TULISAN Made Chandra berjudul “Let Them Cook: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali” menyentil pemikiran saya tentang keberadaan Klinik Seni Taxu hari ini. Sentilan itu muncul karena saya pernah menjadi dosen Chandra, bahkan sudah menjadi teman berdiskusi seni sejak sebelum saya menjadi dosennya. Saya juga termasuk orang yang mengenal dan mengagumi Bli-Bli Taxu (yang akan saya panggil demikian di tulisan ini).
Saya pun pernah menjadi bagian dari tiga pameran eks personelnya dalam setahun terakhir. Selain itu, saya juga telah berkomunitas dengan dua eks personelnya selama sekitar enam tahun terakhir.
Setelah mengenal kembali pergerakan mereka di Bali sekaligus melihat gerak-gerik mereka di ranah lain hari ini, saya justru memiliki pertanyaan besar. Dalam membahas Sejarah Seni Rupa Bali, apakah benar bahwa karena tidak mempublikasikan dirinya secara proper, Bli-Bli Taxu yang disebut-sebut pernah mengacak-ngacak arena percaturan Seni Rupa Bali kini justru nyaris tidak dikenal?
Saya jadi menangkap bahwa Bli-Bli Taxu merasa tidak worth it untuk membuat dokumentasi yang lebih lengkap mengenai dirinya sendiri sebagai sebuah pergerakan yang bisa diakses publik hari ini.
Padahal, meski sudah sekitar 25 tahun tidak aktif, para personelnya sejatinya masih ada. Mereka hanya sibuk dengan jalannya masing-masing. Namun, bargain sebagai tonggak sejarah seperti dilewatkan begitu saja oleh mereka yang katanya konon menjadi pembelok hegemoni Sanggar Dewata Indonesia (SDI) Yogyakarta dan Seni Rupa Murni STSI–ISI Denpasar pada masanya.
Simak kata katanya, ya. Sejak saya kuliah pada 2009—beberapa tahun setelah mereka nonaktif—hingga hari ini, Klinik Seni Taxu hanya hadir sebagai urban legend, atau legenda yang sifatnya intangible—pakremikan, lah. Ceritanya hidup dari dosen saya ke dosen lain, lalu ke mahasiswa, tetapi dokumentasinya nyaris tidak pernah benar-benar hadir.
Coba hari ini kita tanya mahasiswa sekarang: apakah mereka kenal dengan pergerakan Klinik Seni Taxu? Saya yakin yang bisa menjawab mungkin hanya alumni seperti Made Chandra.
Kenapa? Karena saya mengalami sendiri bagaimana ketidaktahuan mahasiswa terhadap sejarah pergerakan seni rupa di kampus. Bahkan, untuk mengenal pergerakan mahasiswa yang usianya jauh lebih muda daripada Bli-Bli Taxu saja mereka sering memilih tidak tahu, misalnya Rurung Gallery atau Djamur Komunitas.
Saya yakin mereka juga banyak yang gak ngeh kalau Dwymabim, lulusan DKV ISI Denpasar yang muralnya sekarang ada di mana-mana, awalnya berkegiatan di Djamur Komunitas. Atau bahwa salah satu pendiri Rurung Gallery adalah lulusan DKV ISI Denpasar, Wayan Subudi Swoofone.
Sekarang saya balik bertanya. Bli-Bli Taxu sendiri ngeh gak dengan kondisi ini? Apakah perjuangan mereka memang sudah sedemikian tidak worth it untuk dibicarakan kembali sebagai bagian dari pembangunan kritik seni di Bali, jika memang benar demikian? Mengapa saya justru lebih sering menemukan mereka dibicarakan—bahkan dibanggakan—oleh penulis dan kurator di luar Bali? Mengapa mereka dianotasikan dengan sangat baik dalam buku besar Seni Rupa Kontemporer Indonesia: Anotasi Bibliografi IVAA 1973–2020 yang diterbitkan Indonesian Visual Art Archive (IVAA), yang kini menjadi IVAA Contemporary Art Studies, pada masa pandemi, tetapi sampai hari ini buku itu belum beredar luas untuk publik?
