24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Generasi Zaman Now Harus Sadar Politik, Bukan Mabuk Politik

Jaswanto by Jaswanto
November 23, 2018
in Esai
Generasi Zaman Now Harus Sadar Politik, Bukan Mabuk Politik

Buta terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik.

  • Bertolt Brecht

 

SEMENJAK rezim Soeharto menyerang, Daoed Joesoef sebagai Menteri Pendidikan kala itu, membuat kebijakan yang dikenal dengan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Kebijakan ini dianggap kontroversi karena dituding sebagai upaya Pemerintah Soeharto dalam “mematikan” daya kritis mahasiswa terhadap pemerintah. Saya curiga, efek dari kebijakan itu, menjadi salah satu sebab hilangnya daya kritis pemuda dan mahasiswa sampai hari ini (dan sekarang saya juga curiga dengan Permenristekdikti No. 55 Tahun 2018). Ya walaupun, masih banyak sebab yang lain juga, si. Curiga itu ‘kan boleh, menuduh yang nggak boleh. Bukan begitu, My Love?

Dengan sangat taktis, pemuda di zaman Orde Baru (Pemerintaha Soeharto) dikonstruksi ulang. Di era ini pula kita mengenal istilah “remaja”, bukan. Dalam Solo in the New Order, seorang antropolog bernama James Siegel mengatakan bahwa “remaja” punya selera dan aspirasi tertentu yang dibentuk beda dengan “pemuda”. Kita semua pasti tahu dan bisa ‘kan membedakan istilah “pemuda” dan “remaja”?

Mendengar kata “pemuda” kita selalu ingat dengan kata semangat, idealisme, demonstrasi, perubahan, tekad baja, Soe Hok Gie… eh, dan sebagainya. Sementara kesan yang keluar dari kata “remaja” adalah: pacaran, cinta monyet, tawuran, seks bebas, narkoba, rental playstation, dan Si Boy Anak Jalanan. Miris, bukan? Kok malah nglantur ke mana-mana, ya. Oke fokus!

Namun serius, dirasakan atau tidak, di kalangan pemuda zaman now ini, pemuda maupun mahasiswa memang sedang adem-adem saja. Kalau dalam bahasa Jawa, mlempem. Ada kejadian ini-itu, tak peduli. Dianggapnya angin lalu saja. Nggak mau ikut-ikutan, begitu kata mereka. Padahal, sejatinya kaum muda juga harus ikut serta dalam memikirkan kemajuan bangsa ini. Coba kita tengok ke belakang (nggak usah memutar kepala juga). Sejarah mencatat bahwa anak muda juga sanggup membuat perubahan. Tapi sekarang, mereka cenderung apatis terhadap permasalahan bangsa, tak terkecuali dalam masalah politik, misalnya.

Banyak kawan saya yang dengan lantang berbicara bahwa tidak mau terjun di dunia politik dan memilih menjadi wirausaha saja. Mengembangkan usaha dan bisnis sejak dini jauh lebih kongret daripada ikut-ikutan membahas politik, atau menjadi politisi, karena politik itu sangat kotor dan sering menggunakan cara-cara yang tidak baik. Pernyataan itu tidak salah. Mengingat, secara kasat mata, panggung politik di negara ini memang terkesan sangat menjijikan. Apalagi kalau sudah dibumbui oleh media, yang busuk jadi semakin tambah busuk.

Bagi generasi zaman now ini, bayangan kata “politik” hampir sama dengan bayangan pada kata “tinja”. Nista dan tercela. Politikus dipandang sebagai profesi yang paling antagonis di semesta ini. Walaupun memang kebanyakan begitu. Profesi yang penuh tipu muslihat dan harapan palsu. Berbeda dengan panggung enterpreneur (bener nggak si tulisannya?) atau panggung pencarian bakat jauh lebih menarik bagi pemuda zaman now ini daripada ajang politik—dalam hal ini Anang Hermansyah, dkk, lebih menarik daripada Fadli Zon, dkk, atau Pak Amin Rais sekali pun—dan lebih menarik lagi jadi selebgram dan yutubers—yang sedikit-sedikit bilang gaes-gaes.

