1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 31, 2026
in Ulas Film
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

Proses pengambilan gambar film "Nisakala yang Menari" | Foto: Dokumentasi Ucha Kanha Production

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara “cak… cak… cak…” yang menggema dari lingkaran para penari. Di antara kesibukan itu, seorang perempuan sesekali mengangkat telepon genggamnya, memperhatikan komposisi gambar, lalu memberikan arahan kepada para pemain.

Tak ada kamera sinema berukuran besar. Tak ada lampu sorot, rel kamera, ataupun kru produksi dalam jumlah puluhan. Peralatan yang mereka miliki hanyalah sebuah iPhone. Namun dari perangkat sederhana itulah sebuah cerita perlahan dibangun.

Ni Putu Sri Sukmawati, S.Pd., atau yang akrab disapa Sukma Uma | Foto: Dokumentasi Ucha Kanha Production

Perempuan itu adalah Ni Putu Sri Sukmawati, S.Pd., atau yang akrab disapa Sukma Uma, guru Seni Budaya sebuah SMA di Tabanan, sekaligus pembina Teater BISMA SMA Negeri 1 Kuta Selatan. Hari itu ia tidak hanya menjadi sutradara. Ketika kebutuhan produksi menuntut, ia juga turun menjadi pemain, mengatur jalannya syuting, sekaligus memastikan murid-muridnya tetap menikmati proses berkarya.

Beberapa bulan kemudian, film pendek berjudul Niskala yang Menari itu dinobatkan sebagai Juara Favorit dalam Lomba Film Pendek Ekonomi Kreatif Badung Bercerita Vol. 1: Creativity in Motion.

Namun penghargaan itu hanyalah ujung dari sebuah perjalanan. Di baliknya tersimpan kisah tentang pendidikan, kepercayaan, kerja kolektif, dan keyakinan bahwa kreativitas tidak pernah bergantung pada mahalnya peralatan.

Bagi Sukma Uma, film itu bukan semata-mata karya yang diperlombakan. Ia adalah ruang belajar.

Cerita Itu Berawal dari Seorang Murid

Inspirasi Niskala yang Menari lahir bukan dari ruang rapat atau hasil riset panjang. Ia tumbuh dari pengamatan sederhana seorang guru terhadap muridnya sendiri.

Suatu hari, ketika berkumpul bersama para siswa, Sukma Uma kembali memperhatikan salah seorang murid yang memiliki kemampuan menari. Bakat itu ternyata tidak berhenti sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

Siswa tersebut telah bergabung dengan kelompok tari kecak di kawasan Melasti, Ungasan. Dari sana ia memperoleh penghasilan untuk membantu biaya sekolah sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di mata sebagian orang, kisah itu mungkin tampak biasa. Namun bagi Sukma Uma, ada nilai kemanusiaan yang layak diceritakan.

Poster film “Niskala yang Menari” | Dokumentasi Ucha Kanha Production

“Idenya memang tercetus ketika kami sedang berkumpul dan melihat bahwa salah satu murid saya memiliki bakat menari. Dia sudah bisa menghasilkan uang untuk sekolahnya dan juga untuk kehidupan sehari-harinya karena bergabung dengan kelompok tari kecak di daerah Melasti, Ungasan,” katanya.

Pernyataan itu menjadi fondasi cerita yang kemudian berkembang menjadi sebuah film. Sukma Uma tidak tertarik menciptakan kisah yang terlalu jauh dari kehidupan para pemainnya. Ia justru memilih mengangkat pengalaman yang benar-benar mereka alami.

Dengan cara itu, para pemain tidak sekadar memerankan tokoh. Mereka sedang menghidupkan kembali pengalaman hidupnya sendiri. Pendekatan seperti inilah yang membuat Niskala yang Menari terasa dekat dengan kenyataan. Tidak ada drama yang dipaksakan, juga idak ada konflik yang dibuat berlebihan.

Yang hadir adalah kehidupan sehari-hari masyarakat Bali, ketika seni tradisi bukan hanya menjadi warisan budaya, melainkan juga menjadi jalan untuk bertahan hidup.

Berkarya dengan Apa yang Dimiliki

Setelah ide mulai menemukan bentuknya, tantangan berikutnya segera datang. Waktu menuju perlombaan semakin sempit. Tim tidak memiliki kesempatan menyiapkan produksi secara ideal.

Peralatan yang tersedia pun sangat terbatas. Namun Sukma Uma memilih untuk tidak menjadikan keadaan itu sebagai alasan berhenti berkarya.

