13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

2017 & 2018, Anak Muda Bali Mesti Ambil Bagian

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
February 2, 2018
in Opini

Sumber ilustrasi: KPU Buleleng

BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali akan segera digelar. 7 bulan menuju 2017 dan 19 bulan menuju 2018 bukan waktu yang cukup untuk mengubah cara pandang terhadap politik di Bali. Tidak sesingkat melakukan copy-paste ketika membuat tulisan di microsoft word.

Dalam hal ini, anak muda Bali harus ambil bagian. Ambil bagian tidak mesti terjun langsung sebagai tim sukses. Cukup dengan membuka mata sendiri dan mata orang lain bahwa yang dipilih nanti bukanlah yang memberi uang, bukanlah yang pandai membangun citra, dan bukanlah yang semata eksis di sosial media. Mata dan hati harus tertuju kepada sosok yang rela bekerja siang dan malam untuk Bali.

Saat ini saya berniat mengajak anak muda Bali untuk mulai lebih membuka mata yang faktanya sudah cukup terbuka. Membuka mata dalam hal ini bukan hanya sekadar mampu melihat, namun juga mampu merasakan dan menalar sosok yang mau dan mampu sebagai pemimpin di Bali. Kenapa perlu merasakan dan menalar? Karena ini bukan sekadar urusan isi perut. Terlebih masyarakat Bali akan memilih seseorang yang diberikan tanggung jawab untuk mengelola dan mengayomi masyarakat di Bali. Lalu, ini bukan pula sekadar pemilihan ketua panitia pada acara 17-an.

Kenapa anak muda? Mari tengok sejenak ke belakang. Berdirinya Budi Utomo tahun 1908 diinisiasi oleh pemuda, sumpah pemuda tahun 1928 yang menjadi cikal bakal persatuan Indonesia, dan tumbangnya rezim Orde Baru pada tahun 1998 yang juga diinisiasi oleh pemuda. Maka tidak salah bahwa pemuda adalah salah satu aset penting negeri ini.

Dimulai dengan mengubah pola pikir bahwa memilih bukanlah sebuah hak, melainkan sebuah kewajiban. Banyak orang orang wajar saja kalau tidak sepakat dengan pendapat ini karena hal ini belum biasa ada di Bali. Dalam hal ini saya menggunakan pendekatan tanggung jawab. Ketika sebuah proses demokrasi yang dalam hal ini disebut pemilu masih dianggap semua sebagai sebuah hak, maka tidak salah angka golput sering kali lebih tinggi dari perolehan suara calon pemenang pemilu.

Namun ketika memilih dalam pemilu dianggap sebagai sebuah kewajiban, maka pasca pelaksanaan pemilihan akan melekat sebuah tanggung jawab pada diri si pemilih. Tanggung jawab untuk bersama-sama memastikan bahwa ketika calon yang dipilih memenangkan pemilu, dia akan tetap berada pada alur yang benar. Kalaupun sesekali melenceng, si pemilihlah yang dapat mengarahkan pilihannya agar kembali menuju alur yang seharusnya. Pendekatan tersebut menjadi penting ketika situasi politik pragmatis seperti saat ini dan ketika prinsip take and give menjadi dasar untuk menentukan sebuah pilihan.

–

BANYAK anggapan bahwa pemilu adalah waktu ketika kita berada di dalam bilik suara selama kurang lebih 5 menit. Setelah urusan 5 menit selesai, bukan berarti tugas anak muda Bali selesai, namun tugas yang sebenarnya baru dimulai. Pemilu adalah hasil dari 5 menit pasca keluar dari bilik suara. Pendekatan tanggung jawab dapat menjadikan pemilih tidak beranggapan bahwa pilihannya sebagai manusia setengah Dewa. Manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan dan manusia yang selalu benar.

Entah karena memang senyatanya benar, atau mungkin benar karena dibenarkan melalui sebuah pembenaran. Pemimpin tetaplah manusia biasa, yang sama-sama makan nasi dan sama-sama butuh waktu tidur dalam sehari. Yang kapanpun memiliki peluang untuk melakukan kekeliruan atau mungkin kesalahan. Konsep fundamental seorang pemimpin adalah manusia biasa itulah yang menjadi penyebab mengapa pendekatan tanggung jawab ini diperlukan.

Anak muda Bali yang cerdas, selayaknya mengkritik dan memberi koreksi ketika pemimpinnya keliru, dan mengapresiasi ketika pemimpinnya berprestasi. Kritik dan apresiasi harus ditempatkan pada strata yang sama. Harus diberikan bagian yang sama ketika merasakan dan menalar kerja seorang pemimpin.

Bedanya, ketika memilih masih dianggap sebagai sebuah hak. Apalagi diiringi pikiran pragmatis dan konsep take and give. Pemilih bukan tidak mungkin menganggap pemimpinnya sebagai manusia setengah Dewa. Manusia yang tidak wajar untuk dikritik dan dikoreksi. Manusia yang dimata pemilihnya tidak pernah melakukan kekeliruan atau kesalahan. Hal tersebut berbahaya untuk Bali. Hilangnya peran kontrol masyarakat sama artinya dengan merelakan terjadinya sebuah manajemen daerah yang sesuka hati.

