23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Impresi Payakumbuh

Hasta Indriyana by Hasta Indriyana
November 22, 2018
in Khas
Impresi Payakumbuh

Sastrawan peserta Payokumbuah Literary Festival', 14-16 November 2018,

MALAM jam 21.00 saya tiba di Payakumbuh setelah sebelumnya naik travel dari Padang selama hampir lima jam. Turun dari mobil saya mencari kedai kopi. Nyeruput segelas kopi saset, saya mendengar orang-orang bercengkerama: Membaca kota yang baru pertama saya singgahi. Udara lumayan dingin. Saya berjalan di sepanjang pinggiran pasar. Orang-orang lalu-lalang. Para penjual ramai pembeli.

Tak berapa lama, pantat saya taruh di sebuah trotoar. Seorang ojek onlen menghampiri. Menawari ojek. Saya bingung mau menjawabnya. Intinya, saya mau ke tempat sebuah acara sastra, tapi tidak tau nama tempat dan jalannya. Saya kirim pesan dan telepon ke panitia tapi belum ada respon. Kepada sopir ojek yang saya hadapi, saya tidak yakin dia mengerti acara yang saya maksud. Tapi tiba-tiba dia bertanya, “Abang mau ke tempat siapa?” Maka saya pun menyebut salah satu nama panitia yang asli orang Payakumbuh.

“Iyut.”

“Iyut Fitra? Da Kuyut?”

“Betul. Uda kenal?”

Dia tersenyum. Sebelum menyilakan saya naik ke motor, telepon saya berdering. Koko, salah seorang panitia menanyakan posisi saya, OTW menjemput. Dengan rasa tidak enak, saya membatalkan ajakan ojek. “Santai saja, Bang,” katanya.

Sesampai di lokasi acara, sebuah panggung sastra sedang berlangsung. Ini malam kedua. Saya sengaja datang di hari kedua karena sesuatu hal. Di sekitar panggung, saya bertemu dengan para sastrawan. Heru Joni Putra, Esha Tegar Putra, Frisca Aswarini, Warih Wisatsana, Zen Hae, Marhalim Zaini, Wayan Sunarta, Riki Dhamparan Putra, Mario F. Lawi, M. Aan Mansyur, Hanna Fransisca, Hasan Aspahani. Usai acara, kami ke penginapan, mess Dinas Peternakan.

Sehari berlalu. Malamnya, saya jalan-jalan ke kota. Hasrat makan sate pariaman dan minum segelas telur lunas sudah. Kota Payakumbuh malam hari melek sampai pagi. Para pedagang dan ingar jalanan membuat saya mengerti bahwa Payakumbuh adalah kota persinggahan. Tiga peminta-minta mendekat.

Selesai makan, saat saya menggeretkan sebatang rokok, pengamen datang meniup saluang. Saya sodorkan selembar uang 20 ribu, tapi saya meminta sebuah lagu. Setelahnya, barulah saya bertanya namanya, tempat tinggal, dan tentang tentu tentang Payakumbuh. Ada yang membuat senang ketika ternyata di tengah dia bercerita, dia menyebut nama Kuyut alias Iyut Fitra. Orang yang dia sebut ini adalah ketua paguyuban saluang di Payakumbuh. Orang yang di acara Festival Literasi Payakumbuh, 2018 sebagai direktur.

Saya membaca sekilas Payakumbuh hanya di malam hari, karena acara festival berlangsung dari pagi sampai sore, dilanjutkan sampai dini hari. Mengenal Payakumbuh tentu tidak lama. Kedai kopi kawa penuh pengunjung. Kedai-kedai kuliner di banyak tempat juga dipenuhi pembeli. Mobil-mobil bersliweran.

Di malam selanjutnya, jadwal menjajal kopi kawa bersama teman-teman peserta dan panitia. Sebelum masuk ke kedai, saya sempatkan cari makan. Nemu penjual mie ayam. Tak apalah, yang penting bisa ganjel perut. Penjual mie ayam orang Kebumen, maka kami ngobrol dengan bahasa Jawa ngapak. “Kerja apa di sini, mas?” dia bertanya. Saya jawab bahwa saya sedang menghadiri acara festival literasi.