“Proses penggarapannya sangat sederhana. Kami menggunakan alat yang sederhana, yaitu kamera iPhone. Kami tidak menggunakan alat-alat yang lain. Murni hanya menggunakan iPhone,” ujarnya.

Keputusan itu lahir dari kebutuhan. Namun dalam prosesnya, keterbatasan justru berubah menjadi kekuatan. Telepon genggam yang biasanya digunakan untuk berkomunikasi berubah fungsi menjadi kamera produksi. Tanpa kru besar, perangkat mahal, dan tanpa teknologi yang rumit.

Yang bekerja sesungguhnya adalah mata yang peka melihat kehidupan dan hati yang percaya bahwa cerita yang baik tidak pernah ditentukan oleh harga kamera.

Perkembangan teknologi memang membuat siapa saja memiliki kesempatan membuat film. Namun teknologi hanyalah alat. Yang menentukan tetaplah manusia di belakangnya.

Keterbatasan peralatan bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi tim produksi. Menjelang batas akhir pengumpulan karya, waktu terus bergerak lebih cepat daripada persiapan yang mereka lakukan. Jadwal syuting harus segera ditentukan, sementara masih ada berbagai kebutuhan yang belum terpenuhi.

Salah satunya adalah pemain. Dalam produksi film, mencari pemeran yang sesuai biasanya membutuhkan proses audisi, pembacaan naskah, hingga latihan agar para aktor memahami karakter yang akan dimainkan. Namun kesempatan itu nyaris tidak dimiliki tim Niskala yang Menari.

Waktu sudah terlalu mepet. Alih-alih menunda produksi, Sukma Uma memilih mengambil keputusan yang tidak biasa. Ia turun langsung ke depan kamera.

“Karena menjelang lomba situasinya sudah kepepet waktu. Mencari pemain juga sepertinya sudah tidak memungkinkan. Maka sebagai sutradara, saya pun turun bermain memerankan tokoh ibu,” katanya.

Keputusan itu bukan lahir karena keinginan tampil sebagai aktris. Sebaliknya, ia muncul dari kesadaran bahwa sebuah karya tidak akan pernah selesai apabila setiap persoalan selalu ditunggu penyelesaiannya oleh orang lain.

Sebagai guru, Sukma Uma ingin menunjukkan kepada murid-muridnya bahwa pemimpin tidak hanya pandai memberi instruksi. Seorang pemimpin juga harus siap turun tangan ketika keadaan membutuhkannya.

Sikap itulah yang kemudian menjadi teladan bagi para siswa. Mereka melihat langsung bagaimana guru yang selama ini berdiri di depan kelas rela mengambil peran apa pun agar sebuah karya dapat diselesaikan bersama.

Semua Dimulai dari Duduk Bersama

Sebelum satu adegan pun direkam, Sukma Uma mengumpulkan seluruh anggota tim. Tidak ada rapat formal dengan istilah-istilah perfilman yang rumit. Mereka duduk melingkar, berdiskusi, dan menyusun rencana secara sederhana.

Ni Putu Sri Sukmawati, S.Pd., atau yang akrab disapa Sukma Uma | Foto: Dokumentasi Ucha Kanha Production

Setiap orang diberi kesempatan memahami cerita yang akan dibuat. Apa yang hendak disampaikan? Siapa mengerjakan apa? Lokasi mana yang harus didatangi Adegan mana yang lebih dulu direkam?

“Yang pertama kami kumpul dulu dengan anak-anak. Kami tentukan apa yang harus kami lakukan. Kemudian kami susun draf, menentukan lokasi, lalu setelah itu baru melakukan eksekusi di lapangan,” ujar Sukma Uma.

Proses tersebut menunjukkan cara Sukma Uma memandang pendidikan. Ia tidak menempatkan siswa hanya sebagai pelaksana. Mereka adalah bagian dari proses pengambilan keputusan.

Bagi Sukma Uma, sebuah film bukan milik sutradara seorang diri. Film adalah hasil kerja bersama yang hanya dapat terwujud apabila setiap orang memahami tujuan yang sama.

Karena itulah, diskusi menjadi tahap yang sangat penting. Di sana, setiap gagasan mendapat ruang, setiap pendapat didengarkan, dan setiap keputusan diambil secara kolektif.

Setelah rencana produksi selesai disusun, mereka mulai berburu lokasi. Lagi-lagi, keterbatasan anggaran membuat pilihan mereka sangat sederhana.

Salah satu rumah milik siswa dipilih sebagai lokasi utama. Tidak ada dekorasi yang dibuat khusus atau set yang dibangun layaknya studio film.

