24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singaraja yang Modern: Konstruksi, Reproduksi dan Komodifikasi Kecepatan di Ruang Publik

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
March 13, 2019
in Esai
Singaraja yang Modern: Konstruksi, Reproduksi dan Komodifikasi Kecepatan di Ruang Publik

Kota Singaraja. Foto: Mursal Buyung

SAYA tiba di kota ini pada tahun 2004 saat melanjutkan jenjang Sekolah Menengah  di SMANSA Singaraja. Waktu itu suasana jalan masih tampak lengang. Orang-orang  jarang yang memiliki kendaraan pribadi. Jika ada, itu pun dipakai bersama-sama dalam satu keluarga dan bukan orang per orang.

Moda transportasi umum seperti bemo merah, biru dan cokelat menjadi alternatif warga kota menuju ke tempat tujuan. Mereka biasanya akan ngtem di tempat-tempat strategis yang berpotensi mendatangkan penumpang seperti pasar dan sekolah.

Aneka bemo itu akan parkir di sekitaran Jalan Pramuka, tepat di depan sekolah saya. Jika sedang malas mengayuh sepeda ke sekolah, biasanya saya akan menumpang bemo. Bermodal uang Rp. 1000, kita akan diantar pak sopir sampai tempat tujuan. Tentu saja biaya itu hanya berlaku di dalam kota saja.

Kelengangan kota Singaraja periode 2000-an awal menyebabkan ritme keseharian masyarakat terkesan lamban dan tenang, jauh dari hiruk pikuk, keterpecahan dan keterburuan gejala khas kota besar.  Tidak seperti sekarang, kecepatan dan ketepatan  menjadi pemandangan yang relatif baru.

Saya masih ingat, kala itu tinggal dengan paman di sebuah mess tua peninggalan Belanda di seputaran Ahmad Yani. Arsitekturnya khas Belanda dan kepemilikannya atas nama PT. Pos Indonesia cabang Singaraja. Kebetulan bibi yang bekerja disana sehingga rumah itu diberikan sebagai tempat tinggal sementara namun dengan tetap membayar sewa setiap tahunnya.

Selama kurun 2004-2011, saya mendiami sebuah kamar bekas gudang berukuran 2x3meter. Kecoak dan tikus akan bersahutan jelang pukul 24.00. Posisi kamar yang menghadap garasi mobil dan jalan besar, dengan posisi lebih rendah dari jalan membuat saya khawatir kebanjiran jika musim hujan tiba. Saya juga waswas bila atap bocor karena dipastikan kasur menjadi basah kena cucuran air hujan.

Setelah lulus sarjana tahun 2011, saya hijrah ke Denpasar, lalu menetap di Jogjakarta selama 2 tahun untuk melanjutkan studi master dan akhirnya kembali ke kota ini sejak 2016. Saya menyaksikan betapa perubahan dan perkembangan yang begitu pesat telah menjadi gejala umum di kota ini. Khususnya di seputaran Ahmad yani, pusat-pusat elektronik, otomotif, kecantikan, dan kuliner kini mendominasi sub-sub pertokoan.

Membludaknya kepemilikan atas kendaraan pribadi diiringi pula kematian suri moda transportasi umum. Pergeseran gaya hidup masyarakat terutama dalam merespon globalisasi mendorong munculnya driver online macam grab, menjamurnya online shop dan tentu saja kuburan bagi ritel modern yang tidak mampu beradaptasi dengan kemajuan tekonologi seperti kasus Hardys di tahun 2017 lalu.

Sebagai bagian dari interkoneksi global yang tidak luput dari sergapan akses teknologi dan informasi, masyarakat kota Singaraja bergerak maju dan modern. Salah satu penanda kemoderenan itu adalah obsesi masyarakatnya tentang waktu dan kecepatan yang hadir berkelindan.

Aktualisasinya dalam kehidupan sosial dapat ditemukan misalnya pada penggunaan kalender dan jam. Kalender yang digunakan secara umum menampilkan tanggal, nama hari, bulan dan tahun dalam bentuk kolom dan baris. Pada selembar kalender masehi yang menunjukkan tanggal tertentu misalnya dibubuhi keterangan, beberapa sistem penanggalan lain yang ditulis dalam huruf yang lebih kecil.

