ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai keterampilan mengolah material menjadi benda pakai atau benda hias, kini batas-batas itu semakin kabur. Kriya tidak lagi berhenti pada persoalan teknik, fungsi, atau keindahan bentuk. Ia bergerak menjadi ruang perenungan, tempat material berbicara tentang manusia, kebudayaan, lingkungan, dan perubahan zaman. Pergeseran inilah yang membuat banyak pameran kriya kontemporer tidak lagi menawarkan sekadar kekaguman terhadap kecakapan tangan, melainkan juga mengajak publik membaca gagasan yang bekerja di balik material.
Semangat tersebut terasa kuat dalam Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma, pameran kriya internasional yang diselenggarakan di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, pada 5–18 Juli 2026. Tema besar pameran ini mempertemukan tiga kata kunci yang saling bertaut, yakni prakriti sebagai alam yang menjadi sumber kehidupan, pustaka sebagai pengetahuan yang diwariskan lintas generasi, dan padma sebagai simbol pertumbuhan sekaligus keindahan. Melalui tema itu, kriya diposisikan bukan hanya sebagai hasil keterampilan, melainkan sebagai cara memahami hubungan manusia dengan dunia yang dihuninya.
Di antara puluhan karya yang dipamerkan, Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen karya Dian Prio Gunanto atau Dyan Brew menghadirkan pengalaman yang segera memancing rasa ingin tahu. Tidak ada figur manusia. Tidak ada wajah yang menyampaikan ekspresi dramatis. Yang terlihat justru puluhan semut logam yang bergerak di atas potongan kayu, akar, dan lumut, mengelilingi seekor semut ratu yang berukuran jauh lebih besar.
Dalam sejarah seni, binatang sering dipakai sebagai metafora untuk membicarakan manusia. Burung melambangkan kebebasan, harimau menjadi simbol keberanian, sementara kuda kerap dihubungkan dengan kekuatan dan kesetiaan. Semut jarang memperoleh tempat yang sama. Ia terlalu kecil, terlalu akrab dengan kehidupan sehari-hari, bahkan lebih sering dianggap gangguan daripada subjek yang layak direnungkan. Justru karena itu pilihan Dyan Brew menjadi menarik. Ia mengangkat makhluk yang nyaris tak terlihat menjadi pusat perhatian.
Namun, semut dalam karya ini bukan semut dalam pengertian biologis. Ia adalah bahasa simbolik. Dalam artist statement, Dyan Brew menjelaskan bahwa koloni semut merepresentasikan rakyat atau masyarakat yang bekerja bersama membangun kehidupan. Sementara semut ratu menjadi lambang kepemimpinan yang lahir melalui kepercayaan, kerja keras, dan pengorbanan bersama. Dengan demikian, karya ini tidak sedang mengisahkan kehidupan serangga, melainkan hubungan antara masyarakat, kekuasaan, dan tanggung jawab kolektif.
Judul Build the Queen menjadi penting untuk diperhatikan. Daya tariknya bukan terletak pada kata queen, melainkan pada kata build. Selama ini kita terbiasa berpikir bahwa pemimpin adalah sosok yang membangun masyarakat. Dyan Brew justru membalik logika tersebut. Yang dibangun bukan masyarakat oleh pemimpin, melainkan pemimpin oleh masyarakat.
Perubahan sudut pandang ini sederhana, tetapi mendasar. Ia mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak pernah lahir dari ruang kosong. Seorang pemimpin dibentuk oleh nilai-nilai yang hidup dalam masyarakatnya. Ia lahir dari pendidikan yang diterimanya, kebiasaan yang tumbuh di sekitarnya, budaya politik yang berkembang, dan keputusan-keputusan kecil yang diambil warga setiap hari. Dalam arti tertentu, setiap masyarakat sedang membangun pemimpinnya sendiri.

Pembacaan seperti ini terasa relevan dengan kehidupan demokrasi dewasa ini. Perhatian publik sering terpusat pada figur. Ketika keadaan membaik, pujian diarahkan kepada pemimpin. Ketika keadaan memburuk, kesalahan pun dibebankan kepadanya. Jarang sekali kita bertanya sejauh mana masyarakat ikut membentuk kondisi tersebut. Dyan Brew menggeser fokus pembicaraan. Ia mengajak kita melihat kerja kolektif yang berlangsung di balik lahirnya kekuasaan.