Rumah itu dipertahankan sebagaimana adanya agar suasana yang muncul terasa alami. “Kami menggunakan salah satu rumah dari murid saya. Kemudian kami melakukan pengambilan gambar di daerah Melasti,” kata Sukma Uma.

Pilihan tersebut memperlihatkan bagaimana film ini tumbuh dari kehidupan sehari-hari. Rumah itu bukan sekadar latar. Ia menjadi bagian dari cerita, menghadirkan suasana yang akrab dengan kehidupan para pemainnya sendiri.

Sementara untuk adegan tari kecak, seluruh tim bergerak menuju Pantai Melasti, tempat tokoh yang menginspirasi film itu benar-benar menjalani aktivitasnya sebagai penari.

Pilihan itu membuat batas antara realitas dan film menjadi sangat tipis. Yang direkam kamera bukan dunia rekaan, melainkan kehidupan yang memang sedang berlangsung.

Menghormati Tradisi

Membawa kamera ke lingkungan masyarakat tentu tidak dapat dilakukan begitu saja. Apalagi ketika pengambilan gambar melibatkan kelompok tari kecak yang hidup dalam ruang sosial dan budaya masyarakat adat Bali.

Sukma Uma memahami betul pentingnya menjaga etika. Karena itu, sebelum proses syuting dimulai, ia bersama tim terlebih dahulu meminta izin kepada seluruh pihak yang terkait.

“Tentunya sudah dengan izin kepala desa, ketua sekaa kecak, dan juga izin kepada anggota sekaa kecak yang lain,” tuturnya.

Bagi Sukma Uma, proses kreatif tidak boleh mengabaikan penghormatan terhadap masyarakat yang menjadi bagian dari cerita. Film memang karya seni, namun seni tidak pernah berdiri sendiri.

Ia selalu lahir dari ruang sosial tempat manusia hidup bersama. Karena itu, setiap proses penciptaan harus berjalan berdampingan dengan rasa hormat kepada komunitas yang ikut membentuknya.

Nilai seperti inilah yang secara tidak langsung dipelajari para siswa selama produksi berlangsung. Mereka belajar bahwa menjadi seniman bukan hanya soal menghasilkan karya yang indah, tetapi juga memahami etika ketika bekerja bersama masyarakat.

Proses pengambilan gambar film “Nisakala yang Menari” | Foto: Dokumentasi Ucha Kanha Production

Bagi Sukma Uma, keberhasilan sebuah film tidak pernah diukur hanya dari hasil akhirnya. Yang jauh lebih penting adalah apa yang dipelajari setiap orang selama proses penciptaannya. Karena itu, sejak awal ia tidak ingin para siswa sekadar menjadi kru yang menjalankan perintah. Ia ingin mereka tumbuh menjadi individu yang mampu berpikir, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang dipilihnya.

Selama produksi berlangsung, para siswa tidak hanya memegang kamera atau membantu memindahkan properti. Mereka ikut merancang alur kerja, berdiskusi mengenai pengambilan gambar, hingga mencari solusi ketika menemui kendala di lapangan.

Di situlah Sukma Uma melihat film sebagai ruang pendidikan yang sesungguhnya.

“Apa yang bisa saya berikan kepada mereka adalah pelajaran secara tidak langsung bagaimana memanajemen orang lain, bagaimana kita membuat sebuah karya yang berkualitas, kemudian bagaimana kita bisa menyelesaikan karya itu dengan baik,” katanya.

Kalimat itu memperlihatkan cara pandangnya sebagai seorang pendidik. Film bukan semata-mata media ekspresi artistik, melainkan sarana membangun karakter. Setiap tahapan produksi mengandung pelajaran yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.

Ketika seorang siswa diminta mengatur jadwal syuting, ia belajar mengelola waktu. Saat harus berkomunikasi dengan banyak pihak, ia belajar membangun hubungan dengan orang lain.

Ketika terjadi perbedaan pendapat di tengah proses kreatif, ia belajar mendengarkan sekaligus menyampaikan gagasan secara dewasa.

Semua pengalaman itu membentuk kepercayaan diri yang tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca teori.

Tidak Ada Guru yang Paling Tahu

Di tengah proses produksi, Sukma Uma sengaja menghapus jarak antara guru dan murid. Ia tetap menjadi pembimbing, tetapi tidak menempatkan dirinya sebagai sosok yang paling mengetahui segalanya.

Ia justru membuka ruang agar setiap anggota tim dapat menyumbangkan gagasan.