Selanjutnya adalah keberanian untuk menentukan pilihan. Ketika tidak menentukan masih dianggap sebagai sebuah pilihan, maka sampai saat itu juga anak muda Bali dapat dikatakan belum memiliki keberanian untuk ambil bagian dalam pembangunan Bali. Kalau anak muda Bali saja takut memilih, apalagi kelak ketika harus dipilih. Bukan tidak mungkin rasa takut itu akan membesar dan menjadi sebuah kebiasaan.

–

LALU, kepada siapa suksesi kepemimpinan pada masa-masa berikutnya akan diberikan? Masihkah ingin mengatakan Ajeg Bali? Atau mungkin akan berubah menjadi Ajeng Bali. Relakah ketika suatu saat nanti Bali dipimpin oleh seseorang yang bukan orang Bali?

Sering saya mendengar pernyataan yang kira-kira isinya begini ”Saya tidak sreg dengan calon Gubernur/Bupati/Wali Kota, kan lebih baik saya memilih golput”. Dalam hal ini saya ingin menyampaikan, bahwa tidak ada pemimpin yang sempurna. Ketika akan memilih, hal yang seharusnya dilakukan adalah membandingkan seorang calon dengan calon lainnya. Bukan membandingkan seorang calon dengan kesempurnaan. Mencoba menalar kelebihan dan kekurangan yang dimiliki masing-masing calon. Mana yang dirasa lebih baik, lalu jatuhkan pilihan kepadanya.

Lalu, bagaimana ketika tidak ada yang dirasa baik? Maka jatuhkan pilihan kepada yang tidak melakukan pelanggaran kampanye, atau setidaknya yang lebih sedikit melakukan pelanggaran. Setidaknya dia memiliki kadar kebaikan yang lebih banyak dibandingkan calon lainnya.

Menentukan pilihan menjadi penting ketika calon yang menang telah menjadi pemimpin. Disana akan muncul rasa tanggung jawab dan memiliki. Ketika kita merasa tidak puas terhadap sebuah kebijakan, kita punya arah dan tujuan yang jelas (dalam konteks ikatan emosional) kepada siapa kita seharusnya mengadu. Ada rasa tanggung jawab yang sulit dijelaskan dengan narasi dalam konteks ini.

Bedanya, ketika kita tidak menentukan pilihan dan kemudian merasakan ada kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat, kita tidak punya arah dan tujuan yang jelas kepada siapa seharusnya mengadu. Dalam hal ini saya tidak sedang melihat dari sudut pandang administrasi, namun dari sudut pandang ikatan emosional.

–

JIKA BEGITU, bukankah anak muda Bali akan dicap sebagai manusia yang hanya siap menerima kebaikan. Tidak mau ikut memilih, namun ketika ada kebijakan yang tidak pas, lalu ikut bersuara menuntut agar pemimpinnya turun jabatan. Bukankah hal tersebut hanya akan merendahkan nilai diri. Anak muda Bali selayaknya siap mengambil risiko dan tanggung jawab. Siap menerima baik dan buruk hasil dari sebuah pilihan. Percaya ataupun tidak, hidup ini memang sebuah pilihan. Jadi, keberanian untuk memilih dalam bentuk apapun mutlak diperlukan.

Pemimpin yang baik, tidak secara instan muncul begitu saja. Perlu proses yang sangat panjang untuk membentuk sebuah karakter pemimpin. Kemampuan merasakan dan menalar jejak rekam calon pemimpin dalam hal ini menjadi poin penting selanjutnya. Anak muda Bali selayaknya tidak terlena dengan pencitraan. Memang, saat ini sulit membedakan mana yang tergolong kerja nyata atau kerja citra. Batas keduanya sangat tipis, bahkan nyaris tidak terlihat.

Dalam hal ini, kemampuan menemukan dan menalar jejak rekam penting dibutuhkan. Menggunakan istilah “manusia hari ini adalah hasil akumulasi masa lalunya” dapat menjadi salah satu alternatif. Dia mungkin dapat membangun citra baik dengan segala hal yang dilakukannya saat ini, namun masa lalunya telah terekam dan tercatan oleh mata masyarakat ataupun media. Hal tersebut tidak akan pernah dapat dirubah. Memilih pemimpin bukan hal coba-coba, namun memilih seseorang yang setidaknya dalam pandangan kita telah teruji nyata.

Terakhir, adalah pendekatan penularan. Sebuah konsep terobosan tidak akan pernah menjadi nyata ketika hanya dilakukan oleh segelintir orang. Mari tularkan semangat berbeda ini kepada teman, keluarga, dan kerabat.

Tulisan ini bukan bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan pemilihan pemimpin yang dihadapi oleh masyarakat di Bali. Namun mengajak anak muda Bali untuk bersama-sama memiliki masalah yang dihadapi oleh Bali. Lebih banyak orang yang merasa memiliki masalah yang sedang dihadapi oleh Bali, maka secara bersamaan akan lebih banyak muncul tawaran solusi. Setiap pencapaian besar selalu diawali dengan sebuah langkah kecil. Bali ini bukan milikku, bukan milikmu, dan bukan juga miliknya. Bali ini milik kita semua. (T)

 

Tags: baliPilkada
Share41TweetSendShareSend
Previous Post

Bangun Trotoar Gelar Karnaval – Cara Mudah Menjadi Kota

Next Post

“Melawan” Joged Porno di Media Sosial

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post

“Melawan” Joged Porno di Media Sosial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co