2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi Zaman Now Harus Sadar Politik, Bukan Mabuk Politik

Jaswanto by Jaswanto
November 23, 2018
in Esai
Generasi Zaman Now Harus Sadar Politik, Bukan Mabuk Politik

Buta terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik.

  • Bertolt Brecht

 

SEMENJAK rezim Soeharto menyerang, Daoed Joesoef sebagai Menteri Pendidikan kala itu, membuat kebijakan yang dikenal dengan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Kebijakan ini dianggap kontroversi karena dituding sebagai upaya Pemerintah Soeharto dalam “mematikan” daya kritis mahasiswa terhadap pemerintah. Saya curiga, efek dari kebijakan itu, menjadi salah satu sebab hilangnya daya kritis pemuda dan mahasiswa sampai hari ini (dan sekarang saya juga curiga dengan Permenristekdikti No. 55 Tahun 2018). Ya walaupun, masih banyak sebab yang lain juga, si. Curiga itu ‘kan boleh, menuduh yang nggak boleh. Bukan begitu, My Love?

Dengan sangat taktis, pemuda di zaman Orde Baru (Pemerintaha Soeharto) dikonstruksi ulang. Di era ini pula kita mengenal istilah “remaja”, bukan. Dalam Solo in the New Order, seorang antropolog bernama James Siegel mengatakan bahwa “remaja” punya selera dan aspirasi tertentu yang dibentuk beda dengan “pemuda”. Kita semua pasti tahu dan bisa ‘kan membedakan istilah “pemuda” dan “remaja”?

Mendengar kata “pemuda” kita selalu ingat dengan kata semangat, idealisme, demonstrasi, perubahan, tekad baja, Soe Hok Gie… eh, dan sebagainya. Sementara kesan yang keluar dari kata “remaja” adalah: pacaran, cinta monyet, tawuran, seks bebas, narkoba, rental playstation, dan Si Boy Anak Jalanan. Miris, bukan? Kok malah nglantur ke mana-mana, ya. Oke fokus!

Namun serius, dirasakan atau tidak, di kalangan pemuda zaman now ini, pemuda maupun mahasiswa memang sedang adem-adem saja. Kalau dalam bahasa Jawa, mlempem. Ada kejadian ini-itu, tak peduli. Dianggapnya angin lalu saja. Nggak mau ikut-ikutan, begitu kata mereka. Padahal, sejatinya kaum muda juga harus ikut serta dalam memikirkan kemajuan bangsa ini. Coba kita tengok ke belakang (nggak usah memutar kepala juga). Sejarah mencatat bahwa anak muda juga sanggup membuat perubahan. Tapi sekarang, mereka cenderung apatis terhadap permasalahan bangsa, tak terkecuali dalam masalah politik, misalnya.

Banyak kawan saya yang dengan lantang berbicara bahwa tidak mau terjun di dunia politik dan memilih menjadi wirausaha saja. Mengembangkan usaha dan bisnis sejak dini jauh lebih kongret daripada ikut-ikutan membahas politik, atau menjadi politisi, karena politik itu sangat kotor dan sering menggunakan cara-cara yang tidak baik. Pernyataan itu tidak salah. Mengingat, secara kasat mata, panggung politik di negara ini memang terkesan sangat menjijikan. Apalagi kalau sudah dibumbui oleh media, yang busuk jadi semakin tambah busuk.

Bagi generasi zaman now ini, bayangan kata “politik” hampir sama dengan bayangan pada kata “tinja”. Nista dan tercela. Politikus dipandang sebagai profesi yang paling antagonis di semesta ini. Walaupun memang kebanyakan begitu. Profesi yang penuh tipu muslihat dan harapan palsu. Berbeda dengan panggung enterpreneur (bener nggak si tulisannya?) atau panggung pencarian bakat jauh lebih menarik bagi pemuda zaman now ini daripada ajang politik—dalam hal ini Anang Hermansyah, dkk, lebih menarik daripada Fadli Zon, dkk, atau Pak Amin Rais sekali pun—dan lebih menarik lagi jadi selebgram dan yutubers—yang sedikit-sedikit bilang gaes-gaes.