“Saya sebagai pelatih, pembina, dan sekaligus juga rekan kerja mereka menerapkan sistem bahwa kita sharing,” ujarnya.

Kata sharing menjadi prinsip yang terus dipegang selama produksi Niskala yang Menari. Dalam setiap diskusi, tidak ada ide yang langsung dianggap salah. Semua usulan dibicarakan bersama, dan seemua kemungkinan dipertimbangkan.

Keputusan diambil setelah seluruh anggota tim merasa didengar. “Kalau kalian punya ide, dituangkan. Ide-nya nanti kita godok bersama-sama. Kita garap bersama-sama,” kata Sukma Uma.

Bagi para siswa, cara bekerja seperti itu menghadirkan pengalaman yang berbeda. Mereka tidak lagi merasa sebagai pelaksana instruksi guru. Mereka menjadi bagian dari proses penciptaan.

Setiap keputusan terasa sebagai keputusan bersama , dan sebuah keberhasilan menjadi milik bersama. Begitu pula jika muncul kesalahan, seluruh tim ikut bertanggung jawab untuk memperbaikinya.

Budaya seperti ini melahirkan rasa memiliki terhadap karya. Ketika seseorang merasa memiliki sebuah pekerjaan, ia akan mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.

Solidaritas yang Tumbuh di Balik Kamera

Mungkin penonton hanya menyaksikan film berdurasi beberapa menit. Namun di balik durasi yang singkat itu, ada berjam-jam diskusi, pengambilan gambar yang diulang, perpindahan lokasi, hingga penyesuaian jadwal seluruh anggota tim.

Semua itu hanya dapat dijalani apabila ada solidaritas. Sukma Uma percaya bahwa solidaritas bukan sesuatu yang diajarkan melalui ceramah. Solidaritas tumbuh ketika orang-orang bekerja bersama menghadapi persoalan yang sama.

Karena itu, ia tidak pernah membiarkan satu orang memikul seluruh beban produksi. Setiap anggota diberi tanggung jawab sesuai kemampuannya, keberhasilan dirayakan bersama dan setiap kesulitan dihadapi secara kolektif.

Proses pengambilan gambar film “Nisakala yang Menari” | Foto: Dokumentasi Ucha Kanha Production

Bagi Sukma Uma, itulah makna sebenarnya dari berkesenian. Seni tidak hanya menghasilkan pertunjukan atau film, tetapi seni juga membangun hubungan antarmanusia. Ia melatih seseorang untuk saling percaya, saling mendukung, dan saling menghargai.

Nilai-nilai seperti inilah yang ingin diwariskan kepada murid-muridnya melalui Niskala yang Menari. Fiilm mungkin selesai diputar dalam hitungan menit, tetapi pelajaran tentang kerja sama akan terus mereka bawa ke mana pun kehidupan mengantarkan mereka.

Ketika nama Niskala yang Menari diumumkan sebagai Juara Favorit dalam ajang Lomba Film Pendek Ekonomi Kreatif Badung Bercerita Vol. 1: Creativity in Motion, tepuk tangan pun pecah. Bagi sebagian orang, kemenangan itu mungkin hanya berarti bertambahnya satu daftar prestasi. Namun bagi Sukma Uma dan murid-muridnya, penghargaan tersebut adalah pengakuan atas sebuah proses yang dijalani dengan kesungguhan.

Mereka teringat kembali pada hari-hari ketika harus menyusun cerita dalam waktu yang sempit, mencari lokasi, meminta izin kepada masyarakat, hingga merekam setiap adegan hanya dengan sebuah telepon genggam. Semua dilakukan tanpa jaminan bahwa film itu akan membawa pulang penghargaan.

Yang mereka miliki hanyalah keyakinan bahwa cerita itu layak disampaikan. Pada akhirnya, keyakinan itu menemukan jalannya sendiri.

Namun Sukma Uma tidak ingin murid-muridnya berhenti pada euforia kemenangan. Baginya, sebuah piala akan berdebu jika hanya dipajang di lemari. Sebaliknya, pengalaman yang diperoleh selama proses berkarya akan terus hidup, bahkan ketika mereka telah meninggalkan bangku sekolah.

Ia percaya bahwa keberhasilan bukan semata-mata ditentukan oleh hasil akhir, melainkan oleh keberanian untuk memulai dan ketekunan menyelesaikan apa yang telah dimulai. Dalam dunia pendidikan, pelajaran seperti itulah yang paling berharga.

