ada yang berjalan kaki, ada yang mengendarai sepeda motor, menyetir mobil. Mereka terlihat biasa-biasa saja, berlalu begitu saja di sekitar pohon beringin itu. Mereka tidak terkejut melihat pohon itu menari. Atau mereka pura-pura tidak melihatnya? Atau hanya aku yang melihatnya? Jawab aku, Gabriela.”

***

            SUDAH 17 tahun aku hidup dengan mata aneh ini. Aku sadar ketika usiaku baru menginjak 3 tahun. Mata aneh yang tidak dimiliki sembarang orang. Mata aneh yang sempat membuatku bercita-cita menjadi orang buta karena aku tidak sanggup menyaksikan berbagai hal aneh berseliweran di sekelilingku. Pernah suatu kali mataku diusik oleh pemandangan-pemandangan aneh lainnya, seperti kepala orang-orang yang tiba-tiba berubah menjadi kepala binatang serupa ular dan babi.

          Belakangan ternyata aku baru mengerti bahwa binatang-binatang itu adalah cerminan dari sifat-sifat mereka, misalnya babi mewakili sifat rakus, dan ular mewakili sifat culas. Aku jadi senyum-senyum geli ketika orang-orang berkepala binatang itu berpapasan atau malah sempat mengobrol denganku. Aku tersenyum karena aku sudah bisa melihat bagaimana sifat mereka dengan jelas tapi mereka tidak menyadarinya. Tapi, kebanyakan temanku menganggap aku aneh karena sering ketakutan sendiri, berbicara sendiri, bahkan tertawa sendiri. Mereka tidak mengerti karena mereka tidak melihat apa yang aku lihat.

            Satu-satunya orang yang paling mengerti diriku adalah ayahku karena ayah juga sejak kecil telah dianugerahi mata aneh sepertiku, ya sebut saja mata aneh. Sadar bahwa aku juga sama sepertinya, maka ayahku mulai mengasah kepekaanku. Kini aku mulai bisa melihat warna-warna berpendar dari sekujur tubuh manusia, selain kepala binatang pada manusia yang memiliki sifat-sifat yang mencolok. Warna-warna ini adalah berbagai aura yang ada pada manusia, juga menggambarkan situasi perasaan mereka. Merah. Putih. Hitam. Hijau. Kuning. Ungu. Aku seperti melihat pelangi berjalan. Terkadang juga mereka berubah-ubah.

             Suatu ketika di sebuah jalan aku melihat seorang gadis yang tengah menangis entah karena apa. Di atas kepalanya seperti ada mendung yang pekat. Hitam legam. Ia pasti sangat bersedih. Lalu, di seberang ada anak kecil yang kegirangan setelah dibelikan balon oleh ibunya. Seketika warna kuning memancar di sekujur tubuhnya. Aku paling suka dengan pemandangan ini, terlepas dari kesedihan yang dirasakan oleh gadis di trotoar tadi.

            “Ayah. Selamat ya!” kataku dengan senyum mengembang.

            “Selamat untuk apa?” jawab ayah.

            “Ayah memiliki umur panjang.”

            “Bagaimana kau bisa tahu?”

            “Entahlah. Aku hanya melihatnya.”

            Aku mengedarkan pandanganku ke sebuah sudut. Sesuatu seperti sedang memperhatikanku diam-diam. Di sana, di balik pintu. Tapi aku berusaha untuk tenang dan tidak menghiraukannya.

            “Masak ayah sendiri tidak tahu?” tanyaku menyambung obrolan tadi.

            “Iya, ayah tidak tahu. Sebenarnya sudah lama ayah menutupnya karena

ayah tidak bisa mengendalikannya.”

            “Apa? Lalu bagaimana dengan aku?”

            “Ayah juga tidak mengerti. Kita sudah pernah mencobanya beberapa kali, bukan?”

            Hening.

***

           WAKTU demi waktu berlalu. Usiaku sudah menginjak 25 tahun. Segala keanehan dalam diriku sudah mulai aku terima dengan ikhlas. Aku sudah mulai terbiasa bersahabat dengan mataku yang aneh. Tidak hanya pohon-pohon yang tiba-tiba menari, manusia berkepala binatang, serta pelangi-pelangi yang berjalan, kini aku mulai bisa melihat masa lalu dan masa depan orang-orang yang secara sengaja atau tidak sengaja berinteraksi denganku. Segalanya seperti mikro film yang terputar sendiri.

