25 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singaraja yang Modern: Konstruksi, Reproduksi dan Komodifikasi Kecepatan di Ruang Publik

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
March 13, 2019
in Esai
Singaraja yang Modern: Konstruksi, Reproduksi dan Komodifikasi Kecepatan di Ruang Publik

Kota Singaraja. Foto: Mursal Buyung

SAYA tiba di kota ini pada tahun 2004 saat melanjutkan jenjang Sekolah Menengah  di SMANSA Singaraja. Waktu itu suasana jalan masih tampak lengang. Orang-orang  jarang yang memiliki kendaraan pribadi. Jika ada, itu pun dipakai bersama-sama dalam satu keluarga dan bukan orang per orang.

Moda transportasi umum seperti bemo merah, biru dan cokelat menjadi alternatif warga kota menuju ke tempat tujuan. Mereka biasanya akan ngtem di tempat-tempat strategis yang berpotensi mendatangkan penumpang seperti pasar dan sekolah.

Aneka bemo itu akan parkir di sekitaran Jalan Pramuka, tepat di depan sekolah saya. Jika sedang malas mengayuh sepeda ke sekolah, biasanya saya akan menumpang bemo. Bermodal uang Rp. 1000, kita akan diantar pak sopir sampai tempat tujuan. Tentu saja biaya itu hanya berlaku di dalam kota saja.

Kelengangan kota Singaraja periode 2000-an awal menyebabkan ritme keseharian masyarakat terkesan lamban dan tenang, jauh dari hiruk pikuk, keterpecahan dan keterburuan gejala khas kota besar.  Tidak seperti sekarang, kecepatan dan ketepatan  menjadi pemandangan yang relatif baru.

Saya masih ingat, kala itu tinggal dengan paman di sebuah mess tua peninggalan Belanda di seputaran Ahmad Yani. Arsitekturnya khas Belanda dan kepemilikannya atas nama PT. Pos Indonesia cabang Singaraja. Kebetulan bibi yang bekerja disana sehingga rumah itu diberikan sebagai tempat tinggal sementara namun dengan tetap membayar sewa setiap tahunnya.

Selama kurun 2004-2011, saya mendiami sebuah kamar bekas gudang berukuran 2x3meter. Kecoak dan tikus akan bersahutan jelang pukul 24.00. Posisi kamar yang menghadap garasi mobil dan jalan besar, dengan posisi lebih rendah dari jalan membuat saya khawatir kebanjiran jika musim hujan tiba. Saya juga waswas bila atap bocor karena dipastikan kasur menjadi basah kena cucuran air hujan.

Setelah lulus sarjana tahun 2011, saya hijrah ke Denpasar, lalu menetap di Jogjakarta selama 2 tahun untuk melanjutkan studi master dan akhirnya kembali ke kota ini sejak 2016. Saya menyaksikan betapa perubahan dan perkembangan yang begitu pesat telah menjadi gejala umum di kota ini. Khususnya di seputaran Ahmad yani, pusat-pusat elektronik, otomotif, kecantikan, dan kuliner kini mendominasi sub-sub pertokoan.

Membludaknya kepemilikan atas kendaraan pribadi diiringi pula kematian suri moda transportasi umum. Pergeseran gaya hidup masyarakat terutama dalam merespon globalisasi mendorong munculnya driver online macam grab, menjamurnya online shop dan tentu saja kuburan bagi ritel modern yang tidak mampu beradaptasi dengan kemajuan tekonologi seperti kasus Hardys di tahun 2017 lalu.

Sebagai bagian dari interkoneksi global yang tidak luput dari sergapan akses teknologi dan informasi, masyarakat kota Singaraja bergerak maju dan modern. Salah satu penanda kemoderenan itu adalah obsesi masyarakatnya tentang waktu dan kecepatan yang hadir berkelindan.

Aktualisasinya dalam kehidupan sosial dapat ditemukan misalnya pada penggunaan kalender dan jam. Kalender yang digunakan secara umum menampilkan tanggal, nama hari, bulan dan tahun dalam bentuk kolom dan baris. Pada selembar kalender masehi yang menunjukkan tanggal tertentu misalnya dibubuhi keterangan, beberapa sistem penanggalan lain yang ditulis dalam huruf yang lebih kecil.

Pencantuman beragam jenis sistem perhitungan waktu ini merupakan bagian dari perayaan atas kemajemukan waktu yang saling mengandaikan. Jam di sisi lain adalah ekspresi domian ketika waktu sosial dijelaskan.