Generasi zaman now memang diharapkan peduli dengan perkembangan politik di tanah air. Terlebih, generasi era ‘now’ ini mendominasi jumlah pemilih pada Pemilu 2019 yang akan datang. Masalahnya, seperti kata Michael Victor Sianipar, mantan Staff Ahok sekaligus penulis buku Ahok dan Hal-Hal yang Belum Terungkap, di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat 6 April 2018 bahwa, “Mereka itu sadar politik. Tapi belum paham apa tujuan politik. Jadi mereka tahu ada Pilkada dan Pilpres.”

Michael menyebut, generasi milenial saat ini apatis dengan perkembangan politik di Indonesia. Apalagi, media sekarang lebih doyan memberitakan gaduhnya ketimbang esensi dan subtansi politik itu sendiri. Bagi Michael, generasi milenial ini masih belum terlalu minat pada politik. Karena politik yang mereka tahu yang ribut-ribut saja. Yang cebong yang kampret dan yang cebong berkepala kampret dengan segala kebenarannya.

***

Memasuki akhir tahun ini, orang-orang menyebut bahwa kita sudah masuk tahun-tahun politik. Pamflet disebar. Iklan di koran jor-joran. Baliho didirikan. Membual pun rutin  dilakukan. Jargon-jorgon ditampilkan, dll. Namun sayang, pemudanya tidak sadar politik, masih asyik main ML-an, candu obat batuk, rebusan pembalut, lem, dan obat mabuk perjalanan. Tidak sadar bahwa sudah ada rencana politik untuk lima tahun ke depan. Tidak sadar umur mereka lebih mendominasi pada saat pemilihan.

Sadar politik yang saya maksud adalah hal-hal yang berkaitan dengan wawasan, ketajaman analisa, kritis, kontrol sosial, dan pengendalian emosi. Semua itu bertujuan untuk menuntun kita secara rasional untuk menentukan keberpihakan—atau setidaknya bersikap—dalam konflik kekuasaan dan bijak untuk mengartikulasikannya.

Sebelum lebih jauh, mari sama-sama sepakat bahwa setidaknya ada tiga jenis golongan anak muda dalam relasinya dengan kesadaran politik. Pertama, mereka yang benar-benar sadar politik. Kedua, mereka yang apolitis. Dan ketiga, mereka yang tidak tahu politik tapi sok tahu tentang politik (orang-orang Dunning-Kruger Effect).

Dari tiga golongan anak muda itu, jelas yang pertama yang sama-sama kita harapkan. Sementara golongan ketiga ini yang membahayakan. Bagaimana yang kedua? Saya yakin, tidak ada dalam kehidupan bermasyarakat ini manusia bisa lepas dari politik. Wong Aristoteles pernah bilang kok, politik dalam esensinya adalah upaya untuk mewujudkan kebaikan bersama. Kebijakan politik berdampak dan melibatkan seluruh aspek kehidupan kita. Jadi, sikap apolitis itu mungkin terjadi, tapi kecil kemungkinannya.

Saya pikir, di samping masalah banyaknya pemuda yang apatis terhadap politik, golongan yang sok tahu politik ini juga sangat berbahaya. Apalagi di lalu lintas media sosial yang tanpa tedeng aling-aling ini. Hal itu akan diperuncing dengan fakta bahwa generasi zaman now ini memang punya watak yang lebih vokal dan doyan berekspresi di media sosial. Mulai mengumbar isu yang sangat personal, sampai yang merugikan banyak orang.

Dalam dunia politik modern, tak ada media yang punya daya penetrasi dan dampak yang luar biasa melebihi media sosial. Efektivitas dan efesiensinya semakin di depan (kalah kalau cuma Yamaha aja). Berbeda di Zaman Orde Baru, misalnya, cukup menungganggi TVRI dan RRI untuk memenangkan segalanya. Kini, media sosial adalah medan tempur yang haqiqi. Dan anak muda adalah yang paling banyak berselancar di dalamnya.

Di zaman ingar-bingar media sosial ini, anak muda sangat rentan dijadikan pion atau boneka perebutan kekuasaan. Enteng dikontrol dan digiring untuk membenci atau mendukung sesuatu. Menjadi kerbau-kerbau yang dicocok hidungnya. Atau seperti Sarimin yang mau disuruh pergi ke pasar dengan tabuhan musik seadanya. Mahasiswa dikontrol sedemikian rupa oleh dosen dan birokrat kampus. Kritis sedikit siap-siap nilai jeblok. Berbeda pemikiran siap-siap banyak musuh, dijauhi dan diasingkan (setidaknya saya pernah merasakan demikian).