Gagasan itu diterjemahkan secara cerdas melalui komposisi visual. Semut ratu memang menjadi pusat perhatian karena ukurannya lebih besar, tetapi mata penonton tidak berhenti di sana. Puluhan semut pekerja yang menyebar di berbagai arah menciptakan ritme penglihatan yang membuat perhatian terus bergerak. Tanpa kehadiran mereka, ratu kehilangan makna. Tanpa koloni, kepemimpinan hanyalah sebuah tubuh yang berdiri sendirian.
Di titik inilah karya Dyan Brew mulai melampaui persoalan politik. Ia berbicara mengenai cara manusia memahami kehidupan bersama. Bahwa setiap struktur sosial, sekecil apa pun, sesungguhnya bertumpu pada kerja-kerja yang sering tidak terlihat. Sejarah mungkin mencatat nama para pemimpin, tetapi kehidupan sehari-hari dibangun oleh mereka yang bekerja dalam diam.
Akan tetapi, Build the Queen tidak berhenti pada refleksi mengenai kepemimpinan. Semakin lama karya ini diamati, semakin terasa bahwa semut hanyalah pintu masuk menuju persoalan yang lebih luas. Potongan kayu, akar, lumut, dan lanskap yang mengelilingi koloni itu perlahan menggeser perhatian kita kepada hubungan manusia dengan alam. Di sanalah karya ini memperoleh kedalaman filosofisnya.
Jika pada bagian awal karya ini mengajak kita meninjau ulang hubungan antara masyarakat dan kepemimpinan, maka lapisan berikutnya membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar, yaitu, hubungan manusia dengan bumi yang menjadi tempat seluruh kehidupan berlangsung. Di sinilah Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen bergerak melampaui kritik sosial dan memasuki wilayah etika ekologis.
Kehadiran potongan kayu, akar, tanah, dan lumut bukanlah keputusan artistik yang bersifat dekoratif. Lanskap itu membentuk ruang hidup bagi koloni semut sekaligus menjadi penanda bahwa setiap kehidupan selalu bergantung pada ekosistem yang lebih besar. Semut tidak dapat dipisahkan dari tanah, tanah tidak dapat dipisahkan dari pohon, dan pohon tidak dapat dipisahkan dari bumi yang menopangnya. Tidak ada satu pun unsur yang berdiri sendiri.
Dalam artist statement, Dyan Brew mempersonifikasikan bumi sebagai Ibu Bumi, sosok yang memberi kehidupan bagi seluruh makhluk. Hutan dipandang sebagai ruang tempat berbagai makhluk saling bergantung, sementara kerusakan hutan dipahami sebagai rusaknya keseimbangan yang menopang kehidupan bersama.

Menariknya, Dyan Brew tidak memilih bahasa visual yang dramatis. Ia tidak menghadirkan pohon tumbang, kobaran api, atau alat berat yang merobek hutan. Yang tampak justru sisa-sisa kehidupan, misalnya potongan kayu yang telah terpisah dari batangnya, akar yang muncul ke permukaan, dan lumut yang perlahan tumbuh di atas permukaan yang keras. Kesunyian visual itu justru menghadirkan daya gugah yang lebih kuat daripada gambaran bencana yang eksplisit.
Pilihan tersebut menunjukkan kedewasaan artistik. Karya ini tidak mengarahkan emosi penonton melalui efek yang berlebihan. Ia memberi ruang bagi penonton untuk membangun kesadarannya sendiri. Yang dihadirkan bukan tragedi, melainkan jejak. Dan sering kali, jejak mampu berbicara lebih panjang daripada peristiwa itu sendiri.
Dalam konteks itu, semut memperoleh makna baru. Ia bukan hanya simbol masyarakat, tetapi juga bagian dari ekosistem yang rapuh. Kehidupan koloni hanya mungkin berlangsung apabila ruang hidupnya tetap terjaga. Dengan demikian, pembicaraan mengenai kepemimpinan secara perlahan berubah menjadi pembicaraan mengenai tanggung jawab manusia terhadap alam.
Di sinilah konsep memayu hayuning bawana menjadi poros pemikiran karya ini. Dalam tradisi Jawa, ungkapan tersebut lazim dimaknai sebagai upaya menjaga keselamatan, keharmonisan, dan keindahan dunia. Namun Dyan Brew tidak memaknainya sebagai slogan moral yang abstrak. Ia menghubungkannya dengan konsep jagad cilik dan jagad gedhe, yaitu dunia batin manusia dan dunia yang mengelilinginya. Keduanya dipahami sebagai dua ruang yang saling memengaruhi. Kerusakan pada alam tidak pernah benar-benar bermula dari alam, melainkan dari kerusakan cara manusia memandang dan memperlakukan kehidupan.
