23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gabriela

Putri Handayani by Putri Handayani
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen: Putri Handayani

 

“Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapnya. Pohon itu lumayan tinggi tapi tidak setinggi pohon kelapa. Terletak di jantung kota. Daunnya rimbun serimbun gugusan awan, akarnya panjang menggelayut seperti ekor kuda. Pohon beringin ini kini menatapku. Matanya mendelik dengan mulut yang terkatup-katup seperti merapal mantra. Akar-akar gantungnya – yang menggelayut seperti ekor kuda – ia kibaskan kesana-kemari seperti seorang penari yang tengah mengibaskan sampurnya. Aku semakin keheranan. Pasti ada yang salah.

Bagaimana mungkin sebuah pohon bisa menari? Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Orang-orang lalu lalang, ada yang berjalan kaki, ada yang mengendarai sepeda motor, menyetir mobil. Mereka terlihat biasa-biasa saja, berlalu begitu saja di sekitar pohon beringin itu. Mereka tidak terkejut melihat pohon itu menari. Atau mereka pura-pura tidak melihatnya? Atau hanya aku yang melihatnya? Jawab aku, Gabriela.”

***

            SUDAH 17 tahun aku hidup dengan mata aneh ini. Aku sadar ketika usiaku baru menginjak 3 tahun. Mata aneh yang tidak dimiliki sembarang orang. Mata aneh yang sempat membuatku bercita-cita menjadi orang buta karena aku tidak sanggup menyaksikan berbagai hal aneh berseliweran di sekelilingku. Pernah suatu kali mataku diusik oleh pemandangan-pemandangan aneh lainnya, seperti kepala orang-orang yang tiba-tiba berubah menjadi kepala binatang serupa ular dan babi.

          Belakangan ternyata aku baru mengerti bahwa binatang-binatang itu adalah cerminan dari sifat-sifat mereka, misalnya babi mewakili sifat rakus, dan ular mewakili sifat culas. Aku jadi senyum-senyum geli ketika orang-orang berkepala binatang itu berpapasan atau malah sempat mengobrol denganku. Aku tersenyum karena aku sudah bisa melihat bagaimana sifat mereka dengan jelas tapi mereka tidak menyadarinya. Tapi, kebanyakan temanku menganggap aku aneh karena sering ketakutan sendiri, berbicara sendiri, bahkan tertawa sendiri. Mereka tidak mengerti karena mereka tidak melihat apa yang aku lihat.

            Satu-satunya orang yang paling mengerti diriku adalah ayahku karena ayah juga sejak kecil telah dianugerahi mata aneh sepertiku, ya sebut saja mata aneh. Sadar bahwa aku juga sama sepertinya, maka ayahku mulai mengasah kepekaanku. Kini aku mulai bisa melihat warna-warna berpendar dari sekujur tubuh manusia, selain kepala binatang pada manusia yang memiliki sifat-sifat yang mencolok. Warna-warna ini adalah berbagai aura yang ada pada manusia, juga menggambarkan situasi perasaan mereka. Merah. Putih. Hitam. Hijau. Kuning. Ungu. Aku seperti melihat pelangi berjalan. Terkadang juga mereka berubah-ubah.

             Suatu ketika di sebuah jalan aku melihat seorang gadis yang tengah menangis entah karena apa. Di atas kepalanya seperti ada mendung yang pekat. Hitam legam. Ia pasti sangat bersedih. Lalu, di seberang ada anak kecil yang kegirangan setelah dibelikan balon oleh ibunya. Seketika warna kuning memancar di sekujur tubuhnya. Aku paling suka dengan pemandangan ini, terlepas dari kesedihan yang dirasakan oleh gadis di trotoar tadi.

            “Ayah. Selamat ya!” kataku dengan senyum mengembang.

            “Selamat untuk apa?” jawab ayah.

            “Ayah memiliki umur panjang.”

            “Bagaimana kau bisa tahu?”

            “Entahlah. Aku hanya melihatnya.”

            Aku mengedarkan pandanganku ke sebuah sudut. Sesuatu seperti sedang memperhatikanku diam-diam. Di sana, di balik pintu. Tapi aku berusaha untuk tenang dan tidak menghiraukannya.

            “Masak ayah sendiri tidak tahu?” tanyaku menyambung obrolan tadi.

            “Iya, ayah tidak tahu. Sebenarnya sudah lama ayah menutupnya karena

ayah tidak bisa mengendalikannya.”

            “Apa? Lalu bagaimana dengan aku?”

            “Ayah juga tidak mengerti. Kita sudah pernah mencobanya beberapa kali, bukan?”

            Hening.

***

           WAKTU demi waktu berlalu. Usiaku sudah menginjak 25 tahun. Segala keanehan dalam diriku sudah mulai aku terima dengan ikhlas. Aku sudah mulai terbiasa bersahabat dengan mataku yang aneh. Tidak hanya pohon-pohon yang tiba-tiba menari, manusia berkepala binatang, serta pelangi-pelangi yang berjalan, kini aku mulai bisa melihat masa lalu dan masa depan orang-orang yang secara sengaja atau tidak sengaja berinteraksi denganku. Segalanya seperti mikro film yang terputar sendiri.