Pemuda sekarang—mungkin juga termasuk saya—kehilangan kepekaan skeptis, kritis, dan rasional yang ditutup oleh kepercayaan buta. Bahkan tak jarang sifat fanatisme ditanam dalam-dalam sehingga kita gencar berbicara, bertindak, hanya untuk menegaskan identitas. Gagah-gagahan. Egoisme. Akibatnya, kita saling menjatuhkan satu sama lain. Gampang diadu domba, dan tentu saja juga gapang dipecah belah.

Generasi muda adalah aktor masa depan. Harus tampil di depan. Harus menjadi pelopor bukan pengekor. Tapi kenyatan yang tampak sekarang adalah pemuda yang dikontrol oleh sutradara, dalang. Kita hanya sebagai wayang saja. Seperti kata Soe Hok Gie, “Pemuda kita itu umumnya hanya mempunyai kecakapan untuk menjadi serdadu, yaitu berbaris menerima perintah menyerang, menyerbu, dan berjibaku dan tidak pernah diajar memimpin.” Kenapa begitu? Sebab kita tidak sadar atau bahkan tidak mau sadar dengan politik kebijakan.

Pendidikan politik, berorganisasi dan khazanah pengetahuan sejarah sangat penting untuk memahami relasi-relasi sosial yang ada di masyarakat. Tidak perlu juga hafal nama-nama Menteri atau DPR yang korupsi (buang-buang waktu), yang utama adalah dapat membaca situasi-situasi skenario politik, situasi rasisme, fasis, memahami akar masalah sosial, dan siapa yang diuntungkan serta dirugikan dalam setiap kebijakan politik.

Mulai membuka diri untuk hal-hal yang ada kaitannya dengan pembelajaran politik. Mempelajari ilmu politik sebagai bekal atau modal untuk menyikapi masalah-masalah politik di negara ini. Agar tidak terpengaruh oleh skenario-skenario pengusa: isu komunisme, politisasi agama, bangkitnya Orde Baru, dan skenario yang ujung-ujung kembali pada perkara kekuasaan dan ekonomi, urusan perut.

Kalau kita mau melihat data, menurut Badan Pusat Statistik, demografi Indonesia akan melonjak pada rentang waktu tahun 2020-2030 dengan angka sekitar 305,6 juta jiwa dengan persentase angkatan kerja produktif dari generasi milenial mencapai 66,6 persen. Praktis, keberpihakan suara kaum milenial akan diperebutkan. Di sini kita tinggal memilih, menjadi pemain atau penonton. Menjadi dalang, atau wayang yang pasrah dimainkan.

Sudah saatnya kita menjadi subjek yang bergerak, tidak menjadi objek yang statis, diam. Menjadi golongan generasi yang sadar untuk melakukan perubahan, melakukan kontrol sosial, pengawasan, dan koreksi-koreksi terhadap pemerintahan yang berkaitan dengan segala kebijakan. Sudah saatnya membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar jeritan kaum papa. Membuka mata lebar-lebar untuk melihat ironi negeri. Membuka hati nurani untuk bersimpati dan tergerak membela yang lemah. Kita harus punya sikap agar tidak digeret ke sana dan ke mari.

Tidak harus menunggu menjadi orang beranak tiga, untuk sadar politik. Dan mulai sadar, bahwa politik sejatinya tidak selalu berkonotasi tentang birokrasi, pencitraan, suap-menyuap. Pun sadar politik juga tidak harus menjadi politisi. Kita bisa menjadi seorang petani sambil merangkap menjadi pengamat politik. Menjadi penjual online sambil menjadi pengamat sosial media nirlaba. Menjadi tukang becak yang pantang dengan serangan fajar. Menjadi mahasiswa yang berani mengatakan: Mahasiswa takut dengan dosen. Dosen takut dengan rektor. Rektor takut dengan menteri. Menteri takut dengan presiden. Sedangkan presiden takut dengan mahasiswa di depan birokrasi kampus yang korup.

Sudah saatnya generasi zaman now sadar politik, tidak mabuk keracunan politik. (T)

Tags: Generasi Zaman NowpemudaPolitikRemajawacana politik
Share69TweetSendShareSend
Previous Post

Impresi Payakumbuh

Next Post

Teater Koma, Brodway-ne Jakarta, Nok!

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Teater Koma, Brodway-ne Jakarta, Nok!

Teater Koma, Brodway-ne Jakarta, Nok!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co