Pembacaan ini mengingatkan bahwa krisis ekologis pada hakikatnya adalah krisis kebudayaan. Persoalannya bukan semata-mata jumlah pohon yang ditebang atau luas hutan yang hilang, melainkan cara berpikir yang menempatkan alam sebagai objek eksploitasi. Ketika keuntungan ekonomi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, pohon berubah menjadi angka, sungai menjadi saluran produksi, dan tanah kehilangan maknanya sebagai ruang hidup.
Dyan Brew tidak menggurui penonton untuk mencintai alam. Ia menawarkan sesuatu yang lebih subtil, yakni, kesadaran bahwa manusia sendiri merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang sama. Koloni semut menjadi metafora tentang saling ketergantungan. Tidak ada satu individu yang dapat bertahan sendirian. Begitu pula manusia. Kehidupan sosial dan kehidupan ekologis merupakan dua sisi dari mata uang yang sama.
Pembacaan tersebut terasa semakin relevan ketika ditempatkan dalam konteks Becoming: Prakriti-Pustaka-Padma. Tema pameran ini tidak hanya berbicara tentang material atau teknik kriya, tetapi tentang proses menjadi. Alam (prakriti) dipahami sebagai sumber kehidupan, pengetahuan (pustaka) menjadi warisan yang membentuk cara manusia memandang dunia, sementara padma melambangkan pertumbuhan menuju kebijaksanaan. Karya Dyan Brew berhasil mempertemukan ketiganya dalam satu bahasa visual yang utuh.
Namun, kekuatan Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen tidak hanya terletak pada gagasan yang diusungnya. Karya ini juga berhasil menunjukkan bagaimana bahasa kriya dapat berkembang menjadi bahasa estetik yang kompleks. Material tidak sekadar menjadi medium penyampai pesan, tetapi ikut membentuk cara penonton mengalami karya. Di situlah pembacaan terhadap aspek visual dan artistiknya menjadi penting.
Kekuatan utama Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen sesungguhnya tidak berhenti pada gagasan yang dibawanya. Banyak karya seni mampu mengangkat isu kepemimpinan atau lingkungan, tetapi tidak semuanya berhasil mengubah gagasan itu menjadi pengalaman estetik. Di tangan Dyan Brew, konsep tidak berdiri di luar bentuk. Keduanya tumbuh bersamaan, saling menghidupi, sehingga penonton tidak merasa sedang membaca sebuah manifesto yang diterjemahkan ke dalam objek tiga dimensi. Makna justru lahir dari perjumpaan dengan material, ruang, dan ritme visual yang dibangun instalasi ini.
Hal pertama yang patut diperhatikan adalah cara karya ini mengelola ruang. Instalasi tidak disusun untuk dilihat dari satu sudut pandang yang tetap. Penonton terdorong bergerak mengitari karya, mengubah jarak pandang, bahkan menundukkan tubuh agar dapat mengikuti arah gerak koloni semut. Pengalaman melihat menjadi pengalaman menjelajah. Tidak ada titik yang benar-benar final. Setiap perubahan posisi melahirkan hubungan visual yang baru.
Pilihan seperti ini memperlihatkan pemahaman Dyan Brew terhadap karakter instalasi sebagai medium. Ruang bukan sekadar tempat meletakkan objek, melainkan bagian dari struktur makna. Tubuh penonton ikut dilibatkan dalam proses pembacaan. Kita tidak hanya memandangi karya, tetapi seolah memasuki ekosistem kecil yang dibangunnya.
Komposisi karya juga menunjukkan penguasaan ritme yang menarik. Semut ratu memang menjadi pusat perhatian karena ukuran tubuhnya lebih besar, tetapi dominasi itu tidak pernah terasa mutlak. Mata segera dialihkan oleh puluhan semut pekerja yang menyebar ke berbagai arah. Mereka menciptakan pola gerak yang membuat pandangan terus berpindah dari satu titik ke titik lain. Akibatnya, perhatian penonton tidak berhenti pada figur pemimpin, melainkan kembali kepada koloni sebagai keseluruhan.

Di sinilah Dyan Brew menunjukkan kecerdikan visualnya. Ia tidak menjelaskan gagasan tentang kerja kolektif melalui teks atau simbol yang berlebihan. Ia membuat penonton mengalaminya secara langsung. Cara mata bergerak mengikuti koloni menjadi metafora bagi cara sebuah masyarakat bekerja; tidak ada satu pusat yang mampu menjelaskan keseluruhan kehidupan.
