31 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
in Panggung
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

Diskusi buku “Rumah” karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

 “Rumah itu sebenarnya apa?”

Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026. Saya datang sebagai pembedah dengan bekal pembacaan terhadap novel tersebut. Namun, selama diskusi berlangsung, percakapan berkembang jauh melampaui pembahasan sastra. Rumah dibicarakan dari berbagai perspektif ꟷ sebagai ruang luka, tempat pengampunan, sekaligus perjalanan manusia untuk pulang.

Pagi itu, Minggu, 5 Juli 2026, halaman timur Gedong Kirtya dipenuhi pembaca, pegiat literasi, akademisi, dan masyarakat umum yang ingin mendengar langsung kisah di balik lahirnya novel Rumah. Bersama J.S. Khairen selaku penulis dan Puja Savitri sebagai moderator, kami membincangkan sebuah novel yang dekat dengan kehidupan banyak orang: keluarga, trauma, pengampunan, pencarian jati diri, hingga perjalanan spiritual.

Novel Rumah berangkat dari kisah Ria, seorang luxury travel planner yang telah menjelajahi berbagai belahan dunia, tetapi tak pernah benar-benar menemukan tempat untuk pulang. Di balik karier yang gemilang, ia membawa luka masa kecil akibat relasi yang retak dengan kedua orang tuanya. Pengalaman itulah yang membuat kata ‘rumah’ tidak menghadirkan rasa aman, melainkan kenangan yang ingin dijauhi.

J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

 

Dalam kesempatan tersebut, saya menyampaikan bahwa kekuatan terbesar novel ini justru terletak pada cara J.S. Khairen menggeser makna pulang. Rumah tidak berhenti sebagai bangunan fisik, tetapi berkembang menjadi tempat seseorang berdamai dengan diri sendiri, keluarga, masa lalu, bahkan dengan Tuhan. Pergeseran makna itu membuat Rumah bergerak melampaui kisah keluarga biasa dan menjelma menjadi perjalanan batin yang relevan bagi banyak pembaca.

Menurut saya, novel ini berhasil menghindari kecenderungan banyak cerita bertema keluarga yang tergopoh-gopoh menyelesaikan konflik. J.S. Khairen membiarkan sejumlah pertanyaan tetap terbuka hingga halaman-halaman terakhir. Alih-alih melemahkan cerita, pilihan tersebut justru membuat novel terasa lebih dekat. Sebab, hidup memang tidak selalu menghadirkan jawaban yang lengkap. Ada ruang yang harus dimaknai sendiri oleh pembacanya.

Ketika mendapat kesempatan berbicara, J.S. Khairen mengisahkan proses kreatif di balik penulisan novel tersebut. Ia mengatakan bahwa gagasan tentang pulang lahir melalui riset panjang. Ketika diundang ke sejumlah pesantren, ia berbincang dengan banyak santri yang datang dengan latar belakang berbeda. Ada yang memilih pesantren atas keinginan sendiri, ada pula yang datang karena dorongan orang tua. Pengalaman-pengalaman itulah yang kemudian dipadukan dengan pengalaman pribadinya saat menunaikan ibadah umrah.

Diskusi buku “Rumah” karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Jombang Santani Khairen atau yang lebih dikenal sebagai J.S. Khairen merupakan penulis kelahiran Padang yang produktif. Nama dan karya-karyanya telah dikenal luas, terutama di kalangan pembaca remaja hingga dewasa. Ia telah menerbitkan puluhan judul buku. Sejumlah novelnya yang populer antara lain Melangkah, Kado Terbaik, Dompet Ayah Sepatu Ibu, Bungkam Suara, serta Rumah yang menjadi bahan perbincangan dalam forum tersebut.

Bagi J.S. Khairen, setiap orang memiliki perjalanan pulangnya masing-masing. “Rumah bisa berarti banyak hal. Bisa keluarga, bisa tempat kita dibesarkan, atau bahkan perjalanan kembali kepada Tuhan,” ujarnya. Gagasan itulah yang kemudian menjadi salah satu benang merah dalam novel Rumah.

Diskusi semakin hidup ketika Director sekaligus Founder Singaraja Literary Festival, Sonia Piscayanti, turut memberikan tanggapan. Menurutnya, kekuatan Rumah terletak pada kemampuannya menyentuh pembaca tanpa terasa menghakimi.

“Saya membacanya sebagai seorang ibu. Banyak bagian yang membuat saya berhenti sejenak dan melihat kembali hubungan antara orang tua dan anak,” katanya.