Selain itu, jejak pergerakan Bli-Bli Taxu juga muncul dalam buku Adrian Vickers berjudul Balinese Art: Paintings and Drawings from 1800–2010. Buku itu pula yang disebut Chandra ketika mengatakan bahwa Klinik Seni Taxu pernah mengacak-ngacak Seni Rupa Bali hingga gaungnya terdengar di tingkat nasional.


Saya jadi ingat tulisan Putu Wirata Dwikora yang juga saya temukan di IVAA. Tulisan berjudul “Taxu dalam Pameran Pursuit of Identity: Lebur dalam Hegemoni” (surat kabar publikasinya tidak diketahui) membahas pameran “Tamarind, In Pursuit of Identity” yang digelar di Nava Gallery, Denpasar, pada 2004.
Dalam pameran itu hadir Bli-Bli Taxu, baik sebagai perupa maupun kurator. Di saat yang sama, hadir pula para perupa Sanggar Dewata Indonesia (SDI) yang selama ini mereka anggap sebagai representasi hegemoni, serta sejumlah perupa lain di luar kedua kelompok tersebut. Salah satunya adalah IGAK Murniasih.
Kurator pameran itu adalah Asmudjo J. Irianto dari Bandung, I Ngurah Suryawan dari Bali, serta Klinik Seni Taxu sendiri.
Awalnya saya mengira tulisan Dwikora akan menjadi kritik yang secara khusus membahas keberadaan Bli-Bli Taxu dalam pameran tersebut. Namun, jangan-jangan justru kritik itu masih relevan sampai hari ini.
Dwikora menyebut ada beberapa “gangguan” yang ia temukan dalam pameran tersebut.
Gangguan Pertama, Suryawan yang bersama Kamasra pernah menggelar event Mendobrak Hegemoni pada Februari 2001 – bahkan dengan manifesto f*** you segala macam – kini di Nava Gallery “berkenan” duduk semeja dengan perupa-perupa yang mereka tuding sebagai eksploitatif, eksotis, pasar, dominan, menghegemoni! Suyanto Sunario, pemilik galeri, jelas seorang pemain dalam dunia kapitalis yang niscaya punya minta pada pasar. Aneh, Suryawan membawa gerbong Klinik Seni Taxu (KST) itu ke padang rimba hegemonik yang dalam empat tahun ini mereka terjang dengan garang. Apakah mereka telah menyerah? Rupanya tidak, dan itu jadi gangguan nomor dua.
Ya, gangguan nomor dua. Dengan bergandeng mesra menggamit tangan perupa-perupa Sanggar Dewata Indonesia (SDI) yang sudah pernah digasak itu – Erawan, Wianta, Gunarsa – bahkan digambarkan terkubur dibawah batu nisan, dikencingi bocah pula – KST sebetulnya telah menyatakan kalah. Namun, uraian kuratorial Suryawan tidak menggambarkan hal itu. Ia bahkan seperti menepuk dada, mengangkat-angkat KST sebagai pemakai “mahkota baru” sementara Erawan dan yang lain-lain itu adalah pemegang “mahkota lama”. Ini kemudian menimbulkan gangguan nomor tiga.
Ya, yang ketiga adalah persoalan kejujuran intelektual. Pemahkotaan atas diri sendiri, seakan-akan telah menjadi “kekuatan baru”, seakan-akan benar-benar telah jadi “pahlawan” dan pendobrak hegemoni dari berbagai kekuatan yang ada (perupa, pers, kritikus, komunitas seni, galeri, museum, art dealer, dll), sungguh terlampau over-estimate atas kapasitas dan kualitas intelektual diri mereka sendiri. Benarkah Suryawan dan gerbong KST-nyalah yang melakukan dobrakan heroik melawan mainstream abstrak ekspresionistik yang mentransformasikan ikon-ikon kultural Bali dalam citraan modern? Benarkah KST-lah yang merintis perlawanan terhadap kuatnya pengaruh gaya Nyoman Erawan dalam pewacanaan seni rupa modern bali? Apakah selain caci makinya yang kasar, mereka juga melontarkan gagasan brilian untuk menumbangkan kuatnya mainstream abstrak ekspresionistik dengan ikonografi Bali yang Erawan adalah “raja”-nya?