“Oh, acaranya Iyut?”

“Yap. Sampeyan kenal?”

“Dia yang menguasai sepanjang jalan ini. Parkir dan keamanan. Dia kenal dengan orang dewan dan orang pemerintahan. Dia yang ngurusi program desa. Semua anak muda mengenalnya. Kuyut itu ketua klub bola dan futsal di Payakumbuh.”

Menunggu kawa di Kedai Kawa Daun

Kurang-lebih seperti itu cerita penjual mie ayam. Usai membayar, kami salaman kenceng. Saya menuju kedai kopi kawa. Di meja kayu, saya sempatkan ngobrol dengan Iyut Fitra. Penguasa Payakumbuh ini bercerita panjang tentang Komunitas Intro dan Payakumbuh secara umum setelah saya pancing dengan satu pertanyaan, “Siapa anak-anak muda ini (panitia)?” jawaban pertama adalah anak muda Payakumbuh yang ingin terlibat dalam festival ini. Di satu kesimpulan disebutkan bahwa Komunitas Intro adalah rumah bagi semua anak muda Payakumbuh.

Tiga hari bersinggungan dengan panitia, saya merasakan kerja-kerja anak muda yang cepat dan teratur. Profesional. Dan yang paling penting bagi saya adalah, mereka memanusiakan para peserta, hangat dan menyenangkan. Kumpulan orang-orang dalam kegiatan nonprofit yang kerja-kerjanya rapi dan cepat hanya bisa dilakukan ketika mereka sudah terbiasa bekerja bersama; saling mamahami satu sama lain; dan yang paling penting adalah peran pemimpinnya.

Saya pikir semua itu adalah modal sosial. Modal seperti ini tidak bisa diuangkan, karena saking berharganya, sehingga disela ngobrol dengan Iyut, saya berseloroh, “Aku yakin jika Da Iyut nyaleg, pasti lolos, bahkan tanpa duit.” Iyut pun tertawa. Betapa dahsyatnya Iyut bisa menggerakkan Payakumbuh dengan banyak komunitas yang disusupinya.

Siang sebelumnya, saya ngobrol dengan Aan Mansyur, bertanya tentang festival sastra Makassar yang sudah berlangsung di tahun kedelapan. Festival sastra itu dipenuhi panitia yang professional dalam bekerja. Tim yang sangat solid. Mau bekerja militan. Mendatangkan para sastrawan flamboyan, bisa bekerja sama dengan hotel, penerbit raksasa, katering, desainer dan pekerja panggung, yang semua didapatkan dengan kerja gotong royong.

Ratusan relawan mendaftar di enam bulan sebelum acara, mereka di masing-masing bidang diberikan workshop yang berkaitan dengan kerja-kerja yang akan dikerjakannya. Dahsyatnya, di saat acara berlangsung para audiens yang memenuhi benteng Rotterdam khidmat menyimak para sastrawan  membacakan karya sastranya. Bagaimana festival besar itu bisa dilaksanakan dengan lancar dan rapi? Satu hal utama adalah sumber daya manusianya.

Ada hal yang sempat saya dengar, bagaimana Festival Literasi Payakumbuh dan Makassar International Literary Festival berjalan dengan baik, yaitu: Nekat. Saya pun menerjemahkan kata nekat bukan sebagai kerja ngawur, tetapi ketetapan hati yang kuat untuk menyelesaikan tugas sebaik-baiknya. Dan Festival Literasi Payakumbuh, meskipun baru pertama kali, patut diapresiasi. Serangkaian acara bergizi cukup menyegarkan, apalagi sastrawan generasi terkini mendapatkan porsi besar di dalamnya. (T)

Tags: festivalPayakumbuhsastraSumatera BaratSumatra
Share15TweetSendShareSend
Previous Post

Ade Putri Paramadita, Kuliner dan Imaji Rasa yang Tak Terbatas

Next Post

Generasi Zaman Now Harus Sadar Politik, Bukan Mabuk Politik

Hasta Indriyana

Hasta Indriyana

penyair dan esais

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Generasi Zaman Now Harus Sadar Politik, Bukan Mabuk Politik

Generasi Zaman Now Harus Sadar Politik, Bukan Mabuk Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co