MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol perjalanan waktu. Di sudut lain, logam bekas berubah menjadi metafora keheningan batin. Tidak jauh dari sana, karya digital menawarkan tafsir baru atas spiritualitas, sementara foto-foto ritual Bali berdialog dengan lanskap kontemplatif dari Korea Selatan dan Prancis.
Itulah suasana yang dihadirkan Pameran Bali Megarupa VIII/2026, salah satu program unggulan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII. Berlangsung pada 11–25 Juli 2026 di Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, serta Nata-Citta Art Space (N-CAS) ISI Bali, pameran ini mengusung tema “Sukma Rupa: Artistika Atma Kerthi”.
Sebanyak 83 seniman dari Indonesia, Korea Selatan, Prancis, dan Ukraina ambil bagian dalam pameran ini. Mereka membawa latar budaya, pengalaman artistik, dan medium yang berbeda, namun dipertemukan oleh satu gagasan besar: menjadikan seni sebagai ruang dialog antara spiritualitas, identitas budaya, ekologi, dan dinamika kehidupan kontemporer.
Diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Bali Megarupa merupakan implementasi Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali. Sejak pertama kali digelar pada 2019, pameran ini terus berkembang menjadi salah satu ruang penting bagi seni rupa modern dan kontemporer, sekaligus memperluas jejaring perupa Bali di tingkat nasional maupun internasional.
Keberagaman medium menjadi salah satu kekuatan Bali Megarupa tahun ini. Sebanyak 56 karya lukisan dan drawing hadir berdampingan dengan fotografi, keramik, patung, instalasi, tekstil, tapestri, printmaking, hingga digital art.

Keragaman tersebut menunjukkan bagaimana praktik seni rupa kini tidak lagi dibatasi oleh satu disiplin. Material tradisional berdialog dengan teknologi digital, sementara pendekatan interdisipliner membuka kemungkinan-kemungkinan artistik baru yang semakin relevan dengan perkembangan zaman.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, proses seleksi dilakukan melalui dua jalur, yakni undangan kuratorial dan open call. Dari 60 seniman yang mengikuti panggilan terbuka, sebanyak 19 perupa terpilih berpameran bersama para seniman undangan. Skema ini menjadi ruang pertemuan antara generasi muda yang tengah membangun bahasa visualnya dengan para perupa yang telah lebih dahulu menorehkan jejak dalam dunia seni rupa.
Membaca Ulang Tradisi
Kurator utama sekaligus Rektor ISI Bali, Prof. Dr. Wayan “Kun” Adnyana, menjelaskan bahwa tema “Sukma Rupa: Artistika Atma Kerthi” mengajak seniman menelusuri sumber-sumber penciptaan yang lahir dari intuisi, pengalaman spiritual, imajinasi, hingga pembacaan ulang terhadap mitologi dan realitas masa kini.
Menurutnya, tradisi tidak dipandang sebagai sesuatu yang selesai atau beku. Sebaliknya, tradisi terus dinegosiasikan, ditafsirkan kembali, dan diolah melalui sensibilitas zaman yang selalu berubah. Karena itu, penggunaan material alternatif, pendekatan lintas disiplin, maupun teknologi digital bukanlah bentuk meninggalkan tradisi, melainkan cara baru untuk memperpanjang napasnya.
Kun Adnyana menilai artistika yang lahir dalam karya-karya peserta tidak hanya bertumpu pada kemampuan teknis, tetapi juga pada keberhasilan mengolah pengalaman batin, memori budaya, spiritualitas, serta persoalan ekologis dan kemanusiaan menjadi bahasa visual yang autentik.
Pandangan tersebut sejalan dengan kurator asal Korea Selatan, Jeon Dongsu. Menurutnya, Bali Megarupa semakin menunjukkan posisinya sebagai platform seni rupa internasional yang mendorong kolaborasi lintas negara sekaligus membuka ruang eksplorasi medium dan gagasan-gagasan baru.
Kurator pameran, Warih Wisatsana, menjelaskan bahwa tema tahun ini memberi kebebasan kepada para seniman untuk menafsirkan intuisi, mimpi, pengalaman metafisis, maupun kisah-kisah spiritual seperti Atma Prasangsa, Bima Swarga, dan Lubdaka, sembari merespons berbagai persoalan kehidupan masa kini.

Penafsiran tersebut hadir melalui beragam medium. Pada karya instalasi, misalnya, Ida Bagus Komang Sindu Putra menghadirkan Sparsa Rupa: Cipta Seni Rupa Inklusif, sebuah karya multisensori yang memungkinkan penyandang disabilitas netra menikmati seni melalui pengalaman sentuhan.
Ade Nova melalui Ruang Sunyi mengolah logam bekas menjadi simbol transformasi batin, sedangkan Wayan Aris Sarmanta dalam Validasi menyoroti kecenderungan manusia modern yang terus mencari pengakuan di ruang sosial.
Dalam medium patung, I Nyoman Adirupa Karunia memanfaatkan akar kayu sebagai metafora perjalanan alam dan waktu melalui karya Bisikan Akar Tua, sementara I Nyoman Suardina menghadirkan Kudeta Sang Ratu, sebuah kritik puitis terhadap krisis ekologis melalui figur hibrida manusia dan lebah.
Dialog Lintas Negara dan Jembatan Generasi
Percakapan lintas budaya juga tampak kuat pada karya-karya fotografi. Fotografer Korea Selatan, Young Choi, Jo Gyu Nam, dan Ho Yi, bersama fotografer Prancis Aimery Joëssel, menghadirkan eksplorasi mengenai keheningan, ruang, dan spiritualitas.
Karya-karya mereka berdialog dengan fotografer Indonesia yang mengangkat ritual Bali, kosmologi, serta relasi manusia dengan alam. Pertemuan perspektif tersebut memperlihatkan bahwa meskipun lahir dari konteks budaya yang berbeda, pengalaman spiritual dan pencarian makna memiliki bahasa visual yang mampu saling berkomunikasi.

Di antara karya yang mendapat perhatian kurator adalah Where Emptiness Becomes Whole karya Young Choi yang memaknai kehampaan sebagai ruang lahirnya pengalaman spiritual, Window Series karya Jo Gyu Nam serta The Glass Between Us karya Ho Yi yang menggunakan jendela sebagai metafora batas sekaligus penghubung dunia luar dan dunia batin.
Sementara itu, dalam seni lukis, karya-karya seperti Galungan karya I Made Arya Palguna, Mandara Giri karya Putu Edy Asparanggi, The Wandering Soul karya Putu Wirantawan, hingga Pink Elvis Offering karya Nyoman “Polenk” Rediasa memperlihatkan bagaimana tradisi, budaya populer, spiritualitas, dan isu ekologis terus dipertemukan dalam bahasa rupa kontemporer.
Bali Megarupa VIII juga memperlihatkan kesinambungan antargenerasi. Perupa muda berpameran bersama seniman-seniman yang telah lama berkarya, menciptakan ruang dialog yang memperlihatkan bagaimana seni rupa Bali terus bertumbuh tanpa memutus hubungan dengan akar tradisinya.
Memasuki penyelenggaraan kedelapan, Bali Megarupa semakin menegaskan dirinya bukan sekadar ruang pamer karya, melainkan arena perjumpaan gagasan, pengalaman, dan kebudayaan. Melalui tema “Sukma Rupa: Artistika Atma Kerthi”, pameran ini menunjukkan bahwa seni rupa Bali terus bergerak melampaui batas medium dan geografis, tanpa kehilangan pijakan pada spiritualitas, tradisi, serta persoalan-persoalan kemanusiaan yang terus menyertai perjalanan zaman.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