           Pernah sesekali aku bercakap dengan seorang teman wanita. Ia sangat cantik. Kulitnya kuning langsat, matanya bening seperti embun yang bercokol di dedaunan, bibirnya merah seperti jalinan kelopak bunga mawar, rambutnya panjang terurai sampai ke pinggang. Tuturkatanya sangat lembut. Ia sangat taat beragama. Mikro film itu tiba-tiba terputar sendiri, menceritakan masa lalu gadis itu. Di kehidupan yang dulu ia juga seorang gadis yang baik budi namun tidak secantik sekarang. Ia terlahir kembali karena ada hutang yang harus ia bayar, entah hutang apa itu.

           Samar-samar bayangan itu mulai meredup. Gadis ini masa depannya akan cerah. Hutang itu akan lunas di kehidupan terakhir ini, lalu ia tidak akan lahir lagi. Benar-benar kisah yang indah. Sedangkan, aku benci mengetahui kisahku sendiri. Ada satu yang tidak pernah berubah semenjak percakapanku dengan ayah sore itu di ruang tamu. Sesuatu yang selalu mengamatiku dari jauh. Aku tahu dia bersembunyi. Apa ia takut? Siapa yang sebenarnya harus takut pada siapa? Mengapa ia tidak menampakkan wujud aslinya seperti yang lainnya? Pengecut.

       Melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat kebanyakan orang memang menyenangkan, dan mengetahui masa lalu dan masa depan mereka juga. Tapi aku mulai bosan. Aku tidak ingin terus-terusan mendahului kehendak semesta pada diri sendiri dan orang-orang yang telah aku lihat masa depannya. Sekali-sekali aku juga ingin menjadi orang normal yang tidak bisa melihat pohon menari, tidak bisa melihat kepala-kepala binatang, tidak bisa melihat warna-warna aura manusia, juga yang paling penting tidak bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang.

         Itu sangat mengerikan. Ya kalau takdirnya baik, kalau buruk? Aku jadi merasa sangat berdosa mengetahui urusan pribadi mereka yang sama sekali tidak perlu aku ketahui. Aku juga benci melihat takdirku sendiri. Aku mulai menjauhkan diriku dari hal-hal yang memungkinkanku melihat segalanya. Aku akan mulai dari jarang keluar rumah, mungkin keluar hanya untuk bekerja dan membeli makanan, selebihnya aku akan mengurung diri di rumah. Setidaknya aku akan semakin jarang berinteraksi dengan orang-orang atau melihat pepohonan di luar sana. Tapi tetap saja. Aku hanya tinggal dengan ayah di rumah, tapi tetap saja rumah terasa ramai. Mereka semua adalah tamuku dan tamu ayah. Bukan, kami tidak pernah mengundang siapa-siapa! Mereka tidak mau pergi, terutama yang selalu mengamatiku.

        Aku mulai gila. Aku sangat lelah. Aku sangat bosan. Bahkan aku tidak bisa membedakan antara makhluk nyata dan tidak nyata. Memangnya aku pernah berhasil membedakan mereka? Sebenarnya yang nyata itu seperti apa? Yang tidak nyata seperti apa? Aku terlahir dengan dua dunia berbeda di genggamanku, hidup berdampingan dengan mereka, sedangkan aku tidak pernah diajarkan untuk membedakan mereka. Ini sangat tidak adil.

        Kepalaku mulai sakit. Aku menjambak-jambak rambutku. Aku meremas-remas bajuku. Aku membentur-benturkan kepalaku ke tembok. Ayah tidak sanggup meleraiku. Aku berlari ke luar rumah. Entah ke mana. Aku juga tidak tahu, aku hanya berlari ke mana pun kakiku melangkah. Berlari hingga ke ujung. Selatan. Langkahku terhenti di sebuah pantai. Aku melihat ombak berlombaan menjilat-jilat tepian pantai. Suasananya sangat tenang. Hembusan angin bergantian menghamburkan rambut panjangku, aku tak peduli. Seorang pria melambaikan tangannya di antara deburan ombak itu. Lambaian tangan itu untukku. Nada gerakannya seperti mengajakku agar mengikutinya. Berenang bersama? Siapa takut. Aku mengikutinya. Semakin jauh, semakin dalam, daratan tenggelam.

       Gabriela. Ternyata namamu Gabriela. Sosok yang selalu mengintaiku. Membiarkanku melihat segalanya sebelum menjemputku. (T)

070616

Share52TweetSendShareSend
Previous Post

I Putu Agus Phebi Rosadi# Tiga Ramu Mengkudu

Next Post

“Nama” adalah Peta Jalan Pengetahuan

Putri Handayani

Putri Handayani

Bernama lengkap Desak Ketut Putri Handayani. Lahir di Klungkung. Adalah penulis pemula yang punya niat besar untuk terus berkembang

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

“Nama” adalah Peta Jalan Pengetahuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co