Momen paling berkesan ketika Sonia membacakan beberapa penggalan novel dengan penghayatan yang kuat. Kalimat-kalimat yang sebelumnya hanya hadir sebagai teks memperoleh daya hidup berbeda. J.S. Khairen tampak tersenyum sambil menggeleng pelan. Ia mengaku baru menyadari bahwa kalimat-kalimat yang ditulisnya dapat menghadirkan daya emosional berbeda ketika dihidupkan melalui pembacaan yang tepat.

Diskusi buku “Rumah” karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Sepanjang diskusi, pembicaraan berulang kali kembali pada relasi anak dan orang tua. Novel Rumah tidak menggambarkan keluarga sebagai ruang yang selalu menghadirkan kehangatan. Sebaliknya, keluarga juga dapat menjadi sumber luka yang membentuk perjalanan hidup seseorang. Namun, luka bukan akhir dari segalanya. Novel ini memperlihatkan bahwa memaafkan tidak identik dengan melupakan, melainkan membuka kemungkinan untuk melihat masa lalu dari sudut pandang berbeda. Tema-tema itulah yang sedari awal menjadi pokok pembahasan dalam diskusi buku tersebut.

Dalam pembacaan saya terhadap novel tersebut, salah satu bagian yang paling menarik adalah keberanian J.S. Khairen menghadirkan pertanyaan yang jarang diucapkan secara terbuka: “Kalau ada anak durhaka, mengapa tidak ada orang tua durhaka?”. Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk menghakimi salah satu pihak. Sebaliknya, ia mengajak pembaca melihat relasi dalam keluarga secara lebih adil dan manusiawi. Novel ini memperlihatkan bahwa setiap orang pasti membawa luka dan pergulatannya masing-masing.

Sesi foto bersama pada diskusi buku “Rumah” karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026│Foto: Dok. SLF

Selama hampir satu setengah jam, percakapan terus bergerak dari sastra menuju kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta tidak lagi berhenti pada tokoh, alur, atau teknik penceritaan. Banyak di antaranya berbagi pengalaman tentang keluarga, tentang rumah yang dirindukan, juga rumah yang ingin mereka tinggalkan. Pada titik itu, novel tidak lagi sekadar menjadi bahan diskusi, tetapi menjadi jembatan untuk mempercakapkan pengalaman-pengalaman yang acap kali sulit diungkapkan.

Sebagai pembedah, saya datang untuk membicarakan sebuah karya sastra. Namun, diskusi pagi itu memperlihatkan bahwa yang dibicarakan sesungguhnya bukan hanya sebuah novel. Yang hadir dalam percakapan adalah pengalaman banyak orang tentang keluarga, luka, pengampunan, dan kerinduan untuk pulang.

Barangkali itulah yang membuat Rumah terasa dekat dengan banyak pembaca. Sebab, hampir setiap orang pernah mencari tempat untuk kembali. Hanya saja, tidak semua sedang mencari alamat yang sama. Ada yang ingin pulang kepada keluarganya. Ada yang sedang berdamai dengan masa lalunya. Ada pula yang sedang menempuh perjalanan pulang kepada Tuhan.[T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: JS KhairennovelSastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

Next Post

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
0
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

Read moreDetails

Band Legendaris Bali Bangkitkan Nostalgia di Panggung Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026
0
Band Legendaris Bali Bangkitkan Nostalgia di Panggung Festival Seni Bali Jani 2026

RASA rindu terhadap lagu-lagu Bali yang sempat mewarnai awal dekade 2000-an terobati dalam Pergelaran Musik "Bintang 5 Musik Jani" persembahan...

Read moreDetails

Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026
0
Dermaga Seni Buleleng Suguhkan “Sura Atma”, Ajak Penonton Merenungi Makna Kehidupan

TAWA penonton sesekali pecah mengikuti dialog-dialog jenaka yang menghidupkan panggung. Namun perlahan suasana berubah. Musik mengalun semakin sendu, puisi dilantunkan...

Read moreDetails

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
0
Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’
Ulas Pentas

Paradoks Pengkhianatan dan Teologi Tubuh dalam ‘The Last Poison’

MALAM pembukaan Festival Bale Nagi 2026 di Taman Kota Felix Fernandez, Larantuka, Flores Timur, NTT, menyuguhkan sebuah pertunjukan yang memicu...

by Anselmus Dore Woho Atasoge
July 31, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

by Sugi Lanus
July 31, 2026
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit
Ulas Film

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

by Angga Wijaya
July 31, 2026
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud
Ulas Rupa

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra
Kritik Seni

Klinik Seni Taxu Itu Akhirnya Cuma Urban Legend di Bali—Tanggapan Tulisan Made Chandra

TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran...

by Savitri Sastrawan
July 30, 2026
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew
Ulas Rupa

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

by Angga Wijaya
July 30, 2026
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer
Ulas Rupa

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

by Hartanto
July 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co