Generasi zaman now memang diharapkan peduli dengan perkembangan politik di tanah air. Terlebih, generasi era ‘now’ ini mendominasi jumlah pemilih pada Pemilu 2019 yang akan datang. Masalahnya, seperti kata Michael Victor Sianipar, mantan Staff Ahok sekaligus penulis buku Ahok dan Hal-Hal yang Belum Terungkap, di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat 6 April 2018 bahwa, “Mereka itu sadar politik. Tapi belum paham apa tujuan politik. Jadi mereka tahu ada Pilkada dan Pilpres.”

Michael menyebut, generasi milenial saat ini apatis dengan perkembangan politik di Indonesia. Apalagi, media sekarang lebih doyan memberitakan gaduhnya ketimbang esensi dan subtansi politik itu sendiri. Bagi Michael, generasi milenial ini masih belum terlalu minat pada politik. Karena politik yang mereka tahu yang ribut-ribut saja. Yang cebong yang kampret dan yang cebong berkepala kampret dengan segala kebenarannya.

***

Memasuki akhir tahun ini, orang-orang menyebut bahwa kita sudah masuk tahun-tahun politik. Pamflet disebar. Iklan di koran jor-joran. Baliho didirikan. Membual pun rutin  dilakukan. Jargon-jorgon ditampilkan, dll. Namun sayang, pemudanya tidak sadar politik, masih asyik main ML-an, candu obat batuk, rebusan pembalut, lem, dan obat mabuk perjalanan. Tidak sadar bahwa sudah ada rencana politik untuk lima tahun ke depan. Tidak sadar umur mereka lebih mendominasi pada saat pemilihan.

Sadar politik yang saya maksud adalah hal-hal yang berkaitan dengan wawasan, ketajaman analisa, kritis, kontrol sosial, dan pengendalian emosi. Semua itu bertujuan untuk menuntun kita secara rasional untuk menentukan keberpihakan—atau setidaknya bersikap—dalam konflik kekuasaan dan bijak untuk mengartikulasikannya.

Sebelum lebih jauh, mari sama-sama sepakat bahwa setidaknya ada tiga jenis golongan anak muda dalam relasinya dengan kesadaran politik. Pertama, mereka yang benar-benar sadar politik. Kedua, mereka yang apolitis. Dan ketiga, mereka yang tidak tahu politik tapi sok tahu tentang politik (orang-orang Dunning-Kruger Effect).

Dari tiga golongan anak muda itu, jelas yang pertama yang sama-sama kita harapkan. Sementara golongan ketiga ini yang membahayakan. Bagaimana yang kedua? Saya yakin, tidak ada dalam kehidupan bermasyarakat ini manusia bisa lepas dari politik. Wong Aristoteles pernah bilang kok, politik dalam esensinya adalah upaya untuk mewujudkan kebaikan bersama. Kebijakan politik berdampak dan melibatkan seluruh aspek kehidupan kita. Jadi, sikap apolitis itu mungkin terjadi, tapi kecil kemungkinannya.

Saya pikir, di samping masalah banyaknya pemuda yang apatis terhadap politik, golongan yang sok tahu politik ini juga sangat berbahaya. Apalagi di lalu lintas media sosial yang tanpa tedeng aling-aling ini. Hal itu akan diperuncing dengan fakta bahwa generasi zaman now ini memang punya watak yang lebih vokal dan doyan berekspresi di media sosial. Mulai mengumbar isu yang sangat personal, sampai yang merugikan banyak orang.

Dalam dunia politik modern, tak ada media yang punya daya penetrasi dan dampak yang luar biasa melebihi media sosial. Efektivitas dan efesiensinya semakin di depan (kalah kalau cuma Yamaha aja). Berbeda di Zaman Orde Baru, misalnya, cukup menungganggi TVRI dan RRI untuk memenangkan segalanya. Kini, media sosial adalah medan tempur yang haqiqi. Dan anak muda adalah yang paling banyak berselancar di dalamnya.

Di zaman ingar-bingar media sosial ini, anak muda sangat rentan dijadikan pion atau boneka perebutan kekuasaan. Enteng dikontrol dan digiring untuk membenci atau mendukung sesuatu. Menjadi kerbau-kerbau yang dicocok hidungnya. Atau seperti Sarimin yang mau disuruh pergi ke pasar dengan tabuhan musik seadanya. Mahasiswa dikontrol sedemikian rupa oleh dosen dan birokrat kampus. Kritis sedikit siap-siap nilai jeblok. Berbeda pemikiran siap-siap banyak musuh, dijauhi dan diasingkan (setidaknya saya pernah merasakan demikian).