Pilihan material memperkuat pengalaman tersebut. Tubuh semut dibentuk dari logam yang keras, padat, dan tahan lama. Sebaliknya, kayu, akar, dan lumut menghadirkan sifat organik yang rapuh sekaligus hidup. Pertemuan kedua karakter material itu menghasilkan ketegangan visual yang menarik. Logam mengingatkan pada dunia industri dan campur tangan manusia, sementara kayu dan lumut menghadirkan kesan bahwa alam selalu memiliki ritmenya sendiri.
Yang menarik, Dyan Brew tidak berusaha menghilangkan karakter asli material. Tekstur kayu tetap terbaca, serat-seratnya tetap terlihat, sementara logam tetap menunjukkan pantulan cahaya dan bobot visualnya. Tidak ada upaya menyamarkan satu material menjadi material lain. Sikap artistik ini mencerminkan salah satu prinsip penting dalam tradisi kriya, yakni menghormati watak bahan. Perupa tidak memaksakan material tunduk sepenuhnya kepada kehendaknya, melainkan bekerja bersama sifat-sifat alami yang dimiliki material tersebut.
Pendekatan ini membuat karya terasa jujur. Keindahannya tidak lahir dari efek dekoratif, tetapi dari hubungan yang harmonis antara bentuk, tekstur, ruang, dan cahaya. Dyan Brew memperlihatkan bahwa kesederhanaan material tidak berarti kesederhanaan gagasan. Justru melalui benda-benda yang tampak biasa, ia membangun refleksi yang kompleks mengenai kehidupan.
Dalam konteks perkembangan kriya kontemporer Indonesia, karya ini memperlihatkan perubahan penting. Selama bertahun-tahun, kriya sering diposisikan sebagai cabang seni yang identik dengan keterampilan teknis dan fungsi benda. Kini, banyak perupa memanfaatkan bahasa kriya untuk mengolah isu-isu sosial, ekologis, hingga filosofis. Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen menjadi contoh yang meyakinkan bahwa kriya dapat menjadi medium berpikir tanpa kehilangan penghormatannya terhadap material dan proses penciptaan.
Meski demikian, karya ini juga menyisakan ruang untuk diperdebatkan. Simbol semut sebagai metafora masyarakat memang mudah dipahami sehingga pesan karya relatif cepat ditangkap. Bagi sebagian penonton, keterbacaan yang tinggi ini mungkin membuat lapisan interpretasinya terasa lebih terbatas dibanding karya-karya yang sengaja membangun ambiguitas. Namun justru di situlah pilihan artistik Dyan Brew. Ia tidak sedang menyusun teka-teki visual yang hanya dapat dipecahkan oleh kalangan tertentu. Ia ingin gagasannya dapat diakses oleh publik yang lebih luas, tanpa kehilangan kedalaman refleksinya.
Keterbukaan semacam itu merupakan kekuatan sekaligus tantangan. Karya ini mudah memasuki pengalaman penonton, tetapi tetap menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak selesai dijawab. Semakin lama dipikirkan, semakin tampak bahwa persoalan yang dibicarakan bukan hanya tentang semut, bukan hanya tentang hutan, bahkan bukan semata tentang kepemimpinan. Yang dipersoalkan adalah bagaimana manusia membangun hubungan dengan sesama, dengan alam, dan dengan masa depan yang sedang mereka ciptakan bersama.
Pada akhirnya, Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen tidak sedang menawarkan jawaban atas krisis lingkungan, kepemimpinan, atau kehidupan sosial. Kekuatan karya ini justru terletak pada kemampuannya menghubungkan ketiganya dalam satu kesadaran yang utuh. Dyan Brew memperlihatkan bahwa persoalan-persoalan yang kerap kita anggap terpisah sesungguhnya berasal dari akar yang sama: cara manusia memandang dirinya di tengah dunia.
Dalam artist statement, Dyan Brew menegaskan bahwa memayu hayuning bawana adalah ikhtiar menjaga keselamatan dan keindahan dunia dengan terlebih dahulu memperbaiki diri sendiri. Konsep jagad cilik dan jagad gedhe menjadi pengingat bahwa dunia batin manusia tidak pernah terpisah dari dunia yang mengelilinginya. Ketika keserakahan tumbuh dalam diri, ia menjelma menjadi kerusakan hutan, ketimpangan sosial, hingga penyalahgunaan kekuasaan. Sebaliknya, ketika manusia mampu merawat nurani, hubungan yang lebih adil dengan sesama dan dengan alam pun menjadi mungkin.