           Pernah sesekali aku bercakap dengan seorang teman wanita. Ia sangat cantik. Kulitnya kuning langsat, matanya bening seperti embun yang bercokol di dedaunan, bibirnya merah seperti jalinan kelopak bunga mawar, rambutnya panjang terurai sampai ke pinggang. Tuturkatanya sangat lembut. Ia sangat taat beragama. Mikro film itu tiba-tiba terputar sendiri, menceritakan masa lalu gadis itu. Di kehidupan yang dulu ia juga seorang gadis yang baik budi namun tidak secantik sekarang. Ia terlahir kembali karena ada hutang yang harus ia bayar, entah hutang apa itu.

           Samar-samar bayangan itu mulai meredup. Gadis ini masa depannya akan cerah. Hutang itu akan lunas di kehidupan terakhir ini, lalu ia tidak akan lahir lagi. Benar-benar kisah yang indah. Sedangkan, aku benci mengetahui kisahku sendiri. Ada satu yang tidak pernah berubah semenjak percakapanku dengan ayah sore itu di ruang tamu. Sesuatu yang selalu mengamatiku dari jauh. Aku tahu dia bersembunyi. Apa ia takut? Siapa yang sebenarnya harus takut pada siapa? Mengapa ia tidak menampakkan wujud aslinya seperti yang lainnya? Pengecut.

       Melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat kebanyakan orang memang menyenangkan, dan mengetahui masa lalu dan masa depan mereka juga. Tapi aku mulai bosan. Aku tidak ingin terus-terusan mendahului kehendak semesta pada diri sendiri dan orang-orang yang telah aku lihat masa depannya. Sekali-sekali aku juga ingin menjadi orang normal yang tidak bisa melihat pohon menari, tidak bisa melihat kepala-kepala binatang, tidak bisa melihat warna-warna aura manusia, juga yang paling penting tidak bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang.

         Itu sangat mengerikan. Ya kalau takdirnya baik, kalau buruk? Aku jadi merasa sangat berdosa mengetahui urusan pribadi mereka yang sama sekali tidak perlu aku ketahui. Aku juga benci melihat takdirku sendiri. Aku mulai menjauhkan diriku dari hal-hal yang memungkinkanku melihat segalanya. Aku akan mulai dari jarang keluar rumah, mungkin keluar hanya untuk bekerja dan membeli makanan, selebihnya aku akan mengurung diri di rumah. Setidaknya aku akan semakin jarang berinteraksi dengan orang-orang atau melihat pepohonan di luar sana. Tapi tetap saja. Aku hanya tinggal dengan ayah di rumah, tapi tetap saja rumah terasa ramai. Mereka semua adalah tamuku dan tamu ayah. Bukan, kami tidak pernah mengundang siapa-siapa! Mereka tidak mau pergi, terutama yang selalu mengamatiku.

        Aku mulai gila. Aku sangat lelah. Aku sangat bosan. Bahkan aku tidak bisa membedakan antara makhluk nyata dan tidak nyata. Memangnya aku pernah berhasil membedakan mereka? Sebenarnya yang nyata itu seperti apa? Yang tidak nyata seperti apa? Aku terlahir dengan dua dunia berbeda di genggamanku, hidup berdampingan dengan mereka, sedangkan aku tidak pernah diajarkan untuk membedakan mereka. Ini sangat tidak adil.

        Kepalaku mulai sakit. Aku menjambak-jambak rambutku. Aku meremas-remas bajuku. Aku membentur-benturkan kepalaku ke tembok. Ayah tidak sanggup meleraiku. Aku berlari ke luar rumah. Entah ke mana. Aku juga tidak tahu, aku hanya berlari ke mana pun kakiku melangkah. Berlari hingga ke ujung. Selatan. Langkahku terhenti di sebuah pantai. Aku melihat ombak berlombaan menjilat-jilat tepian pantai. Suasananya sangat tenang. Hembusan angin bergantian menghamburkan rambut panjangku, aku tak peduli. Seorang pria melambaikan tangannya di antara deburan ombak itu. Lambaian tangan itu untukku. Nada gerakannya seperti mengajakku agar mengikutinya. Berenang bersama? Siapa takut. Aku mengikutinya. Semakin jauh, semakin dalam, daratan tenggelam.

       Gabriela. Ternyata namamu Gabriela. Sosok yang selalu mengintaiku. Membiarkanku melihat segalanya sebelum menjemputku. (T)

070616

Share52TweetSendShareSend
Previous Post

I Putu Agus Phebi Rosadi# Tiga Ramu Mengkudu

Next Post

“Nama” adalah Peta Jalan Pengetahuan

Putri Handayani

Putri Handayani

Bernama lengkap Desak Ketut Putri Handayani. Lahir di Klungkung. Adalah penulis pemula yang punya niat besar untuk terus berkembang

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post

“Nama” adalah Peta Jalan Pengetahuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co