Melalui ukuran jam, waktu telah menjadi komponen produksi yang dapat dipertukarkan. Ia lalu disandingkan dengan kerja mesin, tenaga kerja dan waktu yang mereka miliki masuk ke dalam kategori kapital, yakni sebuah sistem yang menuntut keserempakan dan ketepatan. Waktu kemudian dikotak-kotak ke dalam waktu kerja dan luang. Dalam situasi kerja, waktu dianggap memiliki nilai tukar abstrak, diukur dengan jam dan dinilai dengan uang.

Nampaknya, obsesi terhadap waktu dan memaksimalkan keberadaannya telah menubuh pada sebagian besar masyarakat kota Singaraja. Seorang kawan, pengajar mata pelajaran eksakta di sebuah bimbingan belajar di Singaraja misalnya selalu menolak ajakan saya untuk kongkow, bahkan meskipun itu adalah akhir pekan.

Menurutnya, kongkow adalah “hura-hura” yang kurang produktif dan buang-buang waktu, “wasting time” ujarnya. Baginya “waktu adalah uang” dalam dunia yang serba kompetitif dan berubah secara cepat. Waktu senggang, betapapun minimnya harus dimanfaatkan untuk sebuah aktivitas yang disebut “kerja” yang menghasilkan uang. Jika tidak begitu, maka peluang kita hidup bahagia di hari tua akan sempit.

Berbeda lagi ungkapan yang dilontarkan karib pengajar matematika yang menganggap bahwa pemanfaatan terhadap waktu sebagai usaha untuk merengkuh segala sesuatu  dengan cepat, istilahnya “siapa cepat dia dapat”. Dalam ungkapan itu, kata cepat dapat berganti-ganti makna dengan lekas atau segera.

Dalam hidup sehari-hari orang dengan lekas atau segera bisa mengumpulkan uang menjadi kaya, maka diyakini bisa melakukan banyak hal yang diinginkan. Kata cepat ini terkesan merupakan “hasrat alamiah” yang ada di tingkat individu. Pada konteks sosial, kata ini mewujud ke dalam saling mendahului di antara individu agar bisa bertahan.

Obsesi pada kecepatan juga tampak pada munculnya kebijakan pemerintah memulai jam kantor yang rata-rata dimulai jam 07.45 telah mendorong orang untuk saling mendahului agar segera sampai.

Faktor yang mendorong orang untuk datang tepat waktu tersebut bukan  hanya masalah disiplin diri yang ditanamkan sekolah, tetapi juga melibatkan ancaman berkurangnya pendapatan atau sanksi administrasi yang mungkin saja didapatkan. Ketepatan waktu yang nyaris mekanistis tanpa memperhatikan batasan-batasan yang timbul merupakan tuntutan nilai efektivitas dan efisiensi waktu kerja yang ditata dalam logika percepatan industri.

Di samping itu, kecepatan bisa juga dianggap sebagai komoditas yang memiliki nilai jual. Dalam dunia otomotif misalnya, siasat utama untuk memasarkan produk kendaraan bermotor dan produk turunanya adalah dengan mengiming-imingi konsumen bahwa peristiwa kecepatan adalah kesempatan berharga.

Rasionalisasi lain yang juga sering bekerja dalam rangka pemujaan kecepatan adalah mitos modernitas yang menantang masyarakat agar terus mengikuti perkembangan teknologi jika tidak ingin terperangkap pada kekunoan dan menjadi tertinggal. Hal ini bisa kita lihat kompetisi produk handphone. Terutama vendor HP yang bermain di level midrange (kelas menengah). Produsen yang tidak mampu berinovasi dan berkreasi dengan kecepatan, sekuat apapun brand nya, siap-siap gulung tikar.

Perihal kekunoan nampaknya menjadi sebab utama seorang  karib selalu melontarkan ejekan hanya karena HP yang saya gunakan sudah out of date, terlihat jadul dan tentu saja lelet alias lambat, sehingga perlu diupgrade. Kelambanan dengan demikian adalah antitesis kecepatan, sekaligus virus yang harus dimusnahkan di dalam tubuh masyarakat yang modern dan instan. (T)

Tags: bulelengekonomiSingarajataman kota
Share112TweetSendShareSend
Previous Post

Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Next Post

Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails
Next Post
Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins
Esai

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”
Pop

Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

“Untuk saat ini, single-single saja dulu, sama seperti status saya,” ujar Tika Pagraky sambil tertawa, memecah suasana sore itu. Kalimat...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah
Khas

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co