Di sinilah karya Dyan Brew melampaui fungsi representasi. Ia tidak sekadar menggambarkan koloni semut atau menghadirkan lanskap hutan dalam bentuk instalasi. Ia membangun sebuah cara pandang. Penonton diajak menyadari bahwa kehidupan bukanlah kumpulan individu yang berdiri sendiri, melainkan jaringan relasi yang saling menopang. Seperti koloni semut yang bergantung pada keberadaan satu sama lain, manusia pun hidup dalam keterhubungan yang tidak pernah benar-benar dapat diputus.
Pembacaan seperti itu menjadi semakin relevan pada masa ketika pembangunan sering dipahami sebagai kemampuan menguasai alam. Hutan ditebang atas nama pertumbuhan ekonomi, sungai direkayasa demi investasi, dan ruang hidup berubah menjadi komoditas. Di tengah logika pembangunan yang demikian, Build the Queen menghadirkan suara yang berbeda. Ia mengingatkan bahwa kemajuan tidak dapat diukur hanya melalui apa yang berhasil dibangun, tetapi juga melalui apa yang berhasil dipelihara.
Karya ini juga memperlihatkan posisi penting seni kriya dalam perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Selama bertahun-tahun, kriya kerap diposisikan sebagai praktik yang bertumpu pada keterampilan teknis dan nilai fungsional. Kini, batas itu semakin cair. Material tidak lagi hanya menjadi objek yang diolah, tetapi menjadi medium berpikir. Melalui kayu, logam, akar, dan lumut, Dyan Brew memperlihatkan bahwa kriya mampu mengartikulasikan persoalan sosial, ekologis, dan filosofis tanpa kehilangan kedekatannya dengan material.
Dalam konteks Becoming: Prakriti-Pustaka-Padma, karya ini menjadi contoh bagaimana tema besar pameran diterjemahkan secara utuh. Alam (prakriti) hadir bukan sekadar sebagai sumber material, tetapi sebagai dasar etika kehidupan. Pengetahuan (pustaka) tidak berhenti sebagai warisan budaya, melainkan diolah kembali menjadi bahasa visual yang relevan dengan persoalan masa kini. Sementara padma tidak dimaknai sebagai keindahan yang bersifat dekoratif, melainkan sebagai kemungkinan lahirnya harmoni antara manusia, alam, dan kebudayaan.
Yang paling mengesankan dari Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen adalah kesederhanaannya. Dyan Brew tidak menggunakan simbol-simbol yang rumit, tidak menghadirkan teknologi yang spektakuler, dan tidak bergantung pada efek visual yang memukau. Ia memilih semut, kayu, akar, dan lumut. Semua itu adalah benda-benda yang akrab dalam kehidupan sehari-hari. Namun dari unsur-unsur yang sederhana itu lahir sebuah refleksi yang luas tentang kepemimpinan, gotong royong, tanggung jawab ekologis, dan masa depan kehidupan bersama.
Barangkali, di situlah letak keberhasilan karya ini. Ia membuktikan bahwa seni tidak selalu harus menawarkan sesuatu yang baru untuk menjadi penting. Kadang-kadang, yang diperlukan hanyalah cara baru untuk melihat sesuatu yang selama ini kita anggap biasa. Semut yang setiap hari melintas di halaman rumah berubah menjadi cermin bagi masyarakat. Potongan kayu yang tampak tak bernilai berubah menjadi pengingat tentang hutan yang menopang kehidupan. Dan seorang ratu tidak lagi dipahami sebagai lambang kekuasaan, melainkan sebagai hasil dari kerja kolektif yang berlangsung tanpa henti.
Pada akhirnya, Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen meninggalkan satu pertanyaan yang terus bergema setelah penonton meninggalkan ruang pamer, adalah, jika dunia memang dibangun oleh tindakan-tindakan kecil yang dilakukan bersama, sebagaimana koloni semut membangun kehidupannya, nilai-nilai apakah yang sedang kita wariskan kepada dunia yang sedang kita bangun hari ini?[T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Jaswanto







![Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-kebaya2-1-360x180.jpg)
![Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/07/angga.-genesis-360x180.png)






