Pencantuman beragam jenis sistem perhitungan waktu ini merupakan bagian dari perayaan atas kemajemukan waktu yang saling mengandaikan. Jam di sisi lain adalah ekspresi domian ketika waktu sosial dijelaskan.

Melalui ukuran jam, waktu telah menjadi komponen produksi yang dapat dipertukarkan. Ia lalu disandingkan dengan kerja mesin, tenaga kerja dan waktu yang mereka miliki masuk ke dalam kategori kapital, yakni sebuah sistem yang menuntut keserempakan dan ketepatan. Waktu kemudian dikotak-kotak ke dalam waktu kerja dan luang. Dalam situasi kerja, waktu dianggap memiliki nilai tukar abstrak, diukur dengan jam dan dinilai dengan uang.

Nampaknya, obsesi terhadap waktu dan memaksimalkan keberadaannya telah menubuh pada sebagian besar masyarakat kota Singaraja. Seorang kawan, pengajar mata pelajaran eksakta di sebuah bimbingan belajar di Singaraja misalnya selalu menolak ajakan saya untuk kongkow, bahkan meskipun itu adalah akhir pekan.

Menurutnya, kongkow adalah “hura-hura” yang kurang produktif dan buang-buang waktu, “wasting time” ujarnya. Baginya “waktu adalah uang” dalam dunia yang serba kompetitif dan berubah secara cepat. Waktu senggang, betapapun minimnya harus dimanfaatkan untuk sebuah aktivitas yang disebut “kerja” yang menghasilkan uang. Jika tidak begitu, maka peluang kita hidup bahagia di hari tua akan sempit.

Berbeda lagi ungkapan yang dilontarkan karib pengajar matematika yang menganggap bahwa pemanfaatan terhadap waktu sebagai usaha untuk merengkuh segala sesuatu  dengan cepat, istilahnya “siapa cepat dia dapat”. Dalam ungkapan itu, kata cepat dapat berganti-ganti makna dengan lekas atau segera.

Dalam hidup sehari-hari orang dengan lekas atau segera bisa mengumpulkan uang menjadi kaya, maka diyakini bisa melakukan banyak hal yang diinginkan. Kata cepat ini terkesan merupakan “hasrat alamiah” yang ada di tingkat individu. Pada konteks sosial, kata ini mewujud ke dalam saling mendahului di antara individu agar bisa bertahan.

Obsesi pada kecepatan juga tampak pada munculnya kebijakan pemerintah memulai jam kantor yang rata-rata dimulai jam 07.45 telah mendorong orang untuk saling mendahului agar segera sampai.

Faktor yang mendorong orang untuk datang tepat waktu tersebut bukan  hanya masalah disiplin diri yang ditanamkan sekolah, tetapi juga melibatkan ancaman berkurangnya pendapatan atau sanksi administrasi yang mungkin saja didapatkan. Ketepatan waktu yang nyaris mekanistis tanpa memperhatikan batasan-batasan yang timbul merupakan tuntutan nilai efektivitas dan efisiensi waktu kerja yang ditata dalam logika percepatan industri.

Di samping itu, kecepatan bisa juga dianggap sebagai komoditas yang memiliki nilai jual. Dalam dunia otomotif misalnya, siasat utama untuk memasarkan produk kendaraan bermotor dan produk turunanya adalah dengan mengiming-imingi konsumen bahwa peristiwa kecepatan adalah kesempatan berharga.

Rasionalisasi lain yang juga sering bekerja dalam rangka pemujaan kecepatan adalah mitos modernitas yang menantang masyarakat agar terus mengikuti perkembangan teknologi jika tidak ingin terperangkap pada kekunoan dan menjadi tertinggal. Hal ini bisa kita lihat kompetisi produk handphone. Terutama vendor HP yang bermain di level midrange (kelas menengah). Produsen yang tidak mampu berinovasi dan berkreasi dengan kecepatan, sekuat apapun brand nya, siap-siap gulung tikar.

Perihal kekunoan nampaknya menjadi sebab utama seorang  karib selalu melontarkan ejekan hanya karena HP yang saya gunakan sudah out of date, terlihat jadul dan tentu saja lelet alias lambat, sehingga perlu diupgrade. Kelambanan dengan demikian adalah antitesis kecepatan, sekaligus virus yang harus dimusnahkan di dalam tubuh masyarakat yang modern dan instan. (T)

Tags: bulelengekonomiSingarajataman kota
Share112TweetSendShareSend
Previous Post

Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Next Post

Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co