24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teater Koma, Brodway-ne Jakarta, Nok!

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
November 23, 2018
in Ulasan
Teater Koma, Brodway-ne Jakarta, Nok!

Pementasan Mahabrata – Asmara Raja Dewa, Garapan Teater Koma di Taman Izmail Marzuki,

 

KAMIS, 22/11/2018. Jakarta dan segala macam intervensinya menyeruak di kepala saya, ketika mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Dalam perjalanan menuju hotelpun, tubuh disajikan hal-hal tak terduga, kemacetan, umpatan, duduk berjam di taxi, dan tentu saja entitas manusia yang kecil di hadapan gedung-gedung super tinggi itu.

Saya berusaha beradaptasi mengikuti segala program Djarum Foundation tanpa tedensi apapun dan saya percaya penuh bahwa tubuh memiliki daya respon yang lebih tinggi dari pada isi kepala saya saat ini.

Satu materi langka hari pertama adalah menonton pementasan Mahabrata – Asmara Raja Dewa, Garapan Teater Koma di Taman Izmail Marzuki, naskah dan sutradara N. RIantiarno. Malam itu pengalaman pertama menonton Teater Koma, biasanya ritual ini saya lakukan lewat kanal dunia maya. Begitu berjarak antara saya dan pementasan tersebut, sehingga titik tumpu hanya pada estetika bentuk dan sejumlah ulasan dari media massa.

Tapi malam itu tidak, saya melihat penonton hadir 1 jam sebelum pementasan, mereka sudah mengantri di depan loket penjualan tiket. Sejumlah penonton mendiskusikan teater Koma di teras depan, sumringah mengambil swafoto di depan banner komersial, memilah dan memilih buku yang sedang didiskon dan tentu saja atmosfer penonton yang hadir dengan segala usianya.

Saya membaca beberapa tulisan yang mengulas treatment Teater Koma dalam membina penontonnya. Dan malam itu tulisan tersebut menampakkan wujud aslinya. Regenerasi berjalan dengan baik beriringan dengan pementasan Teater Koma yang semakin berkembang dan membaca zaman.

Di bangku depan saya, sepasang kakek dan nenek mengajak cucunya yang kira-kira duduk di bangku SD. Di setiap adegan si cucu selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan, kemudian sang kakekpun menjelaskan perlahan sembari mengecilkan volume suaranya agar tidak mengganggu penonton lainnya. Budaya menonton teater Koma sudah sampai tahap tersebut, gila. Kendati saya belum tahu bagaimana peta komunitas teater di Jakarta ya.

Di bangku penonton, saya duduk dengan tenang, sembari membolak-balik katalog yang telah dibagi di pintu masuk. Selain ulasan pementasan, tim produksi, foto-foto aktor lengkap dengan kostumnya, ada pula deretan iklan komersil menghiasi sejumlah halaman katalog. Begitu massivnya Teater Koma di Jakarta hingga sponsor pun berbondong untuk mengenalkan produknya.

Menarik. Mahabarata versi saya, ya versi India yang biasa diputar di televisi – bersambung setiap hari, waktu zaman kuliah serial ini mengisi cerita-cerita kami di tempat tongkrongan lo. Atau pementasan Mahabarata versi kolosal sendara Tari yang biasa di pentas dalam rangakaian Pesta Kesenian Bali. Tapi di tangan Teater Koma, pementasan refrensi itu hancur lebur, menjadi puzzle-puzzle kecil yang nakal, kemudian saya coba kaitkan terhadap cerita dan visual yang biasa saya tonton sebelumnya.

Pementasan di mulai. Layar transparan terbentang sepenuh panggung bagian depan, 3 proyektor menembak ke layar tersebut, desain visual posternya mengingatkan saya pada permainan Mobile Legend yang sempat ngehits beberapa waktu lalu. “Wah ini ya teater Jakarta” ucap saya dalam hati.

Pembukanya para pemusik masuk panggung, kemudian memberi salam, penonton bertempuk tangan. Berpakaian hitam, dan sebagian besar memakai selendang tradisional di selempang di bagian atas tubuh mereka. Para pemain musik turun ke bawah, untuk bersiap mengiringi. 16 penari terbaring di atas panggung, berkostum terusan yang didominasi warna putih, di bagian kepala di gelontorkan kain senada, menutupi kepala sampai bahu, sekilas saya mengingat kostum perempuan di kerajaan korea utara.

Perlahan mereka bernyanyi sambil melakukan gerakan cepat dalam rangka mengganti posisi tubuh, ini mengagetkan respon tubuh saya. Selain para penyanyi itu ada visual penyanyi yang di tampilkan lewat video, di tembak ke layar belakang. Jadi total ada 32 orang penyanyi yang sedang mengintimidasi saya. Bagaimana tidak hancur ini isi kepala. Orang udik masuk TIM, yang pentas, Mas Nano pula.

Selanjutnya saya dipesonakan oleh berbagai macam properti, kostum pemain, dan cara berpindah ruang setiap adegannya. Sebut saja tokoh Idajil yang pada adegan awal, tokoh ini memakai kostum bulu, seluruh bagian tubuhnya di balut oleh bulu-bulu berwarna coklat.