Seni sebagai Jalan Membentuk Karakter

Di tengah tuntutan pendidikan yang semakin menekankan capaian akademik, kisah Niskala yang Menari menawarkan perspektif lain. Seni ternyata bukan pelengkap kurikulum, melainkan ruang tempat berbagai nilai kehidupan dipelajari secara nyata.

Melalui film, siswa belajar bekerja sama tanpa diminta menghafal definisi kolaborasi. Mereka belajar memimpin tanpa harus mengikuti seminar kepemimpinan, belajar menghormati masyarakat ketika harus meminta izin kepada kepala desa dan sekaa kecak sebelum pengambilan gambar dilakukan.

Mereka belajar menghargai pendapat orang lain ketika setiap ide dibahas bersama dalam forum kecil. Dan mereka belajar bahwa sebuah karya tidak pernah lahir dari satu orang saja.

Seluruh pengalaman itu membentuk karakter yang mungkin tidak tercantum dalam rapor, tetapi akan sangat menentukan perjalanan mereka di masa depan.

Sukma Uma tidak sedang mengajarkan cara membuat film semata. Ia sedang mengajarkan cara menjadi manusia yang mampu bekerja bersama orang lain.

Dari Ruang Kelas ke Ruang Kehidupan

Selama bertahun-tahun menjadi guru Seni Budaya dan pembina Teater BISMA, Sukma Uma menyaksikan banyak murid datang dengan rasa malu, kurang percaya diri, atau bahkan takut menyampaikan pendapat. Namun melalui proses berkesenian, perlahan-lahan mereka berubah.

Ada yang mulai berani berbicara di depan banyak orang, ada yang menemukan bakat kepemimpinannya ketika mengatur sebuah produksi. Juga, ada pula yang menyadari bahwa dirinya mampu menciptakan sesuatu yang sebelumnya dianggap mustahil.

Film menjadi jembatan yang menghubungkan ruang kelas dengan kehidupan nyata. Apa yang dipelajari tidak berhenti sebagai teori. Ia langsung dipraktikkan, diuji, dan dirasakan manfaatnya.

Karena itulah Sukma Uma selalu memberi ruang kepada murid-muridnya untuk mengemukakan gagasan. Baginya, pendidikan bukan proses menuangkan pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan proses saling belajar.

“Kalau kalian punya ide, dituangkan. Ide-nya nanti kita godok bersama-sama. Kita garap bersama-sama,” katanya. Kalimat sederhana itu menjadi filosofi yang menghidupi seluruh proses Niskala yang Menari.

Pada akhirnya, Niskala yang Menari bukan hanya bercerita tentang seorang remaja penari kecak yang berusaha membantu biaya pendidikannya. Film ini juga menjadi potret tentang bagaimana seorang guru memilih mendidik melalui pengalaman, bukan sekadar melalui ceramah.

Proses pengambilan gambar film “Nisakala yang Menari” | Foto: Dokumentasi Ucha Kanha Production

Di balik setiap adegan yang tampil di layar, ada proses panjang yang dipenuhi diskusi, kerja sama, kepercayaan, dan semangat untuk terus belajar. Di balik kamera iPhone yang sederhana, ada keberanian untuk membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang bagi lahirnya karya yang bermakna.

Dan, di balik penghargaan Juara Favorit, ada sekelompok anak muda yang pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada trofi: pengalaman, kepercayaan diri, dan keyakinan bahwa mereka mampu menciptakan sesuatu bersama-sama.

Barangkali di situlah letak kekuatan sesungguhnya dari Niskala yang Menari. Film ini tidak hanya selesai ketika kredit penutup bergulir. Ia terus hidup dalam ingatan para murid yang pernah mengerjakannya, dalam langkah seorang guru yang tetap percaya pada kekuatan seni, serta dalam setiap penonton yang menyadari bahwa cerita-cerita besar sering kali lahir dari kehidupan yang paling sederhana.

Sebuah iPhone mungkin hanya alat, Pantai Melasti hanyalah lokasi, dan trofi hanyalah simbol. Namun ketika seorang guru mempercayai murid-muridnya, ketika ide-ide kecil diberi ruang untuk tumbuh, dan ketika seni dipahami sebagai jalan untuk memanusiakan manusia, lahirlah sebuah karya yang melampaui fungsi hiburan.

Niskala yang Menari menjadi bukti bahwa pendidikan yang paling membekas bukanlah pendidikan yang hanya mengajarkan cara berkarya, melainkan pendidikan yang membuat setiap orang percaya bahwa dirinya mampu memberi makna bagi kehidupan orang lain. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: filmguruPendidikansekolahsiswa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Next Post

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co