Artikel Dwikora kemudian berlanjut dengan argumen bahwa masih ada sejumlah perupa lain yang juga melakukan pembacaan kritis terhadap seni rupa Bali melalui jalannya masing-masing. Karena itu, menurut Dwikora, posisi Klinik Seni Taxu tidak dapat begitu saja diposisikan sebagai satu-satunya kelompok pendobrak. Pandangan tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa sejarah seni rupa selalu dibangun melalui banyak suara, bukan hanya satu narasi.
Bagi saya, justru di situlah persoalannya. Gangguan-gangguan yang ditulis Dwikora lebih dari dua puluh tahun lalu ternyata masih terasa sebagai kejanggalan ketika saya mencoba membaca kembali posisi Bli-Bli Taxu dalam Sejarah Seni Rupa Bali hari ini.

Saya sadar, di era digital dengan budaya short-span viewing seperti sekarang, batas antara meromantisasi masa lalu dan membahas narasi yang terpinggirkan dalam seni dan budaya memang terlihat tipis. Akibatnya, kebiasaan merawat ingatan makin sulit tumbuh. Hal seperti ini juga semakin sulit diajarkan kepada mahasiswa yang terbiasa mendapatkan semuanya secara instan. Padahal, apa yang dilakukan Klinik Seni Taxu—jika memang benar mereka serius dengan gagasan-gagasannya saat itu, lalu bersedia menghadirkannya kembali dalam bentuk yang lebih tangible dan retrospektif—akan sangat membantu. Saya sudah bisa mengajarkannya kepada mahasiswa Seni Murni ISI Bali sebagai bagian dari Sejarah Seni Rupa Bali itu sendiri. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya mengenal Klinik Seni Taxu sebagai cerita dari mulut ke mulut, tetapi juga sebagai sebuah peristiwa sejarah yang dapat dipelajari, diperdebatkan, bahkan dikritik.
Lalu bagaimana dengan kejanggalan-kejanggalan yang saya sebutkan sebelumnya? Apakah semuanya memang akan diabaikan begitu saja? Apakah Bli-Bli Taxu sebagai sebuah pergerakan memang sudah tidak memiliki bargain lagi setelah dianggap melebur ke dalam hegemoni? Atau justru di situlah menariknya sejarah—bahwa sebuah gerakan tidak harus selalu dikenang karena menang, tetapi juga karena berani menggugat zamannya?
Hari ini Rektor ISI Bali, Prof. I Wayan Kun Adnyana, telah menyampaikan gagasan mengenai School of ISI Bali. Terus terang, sebagai kurator independen saya sendiri masih belum sepakat dengan penggunaan istilah school. Namun, terlepas dari itu, saya justru melihat ada peluang untuk mulai menata kembali historiografi Seni Rupa Bali secara lebih utuh. Jika memang ingin membangun sebuah school, bukankah salah satu fondasinya adalah sejarah? Dan jika berbicara sejarah, bukankah semua simpul penting perlu dihadirkan kembali, termasuk simpul-simpul yang selama ini hanya hidup sebagai cerita lisan?
Pertanyaannya kemudian: Apakah Bli-Bli Taxu akan menjadi bagian dari narasi itu? Atau mereka akan tetap menjadi urban legend yang hanya diceritakan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya? Tanpa arsip; tanpa dokumentasi yang utuh; tanpa kesempatan bagi generasi baru untuk membaca, mengkritik, bahkan mungkin tidak sepakat dengan mereka? Kalau memang begitu, menurut saya, yang hilang bukan hanya sejarah Klinik Seni Taxu, tetapi juga salah satu bab penting dalam sejarah Seni Rupa Bali itu sendiri.[T]
Penulis: Savitri Sastrawan
Editor: Jaswanto






