Wajah bertopeng bulu, yang terlihat hanya mimik mulut saat berdialog atau bernyanyi. Badan sampai ujung kaki pun demikian, yang paling mengesankan dia memakai sayap, berwarna coklat berbulu. Di dada dan ditanduk Idajil ada lampu kecil berwarna merah menyala- dibentuk sesuai pola. Jangan di tanya kostum pemain lainnya.

Raja dan permasuri yang sangat megah, para punakawan yang biasanya saya lihat memakai kostum tradisi, malam itu berubah modern. Kostum para dewa yang agung, kostum punakawan perempuan yang nyeleneh tapi tidak membosankan. Kostum raksasa yang garang dan ganas, kostum para bidadari yang anggun dengan warna-warna lembut itu. aih menyenangkan sekali.

Belum lagi jika menelisik propertinya, mulai dari tongkat yang berbagai macam bentuk-ukuran, gimmick-gimmick bawaan setiap tokohnya, singgasana raja, senjata-senjata, latar belakang tembok ukiran, gerbang batu, gajah buatan, kuda, sapi, dan berbagai properti lainnya. Terlihat bahwa bagaimana keseriusan Teater Koma dalam mengkaji, membuat hingga properti itu siap di pakai.

Pertanyaan pun muncul khusus utama terhadap kostum dan properti tersebut. Seberapa jauh para aktor menyetubuhi hal-hal di luar dirinya itu ya. Menjadi dirinya yang lain, tentu hal ini memakan waktu cukup lama. Tapi bagaimana strategi yang di lakukan oleh Teater Koma, untuk satu sajian seperti itu. Karena saya beberapa kali melihat (mungkin sangat subjektif) Sang Idajil sekali dua kali singkuh , seolah tidak menyatu antara tubuh dengan pakaiannya.

Pementasan Mahabrata – Asmara Raja Dewa, Garapan Teater Koma di Taman Izmail Marzuki,

Pola-pola ketubuhan aktor dan diperan yang dimainkannya pun memiliki pertimbangan penting. Di sisi lain, sajian video artnya sangat kuat, hampir setiap adegan memiliki karakter yang berbeda. Disesuaikan terhadap lakon-adegan yang sedang berlangsung. Misalnya settingnya kerajaan, video artnya berupa tembok-tembok kerajaan, begitu pula tentang setting lainnya. Tidak hanya setting tempat mendapat tambahan seperti itu, bahkan narasi dilua keterangan tempat pun mendapat sentuhan pendukung dari video artnya.

Ada pula permainan alih dimensi, yang sangat rapi rajutannya, misalnya pada adegan melawan raksasa di dalam air, lewat kain transparan visual ditembak dan pemainnya berakting dibelakang kain transparan. Tapi ada waktu video art itu tidak terlalu mendukung atau tidak utuh dalam sajian adegannya. Misalnya saat narator menceritakan kisah pengantar di awal pementasan.

Video art mengalir tanpa musik, hanya mengandalkan narasi cerita narator. Dalam bayangan saya, semestinya ada iringan musik serta suara sang narator yang mengikuti tempo alunan musik tersebut, untuk mengusahkan satu kesatuan. Tapi sekali lagi itu sangat subjektif sekali. Karena respon tubuh yang saya miliki saat itu kurang nyaman. 4 jam lebih, 500 penonton masih duduk menanti hingga pertunjukan selesai.

Fenomena ini mengingatkan saya dan beberapa kawan ketika duduk di bangku SD menonton kelompok kesenian drama gong, atau calonarang hingga lebih 5 jam. Dua pertunjukan tersebut menyuguhkan atraksi teaterikal, lelucon dan cerita-cerita kerjaan di Bali zaman dahulu. Saya akui permainan Teater Koma yang diselingi nyanyian, lakon lucu, membantu membangun ketahanan penonton dalam menyimak jalan cerita hingga tuntas. tentu jejaringan penonton tidak berjalan singkat, perlu proses panjang untuk mencapai tersebut.

Yang saya lihat kemarin itu adalah buah panjang kerja keras bertahun. “Pementasan koma itu seperti Brodway, Brodwaynya Jakarta” kata seorang kawan dari luar kota Jakarta yang tidak ingin di sebutkan namanya.

Pula saya mengakui,beberapa kali kesempatan saya tertidur, mencoba bangun, kemudian mengikuti jalan ceritanya kembali. Sangat terganggu. Bagia saya menonton Koma, harus dengan mood yang baik, betul-betul disiapkan sejak H-1, dengan badan sehat jasmani dan rohani, serta tanpa interpretasi beku di kepala yang dibawa dari rumah ke bangku penonton. Biarkan saja tubuh bekerja apa adanya.  (T)

*Tulisan ini di buat di teras hotel, menikmati Jakarta dini hari yang ramah, tanpa dengung dan umpatannya.

Tags: DKI JakartaTeaterTeater Koma
Share2TweetSendShareSend
Previous Post

Generasi Zaman Now Harus Sadar Politik, Bukan Mabuk Politik

Next Post

Pahlawan Bukan untuk Sekadar Dikenang

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Pahlawan Bukan untuk Sekadar Dikenang

Pahlawan Bukan untuk Sekadar Dikenang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co