Pemuda sekarang—mungkin juga termasuk saya—kehilangan kepekaan skeptis, kritis, dan rasional yang ditutup oleh kepercayaan buta. Bahkan tak jarang sifat fanatisme ditanam dalam-dalam sehingga kita gencar berbicara, bertindak, hanya untuk menegaskan identitas. Gagah-gagahan. Egoisme. Akibatnya, kita saling menjatuhkan satu sama lain. Gampang diadu domba, dan tentu saja juga gapang dipecah belah.

Generasi muda adalah aktor masa depan. Harus tampil di depan. Harus menjadi pelopor bukan pengekor. Tapi kenyatan yang tampak sekarang adalah pemuda yang dikontrol oleh sutradara, dalang. Kita hanya sebagai wayang saja. Seperti kata Soe Hok Gie, “Pemuda kita itu umumnya hanya mempunyai kecakapan untuk menjadi serdadu, yaitu berbaris menerima perintah menyerang, menyerbu, dan berjibaku dan tidak pernah diajar memimpin.” Kenapa begitu? Sebab kita tidak sadar atau bahkan tidak mau sadar dengan politik kebijakan.

Pendidikan politik, berorganisasi dan khazanah pengetahuan sejarah sangat penting untuk memahami relasi-relasi sosial yang ada di masyarakat. Tidak perlu juga hafal nama-nama Menteri atau DPR yang korupsi (buang-buang waktu), yang utama adalah dapat membaca situasi-situasi skenario politik, situasi rasisme, fasis, memahami akar masalah sosial, dan siapa yang diuntungkan serta dirugikan dalam setiap kebijakan politik.

Mulai membuka diri untuk hal-hal yang ada kaitannya dengan pembelajaran politik. Mempelajari ilmu politik sebagai bekal atau modal untuk menyikapi masalah-masalah politik di negara ini. Agar tidak terpengaruh oleh skenario-skenario pengusa: isu komunisme, politisasi agama, bangkitnya Orde Baru, dan skenario yang ujung-ujung kembali pada perkara kekuasaan dan ekonomi, urusan perut.

Kalau kita mau melihat data, menurut Badan Pusat Statistik, demografi Indonesia akan melonjak pada rentang waktu tahun 2020-2030 dengan angka sekitar 305,6 juta jiwa dengan persentase angkatan kerja produktif dari generasi milenial mencapai 66,6 persen. Praktis, keberpihakan suara kaum milenial akan diperebutkan. Di sini kita tinggal memilih, menjadi pemain atau penonton. Menjadi dalang, atau wayang yang pasrah dimainkan.

Sudah saatnya kita menjadi subjek yang bergerak, tidak menjadi objek yang statis, diam. Menjadi golongan generasi yang sadar untuk melakukan perubahan, melakukan kontrol sosial, pengawasan, dan koreksi-koreksi terhadap pemerintahan yang berkaitan dengan segala kebijakan. Sudah saatnya membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar jeritan kaum papa. Membuka mata lebar-lebar untuk melihat ironi negeri. Membuka hati nurani untuk bersimpati dan tergerak membela yang lemah. Kita harus punya sikap agar tidak digeret ke sana dan ke mari.

Tidak harus menunggu menjadi orang beranak tiga, untuk sadar politik. Dan mulai sadar, bahwa politik sejatinya tidak selalu berkonotasi tentang birokrasi, pencitraan, suap-menyuap. Pun sadar politik juga tidak harus menjadi politisi. Kita bisa menjadi seorang petani sambil merangkap menjadi pengamat politik. Menjadi penjual online sambil menjadi pengamat sosial media nirlaba. Menjadi tukang becak yang pantang dengan serangan fajar. Menjadi mahasiswa yang berani mengatakan: Mahasiswa takut dengan dosen. Dosen takut dengan rektor. Rektor takut dengan menteri. Menteri takut dengan presiden. Sedangkan presiden takut dengan mahasiswa di depan birokrasi kampus yang korup.

Sudah saatnya generasi zaman now sadar politik, tidak mabuk keracunan politik. (T)

Tags: Generasi Zaman NowpemudaPolitikRemajawacana politik
Share69TweetSendShareSend
Previous Post

Impresi Payakumbuh

Next Post

Teater Koma, Brodway-ne Jakarta, Nok!

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Teater Koma, Brodway-ne Jakarta, Nok!

Teater Koma, Brodway-ne Jakarta, Nok!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co